MasukMalam yang seharusnya menjadi waktu bagi Sehan istirahat terlewat begitu saja. Saat ini Sehan masih terlibat pembicaraan serius dengan tante Zola. Setelah tante Zola mandi, mereka melanjutkan kembali pembicaraan mereka. "Sehan, apa kau yakin jika David terlibat dalam kasus ini? Apa kamu sudah punya bukti kalau David dan nyonya Raysa lah yang sudah menjeakmu dna juga wanita itu. Lagian apa wanita itu tidak bisa membedakan badanmu dengan badan David. Seharusnya dia bisa dong membedakan siapa orang yang mengantarnya ke hotel dengan orang yang dia ajak bercinta? Jelas tidak masuk akal kalau dia tidak bisa membedakannya!" sarkas tante Zola yang terang-terangan mulai tidak suka pada Chellia. Hati Sehan entah mengapa merasa sakit saat mendengar tante Zola menyudutkan Chellia. Chellia hanyalah korban, Sehan tahu kalau Chellia waktu itu dalam pengaruh obat perangsang. "Bukti fisik emang belum ada saat ini, tapi sebentar lagi aku akan mendapatkan bukti itu. Jika memang terbukti D
Bab. Jack terdiam sejenak, terdengar helaan nafas dari bibir Jack. Jack berpikir Apakah pertanyaan ini pantas ia tanyakan atau tidak sebab ini sangatlah pribadi. Namun pertanyaan itu harus ia sampaikan karena berhubungan erat dengan kasus yang dialami oleh Sehan. "Mungkin pertanyaanku akan sedikit menyinggungmu, Sehan. Akan tetapi semua ini aku tanyakan demi mencari titik terang dari kasus mu itu. Apa kamu tidak mempermasalahkannya?" Sehan ikut terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan dari Jack sahabat karibnya itu. "Tidak masalah, Jack. Terpenting kamu bisa menyelesaikan kasusku ini aku tidak mau mendekam di penjara hanya karena fitnah dari dua orang itu." "Baiklah satu pertanyaanku saja. Aku harap kamu menjawab dengan jujur. Apakah kamu saat berhubungan dengan wanita itu kamu memakai pengaman atau tidak?"Glek! Sehan menangan salivanya dengan kasar dia baru teringat kalau malam itu tidak memakai pengaman apapun, namun ia harus jujur kepada sahabatnya. "J
Bab Sehan menjedaa kata-katanya sebentar kuntuk menahan senyum tersipu malu jika ia mengingat kalau dirinya sangat mencintai Chellia. "Sehan apa kamu dengar aku?" seru Jack dari sebrang sana. Ia masih menunggu jawaan dari Sehan. Siapa wanita yang sudah menjadi koran David. "Iya aku dengar, Jack. Dia adalah wanita yang mampu mengimbangi aku di ranjang." Wajah Sehan memerah karena menahan malu, meski ia saat ini tidak berhadapan dengan Jack secara langsung. Akan tetapi, Sehan merasa kalau Jack ada di depannya dan saat ini sedang menatap dirinya. "Wanita itu bisa mengimbangi dirimu di ranjang? Apa aku gak salah dengar? Selama ini beluam ada satu wanita pun yang bisa mengimbangi permainanmu di ranjang. Aku yakin wanita itu cantik dan kuat juga. Aku jadi penasaran, memangnya siapa dia?" Jack semakin penasaran dengan wanita yang menurutnya cantik dan hebat itu, Jack sangat tahu bagaimana Sehan saat di ranjang. Sewaktu keluarga Sehan masih jaya dulu, Jack lah yang selalu me
Sehan mondar-mandir di depan kamarnya. Sesekali dia melihat ke arah jam tangan mahalnya, ia menunggu kedatangan tante Zola juga. "Kata tante Zola jam sebelas malam, ini sudah jam dua belas malam tapi belum datang juga. Apa macet di jalan?" gumam Sehan di dalam hati. Ia juga merasa khawatir kalau tante Zola mengalami halangan di jalan. Saat bersamaan dengan rasa gundah yang dirasa oleh Sehan semakin memuncak, email dari sekretaris Sehan masuk. Sehan mengambil ponselnya yag ia simpan dalam saku celana. Mempersiapkan hati untuk menghubungi pelanggan yang sudah membatalkan pesanannya. Netra Sehan membulat sempurna saat membaca jumlah pelanggan yang sudah membatalkan pesanannya. "Kenapa jumlah mereka banyak. Hampir tiga puluh persen sendiri. Kenapa mereka banyak sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa iya aku harus menghubungi mereka semua." Sehan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Sehan membaca satu persatu nama pelangan itu, ia ragu apa semua harus ia hubungi.
Chellia mengangguk dengan mantap. Iamengakui kalau Sehan adalah seorag pengusaha yang bergerak di bidang yang sama dengan dirinya. bab. 151 "Hmm, ternyata dia pengusaha juga. Lantas kenapa dia mau jadi pria bayaran? Apa masih kurang duitnya sampai dia jadi pria seperti itu?" ucap Dimitrio heran kenapa Sehan masih mau menjadi gigolo. Chellia tersenyum kecut. "Lia tidak tahu, Pa. Sudahlah jangan bahas dia kita liat rekaman itu. Tapi kenapa David tidak keliatan lagi ya, Pa? Kemana dia?" ujar Chellia membuat Dimitrio ikut penasaran. Dimitrio mendekatkan dirinya ke ponsel yang ia taruh di meja. "Iya, yang kamu katakan benar. Papa juga tidak melihat kapan di David keluar? Sepertinya pria itu juga patut dicurigai. Dia terlihat aneh!" timpal Dimitrio dengan alis yang bertaut menjadi satu. Chellia kembali mengangguk. "Memang benar. Papa harus selidiki dia juga." Chellia dengan tegas meminta sang ayah untuk menyelidiki David. "Sudah malam, Sayang. Sebaiknya kamu beristirah
Bab Dimitrio dan Chellia melihat rekaman CCTV hotel itu. Keduanya melihat David memapah Chelia masuk ke hotel. "Tunggu, bukankah itu David dan tante Raysa?" ucap Chellia seraya emnunjuk ke arah dua orang yang saling bersinggungan di pintu lift. Dimirtio menatap heran ke arah putrinya. "Tante Raysa? Wanita yang menemukan mu di kamar mandi?" tanya Dimitrio mengulang laporan yang ia terima kalau tante Raysa lah yang menemukan Chellia di kamar mandi. Chellia mengangguk mantap. Memang tante Raysa lah yang sudah menemukan dirinya di dalam kamar mandi. "Benar, Pa. Wanita itu lah yang sudah menyelamatkan Chellia. Kata wanita itu, aku pingsan di kamar mandi. Untung saja bath up tidak ada airnya. Jika tidak mungkin putrimu ini sudah tidak bernyawa lagi karena tenggelam di bath up." Dimitrio menganggukkan kepalanya berulang kali. "Jadi kita memang harus berterima kasih kepada wanita yang aku dengar adalah adalah pelanggan Sehan? Sayang, tabahkan hatimu. Lelaki brengsek itu pasti akan m







