Share

Bab 217

Author: Skyy
last update publish date: 2026-05-11 22:47:17

Sorot mata Arka berubah sedikit lebih dalam. Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Kenapa Adhyaksa sejak awal menunjukkan perhatian khusus padanya yang berasal dari Kota Mahatara. Kenapa Keluarga Mahesa mampu berdiri di antara empat keluarga besar tanpa benar-benar tunduk. Dan kenapa banyak pihak mulai bergerak terhadap mereka belakangan ini.

Karena konflik yang terjadi mungkin jauh lebih besar daripada perebutan wilayah biasa.

Arka tidak bertanya lebih jauh, ia tahu batas. Hal seperti akar di V
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 496

    Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 495

    Adelina masih berdiri diam dengan alat komunikasi di tangannya. Cahaya lampu ruang komando menerangi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang belum sepenuhnya menghilang.Beberapa saat kemudian, ia menurunkan alat komunikasi itu dan menghembuskan napas panjang. "Sampaikan perintahku."Adelina berbalik menghadap para perwira staf. "Seluruh pasukan, personel logistik, dan staf administrasi yang telah memasuki bekas wilayah Keluarga Montara harus ditarik kembali ke garis kendali semula dalam waktu tiga hari. Jangan menunda dan jangan membawa peralatan berat maupun persediaan yang tidak bisa dipindahkan dengan cepat."Tatapannya mengeras. "Utamakan keselamatan personel. Siapa pun yang berani melanggar akan dikenai hukum militer."Perintah itu seketika memicu kegaduhan di pusat komando. Namun, begitu melihat wajah Adelina yang serius dan pucat, tak seorang pun berani mempertanyakan keputusan tersebut.Adelina tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 494

    "Oh? Berita apa?" Nada Arka terdengar sedikit tertarik, tetapi tetap tenang.Adelina menggenggam alat komunikasinya lebih erat. "Wiranata telah meninggal."Ia sengaja mengucapkannya perlahan sambil memasang seluruh perhatiannya pada suara di seberang. Ia ingin menangkap sekecil apa pun perubahan dari lawan bicaranya, entah jeda napas, perubahan intonasi, atau keterkejutan.Hening selama dua detik.Kemudian suara Arka terdengar kembali. "Aku tahu."Ucaoan sederhana itu membuat dada Adelina terasa sesak.Arka tidak terkejut, tidak bertanya bagaimana ia bisa mati. Bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar tersebut.Bagaimana mungkin?Bahkan Keluarga Mahardika yang memiliki jaringan informasi kuat baru saja menerima berita itu, sementara Arka sudah mengetahuinya lebih dahulu.Tenggorokan Adelina terasa kering. Ia menahan debar jantungnya sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya."Tuan Arka... Anda tahu siapa pelakunya?" Ia menahan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 493

    Mendengar ucapan Pramudya dan melihat kesombongan seorang pemenang kembali muncul di wajahnya, kegelisahan Adelina justru semakin kuat.Menang dalam pertempuran ini bukan berarti semuanya sudah terkendali. Bramantyo memang terpukul, tetapi dia belum mati dan fondasi Keluarga Wijaksana masih utuh. Keluarga Nirvana juga telah membangun kekuatannya selama bertahun-tahun. Pertempuran ini belum cukup untuk membuat mereka runtuh begitu saja.Dan yang paling membuatnya waspada adalah Arka Mahendra. Benarkah pria itu hanya seorang mitra yang kebetulan ikut menikmati hasil perang?"Sudah." Suara Adelina yang tenang langsung menghentikan Pramudya. "Situasi belum stabil, jangan menganggap remeh musuh dan jangan bertindak gegabah. Perintahkan pasukan di garis depan untuk memperkuat posisi yang sudah dikuasai. Jangan melakukan pengejaran atau memperluas wilayah tanpa perintah."Ia menatap peta sebelum melanjutkan. "Awasi pergerakan Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana. Kalau ada perubahan, sege

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 492

    Sementara itu, suasana di pos komando garis depan Keluarga Mahardika nyaris meledak oleh kegembiraan.“Kita menang! Patriark, kita menang! Ini kemenangan besar!”Pramudya menendang pintu pos komando hingga terbuka dan menerobos masuk. Wajahnya penuh jelaga, seragamnya berlumuran darah kering dan lumpur, tetapi matanya menyala penuh kegembiraan.“Pasukan kita sudah menerobos garis pertahanan kedua yang dibangun terburu-buru oleh Keluarga Nirvana! Mereka bahkan tidak mampu bertahan dan langsung runtuh!”Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. “Pasukan terdepan sekarang sedang membangun benteng untuk memperkuat posisi. Wilayah kita juga sudah meluas jauh!”Pramudya segera mendekati meja peta besar dan menunjuk wilayah yang baru saja mereka kuasai dengan wajah penuh semangat."Kak, lihat! Sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai Keluarga Montara sekarang sudah menjadi milik kita. Bahkan beberapa wilayah yang sebelumnya dikuasai bersama Keluarga Nirvana dan Keluarga Wijaksana j

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 491

    Pengemudi dan kepala keamanan terhempas ke depan akibat pengereman mendadak sebelum sabuk pengaman menarik mereka kembali. Petugas keamanan di kursi depan segera menarik pistol dan hendak berbalik untuk memeriksa keadaan.Namun, tubuhnya membeku. Wiranata masih duduk di kursi belakang. Hanya saja, sebagian besar sisi kiri kepalanya telah hancur akibat tembakan tersebut, meninggalkan luka fatal yang membuat seluruh kabin seketika dipenuhi kepanikan.Para pengawal menatap tanpa suara, darah mereka terasa membeku melihat kepala keluarga yang selama ini dikenal karena perhitungan dan ketenangannya telah tewas dalam satu tembakan.Cairan hangat berbau logam menyiprat ke jok kulit, atap kabin, jendela, bahkan mengenai bagian belakang kursi depan dan wajah para pengawal yang masih terpaku.Kepala pria yang selama ini mengendalikan Zona Bayangan dengan perhitungan panjang kini terkulai tanpa daya. Salah satu matanya masih setengah terbuka, tetapi tidak lagi menyimpan sedikit pun kehidupan."P

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 218

    “Benar.” Jawaban Arka pendek.Namun nada suaranya berubah begitu rendah hingga terasa seperti es yang menggores tulang.“Kelompok sampah yang membantai warga sipil di Pedesaan Kelam Ravora.” Rahangnya mengeras. “Wanita, anak-anak, tawanan… mereka membunuh semuanya.”Kilatan dingin melintas di matan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 212

    DOR! DOR! DOR!Suara tembakan dari bawah langsung membesar seperti badai.“Biarkan mereka saling membunuh dulu.”Begitu Peter berdiri penuh, seluruh ruangan langsung ikut bergerak. Orang-orang di sekitarnya refleks menegakkan badan, sorot mereka tertuju penuh ke arah pria itu.Peter memandangi kelo

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 211

    Ruangan VIP itu langsung sunyi ketika Peter berdiri.Dentuman tembakan dari lantai bawah terus terdengar samar. Kadang diselingi suara kaca pecah dan jeritan panik yang samar tertahan oleh lapisan peredam suara tebal.Peter melangkah perlahan menuju meja minuman. Ia mengambil segelas whiskey yang s

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 207

    “Baik, baik… cukup.”Rama perlahan mengangkat kedua tangan sambil mundur setengah langkah. Cahaya lampu darurat yang berkedip membuat wajahnya tampak semakin gelap, sementara bekas luka di bawah mata kirinya memberi kesan jauh lebih mengancam.Ia memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri sebel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status