로그인Rayhan mengedip beberapa kali.
Ada sesuatu yang terasa tidak pas—seperti dunia tiba-tiba diganti dengan versi yang lebih tajam. Cahaya matahari yang menembus sela bangunan memantul lebih keras dari biasanya. Garis-garis gedung tampak tegas seperti baru digambar ulang dengan tinta hitam. Bahkan udara di depannya berpendar samar, berkilau seperti serpihan kaca halus yang melayang.
Ia mengernyit pelan.
Matanya terasa panas sekaligus dingin, berdenyut lembut seperti luka yang sedang sembuh… atau seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati. Ia tidak mengerti apa yang berubah—tapi jelas ada sesuatu yang sedang menyesuaikan diri di dalam dirinya.
Rayhan menarik napas panjang. Udara terasa lebih bersih, lebih ringan di paru-parunya. Tubuhnya memang jauh lebih bugar dari sebelumnya… namun hidupnya tetap berada di titik nol.
Ia merogoh saku celananya.
Jarinya menyentuh kertas tipis yang kusut. Ia mengeluarkannya perlahan.
Lima puluh ribu kredit.
Hanya itu.
Ia menatap lembaran uang lusuh itu cukup lama hingga sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum—lebih seperti bayangan tawa yang kering dan pahit. Tidak ada suara yang keluar, hanya napas yang tercekat di dada.
Pikiran lama mulai merayap kembali.
Cara yang cepat dan mudah. Cara orang yang sedang putus asa.
Lotere gosok.
Ingatan itu muncul begitu jelas. Beberapa bulan lalu… satu kartu murahan pernah memberinya lima ratus ribu. Uang yang langsung habis untuk membelikan Keyra sebuah tas kecil—tas yang bahkan tak pernah benar-benar dipakai oleh gadis itu.
Rayhan menutup mata sesaat, lalu menghela napas panjang.
“Sekali lagi…” gumamnya lirih.
Langkahnya pun berbelok.
Sebuah toko kecil berdiri di pinggir jalan, terjepit di antara warung kopi dan kios pulsa. Lampu neon kusam bertuliskan LOTRE & ROKOK berkedip malas di atas pintu, mengeluarkan dengung listrik yang nyaris mati.
Bel pintu berdenting saat ia masuk.
Pria penjaga toko... paruh baya dengan mata sembap dan wajah yang tampak kelelahan oleh rutinitas—mengangkat kepala. Tatapannya berubah begitu mengenali Rayhan.
“Kamu lagi…” katanya lirih.
Rayhan tersenyum tipis. “Iya, Pak.”
Pria itu memandang pakaian Rayhan yang kusut, luka samar di lehernya, dan mata letih yang anehnya kini tampak hidup. Ia menghela napas panjang, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat cerita yang sama berulang.
“Rayhan,” ucapnya pelan, nyaris iba. “Pakai duit itu buat makan saja, Nak. Aku tahu kamu… sudah sering ke sini.”
Ia menggeleng pelan.
Nama Keyra tak perlu disebut.
Rayhan menunduk sesaat.
Namun tepat ketika ia hendak menjawab...
Matanya bergetar.
Pandangan Rayhan tanpa sadar menyapu tumpukan kartu lotere gosok di dalam meja etalase kaca. Hanya dalam sekejap, jantungnya seperti berhenti berdetak.
Ia melihat… angka.
Bukan angka tercetak.
Melainkan kilatan nilai—bayangan cahaya tipis yang melayang di balik setiap kartu.
Sebagian buram, abu-abu, kosong.
Rayhan membeku.
Dadanya berdebar keras, menghantam tulang rusuknya seperti palu.
“Apa ini…?” batinnya tercekat.
Ia mengedip. Kilatan itu tidak hilang.
Tangannya gemetar saat menunjuk tumpukan kartu.
Penjaga toko terkejut. “Lima? Kamu yakin?”
Rayhan menelan ludah. “Iya.”
Tumpukan kartu diletakkan di depannya. Dengan tangan yang kini terasa anehnya stabil, Rayhan memilih satu per satu—tepat dari titik cahaya yang paling terang.
Lima kartu.
Penjaga toko menghela napas menyerah. “Ya sudah… semoga beruntung.”
Rayhan mengambil koin. Napasnya tertahan.
Krek.
Kartu pertama digosok.
10.000.000.
Rayhan membeku.
“K-Kok…?” penjaga toko terbelalak.
Krek.
Kartu kedua.
50.000.000.
Suara langkah di luar toko berhenti.
Krek.
Kartu ketiga.
100.000.000.
“ASTAGA!” seseorang berteriak.
Tangan Rayhan sedikit gemetar, namun matanya kini dingin dan fokus.
Krek.
Kartu keempat.
500.000.000.
Penjaga toko hampir jatuh terduduk.
Rayhan menghela napas pelan. Lalu menggosok kartu terakhir—perlahan, tenang.
Angka itu muncul.
1.000.000.000.
Toko kecil itu meledak oleh teriakan.
“SATU MILIAR?!”
Orang-orang berkerumun. Ponsel terangkat. Wajah-wajah terpaku tak percaya.
Rayhan menatap kelima kartu itu. Matanya berkilau samar biru—tanpa ia sadari sendiri.
Awalnya ia terkejut. Namun perlahan, kepingan-kepingan kejadian mulai tersambung.
Kecelakaan. Ambang kematian. Bangkit kembali.
Semua itu karena cincin safir warisan kakeknya.
Ia menatap jarinya. Batu safir itu berdenyut pelan… seolah membenarkan semua dugaan yang baru lahir di kepalanya.
Kemampuan melihat nilai.
Beberapa gadis muda yang tadi membeli lotere kini mengerumuninya, wajah memerah, mata berbinar.
“Mas… bantuin aku pilih dong.”
Rayhan tersenyum kecil.
“Pilih yang ini,” katanya tenang.
Gadis pertama menggosok.
Teriakan pecah.
Gadis kedua.
Gadis ketiga.
Dengan modal sepuluh ribu per kartu, mereka menang puluhan juta.
Toko lotere berubah seperti kasino kecil. Tawa, sorak, kekaguman—semuanya bercampur.
Rayhan berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi gadis-gadis cantik yang menatapnya seperti bintang keberuntungan.
Dan untuk pertama kalinya… ia merasakan sesuatu yang lain.
Aura.
Getaran halus dari tubuh-tubuh di sekelilingnya—ketertarikan, kekaguman, bahkan hasrat yang tak disembunyikan. Energi itu menyentuh kulitnya, mengalir lembut, membuat darahnya berdesir hangat.
Rayhan terdiam. Matanya menyipit perlahan.
“Jadi ini…” batinnya bergetar.
Cincin safir di jarinya berkilau samar.
Dan untuk pertama kalinya sejak hidupnya runtuh—senyum tipis terukir di wajahnya.
Takdirnya… baru saja dimulai.
Rayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn
Lampu-lampu kota mulai menipis ketika Rayhan akhirnya membelokkan coupe merah itu keluar dari jalan utama.Mesin mobil Alicia masih mendengkur halus—suara mahal yang terlalu elegan untuk lingkungan yang akan ia tuju.Beberapa menit kemudian, gedung-gedung tinggi Bellavista mulai tergantikan oleh rumah-rumah lama.Jalan menjadi lebih sempit.Lampu jalan lebih jarang.Cat pagar banyak yang sudah pudar.Rayhan memperlambat mobil.Ia melihat deretan rumah dua lantai yang sangat ia kenal.Kompleks lama tempat ia tumbuh.Ia menghela napas pendek.“Aku coba tinggal beberapa hari lagi sambil mencari cuan…”Mobil coupe merah itu jelas terlalu mencolok untuk lingkungan seperti ini.Anak-anak yang masih nongkrong di warung ujung jalan bahkan langsung berhenti mengobrol.Salah satu dari mereka bersiul.“Woi… Ferrari mini!”Rayhan tersenyum kecil.“Kalau mereka tahu ini bukan mobilku,” gumamnya.Ia tidak langsung berhenti di depan rumah.Sebaliknya, ia memarkir mobil itu sekitar lima puluh meter d
Rayhan membuka pintu mobil.Klik.Pintu coupe merah itu terayun pelan, dan ia melangkah keluar dengan gerakan santai seolah baru saja berhenti untuk membeli kopi, bukan karena sebuah SUV hitam memblokir jalan di tengah malam.Angin laut langsung menerpa wajahnya.Udara asin yang dingin mengusap kulitnya, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Lampu jalan memercikkan cahaya kuning redup di aspal pesisir yang kosong.Kondisi jalanan sunyi.Hanya suara ombak jauh dan mesin mobil yang masih menyala pelan.Di depan sana, empat pria berdiri di sekitar SUV hitam.Tubuh mereka besar. Bahu lebar. Tangan kasar seperti orang yang lebih sering memukul daripada berjabat tangan.Salah satu dari mereka memutar bahunya sampai berbunyi.Krek.Ia menatap Rayhan dengan mata menyipit.“Rayhan?”Rayhan mengangkat satu tangan kecil, seperti murid yang hendak bertanya di kelas.“Kalau aku bilang bukan…” katanya santai. “kalian percaya dan pulang?”Beberapa detik hening.Kemudian—Preman itu tertawa.Tawa ka
Mesin coupe merah itu masih menyimpan sisa panas ketika Rayhan akhirnya memutar kunci lagi.Suara mesin menyala halus dan rendah. Lampu dashboard memercikkan cahaya biru lembut ke wajah Rayhan, menerangi garis rahangnya dan bayangan samar di matanya.Ia menatap ke depan beberapa detik.Sunyi.Kemudian matanya melirik ke arah kaca spion.Gerbang villa Alicia perlahan menutup dengan suara mekanis yang halus.Pintu besi tinggi itu akhirnya bertemu di tengah, memutus pandangan Rayhan dari halaman rumah besar yang tadi baru saja ditinggalkan Alicia.Wanita itu sudah masuk.Lampu taman villa menyala hangat di balik pagar.Rayhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala sebentar ke kursi.“Alicia tidak akan keberatan mobilnya aku pinjam sebentar,” gumamnya pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada siapa pun.Tangannya mengetuk ringan setir mobil.Keputusan diambil.Ia akan meminjam mobil ini sebentar dan kembali ke rumah barunya untuk beristirahat.Setelah malam panjang sepert
Angin laut malam bertiup lembut ketika Rayhan dan Alicia keluar dari restoran.Lampu-lampu Bellavista City memantul di permukaan jalan yang basah oleh embun malam. Suasana kota masih hidup—mobil-mobil mewah melintas, musik samar terdengar dari rooftop bar, dan lampu gedung tinggi menyala seperti bintang buatan manusia.Alicia berhenti sebentar di trotoar.Ia menatap Rayhan.Lalu tertawa kecil.“Sejujurnya…” katanya sambil mengusap pelipisnya. “Aku sedikit pusing.”Rayhan mengangkat alis.“Sedikit?”Alicia mengangkat tiga jari.“Mungkin… tiga gelas terlalu banyak.”Rayhan meliriknya dari atas ke bawah.Langkah Alicia sedikit goyah.“Empat,” kata Rayhan.Alicia memicingkan mata.“Kamu menghitung?”“Insting bertahan hidup.”Alicia tertawa.Suara tawanya ringan, berbeda dari sikap elegannya tadi di restoran. Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan, memberi kesan santai yang justru membuatnya terlihat lebih menarik.Rayhan melihat ke sekeliling.“Mobilmu parkir di mana?”Alicia me
Mesin mobil Daniel masih menyala.Lampu dashboard memantulkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kaku. Tangannya masih menggenggam ponsel erat.Di seberang telepon, suara itu terdengar berat. Serak dan tenang.“Siapa?”Daniel menelan ludah. Rahangnya mengeras.“Aku,” katanya. “Daniel Wongso.”Hening sebentar.Lalu suara itu tertawa kecil.“Ah… anak konglomerat yang pernah kehilangan tiga proyek properti dalam dua tahun?”Daniel mengepalkan tangan lebih keras.“Kau masih berani mengejekku?”“Tidak,” jawab suara itu santai. “Aku hanya memastikan identitas. Jadi… siapa yang ingin kamu hilangkan?”Daniel menatap ke arah restoran di seberang jalan.Melalui kaca besar, ia masih bisa melihat Rayhan duduk santai bersama Alicia. Mereka tertawa. Minum wine. Seolah dunia memang dibuat untuk mereka.Rasa panas naik lagi ke dadanya.“Namanya Rayhan.”“Rayhan siapa?”Daniel terdiam.Ia baru sadar sesuatu yang membuat darahnya makin mendidih.Ia… bahkan lupa nama lengkap pria yang pura-pura dijadika







