LOGINPukul dua pagi, The Velvet Room berubah menjadi kerangka dari kemewahannya sendiri.
Tanpa musik jazz yang mengalun, tanpa denting gelas kristal yang bersulang, dan tanpa tawa renyah para sosialita Jakarta Selatan, tempat itu hanyalah sebuah ruangan bawah tanah yang sunyi dan berbau sisa pesta. Asap rokok yang terperangkap di udara mulai turun, menempel pada sofa-sofa beludru merah marun, menciptakan lapisan tipis aroma dekadensi.
Julian baru saja membalik tanda di pintu depan menjadi “CLOSED”. Bimo, asisten bartendernya, sudah pamit lima belas menit lalu, berlari mengejar ojek online di tengah gerimis yang masih enggan berhenti. Kini, hanya ada Julian dan suara mesin kopi yang mendesis pelan saat sedang dibersihkan.
Atau setidaknya, Julian berharap hanya ada dia sendiri.
Suara langkah kaki stiletto yang mengetuk lantai kayu mematahkan harapan itu. Temponya lambat, menyeret, namun penuh ritme. Julian tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik langkah itu. Dia hafal bunyinya, sama seperti dia hafal letak setiap botol di rak belakangnya.
"Kau terlihat mengerikan, Ian."
Julian menghela napas, tetap mengelap permukaan meja bar dengan gerakan memutar yang metodis. "Dan kau terdengar mabuk, Giselle."
Giselle Andara tertawa kecil. Tawa itu serak, efek dari menyanyi selama dua jam penuh dan—Julian yakin—setidaknya tiga gelas Martini yang ditenggaknya di sela-sela set lagu. Wanita itu berjalan mendekati bar, gaun champagne-nya kini sedikit kusut di bagian pinggang, rambutnya yang tadi tertata rapi kini jatuh berantakan secara artistik di bahunya.
Dia tidak duduk di kursi tinggi. Sebaliknya, Giselle meletakkan tas tangannya di atas meja bar, lalu mencondongkan tubuh ke depan, menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Julian yang masih sibuk.
"Aku nggak mabuk," gumam Giselle, matanya yang dilapisi eyeliner tebal mengikuti gerakan tangan Julian. "Aku cuma... high. Adrenalin panggung. Kau tahu rasanya, kan? Ah, lupa. Kau kan manusia batu. Kau nggak punya adrenalin."
Julian berhenti mengelap. Dia melempar kain lap itu ke wastafel di bawah meja, lalu akhirnya menatap wanita itu. Di bawah pencahayaan lampu kerja yang terang dan tidak romantis ini, Giselle terlihat lebih manusiawi. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya yang tertutup concealer, dan lipstiknya sedikit pudar di bagian tengah bibir. Namun, ketidaksempurnaan itu justru membuatnya terlihat lebih berbahaya. Giselle yang berantakan adalah Giselle yang jujur.
"Mau pulang atau mau tidur di sini?" tanya Julian datar. "Aku mau kunci pintu."
"Galak banget," cibir Giselle. Dia merogoh tas tangannya, mengeluarkan bungkus rokok putih ramping dan pemantik api emas. Dia menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya yang merah, tapi tidak langsung menyalakannya. Dia menatap Julian, alisnya terangkat menantang.
Julian memutar bola matanya, tapi tangannya bergerak otomatis. Dia mengambil pemantik dari tangan Giselle, menyalakannya.
Klik.
Api kecil menari di antara mereka. Giselle memajukan wajahnya, ujung rokok menyentuh api. Dia menghisap dalam-dalam, pipinya kempis, lalu menghembuskan asap tipis ke samping, menghindari wajah Julian. Sopan santun yang langka.
"Tadi ngapain di gudang?" tanya Giselle tiba-tiba. Asap rokok mengepul di sekitar wajahnya seperti cadar.
"Kerja," jawab Julian singkat. Dia mengambil gelas pendek, menuangkan sisa Whiskey murah untuk dirinya sendiri—minuman penutup hari yang biasa dia lakukan.
"Bohong," Giselle menjentikkan abu rokok ke asbak kristal di dekatnya. "Aku lihat gadis itu keluar. Anak kecil yang pakai jaket kegedean itu. Siapa namanya? Lala? Lili?"
Julian meneguk whiskey-nya, merasakan cairan panas itu membakar tenggorokannya yang kering. "Bukan urusanmu, Sel."
"Semua yang ada di bar ini urusanku, Ian. Aku diva-nya, ingat?" Giselle tertawa lagi, tapi kali ini ada nada tajam di sana. Dia turun dari kursi bar, berjalan memutari meja counter hingga dia berdiri di wilayah kerja Julian. Wilayah terlarang bagi tamu.
Julian tidak mundur. Dia bersandar pada rak belakang, melipat kedua tangannya di dada. Jarak mereka hanya tinggal satu meter.
"Dia masih bau minyak telon, Ian," ejek Giselle, melangkah semakin dekat. "Sejak kapan seleramu turun drastis begitu? Dulu kau bilang kau suka wanita yang tahu caranya pegang kendali. Wanita yang bisa bikin kau lupa kalau kau itu cuma anak yatim piatu yang berjuang sendirian di Jakarta."
Rahang Julian mengeras. Giselle selalu tahu di mana harus menusuk. Mereka pernah tinggal bersama selama dua tahun di sebuah apartemen studio sempit di Cipete. Giselle tahu semua mimpi buruk Julian, semua rasa insecure-nya, dan semua fantasi gelapnya. Itu sebabnya mereka putus. Terlalu banyak api dalam satu ruangan kecil hanya akan membakar rumahnya.
"Kau mau apa sebenarnya, Giselle?" suara Julian rendah, memperingatkan.
Giselle berhenti tepat di depan Julian. Dia mendongak, karena Julian jauh lebih tinggi darinya. Dia menghisap rokoknya lagi, kali ini menahan asapnya lebih lama di paru-paru, sebelum meniupkannya perlahan—sangat perlahan—tepat ke wajah Julian.
Aroma menthol dan cherry menerpa indra penciuman Julian. Itu adalah aroma Giselle. Aroma bantal mereka dulu. Aroma pertengkaran dan rekonsiliasi panas di jam tiga pagi.
"Aku mau kau jujur," bisik Giselle. Tangannya yang bebas merayap naik, menyentuh kemeja hitam Julian tepat di bagian dada. Jari-jarinya yang lentik, dengan kuku yang dicat merah darah, menelusuri garis kancing kemeja itu. "Kau tegang malam ini. Aku bisa melihatnya dari caramu mengocok shaker. Kasar. Emosional. Kau butuh pelapiasan."
Julian menangkap pergelangan tangan Giselle sebelum jari wanita itu turun lebih rendah. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakiti.
"Jangan mulai, Sel. Kita sudah selesai."
"Apa iya?" Giselle menantang balik tatapan Julian. Dia tidak menarik tangannya. Justru, dia menggunakan pegangan Julian sebagai tumpuan untuk mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menempelkan tubuh depannya ke tubuh Julian.
Julian bisa merasakan panas tubuh Giselle menembus kain tipis gaunnya. Dia bisa merasakan detak jantung wanita itu yang cepat, bertolak belakang dengan wajahnya yang tampak tenang.
"Gadis kecil itu..." Giselle berbisik di dekat telinga Julian, bibirnya menyapu rahang tegas pria itu, "dia nggak akan ngerti caranya menyentuhmu seperti aku, Ian. Dia nggak tahu kalau kau suka digigit di bahu kiri saat kau hampir sampai. Dia nggak tahu kalau kau benci suara cengeng. Kau butuh lawan yang seimbang."
Pertahanan Julian retak. Sedikit.
Satu tangannya yang bebas bergerak sendiri, mencengkeram pinggang ramping Giselle, menarik wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Aroma alkohol, keringat, dan rokok bercampur menjadi satu afrodisiak yang memusingkan. Ini adalah tarian lama yang mereka hafal di luar kepala. Tarian saling menyakiti dan saling menginginkan.
Julian menunduk, bibirnya berada satu inci di atas bibir Giselle. Dia bisa melihat pupil mata Giselle melebar, menunggu, mengantisipasi ciuman yang akan meruntuhkan dinding pertahanan mereka.
"Kau beracun, Giselle," desis Julian.
"Dan kau kecanduan racunnya," balas Giselle, menantang.
Julian ingin menciumnya. Tuhan tahu dia ingin melakukannya. Menyeret Giselle ke atas meja bar, menjatuhkan gelas-gelas yang menghalangi, dan membiarkan insting purbanya mengambil alih. Melupakan tagihan, melupakan Lily, melupakan dunia.
Tapi kemudian, bayangan wajah polos Lily di gudang tadi melintas di kepalanya. Tatapan memuja yang murni, belum tercemar oleh sinisme. Kontras sekali dengan tatapan Giselle yang penuh tuntutan dan kepemilikan.
Julian melepaskan pinggang Giselle dan mendorongnya pelan. Sangat pelan, tapi penolakannya jelas.
Giselle terhuyung sedikit ke belakang, matanya membelalak kaget. Dia tidak menyangka akan ditolak. Tidak malam ini.
"Pulang, Sel," kata Julian, suaranya parau. Dia berbalik membelakangi Giselle, menyambar kunci mobil dan jaket kulitnya dari gantungan. "Pesan taksi. Atau kalau kau masih kuat nyetir, hati-hati di jalan."
Keheningan yang menyakitkan mengisi ruangan itu selama beberapa detik. Hanya ada suara rokok Giselle yang terbakar habis.
"Kau akan menyesal, Ian," suara Giselle terdengar dingin, tajam seperti pecahan kaca. "Malam ini kau menolakku. Tapi besok... atau lusa... saat kau kesepian di apartemen mewahmu yang dingin itu, kau akan merangkak mencariku."
Julian tidak menjawab. Dia berjalan menuju pintu keluar, langkahnya berat. Dia tidak menoleh lagi saat dia mendengar Giselle mematikan rokoknya dengan kasar di asbak, menimbulkan bunyi cess yang singkat.
Saat Julian melangkah keluar dari Gedung Aradhana, hujan di luar sudah berhenti, menyisakan aspal basah yang memantulkan lampu jalanan Jakarta yang kesepian. Udara dingin menyambutnya, tapi tubuhnya masih terasa panas.
Dia merogoh saku kemejanya, menyentuh kartu mahasiswa milik Lily yang dia simpan di sana. Sebuah pengingat aneh.
Julian masuk ke dalam mobil tuanya, menyalakan mesin yang menderu kasar. Dia butuh tidur. Dia butuh melupakan aroma Giselle yang kini menempel di kemejanya.
Namun, takdir punya rencana lain untuk istirahatnya malam ini. Di Apartemen The Obsidian, seseorang lain sedang menunggu kepulangannya. Seseorang yang menawarkan jenis bahaya yang berbeda—bukan api yang membakar, melainkan air tenang yang menghanyutkan.
Julian menginjak gas, membelah jalanan Antasari menuju Kuningan, tanpa sadar bahwa malamnya baru saja dimulai.
The Velvet Room, Malam Grand Re-Opening. Pukul 21.00 WIB.Bar itu berdenyut. Musik Deep House yang berat menggetarkan lantai marmer, seirama dengan detak jantung Julian yang tidak beraturan.The Velvet Room penuh sesak. Bukan oleh mahasiswa seni atau pekerja kantoran yang mencari ketenangan seperti dulu, melainkan oleh crème de la crème (kaum elit) Jakarta. Politisi korup, istri pejabat yang memakai berlian seberat dosa suami mereka, influencer Instagram yang sibuk live streaming, dan kritikus seni yang datang karena diundang Bastian Leo.
Kantor Bastian Leo, The Velvet Room. Pukul 14.00 WIB.Ruangan itu bau uang baru. Sofa kulit Italia, meja kaca tempered, dan karpet bulu hewan asli. Bastian Leo duduk di balik mejanya, membolak-balik sketsa "aman" yang dibawa Julian.Sketsa-sketsa itu adalah gambar lanskap surealis dan potret abstrak yang indah—karya Lily yang dimanipulasi Julian agar terlihat "artistik" namun tidak menyinggung."Bagus," komentar Bastian, melempar sketsa itu ke meja. "Tekniknya matang. Tapi... kurang nendang."Julian berdiri kaku di depan meja. "Kurang bagaimana, Bas? Itu sudah sesuai tema 'Rebirth' yang lo minta."
The Velvet Room, Seminggu Setelah Renovasi. Pukul 20.00 WIB.Bar itu sudah tidak seperti dulu.Lantai kayu rustic yang hangat telah diganti dengan marmer hitam yang dingin. Lampu-lampu gantung antik warisan ayah Julian sudah masuk gudang, digantikan oleh lampu strip LED neon berwarna ungu dan merah muda yang mencolok. Musik Jazz yang biasa diputar Julian kini berganti menjadi Deep House yang berdentum monoton.The Velvet Room telah kehilangan jiwanya. Sekarang, tempat ini hanyalah sebuah kelab malam mahal lainnya di Jakar
Kosan Petak, Gang Kelinci, Jakarta Selatan. Dua Minggu Pasca Penyitaan.Suara kipas angin dinding yang berderit (krek... krek...) menjadi satu-satunya musik pengantar tidur bagi Julian.Tidak ada lagi AC sentral yang dingin. Tidak ada seprai sutra. Tidak ada Château Margaux.Hanya ada kasur busa tipis di lantai, dinding cat hijau yang mengelupas, dan aroma selokan yang menguar dari ventilasi jendela setiap kali hujan turun.Julian berbaring menatap langit-langit yang bernoda jamur. Di sampingnya, Lily tertidur pulas sambil memeluk guling lepek. Gadis itu kelelahan setelah seharian bekerja di
Halaman Gedung KPK, Kuningan. 24 Jam Pasca Penangkapan.Lampu blitz kamera membutakan mata.Begitu Julian melangkah keluar dari lobi gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan maraton sebagai saksi kunci, dia disambut oleh lautan manusia. Wartawan, kamera TV, dan mikrofon yang disodorkan paksa ke wajahnya seperti tombak.Berita penangkapan Clara Valenia adalah Headline Nasional. CEO muda, cantik, sukses, ternyata terlibat suap lahan dan pencucian uang.Tapi bagi media gosip, sisi "bumbu" ceritanya jauh lebih menarik: Sang Pelapor adalah Kekasihnya Sendiri."Mas Julian! Mas Julian! Benar Anda yang membocorkan dokumen itu?"
Penthouse Clara Valenia, Pukul 09.45 WIB.Empat puluh lima menit berlalu sejak Julian menutup telepon dari layanan pengaduan KPK.Clara sudah kembali dari gudang wine di lantai bawah. Dia membawa botol Château Margaux 2015 yang diminta Julian—botol yang sama yang menjadi awal obsesinya di foto tahun 2022. Ironis. Botol itu menandai awal dan akhir segalanya.Julian duduk di sofa kulit hitam, kakinya disilangkan santai. Dia sudah tidak lagi gemeta







