Beranda / Urban / Sang Pewaris Pemikat Wanita / Semalam Bersama Cindy

Share

Semalam Bersama Cindy

Penulis: Bebby
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 16:43:54

Lift berhenti nyaris tanpa suara. Denting halus terdengar ketika pintu terbuka, memperlihatkan koridor sunyi berlapis karpet tebal yang meredam langkah. Rayhan berjalan lebih dulu, Cindy di sampingnya, hingga mereka tiba di pintu suite paling ujung. Saat kartu akses disentuhkan, lampu indikator menyala hijau—dan sesaat kemudian, pintu terbuka ke ruangan luas yang terasa hangat sekaligus asing.

Cahaya lampu kristal menggantung redup di langit-langit tinggi. Jendela kaca lebar menampilkan kota malam yang berkilauan—deretan lampu seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Aroma kayu mahal dan parfum lembut bercampur di udara.

Cindy masuk lebih dulu. Tangannya masih menggenggam kotak iPhone baru, lalu meletakkannya perlahan di atas meja marmer. Napasnya belum stabil, dadanya naik turun cepat, seakan ia masih berusaha memahami semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.

Ia berbalik.

Mata hijaunya bertemu dengan tatapan Rayhan yang tenang namun hangat. Jarak di antara mereka terasa tipis—dan tanpa sepatah kata pun, Cindy melangkah mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh dada Rayhan dengan gerakan pelan, ragu-ragu, lalu naik hingga melingkari lehernya.

Sentuhan itu seperti percikan.

Bibirnya menyentuh bibir Rayhan—ciuman yang dalam, lambat, dan penuh rasa. Ada kelembutan yang menyusup, tapi juga janji yang tersimpan di baliknya. Rayhan membalas tanpa ragu, tangannya melingkar di pinggang Cindy, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka saling menempel, hangat dan nyata.

Cindy menarik diri sedikit. Napasnya terengah, matanya berkilat nakal. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu jari-jarinya bergerak ke kancing kemeja Rayhan. Satu per satu dibuka, sengaja diperlambat, seolah menikmati tiap detik yang memanjang.

“Malam ini… baru mulai,” bisiknya, suaranya serak, seperti undangan yang sulit ditolak.

Tangannya menggandeng Rayhan menuju tempat tidur besar di tengah ruangan.

Rayhan tak memberi ruang bagi keraguan. Ia meraih Cindy, mengangkat tubuhnya dengan mudah, lalu membawanya ke tepi ranjang. Mereka jatuh bersamaan, kasur empuk menyambut dengan ayunan lembut.

“Puaskan aku malam ini… aku akan menjagamu, sayang,” ucap Rayhan rendah.

Namun di balik kalimat itu, pikirannya bergerak liar.

Bayangan Keyra muncul begitu jelas—senyum, tawa, dan pengkhianatan yang masih terasa seperti luka terbuka. Perasaan itu belum mati. Bahkan kini, di tengah kehangatan tubuh Cindy, bayangan itu tetap membayangi.

Aku sudah tidak percaya lagi pada wanita mana pun… semua sama saja. Jadi tak ada salahnya aku menikmati malam ini.

Ia membela dirinya sendiri, membungkam sisa nurani yang mencoba bicara.

Ciuman Cindy berubah—lebih dalam, lebih menuntut. Tangannya menjelajah dada Rayhan yang kini terbuka, kulit mereka bersentuhan, memunculkan panas yang merambat pelan. Gesekan kecil saja cukup membuat napas mereka tersendat.

Rayhan membalik posisi, kini berada di atas. Bibirnya turun ke leher Cindy, meninggalkan jejak hangat yang membuat gadis itu mendesah pelan. Tangannya menyusuri lekuk pinggang, menemukan resleting gaun hitam yang membungkus tubuh sempurna itu.

Tarikan pelan.

Gaun melorot ke lantai, menyisakan kain tipis yang memantulkan cahaya lampu. Cindy terlihat begitu nyata, begitu dekat... dan Rayhan tak bisa menahan desahan pelan yang keluar.

“Kamu cantik sekali,” gumamnya, suara serak.

Cindy menggeliat, jari-jarinya mencengkeram rambut Rayhan, membimbing, menahan, sekaligus menarik. Ia meraih ikat pinggang Rayhan, membuka dengan gerakan tergesa, seolah tak sabar. Jarak di antara mereka lenyap, tubuh mereka menyatu dalam irama yang makin cepat, makin panas.

Suara napas bercampur, desahan memenuhi ruang yang semula sunyi. Gerakan saling mencari, saling mengejar, hingga akhirnya irama gerakan itu mencapai puncak yang tak bisa ditahan.

Lalu… hening.

Mereka terbaring lelah di bawah selimut sutra, tubuh masih hangat, napas perlahan kembali stabil. Aroma parfum mahal bercampur keringat manis memenuhi udara. Cindy menyandarkan kepala di dada Rayhan, senyum puas terlukis di bibirnya.

Namun bagi Rayhan... hatinya tetap tertutup.

Ia menatap langit-langit, tangannya mengelus rambut Cindy secara refleks. Sentuhan itu lembut, tapi tanpa makna mendalam. Di kepalanya, satu kesimpulan terlintas begitu saja...  wanita hanyalah persinggahan, bukan tempat pulang.

“Ini… tak terduga,” katanya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Beberapa jam lalu kita cuma dua orang asing di toko lotere. Sekarang rasanya seperti sudah kenal seumur hidup.”

Tubuhnya terasa segar kembali, energi mengalir setelah permainan panas barusan. Di sudut pikirannya, muncul keputusan lain—hubungan ini harus dijaga. Bukan karena perasaan… tapi karena ia ingin bisa kembali merasakan malam seperti ini tanpa beban ikatan.

Cindy mengangkat wajahnya. Mata hijaunya berkilau dalam cahaya redup, senyumnya tipis namun dalam... ada kerinduan dan keraguan.

“Kenal?” katanya lirih. “Atau cuma terjebak di momen sempurna ini?”

Ia menatap Rayhan lekat.

“Kamu kasih aku iPhone 21 seolah cuma permen. Kamu… jelas dari dunia yang beda.” Ia tertawa kecil, getir. “Aku cuma desainer freelance yang masih pusing bayar sewa di pinggiran kota. Malam ini seperti mimpi. Tapi besok pagi… apa semuanya hilang?”

Rayhan hanya diam.

Cindy tak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Ia mengira Rayhan pria kaya yang gemar bermain lotere. Padahal beberapa saat lalu, ia hanyalah pemuda miskin yang baru saja ditinggalkan kekasihnya dan dipecat dari pekerjaannya di hotel. Seorang yang hampir mati tragis di jalan raya... tertabrak truk kontainer—jika bukan karena cincin safir warisan kakeknya yang tiba-tiba aktif saat darahnya menetes di permukaannya di ujung maut hidupnya.

Sejak saat itu, keberuntungannya berubah.

Kekuatan aneh mulai mengikuti langkahnya. Peluang selalu berpihak. Nasib seakan membelok, membuka jalan yang sebelumnya mustahil.

Dan malam ini… hanyalah salah satu awalnya.

Rayhan menatap jendela besar, cahaya kota berpendar di matanya. Dalam hati, ia tahu...  hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Beli Mobil

    Rayhan tertawa kecil.Bukan tawa keras. Bukan tawa marah. Hanya lengkungan tipis di sudut bibirnya—tawa yang terdengar menggelikan di tengah kerumunan orang yang masih gempar.“Aku yang ditabrak,” katanya ringan. “Kamu malah minta ganti rugi?”Wajah Anastasia Wibowo menegang. Hidungnya sedikit terangkat, dagunya terangkat lebih tinggi lagi.“Jangan pura-pura miskin nggak tahu diri!” bentaknya tajam. “Kalau nggak mau ganti, kamu bakal nyesel!”Ancaman itu meluncur begitu saja dari bibirnya—ringan dan sudah terbiasa, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ia gunakan dan selalu berhasil.Orang-orang menahan napas.Rayhan menatapnya beberapa detik. Tatapannya yang tadi datar perlahan berubah dingin. Bukan marah. Lebih seperti… penilaian.“Lain kali belajar nyetir.”Kalimat itu tidak kasar, tapi terasa seperti tamparan.Ia berbalik.Langkahnya tenang, meninggalkan suara protes dan bisik-bisik di belakangnya.Untuk pertama kalinya, Anastasia terpaku. Sepersekian detik saja—cukup untuk me

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Cewek Kaya dan Sombong

    Rayhan masih berdiri di depan jendela ketika Cindy bangkit perlahan dari ranjang. Selimut tipis meluncur dari bahunya sebelum ia cepat-cepat membungkus tubuhnya kembali, seolah udara pagi mendadak lebih dingin dari biasanya.Di bawah sana, Bellavistam City tak pernah benar-benar tidur. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti, merah dan putih, seperti aliran darah yang memompa kehidupan ke tubuh raksasa beton dan kaca. Bunyi klakson terdengar samar dari ketinggian suite mereka—jauh, tapi konstan. Kota itu berdenyut, tak peduli pada apa pun yang terjadi di lantai puluhan.Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, mengiris ruangan dengan garis emas pucat. Partikel debu melayang di udara, terlihat jelas dalam sorot tipis itu. Cindy sudah mengenakan kembali gaunnya—rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang mengkhianati malam sebelumnya. Rambutnya disisir halus, jatuh lembut di punggungnya.Namun sorot matanya berbeda.Lebih lembut dan dalam. Seolah ada sesuatu y

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Semalam Bersama Cindy

    Lift berhenti nyaris tanpa suara. Denting halus terdengar ketika pintu terbuka, memperlihatkan koridor sunyi berlapis karpet tebal yang meredam langkah. Rayhan berjalan lebih dulu, Cindy di sampingnya, hingga mereka tiba di pintu suite paling ujung. Saat kartu akses disentuhkan, lampu indikator menyala hijau—dan sesaat kemudian, pintu terbuka ke ruangan luas yang terasa hangat sekaligus asing.Cahaya lampu kristal menggantung redup di langit-langit tinggi. Jendela kaca lebar menampilkan kota malam yang berkilauan—deretan lampu seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Aroma kayu mahal dan parfum lembut bercampur di udara.Cindy masuk lebih dulu. Tangannya masih menggenggam kotak iPhone baru, lalu meletakkannya perlahan di atas meja marmer. Napasnya belum stabil, dadanya naik turun cepat, seakan ia masih berusaha memahami semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.Ia berbalik.Mata hijaunya bertemu dengan tatapan Rayhan yang tenang namun hangat. Jarak di antara mereka terasa tipi

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Miliarder Baru

    Penjaga toko masih gemetar saat menatap lima kartu lotere di atas meja, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar ketika menghitung uang di laci kasir, lalu ia menggeleng pelan.“Rayhan…” suaranya serak. “Uang tunai saya nggak cukup.”Rayhan mengangguk. Ia sudah menduganya.Toko kecil ini bukan bank. Laci kasirnya bukan brankas.Penjaga toko menarik napas dalam, lalu membuka laci besi kecil di bawah meja. Uang kertas disusun tergesa, dihitung cepat, lalu didorong ke depan.“Aku cuma bisa bayar tiga yang ini secara tunai,” katanya lirih namun jujur.“Sepuluh juta. Lima puluh juta. Seratus juta.”Tiga bundel uang tebal mendarat di atas meja dengan suara duk pelan—namun bagi Rayhan, suara itu terdengar lebih keras dari benturan truk siang tadi.Seratus enam puluh juta rupiah. Tunai.Tangannya sedikit kaku saat menyentuh uang itu.“Untuk yang ini…” penjaga toko menunjuk dua kartu terakhir—lima ratus juta dan satu miliar—harus lewat penyelenggara. Saya harus telepon mereka

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Mata Tembus Pandang

    Rayhan mengedip beberapa kali.Ada sesuatu yang terasa tidak pas—seperti dunia tiba-tiba diganti dengan versi yang lebih tajam. Cahaya matahari yang menembus sela bangunan memantul lebih keras dari biasanya. Garis-garis gedung tampak tegas seperti baru digambar ulang dengan tinta hitam. Bahkan udara di depannya berpendar samar, berkilau seperti serpihan kaca halus yang melayang.Ia mengernyit pelan.Matanya terasa panas sekaligus dingin, berdenyut lembut seperti luka yang sedang sembuh… atau seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati. Ia tidak mengerti apa yang berubah—tapi jelas ada sesuatu yang sedang menyesuaikan diri di dalam dirinya.Rayhan menarik napas panjang. Udara terasa lebih bersih, lebih ringan di paru-parunya. Tubuhnya memang jauh lebih bugar dari sebelumnya… namun hidupnya tetap berada di titik nol.Ia merogoh saku celananya.Jarinya menyentuh kertas tipis yang kusut. Ia mengeluarkannya perlahan.Lima puluh ribu kredit.Hanya itu.Ia menatap lembaran uang lusu

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Ditabrak Truk

    Rayhan melangkah keluar dari Hotel Angin Samudera dengan perasaan hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut dan tertinggal di balik pintu kaca berkilau itu. Udara siang terasa menyengat kulit. Aspal di bawah kakinya memantulkan panas dan cahaya menyilaukan, namun ia nyaris tak merasakannya. Langkahnya gontai, berat, seperti menyeret tubuh yang sudah kehilangan tujuan.Di belakangnya, bangunan hotel itu tetap berdiri megah... dingin, angkuh, berkilau oleh kemewahan. Tak ada satu pun tanda bahwa di dalamnya, sebuah kehidupan baru saja dihancurkan tanpa ampun.Tak ada amplop gaji.Tak ada pesangon.Hanya ada bayangan rumah kontrakan sempit yang menunggunya: tagihan listrik yang hampir diputus, cicilan motor kredit yang menunggak, dan deretan pesan singkat bernada ancaman dari para penagih utang yang seolah tak pernah tidur.Bahkan ia tidak berani membawa motor kreditannya ke tempat kerjanya karena khawatir ditarik oleh debt collector yang mencegatnya di jalan masuk hotel.Rahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status