Share

Bab 49

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 22:10:31

Di dalam ruangan itu, kontras yang menjijikkan terjadi.

Riko, sosok pria bertubuh besar dengan wajah merah karena alkohol, terbaring di ranjang besar. Dua wanita muda melingkar di sekitarnya dengan tawa rendah. Ditambah aroma alkohol dan napas yang berat.

Kasur berderit pelan.

Ia tenggelam dalam kesenangan, sama sekali tidak menyadari, kematian sudah berdiri di luar pintu.

Klik…

Terdengar suara yang sangat halus.

Pintu terbuka sedikit.

Tap… Tap…

Dua bayangan masuk tanpa suara dan peringatan.

Pi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 469

    Arka tetap memeluk Serena yang perlahan mendingin tanpa bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan betapa besar rasa sakit dan amarah yang sedang bergejolak di dalam dirinya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah itu, Arka perlahan membaringkan tubuh Serena di tanah, melepas mantelnya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati hingga wajah pucat dan luka berdarah di dadanya tak lagi terlihat.Kemudian Arka berdiri, gerakannya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. Tidak ada ledakan emosi di wajahnya, hanya ketenangan pekat yang menyimpan amarah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan kehancuran.Ia berbalik dan mengarahkan pandangan kepada Uryu dan Nocthar yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapan Arka kini terasa seperti dua bilah pedang yang baru ditempa, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.Aura yang memancar dari tubuhnya telah berubah sepenuhnya. I

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 468

    "Serena! Aku di sini…"Suara Arka terdengar serak. Tangannya terulur hendak menyentuh Serena, tetapi berhenti di udara karena takut sentuhan sekecil apa pun justru memperparah lukanya. Jari-jarinya gemetar saat ia menatap wanita itu yang semakin kehilangan warna di wajahnya.Serena berusaha tersenyum. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi yang keluar justru darah dan busa tipis. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, "Arka... aku terlihat jelek sekarang?"Arka langsung menggeleng, matanya memerah. "Jangan bicara begitu, kau tetap cantik. Kau pasti akan baik-baik saja, kau dengar? Dokter! Di mana dokternya?!"Ia menggenggam tangan Serena yang mulai terasa dingin, lalu menoleh panik ke sekeliling. Niko, Arga, dan Garda yang baru tiba segera ikut mendekat, tetapi dalam kekacauan itu Arka seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Ia tahu pertolongan pertama, tahu apa yang harus dilakukan, tetapi rasa takut kehilangan Serena membuat semua pengetahuan itu seakan men

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 467

    DOR!Peluru melesat menembus udara dengan kecepatan mengerikan.KLANG!Pistol di tangan Uryu dihantam tepat di bagian tengah. Logamnya langsung remuk, pecahannya berhamburan, sementara hentakan peluru membuat tangan Uryu robek dan lengannya mati rasa. Sisa gagang pistol terlepas dari genggamannya.Tembakan itu berasal dari Garuda Hitam yang sedang mengambil posisi di kejauhan.Gerakan Uryu terlalu cepat, sementara keputusannya untuk menembak datang tanpa peringatan. Garuda Hitam hanya sempat mengoreksi arah bidikannya pada detik terakhir, tetapi sepersekian detik itu tetap tidak cukup untuk menghentikan peluru pertama yang sudah dilepaskan Uryu.Namun, ia tidak berhenti. Tangannya bergerak cepat menarik baut, mengeluarkan selongsong, memasukkan amunisi baru, mengangkat senjata, lalu kembali membidik. Seluruh rangkaian itu selesai dalam waktu kurang dari satu detik, begitu cepat dan lancar hingga nyaris seperti satu gerakan tanpa jeda.Tembakan kedua menyusul hampir tanpa jeda.DOR!Da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 466

    Uryu yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepala. Tatapan yang sebelumnya tampak lemah dan lesu berubah tajam dalam sekejap, dingin seperti bilah pisau. Tidak ada sedikit pun sisa kelemahan di wajahnya.Tubuhnya melesat seperti pegas yang dilepaskan. Meski kedua tangannya masih terborgol di belakang punggung, Uryu tetap menjatuhkan tubuh ke depan, memutar kedua tangan melalui celah di bawah tubuh hingga berpindah ke depan, lalu meraih pistol yang tergeletak di tanah.Begitu senjata berada di tangannya, moncongnya langsung terangkat.DOR! DOR!Dua tembakan meledak hampir bersamaan. Peluru menembus punggung kedua penjaga Keluarga Mahesa yang masih sibuk melawan kawanan gagak. Keduanya terhenti di tempat, lalu terhuyung dan jatuh tanpa sempat bereaksi, sementara burung-burung yang tadi mengerubungi mereka segera beterbangan dan berputar di udara.Uryu memiringkan kepala, lalu melirik orang-orang yang berdiri terpaku di belakangnya. Mereka baru saja lolos dari ledakan dan kini me

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 465

    Di atas gua, gumpalan besar yang menyerupai awan gelap telah berkumpul tanpa disadarinya. Namun, beberapa detik kemudian Arka menyadari bahwa itu sama sekali bukan awan.Ratusan gagak hitam berputar rendah di atas gua, bergerak seolah dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat hingga membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Kepakan sayap mereka menghasilkan dengungan berat yang menutupi cahaya dan melemparkan bayangan besar ke seluruh area.Namun, yang paling mengejutkan Arka adalah benda-benda kecil berbentuk silinder yang ternyata dicengkeram oleh masing-masing gagak dengan cakarnya.Begitu Arka dan Nocthar mendongak, sebagian kawanan gagak tiba-tiba mengubah arah. Mereka menukik menuju pintu masuk gua dan lereng di sekitarnya seperti pesawat pengebom mini, lalu melepaskan benda-benda silinder yang mereka cengkeram saat mencapai ketinggian tertentu.Satu, dua, sepuluh, lalu puluhan hingga ratusan benda jatuh beruntun seperti hujan hitam yang deras. Namun itu bukan hujan, melainkan gran

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 464

    Arka yang masih mencengkram kerah Nocthar dan hendak menyeretnya pergi mendadak berhenti. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berulang kali muncul di benaknya. Benteng gua ini tersembunyi dengan sangat baik.Jadi, bagaimana mungkin Sindikat Noctis bisa menemukan lokasinya dengan begitu akurat dalam waktu sesingkat itu?Lalu mengerahkan pasukan sebesar ini untuk melancarkan serangan mendadak?“Gah... gaak...!”Suara serak seekor gagak tiba-tiba memecah keheningan hutan. Begitu mendengarnya, senyum Nocthar melebar dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. Ia mengangkat kelopak matanya yang bengkak dan menatap Arka, seolah sedang menikmati detik-detik terakhir mangsanya sebelum jebakan benar-benar menutup.Detik berikutnya, ledakan dahsyat mengguncang hutan.DUAAAR!Dentumannya datang dari arah kamp utama dan begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke tanah.Wajah Arka seketika berubah pucat karena ia langsung mengenali lokasi ledakan itu. Tempat tersebut adalah area gua tempat Vane

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 14

    Wanita itu tampak kehilangan kesadaran. Langkahnya tidak stabil, rambutnya sedikit berantakan, gaunnya kusut.Leonard dengan gugup menggesek kartu kamar.Beep.Pintu terbuka.Wajah Leonard langsung dipenuhi kegembiraan yang hampir tak bisa disembunyikan. Ia menarik tubuh Keira masuk. Namun tepat sa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 13

    Seorang pria muda memasuki aula dengan langkah santai. Setelan putihnya begitu mencolok di tengah kerumunan tamu—Leonard Wijaya.Tuan muda keluarga konglomerat yang sedang naik daun itu langsung menangkap sosok yang ia cari—Keira.Tatapan Leonard berhenti di wajah wanita itu. Ada kilatan lapar yang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 10

    Arka tidak menjawab, ia langsung memasukkan wanita itu ke dalam bak mandi. Satu tangannya menahan bahu Keira agar tidak bangkit, sementara tangannya yang lain memutar keran air.Air dingin menyembur deras.“Ah—!”Keira menjerit keras. Air sedingin es langsung mengguyur tubuhnya, membuat seluruh tub

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 6

    “Mengemudi mobil untuk menjaga orang sedingin itu pasti melelahkan dan membosankan. Pernah berpikir untuk pindah kerja? Bersamaku, hidupmu tidak akan membosankan.”Arka tetap diam.Begitu kendaraan di depan bergerak, ia langsung melaju tanpa memberi respons. Namun BMW itu kembali menyusul, mengikut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status