Share

Bab 294

Author: Skyy
last update publish date: 2026-06-01 22:26:57
Villa Keluarga Montara.

Kontras suasananya begitu terasa. Jika medan perang di luar sana bergemuruh oleh rentetan tembakan dan ledakan, ruang kerja utama itu justru dicekam oleh luapan amarah yang membara.

Brak!

Sebuah hantaman keras dari tangan Lorenzo sukses membuat meja mahoni itu bergetar, menjatuhkan cangkir dan menumpahkan air teh ke seluruh permukaannya. Napasnya memburu, wajahnya memerah padam dengan urat dahi yang menonjol jelas akibat kemarahan yang tak lagi terbendung.

“Tidak berguna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 499

    Keberadaan Siluman Garuda akhirnya mulai terungkap. Meski masih diselimuti banyak misteri, setidaknya kini ada kepastian bahwa wanita itu pernah muncul dan sempat jatuh ke tangan sebuah kekuatan gelap yang sangat kuat. Dan pemimpin Sindikat Noctis, sosok yang dikenal sebagai pemimpin Sindikat Noctis, jelas merupakan salah satu tokoh kunci dalam kejadian tersebut.Lalu, di mana pemimpin Sindikat Noctis itu sekarang?Terlebih lagi, melihat kemampuan Siluman Garuda, sulit dipercaya wanita itu bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti.Seberapa kuat lawan yang mampu mengalahkannya dalam satu gerakan?Semua pertanyaan itu terus berputar di benak Arka. Tekanan yang tiba-tiba membesar membuatnya menghembuskan napas perlahan."Musang, panggil Arga dan Garuda Hitam. Setelah itu, kita bertemu di ruang konferensi." Arka Mahendra mempercepat langkahnya. "Kita akan menemui penguasa baru Keluarga Wijaksana."Udara di Zona Bayangan masih sarat bau mesiu dan ketegangan, tetapi jauh di dalam benteng Kel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 498

    Nocthar tampak kebingungan. Justru kondisi wanita itulah yang menurutnya paling aneh dari seluruh kejadian tersebut. "Dia... terlihat baik-baik saja. Setidaknya selama aku melihatnya sampai membawanya ke markas dan menahannya di sana, tidak ada luka yang terlihat jelas di tubuhnya. Tidak ada bekas pemukulan atau penyiksaan. Pakaiannya memang kotor dan sedikit berantakan, tetapi masih utuh."Nocthar berhenti sebentar untuk memperhatikan wajah Arka sebelum kembali melanjutkan. "Selain itu, Bos... Sindikat Noctis memberikan perintah yang sangat tegas. Tak seorang pun dari kami boleh menyentuh wanita itu, bahkan sehelai rambutnya sekalipun. Kami juga dilarang menghinanya dengan ucapan apa pun. Katanya... siapa pun yang berani menyentuhnya dan melanggar aturan itu akan mati. Waktu itu kami semua merasa aneh. Sindikat Noctis sudah lama merajalela di Zona Selatan, kapan kami pernah takut kepada siapa pun? Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang perintah Bos."Tak boleh menyentuhnya? B

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 497

    Udara di dalam sel yang remang-remang terasa dingin dan lembap. Bau darah yang samar bercampur dengan aroma disinfektan memenuhi ruangan, sebuah lampu tunggal yang menggantung dari langit-langit menerangi kursi besi yang tertanam kuat di lantai.Di sanalah Nocthar duduk terikat, tubuhnya dibalut perban, wajahnya pucat, dan sorot matanya kosong. Sosok itu sudah jauh berbeda dari keganasan dan kesombongan yang dulu melekat pada seorang anggota Sindikat Noctis.Berhari-hari menderita karena luka dan siksaan telah menghancurkan pertahanan mental Nocthar. Terlebih lagi, ia masih dihantui adegan ketika Arka mengeksekusi Uryu dengan kejam hingga kepalanya hancur berkeping-keping.Begitu Arka memasuki ruangan, tubuh Nocthar langsung gemetar hebat seperti daun yang diterpa angin dingin. Tatapannya dipenuhi ketakutan, pikirannya kembali pada tanah berlumuran darah di luar gua, seolah-olah ia masih bisa melihat genangan merah dan putih yang mengerikan di hadapannya.Itulah otak dan serpihan teng

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 496

    Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 495

    Adelina masih berdiri diam dengan alat komunikasi di tangannya. Cahaya lampu ruang komando menerangi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang belum sepenuhnya menghilang.Beberapa saat kemudian, ia menurunkan alat komunikasi itu dan menghembuskan napas panjang. "Sampaikan perintahku."Adelina berbalik menghadap para perwira staf. "Seluruh pasukan, personel logistik, dan staf administrasi yang telah memasuki bekas wilayah Keluarga Montara harus ditarik kembali ke garis kendali semula dalam waktu tiga hari. Jangan menunda dan jangan membawa peralatan berat maupun persediaan yang tidak bisa dipindahkan dengan cepat."Tatapannya mengeras. "Utamakan keselamatan personel. Siapa pun yang berani melanggar akan dikenai hukum militer."Perintah itu seketika memicu kegaduhan di pusat komando. Namun, begitu melihat wajah Adelina yang serius dan pucat, tak seorang pun berani mempertanyakan keputusan tersebut.Adelina tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 494

    "Oh? Berita apa?" Nada Arka terdengar sedikit tertarik, tetapi tetap tenang.Adelina menggenggam alat komunikasinya lebih erat. "Wiranata telah meninggal."Ia sengaja mengucapkannya perlahan sambil memasang seluruh perhatiannya pada suara di seberang. Ia ingin menangkap sekecil apa pun perubahan dari lawan bicaranya, entah jeda napas, perubahan intonasi, atau keterkejutan.Hening selama dua detik.Kemudian suara Arka terdengar kembali. "Aku tahu."Ucaoan sederhana itu membuat dada Adelina terasa sesak.Arka tidak terkejut, tidak bertanya bagaimana ia bisa mati. Bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar tersebut.Bagaimana mungkin?Bahkan Keluarga Mahardika yang memiliki jaringan informasi kuat baru saja menerima berita itu, sementara Arka sudah mengetahuinya lebih dahulu.Tenggorokan Adelina terasa kering. Ia menahan debar jantungnya sebelum mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya."Tuan Arka... Anda tahu siapa pelakunya?" Ia menahan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 141

    “Ugh!” Mireya menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang, lalu memutar badan dengan kesal. “Sial! Seharusnya aku curang aja dari awal…”Namun pikirannya tidak berhenti di situ, justru semakin liar.Tanpa sadar, ia mulai membayangkan apa yang sedang terjadi di bawah. Bayangan-bayangan itu muncul sendir

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 139

    Arka berdiri di koridor lantai satu dengan sebuah bantal di pelukannya, ekspresinya setengah pasrah, setengah geli. Seolah baru saja menerima keputusan sepihak yang tak bisa ia bantah tapi masih terasa absurd untuk dicerna.Cahaya lampu lorong yang redup memanjang di lantai, membentuk bayangan sama

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 136

    Rendra memejamkan mata. Tarikan napasnya panjang, berat. Ketika matanya terbuka kembali, sesuatu telah berubah. Niat membunuh itu tidak hilang, tapi ditekan dalam-dalam, digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin.Ia berbalik, menatap seluruh anggota keluarga satu per satu. “Semua yang kalian lihat

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 127

    Di lantai bawah.Taman rumah sakit diterangi lampu taman kekuningan. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma daging panggang.Garuda Hitam, Taring Baja, dan Arga duduk mengelilingi meja kecil. Di atasnya persis, tusuk sate, bir dingin, dan asap tipis yang mengepul.Suasananya berat, tidak ada yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status