Home / Urban / Sang Maharaja yang Terlupa / Bab 97: Asap Damar Menjaga Batas Rimba

Share

Bab 97: Asap Damar Menjaga Batas Rimba

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 15:00:12

Musim penghujan telah berlalu, meninggalkan jejak berupa hamparan hijau yang membentang dari dasar lembah hingga ke punggung tebing kapur. Di lereng selatan, tanah yang dahulu hangus oleh napas api kini telah ditutupi oleh permadani rumput liar dan tunas-tunas bambu yang kokoh. Di tengah ladang tersebut, Benih Beringin Kembar yang ditanam oleh Ki Sepuh pada malam Purnama Akar kini telah memecahkan kulitnya, menumbuhkan sepasang tunas merah keunguan yang setinggi lutut orang dewasa. Setiap pag

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 100: Akar Beringin Merengkuh Keabadian

    Lima belas musim penghujan telah bergulir sejak malam Purnama Akar mengikat janji di bawah cahaya bulan. Di lereng selatan Lembah Mandala, Beringin Kembar yang dahulu hanya berupa tunas merah keunguan kini telah menjulang tinggi, dahan-dahannya yang kokoh merentang lebar bagaikan payung raksasa yang menaungi separuh bukit. Akar-akarnya yang sebesar paha orang dewasa telah merambat jauh, membelah batu-batu kapur tanpa menghancurkannya, memeluk tanah dan batu dalam sebuah pelukan yang tak terpisahkan. Di bawah rindangnya daun-daun beringin itu, desa tidak lagi dibatasi oleh tembok batu atau parit berduri. Gubuk-gubuk panggung dari bambu petung dan kayu jati berdiri harmonis di antara rumpun-rumpun bambu dan pohon buah, disatukan oleh jalan-jalan setapak yang dialasi oleh batu kali dan ditumbuhi rumput jepang yang lembut di sela-selanya. Suara dentingan palu pandai besi kini hanya terdengar untuk menempa mata cangkul dan lonceng angin, berpadu dengan gemericik air dari puluhan kincir bamb

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 99: Maharani Setara Memeluk Rahim Pertiwi

    Matahari pagi pasca-badai Angin Gending menyinari Lembah Mandala dengan cahaya keemasan yang hangat, menguapkan sisa-sisa embun yang bersembunyi di balik rerumputan yang rebah. Alun-alun desa tidak disapu bersih dari jejak badai, nor dialasi oleh karpet sutra atau tikar pandan yang kaku. Tanah di tengah perkemahan dibiarkan berlumpur, memamerkan bekas-bekas pijakan kaki para pemuda yang semalam bersusah payah menahan longsoran bumi. Di tengah hamparan lumpur yang mengering dan retak-retak itu, ribuan rakyat dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul dalam sebuah lingkaran raksasa. Mereka tidak berbaris berdasarkan kasta atau kekayaan, melainkan berdiri bahu-membahu; para nelayan yang kulitnya menghitam oleh garam laut berdampingan dengan para petani yang tangannya kasar oleh gagang cangkul, serta para mantan senopati yang kini telah menanggalkan baju zirah mereka demi mengenakan kain lurik tenun desa.Dari celah-celah akar beringin purba yang menjuntai, para tetua dari pulau

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 98: Akar Kembar Menahan Gending

    Tiga musim penghujan telah berganti sejak malam Purnama Akar mengikat janji di bawah cahaya bulan. Di lereng selatan, Benih Beringin Kembar yang dahulu hanya berupa tunas merah keunguan kini telah tumbuh setinggi dada orang dewasa, daun-daunnya yang lebar menaungi tanah di sekitarnya dengan rimbun. Akar-akarnya yang masih muda namun liat telah mulai merambat, membelah batu-batu kapur kecil tanpa menghancurkannya, persis seperti filosofi yang diajarkan oleh Sang Nitiswari. Namun, alam tidak selalu menguji anak-anaknya dengan musim yang ramah. Pagi itu, langit di ufuk barat tidak memancarkan cahaya keemasan, melainkan berubah menjadi warna tembaga yang memar dan pekat. Awan-awan megamendung bertumpuk tujuh lapis, menggelinding rendah menuruni punggung Gunung Wilis, membawa serta pertanda akan datangnya Angin Gending—badai muson yang mampu mencabut pohon jati berusia ratusan tahun dan mengubah sungai tenang menjadi naga air yang mengamuk.Tidak ada teriakan panik yang memecah

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 97: Asap Damar Menjaga Batas Rimba

    Musim penghujan telah berlalu, meninggalkan jejak berupa hamparan hijau yang membentang dari dasar lembah hingga ke punggung tebing kapur. Di lereng selatan, tanah yang dahulu hangus oleh napas api kini telah ditutupi oleh permadani rumput liar dan tunas-tunas bambu yang kokoh. Di tengah ladang tersebut, Benih Beringin Kembar yang ditanam oleh Ki Sepuh pada malam Purnama Akar kini telah memecahkan kulitnya, menumbuhkan sepasang tunas merah keunguan yang setinggi lutut orang dewasa. Setiap pagi, sang mantan maharaja yang kini berjubah kain goni itu selalu berlutut di samping tunas tersebut, mencabut gulma dengan jari-jarinya yang penuh kapalan, dan membasuhnya dengan air embun yang ia kumpulkan di dalam tempurung kelapa. Ia tidak pernah berbicara pada tunas itu, namun keheningannya adalah sebuah percakapan yang paling jujur dengan ibu pertiwi.Namun, kedamaian di ladang-ladang Nusantara yang baru ini bukanlah sebuah taman yang tertutup oleh kaca. Alam liar, yang selama ini t

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 96: Kenduri Akar Merajut Pagi

    Fajar di Lembah Mandala tidak menyingsing dengan teriakan mandor atau dentuman genderang penanda waktu kerja. Cahaya matahari pagi merayap perlahan menuruni tebing kapur, menguapkan embun yang bergelayut di ujung-ujung daun pisang yang telah dibentangkan memanjang menyerupai sungai hijau di tengah alun-alun. Pagi ini, tidak ada piring perak atau cawan emas yang disusun oleh para dayang yang gemetar. Sebagai gantinya, ratusan helai daun pisang segar dialasi oleh anyaman tikar pandan, menampung kekayaan rasa dari ribuan pulau yang semalam telah mengikat janji di bawah cahaya purnama. Aroma asap tungku yang membakar ikan, wanginya serai dan daun jeruk yang ditumbuk untuk bumbu, serta pedasnya rempah-rempah dari timur jauh berpadu menjadi satu napas yang menghidupkan perut-perut yang telah lama hanya mengenal rasa takut dan kelaparan. Para wanita dari desa penyangga dan para ibu yang datang bersama armada samudra kini duduk berjajar, mengaduk periuk-periuk tanah lia

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 95: Purnama Menenun Akar Pertiwi

    Malam purnama di Lembah Mandala tidak turun dari langit, melainkan seolah terbit dari perut bumi. Cahaya perak yang membasuh tebing-tebing kapur dan memantul di permukaan sawah yang tergenang air menciptakan ilusi bahwa lembah ini adalah sebuah mangkuk raksasa yang menampung cahaya bintang. Obor-obor yang menancap di sekeliling alun-alun tidak menggunakan minyak yang berbau tajam, melainkan getah damar dan lemak kemiri yang dibalut dengan serat pelepah pisang, memancarkan nyala api yang hangat, tenang, dan beraroma hutan. Tidak ada genderang perang yang ditabuh, tidak ada terompet kerang yang ditiup untuk menakut-nakuti musuh. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh suara gesekan kain, langkah kaki telanjang yang menapak di atas rumput basah, dan senandung rendah dari para ibu yang memangku anak-anak mereka di tepi tikar pandan. Dari balik rimbunnya pohon beringin purba, Dewi perlahan melangkah menuju tengah alun-alun. Ia tidak mengenakan mahkota emas yang

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 29: Napas Rawa dan Jejak Lumpur

    Matahari terbit dengan enggan di ufuk timur, cahayanya samar-samar menembus kabut tebal yang menggantung rendah di atas permukaan air. Mereka telah meninggalkan gua tempat mereka bermalam. Si Elang, yang kini disebut sebagai "Burhan" (nama aslinya yang jarang ia gunakan), berjalan di belakang bar

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 24: Menjinakkan Api dalam Dada

    Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga sudah bangun. Kabut pagi di Dieng masih menyelimuti dataran tinggi seperti lautan susu putih yang dingin. Ia berjalan keluar dari gua tempat ia dan timnya berkemah, mengenakan pakaian latihan sederhana—celana longgar dari kain katun kasar dan dada tela

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 22: Cermin Jiwa yang Retak

    Kegelapan di dalam gua itu bukan sekadar ketiadaan cahaya. Ia terasa padat, berat, dan menekan, seolah-olah udara itu sendiri memiliki bobot yang menindih dada Arga. Saat mata Arga menyesuaikan diri dengan kegelapan total, ia menyadari bahwa tidak ada suara sama sekali. Tidak ada tetesan air, tid

  • Sang Maharaja yang Terlupa   Bab 17: Kota Seribu Asap dan Bisikan Pedagang

    Armada gabungan Jenggala-Sumenep tidak langsung menyerang. Sesuai rencana Arga, mereka berlabuh di sebuah teluk tersembunyi di sebelah barat Surabaya, jauh dari pandangan penjaga pantai utama. Di sana, kapal-kapal disembunyikan di balik rimbunnya hutan bakau dan tebing batu kapur. Hanya perahu-pera

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status