LOGINSaat ujung pisau hampir menyentuh kemejanya, aliran dingin menyembur dari tangannya. Serangan itu menyimpang beberapa sentimeter, meleset dari dada dan menggores lengan kirinya.Rayhan terhuyung. Rasa perih menjalar dari luka tipis di lengannya. Darah merah membasahi kain kemeja, tetapi ia masih berdiri.Penyerangnya membelalak. “Apa-apaan tadi?”Rayhan sendiri tidak tahu. Ia hanya menatap cincin safir yang kini berkilau samar. Ujung jari-jarinya terasa mati rasa, sementara hawa dingin berputar di telapak tangan.Pria bertopeng itu menggeram dan kembali menyerang.Kali ini Rayhan berusaha menghindar. Kakinya terpeleset di atas aspal lembap, membuat tubuhnya jatuh ke satu lutut. Pisau melintas tepat di atas kepalanya.Pria bertubuh kekar segera menerjang dari samping. Pukulan keras menghantam bahu Rayhan.Rasa sakit meledak hingga ke leher. Ia terlempar beberapa langkah dan membentur sisi SUV.“Berhenti melawan!” bentak pria itu.Rayhan terbatuk, berusaha menarik napas. “Kalian berdua…
SUV hitam itu berhenti mendadak.Tubuh Rayhan Halim terhentak ke depan. Sabuk pengaman menekan dadanya, sementara ban mobil mengeluarkan decitan panjang di atas aspal basah.“Apa-apaan ini?” seru Rayhan.Darto mencengkeram kemudi dengan kedua tangan. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya meskipun udara pegunungan terasa dingin.“Mobil di depan menghalangi jalan, Tuan Muda.”Rayhan menatap mobil pikap tua yang melintang beberapa meter di hadapan mereka. Kap mesinnya terbuka, tetapi tidak ada asap ataupun tanda kerusakan. Kaca jendelanya gelap. Tidak seorang pun terlihat di dalam.“Kalau rusak, kenapa parkirnya melintang seperti itu?” Rayhan bertanya.Darto tidak menjawab.Di sampingnya, Rendra justru tampak tenang. Pria itu merapikan manset kemejanya, lalu mengembuskan napas seolah mereka hanya mengalami gangguan kecil dalam perjalanan.“Turun dan periksa mobil itu,” perintahnya.Darto menelan ludah. “Tuan, mungkin lebih baik kita...”“Apa kau tuli?”“Baik, Tuan.”Darto membuka
Papan bertuliskan FORBIDDEN VILLAGE — 5 KM perlahan menghilang di belakang SUV hitam yang melaju menembus kabut pegunungan.Rayhan Halim menyandarkan punggungnya pada jok kulit. Dari balik kaca jendela, pepohonan tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi jalan sempit itu. Kabut menggantung rendah, membatasi jarak pandang hingga beberapa meter. Sesekali, ranting kering menggores bodi mobil, menimbulkan suara mencicit yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Di jari manisnya, cincin safir berdenyut dingin. Rayhan mengusap permukaannya dengan ibu jari. Apa sebenarnya yang ingin kau peringatkan kepadaku?Sejak melewati pos pemeriksaan terbengkalai tadi, suhu cincin itu terus menurun. Dingin yang awalnya hanya terasa seperti menyentuh es kini merambat hingga ke pergelangan tangannya.Di kursi depan, Rendra melirik melalui kaca spion. “Kenapa diam saja? Biasanya kau punya banyak pertanyaan.”Rayhan mengangkat kepala. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Rendra tertawa pendek. “P
Cincin safir di jari Rayhan terasa semakin dingin ketika SUV hitam itu memasuki jalan pegunungan yang sempit.Di luar jendela, pepohonan menjulang rapat. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, sementara permukaan jalan yang basah membuat ban mobil sesekali berdecit.Rayhan melirik kaca spion.Rendra duduk di sebelahnya dengan senyum puas. Darto mengemudi tanpa sepatah kata pun.Keduanya terlihat tenang, terlalu tenang untuk perjalanan menuju desa terpencil yang terkenal berbahaya.“Rendra,” ujar Rayhan sambil menyandarkan kepala, “aku baru ingat sesuatu.”“Apa lagi?”“Kalau kita tersesat di sini, siapa yang akan menemukan kita?”Rendra mendengus. “Berhentilah berpikir macam-macam. Kau hanya perlu mengikuti perintahku.”“Baiklah. Aku cuma berharap kita tidak menjadi berita utama. Judulnya mungkin, Tiga Pria Hilang di Pegunungan karena Salah Memilih Sopir.”Darto melirik kaca spion sekilas.Rendra tidak tertawa. “Kalau kau terus mengoceh, aku bisa menyuruhmu turun sekara
SUV hitam itu melaju semakin jauh dari pusat Bellavista City. Gedung-gedung tinggi telah berganti dengan perkebunan, jalan berkelok, dan deretan pepohonan yang menutupi cahaya matahari.Rayhan Halim duduk di kursi belakang sambil berpura-pura menikmati pemandangan. Di sebelahnya, Rendra sibuk memainkan ponsel, sesekali tersenyum puas setelah membaca pesan yang masuk.Sementara itu, Darto terus mengemudi tanpa banyak bicara.“Rendra,” ujar Rayhan tiba-tiba, “kita masih jauh dari Forbidden Village?”“Kenapa? Kau ingin pulang?”“Bukan. Aku hanya ingin tahu apakah kita sempat makan siang. Perutku mulai berisik.”Rendra mendengus. “Pikiranmu hanya makanan! Tidak heran kau tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yang berarti.”Rayhan mengusap perutnya sambil tersenyum santai.“Setidaknya perutku jujur. Kalau lapar, dia langsung memberi tahu. Tidak seperti manusia yang tersenyum di depan, tetapi menyimpan pisau di belakang.”Senyum Rendra langsung menghilang. “Apa maksudmu?”“Tidak ada. Aku s
Pagi itu, harumnya kopi memenuhi ruang makan kediaman keluarga Halim. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyinari meja panjang yang dipenuhi hidangan mahal. Namun, suasana hangat itu tidak berlaku bagi Rayhan Halim.Pemuda itu duduk di ujung meja dengan sepotong roti panggang di tangan. Kemeja sederhananya tampak kontras dengan pakaian bermerek yang dikenakan Jessica dan Rendra.“Rayhan!” Lilian meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi nyaring. “Setelah sarapan, siapkan barang-barang untuk perjalanan kita ke Forbidden Village.”Rayhan mengangkat wajah. “Kita berangkat hari ini, Ma?”“Tentu saja. Apa kau ingin menunggu sampai tahun depan?” sahut Jessica sambil terkekeh.Rendra menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Rayhan dengan senyum mengejek.“Jangan lupa membawa pakaian yang pantas. Meskipun kau tidak punya selera, setidaknya jangan membuat keluarga ini terlihat seperti sedang membawa gelandangan.”Jessica tertawa sampai hampir tersedak jus jeruknya.Rayhan menatap pakaia







