LOGINRayhan masih berdiri di depan jendela ketika Cindy bangkit perlahan dari ranjang. Selimut tipis meluncur dari bahunya sebelum ia cepat-cepat membungkus tubuhnya kembali, seolah udara pagi mendadak lebih dingin dari biasanya.
Di bawah sana, Bellavistam City tak pernah benar-benar tidur. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti, merah dan putih, seperti aliran darah yang memompa kehidupan ke tubuh raksasa beton dan kaca. Bunyi klakson terdengar samar dari ketinggian suite mereka—jauh, tapi konstan. Kota itu berdenyut, tak peduli pada apa pun yang terjadi di lantai puluhan.
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, mengiris ruangan dengan garis emas pucat. Partikel debu melayang di udara, terlihat jelas dalam sorot tipis itu. Cindy sudah mengenakan kembali gaunnya—rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang mengkhianati malam sebelumnya. Rambutnya disisir halus, jatuh lembut di punggungnya.
Namun sorot matanya berbeda.
Lebih lembut dan dalam. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di antara mereka—sesuatu yang tak bisa dibungkus ulang seperti pakaian.
Di depan lift, sebelum pintu baja itu menutup, Cindy meraih tangan Rayhan. Jemarinya hangat. Sedikit gemetar.
“Aku nggak mau ini cuma jadi cerita satu malam,” ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh dengung mesin lift.
Rayhan menatapnya. Wajahnya tenang—terlalu tenang. Sorot matanya sulit dibaca, seperti permukaan danau yang tak pernah memperlihatkan kedalamannya.
Ia mengeluarkan ponsel.
“Nomormu.”
Singkat dan tegas.
Cindy tersenyum, menyebutkan angka demi angka dengan cepat, takut waktu berubah pikiran. Rayhan mengetik tanpa ragu. Tak ada jeda. Tak ada basa-basi.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
“Itu aku,” katanya.
Cindy menyimpan nomor itu dengan nama... Rayhan.
Tanpa simbol hati. Tanpa tambahan apa pun.
Namun cara ia memandangi layar ponselnya mengatakan lebih dari sekadar huruf.
Lift terbuka di lobi hotel mewah itu. Aroma parfum mahal dan pendingin ruangan menyambut mereka. Lantai marmer memantulkan bayangan tubuh mereka yang berdampingan—dua dunia yang tampak serasi, padahal mungkin tidak.
Di depan pintu kaca besar, langkah mereka melambat.
“Hubungi aku,” Cindy berbisik.
Rayhan hanya mengangguk.
Tak ada pelukan panjang. Tak ada janji berlebihan. Tak ada drama seperti dalam film.
Namun ketika Cindy melangkah menjauh, tumit sepatunya berdetak ringan di lantai, ia menoleh. Sekali. Lalu sekali lagi.
Dan Rayhan tahu.
Gadis itu sudah terikat.
Entah oleh rasa.
Entah oleh takdir.
***
Rayhan menyeberangi jalan di depan hotel.
Pakaiannya kontras mencolok dengan hotel bintang lima di belakangnya. Kemeja lama yang sedikit kusut. Celana hitam biasa. Sepatu tanpa merek mahal. Tak ada arloji mewah, tak ada aksesoris mencolok—kecuali satu cincin safir di jarinya yang tampak sederhana.
Angin kota menyentuh wajahnya. Bau aspal, knalpot, dan sisa hujan semalam bercampur di udara. Lalu lintas pagi mulai padat. Mesin meraung. Klakson bersahutan.
Lampu lalu lintas berubah merah.
Rayhan melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Detik berikutnya...
Raungan mesin memecah udara.
Sebuah Maybach hitam meluncur seperti peluru, kilap bodinya memantulkan cahaya matahari pagi. Mobil itu menerobos lampu merah tanpa mengurangi kecepatan menuju ke arah Rayhan yang sedang menyeberang santai.
BRAK!
Tubuh Rayhan terangkat dari tanah. Dunia berputar dalam pusaran warna dan suara. Aspal menghantam punggungnya dengan keras, udara terhempas dari paru-parunya. Kepalanya hampir membentur pembatas jalan—namun refleksnya membuatnya memutar tubuh di udara sepersekian detik sebelum jatuh.
Klakson memekakkan telinga.
Orang-orang berteriak.
“Ya Tuhan!”
“Tabrak lari?!”
Rayhan tergeletak di pinggir jalan. Napasnya berat. Debu dan serpihan aspal menempel di kemejanya. Jantungnya berdetak cepat… tapi anehnya, tak ada rasa sakit yang mematikan. Tak ada tulang yang terasa retak.
Cincin safir di jarinya berkilau samar.
Hanya sepersekian detik.
Lalu redup kembali.
Pintu mobil terbuka dengan kasar.
Seorang gadis turun. Tinggi dan ramping. Dress mahal membalut tubuhnya dengan sempurna. Sepatu high heels putih menyentuh aspal tanpa ragu. Rambut panjangnya tergerai, mengilap terkena cahaya pagi. Wajahnya cantik—tajam, nyaris seperti pahatan.
Namun ekspresinya… dingin.
“Ya ampun!” serunya.
Bukan pada Rayhan.
Tatapannya langsung tertuju pada kap depan Maybach itu yang sedikit penyok.
“Mobilku!”
Ia mendekat, memeriksa goresan dengan alis terangkat kesal. Jemarinya menyentuh lekukan logam yang rusak, seolah itu luka yang jauh lebih penting.
Baru setelah itu ia menoleh ke arah Rayhan.
“Kamu sengaja, ya?!” suaranya meninggi penuh emosi.
Rayhan bangkit perlahan. Debu berjatuhan dari pakaiannya. Ada goresan tipis di siku, sedikit darah mengering. Tapi tubuhnya terasa… utuh.
“Sengaja?” suaranya rendah, stabil. “Kamu yang terobos lampu merah.”
Gadis itu mendengus, wajahnya memerah bukan karena malu... melainkan marah.
“Jangan ngaco! Aku lihat kamu tiba-tiba lompat!”
Orang-orang mulai berkerumun. Ponsel terangkat. Bisik-bisik mengalir cepat.
“Itu Anastasia Wibowo…”
“Putri Stephen Wibowo…”
Nama itu menyebar dengan cepat dan kerumunan semakin padat.
Bukan untuk melihat Rendy yang menjadi korban tabrakan, melainkan semua mata tertuju kepada gadis yang mengendarai mobil mewah Maybach hitam ini.
Anastasia Wibowo.
Putri tunggal konglomerat Stephen Wibowo dan Eveline Chandra. Pewaris jaringan bisnis properti, otomotif, dan finansial terbesar di kota ini. Usianya baru 19 tahun—tapi caranya berdiri, caranya memandang orang lain… seperti dunia berutang padanya.
Anastasia melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya menyentuh udara di sekitar Rayhan.
“Kamu tahu harga mobil ini?” katanya tajam, menunjuk kap depan. “Miliaran! Kalau rusak begini, kamu bisa ganti?!”
Sorot matanya menelanjangi pakaian Rayhan yang sederhana. Menghitung, menilai, dan menghakimi dengan sesuka hatinya.
Rayhan menatap balik.
Tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditabrak mobil miliaran rupiah.
Lalu lintas masih macet. Matahari naik perlahan. Dan di tengah jalan itu, dua dunia berdiri berhadapan—satu bersandar pada kekuasaan dan uang.
Sedangkan yang lain… menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar penampilan.
Terima kasih untuk komentar dan vote gemsnya ya teman-teman...
Rayhan tertawa kecil.Bukan tawa keras. Bukan tawa marah. Hanya lengkungan tipis di sudut bibirnya—tawa yang terdengar menggelikan di tengah kerumunan orang yang masih gempar.“Aku yang ditabrak,” katanya ringan. “Kamu malah minta ganti rugi?”Wajah Anastasia Wibowo menegang. Hidungnya sedikit terangkat, dagunya terangkat lebih tinggi lagi.“Jangan pura-pura miskin nggak tahu diri!” bentaknya tajam. “Kalau nggak mau ganti, kamu bakal nyesel!”Ancaman itu meluncur begitu saja dari bibirnya—ringan dan sudah terbiasa, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ia gunakan dan selalu berhasil.Orang-orang menahan napas.Rayhan menatapnya beberapa detik. Tatapannya yang tadi datar perlahan berubah dingin. Bukan marah. Lebih seperti… penilaian.“Lain kali belajar nyetir.”Kalimat itu tidak kasar, tapi terasa seperti tamparan.Ia berbalik.Langkahnya tenang, meninggalkan suara protes dan bisik-bisik di belakangnya.Untuk pertama kalinya, Anastasia terpaku. Sepersekian detik saja—cukup untuk me
Rayhan masih berdiri di depan jendela ketika Cindy bangkit perlahan dari ranjang. Selimut tipis meluncur dari bahunya sebelum ia cepat-cepat membungkus tubuhnya kembali, seolah udara pagi mendadak lebih dingin dari biasanya.Di bawah sana, Bellavistam City tak pernah benar-benar tidur. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti, merah dan putih, seperti aliran darah yang memompa kehidupan ke tubuh raksasa beton dan kaca. Bunyi klakson terdengar samar dari ketinggian suite mereka—jauh, tapi konstan. Kota itu berdenyut, tak peduli pada apa pun yang terjadi di lantai puluhan.Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, mengiris ruangan dengan garis emas pucat. Partikel debu melayang di udara, terlihat jelas dalam sorot tipis itu. Cindy sudah mengenakan kembali gaunnya—rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang mengkhianati malam sebelumnya. Rambutnya disisir halus, jatuh lembut di punggungnya.Namun sorot matanya berbeda.Lebih lembut dan dalam. Seolah ada sesuatu y
Lift berhenti nyaris tanpa suara. Denting halus terdengar ketika pintu terbuka, memperlihatkan koridor sunyi berlapis karpet tebal yang meredam langkah. Rayhan berjalan lebih dulu, Cindy di sampingnya, hingga mereka tiba di pintu suite paling ujung. Saat kartu akses disentuhkan, lampu indikator menyala hijau—dan sesaat kemudian, pintu terbuka ke ruangan luas yang terasa hangat sekaligus asing.Cahaya lampu kristal menggantung redup di langit-langit tinggi. Jendela kaca lebar menampilkan kota malam yang berkilauan—deretan lampu seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Aroma kayu mahal dan parfum lembut bercampur di udara.Cindy masuk lebih dulu. Tangannya masih menggenggam kotak iPhone baru, lalu meletakkannya perlahan di atas meja marmer. Napasnya belum stabil, dadanya naik turun cepat, seakan ia masih berusaha memahami semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.Ia berbalik.Mata hijaunya bertemu dengan tatapan Rayhan yang tenang namun hangat. Jarak di antara mereka terasa tipi
Penjaga toko masih gemetar saat menatap lima kartu lotere di atas meja, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar ketika menghitung uang di laci kasir, lalu ia menggeleng pelan.“Rayhan…” suaranya serak. “Uang tunai saya nggak cukup.”Rayhan mengangguk. Ia sudah menduganya.Toko kecil ini bukan bank. Laci kasirnya bukan brankas.Penjaga toko menarik napas dalam, lalu membuka laci besi kecil di bawah meja. Uang kertas disusun tergesa, dihitung cepat, lalu didorong ke depan.“Aku cuma bisa bayar tiga yang ini secara tunai,” katanya lirih namun jujur.“Sepuluh juta. Lima puluh juta. Seratus juta.”Tiga bundel uang tebal mendarat di atas meja dengan suara duk pelan—namun bagi Rayhan, suara itu terdengar lebih keras dari benturan truk siang tadi.Seratus enam puluh juta rupiah. Tunai.Tangannya sedikit kaku saat menyentuh uang itu.“Untuk yang ini…” penjaga toko menunjuk dua kartu terakhir—lima ratus juta dan satu miliar—harus lewat penyelenggara. Saya harus telepon mereka
Rayhan mengedip beberapa kali.Ada sesuatu yang terasa tidak pas—seperti dunia tiba-tiba diganti dengan versi yang lebih tajam. Cahaya matahari yang menembus sela bangunan memantul lebih keras dari biasanya. Garis-garis gedung tampak tegas seperti baru digambar ulang dengan tinta hitam. Bahkan udara di depannya berpendar samar, berkilau seperti serpihan kaca halus yang melayang.Ia mengernyit pelan.Matanya terasa panas sekaligus dingin, berdenyut lembut seperti luka yang sedang sembuh… atau seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati. Ia tidak mengerti apa yang berubah—tapi jelas ada sesuatu yang sedang menyesuaikan diri di dalam dirinya.Rayhan menarik napas panjang. Udara terasa lebih bersih, lebih ringan di paru-parunya. Tubuhnya memang jauh lebih bugar dari sebelumnya… namun hidupnya tetap berada di titik nol.Ia merogoh saku celananya.Jarinya menyentuh kertas tipis yang kusut. Ia mengeluarkannya perlahan.Lima puluh ribu kredit.Hanya itu.Ia menatap lembaran uang lusu
Rayhan melangkah keluar dari Hotel Angin Samudera dengan perasaan hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut dan tertinggal di balik pintu kaca berkilau itu. Udara siang terasa menyengat kulit. Aspal di bawah kakinya memantulkan panas dan cahaya menyilaukan, namun ia nyaris tak merasakannya. Langkahnya gontai, berat, seperti menyeret tubuh yang sudah kehilangan tujuan.Di belakangnya, bangunan hotel itu tetap berdiri megah... dingin, angkuh, berkilau oleh kemewahan. Tak ada satu pun tanda bahwa di dalamnya, sebuah kehidupan baru saja dihancurkan tanpa ampun.Tak ada amplop gaji.Tak ada pesangon.Hanya ada bayangan rumah kontrakan sempit yang menunggunya: tagihan listrik yang hampir diputus, cicilan motor kredit yang menunggak, dan deretan pesan singkat bernada ancaman dari para penagih utang yang seolah tak pernah tidur.Bahkan ia tidak berani membawa motor kreditannya ke tempat kerjanya karena khawatir ditarik oleh debt collector yang mencegatnya di jalan masuk hotel.Rahan







