LOGINBAAANG!Dentuman keras mengguncang tanah. Debu dan pecahan batu berhamburan ke segala arah, tetapi posisi itu sudah dikosongkan sesuai rencana. Para prajurit telah berpindah ke titik cadangan di sisi sayap beberapa saat sebelumnya, sehingga roket tersebut hanya menghancurkan benteng pertahanan palsu.Hampir bersamaan dengan ledakan itu, rentetan tembakan menyambar dari balik asap. Sedikitnya tiga senapan mesin ringan menembak membabi buta ke arah garis pertahanan gua, membuat peluru berdesing di udara dan menghantam bebatuan hingga memercikkan serpihan tajam. Para prajurit Keluarga Mahesa yang menjaga garis depan terpaksa menunduk sejenak untuk menghindari hujan peluru tersebut.Di bawah perlindungan tembakan dari garis depan, pasukan Sindikat Noctis di kedua sisi kembali bergerak. Kali ini mereka tidak lagi maju secara terburu-buru.Setiap langkah dilakukan dengan perhitungan, memanfaatkan batang pohon, bebatuan, hingga kawah bekas ledakan sebagai perlindungan. Sementara satu kelompo
Arka sendiri membawa senapan mesin ringan dan bergerak cepat menuju sebuah batu besar yang menonjol di sisi kiri pintu masuk gua. Posisi itu memberinya pandangan luas ke area berbentuk kipas hampir enam puluh derajat di depan, sementara lereng curam di bawahnya membuat posisi tersebut jauh lebih mudah dipertahankan daripada diserang.Ia baru saja memasang senjatanya ketika suara seorang prajurit Keluarga Mahesa terdengar melalui earphone, diselingi desis statis."Tuan Arka, kami sudah melihat mereka."Arka langsung menajamkan pendengaran."Posisi pukul sebelas, sekitar empat ratus meter dari sini, di tepi hutan. Perkiraan sementara, ada sedikitnya empat puluh orang yang terbagi menjadi tiga tim. Mereka bergerak dalam formasi segitiga dan perlengkapannya cukup lengkap. Terlihat senapan otomatis, senapan mesin ringan, serta sedikitnya dua peluncur roket."Arka mengarahkan pandangan ke posisi yang disebutkan prajuritnya. Di antara pepohonan, sebuah wajah tiba-tiba tertangkap matanya. Ia
Begitu keluar dari lorong samping yang dijadikan sel tahanan, Arka berpapasan dengan Adhyaksa yang sedang berjalan cepat ke arahnya. Wajah pria itu tampak tegang, alisnya berkerut, dan sorot matanya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Arka, ada masalah."Adhyaksa langsung menghampirinya dan menurunkan suara. Arka yang semula masih tenggelam dalam pikirannya tentang Siluman Garuda segera memaksa diri kembali fokus pada keadaan di sekitarnya."Apa yang terjadi?""Pasukan Sindikat Noctis..." Adhyaksa berhenti sepersekian detik, seolah masih sulit mempercayai informasi yang baru diterimanya. "Mereka lenyap."Arka mengerutkan kening. "Lenyap? Jelaskan.""Memang seperti itu kejadiannya." Adhyaksa menarik napas sebelum melanjutkan, "Mulai siang tadi, berdasarkan laporan dari Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana, seluruh aktivitas Sindikat Noctis di wilayah mereka mendadak berhenti. Selama ini mereka terus melakukan gangguan, pembunuhan, dan sabotase dari balik layar, tetapi sekar
Arka melangkah keluar dari sel dan menyandarkan punggungnya pada dinding gua yang dingin. Matanya terpejam sesaat sementara pikirannya kembali menata seluruh kepingan informasi yang baru saja diperolehnya.Jaringan bawah tanah, Sindikat Noctis, para pasukan Astera, hingga kekacauan yang terus membesar di Zona Bayangan. Satu demi satu petunjuk itu kini saling terhubung, membentuk sebuah jaring besar yang perlahan mulai memperlihatkan wujudnya.Ia menghembuskan napas panjang, memaksa dirinya kembali tenang. Menghadapi musuh seperti ini, amarah tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia harus berpikir lebih jernih, bergerak lebih hati-hati, dan mengambil setiap keputusan dengan lebih tegas.Tanpa membuang waktu, Arka merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan buku catatan milik Vexar. Lembar demi lembar ia telusuri kembali dengan saksama, memastikan tidak ada satu pun petunjuk yang terlewat dari pengamatannya.Namun ketika pandangannya berhenti pada salah satu halaman, jemarinya mendadak membeku.
Melihat reaksi Uryu, keraguan terakhir di hati Arka akhirnya sirna. Apa yang selama ini hanya berupa dugaan kini berubah menjadi kepastian mutlak. Api amarah yang lama terpendam seketika berkobar dari lubuk hatinya.Krena kini ia tahu memang ada seorang pengkhianat di pihak mereka, dan orang itu jelas bukan anggota biasa. Hanya seseorang dengan kedudukan tinggi yang mampu mengetahui setiap operasi penting hingga informasi itu terus mengalir ke tangan Sindikat Noctis. Seketika, bayangan masa lalu bermunculan silih berganti di benaknya. Wajah rekan-rekan seperjuangan yang gugur, operasi yang nyaris berhasil tetapi berakhir gagal, serta penyesalan yang selama bertahun-tahun terus menghantuinya, semuanya kembali memenuhi ingatannya.Selama ini Arka selalu mengira musuh mereka terlalu licik, atau mungkin rencana yang disusun masih menyisakan celah. Ada kalanya ia bahkan menyalahkan nasib atas setiap operasi yang berakhir gagal. Namun kenyataan yang baru saja terbuka jauh lebih kejam. Sel
Tatapan Arka langsung berubah tajam. “Bawah tanah?"Uryu terkekeh pelan, raut wajahnya memperlihatkan sedikit kebanggaan. "Sekarang kau mulai mengerti."Ia kembali mengetukkan ujung sepatunya ke lantai batu. "Selama bertahun-tahun kalian terus melancarkan operasi pengepungan terhadap Sindikat Noctis. Kalian memang berhasil menghancurkan beberapa markas, tetapi tidak pernah benar-benar memusnahkan kami."Nada suaranya terdengar mantap. "Itu bukan karena kalian kurang kuat." Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Melainkan karena sejak awal kalian mencari di tempat yang salah."Uryu kembali menunjuk lantai di bawah mereka. "Lebih dari sepuluh tahun terakhir, kami membangun jaringan bawah tanah di seluruh Zona Selatan. Sebagian memanfaatkan gua alami, sebagian lagi menghubungkan terowongan bekas tambang, sementara sisanya digali sedikit demi sedikit oleh orang-orang kami."Matanya menatap lurus ke arah Arka."Semua lorong itu saling terhubung. Bila satu markas terbongkar, kami tinggal
“Tuan Arka,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan, “Nama saya Serena. Kita pernah bertemu tujuh tahun lalu, meski waktu itu kondisi saya benar-benar berantakan.”Ia tersenyum kecil, berusaha meredakan rasa gugupnya sendiri. “Mungkin saat itu saya terlihat sangat memalukan.”Arka menatap
Di dalam ruang makan utama kediaman Keluarga Mahesa, cahaya lampu kristal memantul hangat di atas meja panjang yang dipenuhi hidangan.Beberapa putaran minuman membuat suasana terlihat cair dan akrab, tetapi semua orang di meja itu jelas menyimpan pikiran masing-masing. Setelah merasa waktunya cuku
Beberapa detik kemudian, Vanessa ikut turun.Di depan Hotel Raventa, konvoi keluarga Mahesa sudah menunggu. Beberapa mobil Jeep modifikasi dan kendaraan lapis baja ringan berjajar di pinggir jalan dengan lampu menyala redup, menghadirkan tekanan yang tidak kecil di tengah malam Kota Vantara.Braman
Melihat itu, Arka mundur setengah langkah dan memberi ruang di tengah pintu agar para penembak keluarga Mahesa bisa mengambil posisi terbaik.Brama segera mendekat ke sampingnya, suaranya lebih rendah kali ini. “Tuan Arka… sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapannya tidak lagi hanya berisi kewaspadaan







