เข้าสู่ระบบSetelah sepuluh tahun berlalu angin di puncak bukit Sekte Awan berhembus lebih tenang. Thanzi berdiri di tepi tebing, menatap matahari terbenam yang menyiram seluruh kekaisaran dengan warna emas kemerahan. Di tangannya, seruling hitam itu tampak berkilau. Dengan misinya yang hampir selesai. Takdir Wo Long telah aman melalui ayahnya, Li Shen, dan masa kecil Sean kini terjaga di bawah perlindungan Kerajaan Guntur yang sudah waspada. "Ketua Sekte," panggil Thanzi tanpa menoleh. Pria tua itu muncul dari balik bayang-bayang, membungkuk dalam. "Hamba di sini, Tuan Muda Thanzi. Segala persiapan telah selesai. Kekaisaran Cahaya telah lumpuh dari dalam setelah berita hancurnya pasukan elit mereka di perbatasan. Para pemimpin kotor itu kini saling sikut karena ketakutan akan sosok 'Bayangan Seruling' yang menghancurkan mereka tanpa di sadari." Thanzi tersenyum tipis. "Bagus. Biarkan mereka tenggelam dalam ketakutan mereka sendiri. Aku tidak perlu mengotori tanganku lebih jauh. Sekte ini sek
Angin dingin yang membawa aroma amis darah mulai berhembus, mengiringi sebuah simfoni yang menyayat hati. Dari kejauhan, terlihat sesosok pemuda dengan jubah yang berkibar tenang berjalan di atas pohon sendirian menembus rimbunnya pepohonan hutan. Di tangannya, sebuah seruling hitam legam tersemat. Itu adalah Thanzi. Ia datang bukan sebagai penyelamat yang hangat, melainkan sebagai pembawa melodi kematian. Di hadapannya, ribuan pasukan dari Sekte Ilusi, tentara bayaran elit yang dikirim secara rahasia oleh faksi-faksi kotor Kekaisaran Cahaya, telah bersiap melakukan genosida terhadap keluarga kerajaan Guntur yang selalu mendukung keluarga Ling. Jenderal pasukan itu, seorang pria bermata satu dengan Ranah Kaisar puncak, dengan mengangkat pedangnya. "Siapa kau, bocah tengik? Beraninya menghalangi jalan Pasukan Ilusi!" teriak sang Jenderal. Thanzi berhenti melangkah. Matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah ribuan ujung tombak itu. "Aku hanya tidak sengaja lewat untuk memb
Hening yang mencekam menyelimuti Ruang Rapat. Para Tetua menahan napas, menatap pemuda di hadapan mereka yang baru saja melempar tawaran kerja sama yang mengguncang nalar. Semua tetua saling pandang, dan semuanya akhirnya menatap Kepala sekte dengan menganggukkan kepala. Sang Kepala Sekte, dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat benturan energi tadi, akhirnya membuka suara. "Kami akan menerima tawaranmu, Anak Muda. Namun, kepercayaan adalah fondasi dari sekte ini. Apalagi kami tidak bisa menyerahkan nasib murid-murid kami kepada orang asing yang tidak di kenal akan asl-usulnya. Jadi kami ingin tahu, siapakah kau ini sebenarnya?" Thanzi menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati tua, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Aku tidak punya alasan untuk merahasiakan identitasku yang sebenarnya pada orang yang akan menjadi sekutuku." "Aku adalah putra bungsu Jenderal Ling Cheng-kong dari Kekaisaran Cahaya." BRAKK!"Apa!..." Hampir seluruh Tetua berdiri serentak dari kurs
Thanzi tetap berdiri tegak, membiarkan jubah sederhananya berkibar tertiup angin kencang yang entah datang dari mana. Ia memutuskan dari sekarang, dirinya tidak akan bermain petak umpet lagi dengan kekuatannya, karena jalan menuju rencananya sudah berada tepat di depan mata. "Kepala Sekte," suara Thanzi terdengar rendah namun bergema di setiap sudut bangunan. "Bukankah kau ingin melihat siapa yang sedang kau coba uji? Maka kamu lihatlah sendiri." Tanpa gerakan tangan, Thanzi melepaskan segel tipis yang tertanam di dalam tanah. BUM...! Sebuah ledakan hitam pekat, namun jernih seperti kristal, meledak dari dalam tanah. Itu bukan sekedar ledakan spiritual biasa. Tapi itu adalah penghancuran formasi tingkat tinggi yang hanya bisa di lakukan oleh seorang kultivator di Ranah yang sangat tinggi, prnghancuran hanya dengan terdiam saja itupasti sebuah tingkat kultivasi yang tidak tercatat dalam kitab mana pun di dunia ini, karena ranah Thanzi yang kini di keluarkannya di ranah Kehampaan
Setiap langkah kaki Thanzi menghasilkan gema yang sangat tipis tetapi bertenaga di udara. Dan begitu kakinya menyentuh batas gerbang dalam, sebuah ledakan getaran frekuensi rendah merambat dari inti jiwa sekte awan. mungkin secara kasat mata, hanya terasa angin yang tertiup cukup kuat, namun bagi seorang kultivator tingkat yang memiliki indra sangat tajam, itu adalah ledakan energi hitam yang pekat dan menguap ke angkasa, merobek sesuatu yang jahat dan tersembunyi yang menggantung statis di atas langit sekte selama ratusan tahun. Petugas pendaftaran yang tadi mengantuk mendadak menegakkan tubuhnya secara tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan. Lalu ia secara refleks melirik ke arah punggung Thanzi yang mulai menjauh dengan tatapan ngeri. "Apa itu tadi? Seperti... cahaya yang menghancurkan kejahatan tetapi mengundang bencana," bisiknya dengan suara gemetar.Di tempat area ujian utama pertama, suasana yang tadinya terasa tenang mendadak tegang. Seorang tetua penguji yan
Perjalanan dari Kekaisaran Cahaya menuju Kerajaan Guntur memakan waktu yang cukup lama, namun bagi Thanzi, setiap deru roda kereta kuda adalah langkah menuju kepingan masa lalu yang sedang ia susun kembali. Ia tidak pergi sendirian, ayahnya, yaitu Jenderal Ling, memastikan perjalanan Thanzi dikawal oleh prajurit veteran kepercayaan keluarga. Thanzi tidak masalah akan hal itu, karena justru dengan adanya bawahan ayahnya akan memudahkannya dalam perjalanan, dan hal itu langsung terbuktu. Dengan kehadiran kereta kuda dengan bendera lambang Keluarga Ling, yang tiba di wilayah Kerajaan Guntur langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Reputasi keluarga Ling melampaui batas dua kekaisaran dan kerajaan manapun, karena mereka adalah penjaga keseimbangan antara Kekaisaran Cahaya dan Kekaisaran Pedang. Tak heran jika setiap pos penjagaan memberikan penghormatan tertinggi saat mereka melintas. Tujuan Thanzi sebelum ke sekte awan hanya satu, yaitu Kediaman Keluarga Wo. Ia datang unt







