แชร์

Miliarder Baru

ผู้เขียน: Bebby
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 05:10:54

Penjaga toko masih gemetar saat menatap lima kartu lotere di atas meja, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar ketika menghitung uang di laci kasir, lalu ia menggeleng pelan.

“Rayhan…” suaranya serak. “Uang tunai saya nggak cukup.”

Rayhan mengangguk. Ia sudah menduganya.

Toko kecil ini bukan bank. Laci kasirnya bukan brankas.

Penjaga toko menarik napas dalam, lalu membuka laci besi kecil di bawah meja. Uang kertas disusun tergesa, dihitung cepat, lalu didorong ke depan.

“Aku cuma bisa bayar tiga yang ini secara tunai,” katanya lirih namun jujur.

“Sepuluh juta. Lima puluh juta. Seratus juta.”

Tiga bundel uang tebal mendarat di atas meja dengan suara duk pelan—namun bagi Rayhan, suara itu terdengar lebih keras dari benturan truk siang tadi.

Seratus enam puluh juta rupiah. Tunai.

Tangannya sedikit kaku saat menyentuh uang itu.

“Untuk yang ini…” penjaga toko menunjuk dua kartu terakhir—lima ratus juta dan satu miliar—harus lewat penyelenggara. Saya harus telepon mereka sekarang juga.”

Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung menghubungi nomor khusus di balik etalase. Nada sambung terdengar. Suaranya berubah resmi, tegang, penuh kehati-hatian saat menyebutkan nomor seri kartu, lokasi toko, dan identitas pemenang.

Rayhan berdiri diam.

Namun matanya—matanya yang telah berubah—melihat lebih dari sekadar adegan biasa.

Ia melihat aliran data.

Ia melihat koneksi.

Ia melihat angka-angka digital bergerak, mengalir, berpindah.

Beberapa menit berlalu.

“Iya… betul… diverifikasi.”

“Tidak ada potongan, ya.”

“Baik.”

Penjaga toko menutup telepon, lalu menatap Rayhan dengan ekspresi campur aduk antara kagum, takut, dan hormat.

“Pihak penyelenggara sudah konfirmasi,” katanya.

“Lima ratus juta dan satu miliar akan langsung ditransfer ke rekening kamu. Tanpa potongan. Hari ini juga.”

Rayhan mengeluarkan kartu ATM-nya. Penjaga toko memotretnya untuk verifikasi tambahan dan mengirim data yang diminta.

Tak lama kemudian...

BIP.

Ponsel Rayhan bergetar di sakunya.

Satu notifikasi masuk.

Lalu satu lagi.

Ia membuka layar.

+Rp500.000.000

+Rp1.000.000.000

Saldo di rekeningnya melonjak drastis.

Rayhan menatap layar itu lama.

Tak ada teriakan.

Tak ada tawa histeris.

Hanya satu tarikan napas panjang.

Seolah semua rasa lapar, semua ketakutan, semua kehinaan yang menumpuk bertahun-tahun… runtuh sekaligus.

Di belakangnya, suara orang-orang kembali riuh.

“Gila… beneran cair!”

“Ini orang bukan manusia biasa!”

“Kayak tokoh utama novel!”

Beberapa gadis yang tadi mengerumuninya kini memandang dengan mata berbinar—bukan hanya kagum, tapi juga penuh perhitungan. Aura ketertarikan itu kembali terasa, lebih kuat, lebih jelas. Rayhan bisa merasakannya seperti getaran halus di kulitnya.

Rayhan memasukkan uang tunai ke dalam tas plastik tebal yang disediakan penjaga toko. Tangannya mantap. Bahunya tegak.

Ia melirik sekilas cincin safir di jarinya.

Cincin itu berkilau samar—seolah puas.

Dalam hatinya, Rayhan berbisik dingin:

“Keyra…”

“Kau menukar hidupmu dengan pria yang salah.”

Sementara itu satu gadis terlihat berbeda dibandingkan gadis lainnya yang memenangkan kartu lotere ini.

Gadis itu melangkah pelan, rambut hitamnya tergerai rapi di bahu, senyumnya tipis namun mantap. Ada kilau percaya diri yang berbeda dari gadis-gadis lain yang masih riuh menghitung kemenangan mereka. Ketika jaraknya tinggal satu langkah dari Rayhan, dunia di sekelilingnya terasa seperti meredup.

Tepat saat itulah Rayhan merasakannya.

Getaran halus... seperti arus listrik tipis—menyapu matanya, lalu turun ke dadanya. Aura ketertarikan. Jelas. Tajam. Berdenyut. Ia bahkan bisa merasakan lapisan emosi di balik senyum gadis itu... rasa kagum, penasaran, dan sesuatu yang jauh lebih panas, meledak-ledak, seakan gadis itu sendiri terkejut dengan intensitasnya.

Mata Rayhan menangkapnya tanpa perlu ditebak.

Cincin safir di jarinya menghangat.

Bukan hanya ia yang melihat—ia kini dirasakan.

“Aku… Cindy,” ucap gadis itu, suaranya lembut tapi berani. “Terima kasih. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan kepikiran pilih kartu itu.”

Rayhan menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Aku, Rayhan.”

Dalam sepersekian detik, aura pemikat itu bekerja.

Cindy tersenyum lebih lebar, tubuhnya sedikit condong ke depan tanpa sadar, jarak yang terlalu dekat untuk sekadar ucapan terima kasih.

“Kamu memang sedang beruntung hari ini bertemu denganku,” lanjut Rayhan.

Cindy tertawa kecil. Tangan kirinya menyentuh lengan Rayhan, seolah spontan, seolah wajar. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat napas Rayhan berhenti sepersekian detik.

Ia bisa merasakannya—bukan hanya ketertarikan, tapi keinginan untuk tetap dekat. Seperti Cindy tak ingin percakapan ini berakhir.

“Rayhan,” lanjut Cindy pelan, “kamu nggak kelihatan seperti orang yang cuma main keberuntungan.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah keluar dari toko lotere.

Malam menelan jalanan dengan cahaya neon dan pantulan lampu mobil. Rayhan melangkah dengan langkah mantap—rekeningnya baru saja berubah drastis, dunia seakan membuka pintu lebar-lebar di depannya. Cindy berjalan di sampingnya, lengannya nyaris tak lepas dari lengannya, seolah itu sudah jadi posisi alami.

“Lapar?” tanya Rayhan.

Cindy menggeleng, lalu tertawa kecil. “Aku lebih pengin… merayakan.”

Rayhan tak banyak bicara.

Keputusan itu datang cepat, tanpa keraguan sedikit pun.

Hotel mewah di pusat kota menyambut mereka dengan lobi tinggi dan aroma mahal. Pegawai hotel langsung sigap, senyum profesional melebar ketika melihat kartu yang Rayhan sodorkan. Lift naik tanpa suara, kaca memantulkan bayangan dua orang yang kini berada di dunia yang sama sekali berbeda dari beberapa jam lalu.

Sebelum ke kamar, Rayhan berhenti di sebuah butik elektronik eksklusif yang masih buka.

“Sebentar,” katanya.

Cindy mengedipkan mata, bingung—lalu terpaku.

Kotak putih elegan dengan logo apel tergenggam di tangan Rayhan beberapa menit kemudian.

“iPhone 21,” ucap Rayhan santai. “Katanya lagi booming.”

Cindy membeku.

“Hah—Rayhan, ini… ini lima puluh juta,” katanya nyaris berbisik.

Rayhan menyerahkan kotak itu ke tangannya. “Anggap saja kenang-kenangan malam ini.”

Mata Cindy berkaca-kaca—bukan karena harga, tapi karena caranya diberi. Tangannya gemetar saat menerima kotak itu, lalu tanpa sadar ia memeluk Rayhan singkat, erat, seolah takut momen itu menghilang.

Aura pemikat dan hasrat di sekeliling mereka berdenyut semakin kuat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Rencana Busuk

    Rayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Pulang Ke Rumah Lama

    Lampu-lampu kota mulai menipis ketika Rayhan akhirnya membelokkan coupe merah itu keluar dari jalan utama.Mesin mobil Alicia masih mendengkur halus—suara mahal yang terlalu elegan untuk lingkungan yang akan ia tuju.Beberapa menit kemudian, gedung-gedung tinggi Bellavista mulai tergantikan oleh rumah-rumah lama.Jalan menjadi lebih sempit.Lampu jalan lebih jarang.Cat pagar banyak yang sudah pudar.Rayhan memperlambat mobil.Ia melihat deretan rumah dua lantai yang sangat ia kenal.Kompleks lama tempat ia tumbuh.Ia menghela napas pendek.“Aku coba tinggal beberapa hari lagi sambil mencari cuan…”Mobil coupe merah itu jelas terlalu mencolok untuk lingkungan seperti ini.Anak-anak yang masih nongkrong di warung ujung jalan bahkan langsung berhenti mengobrol.Salah satu dari mereka bersiul.“Woi… Ferrari mini!”Rayhan tersenyum kecil.“Kalau mereka tahu ini bukan mobilku,” gumamnya.Ia tidak langsung berhenti di depan rumah.Sebaliknya, ia memarkir mobil itu sekitar lima puluh meter d

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Kekuatan Tubuh Rayhan

    Rayhan membuka pintu mobil.Klik.Pintu coupe merah itu terayun pelan, dan ia melangkah keluar dengan gerakan santai seolah baru saja berhenti untuk membeli kopi, bukan karena sebuah SUV hitam memblokir jalan di tengah malam.Angin laut langsung menerpa wajahnya.Udara asin yang dingin mengusap kulitnya, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Lampu jalan memercikkan cahaya kuning redup di aspal pesisir yang kosong.Kondisi jalanan sunyi.Hanya suara ombak jauh dan mesin mobil yang masih menyala pelan.Di depan sana, empat pria berdiri di sekitar SUV hitam.Tubuh mereka besar. Bahu lebar. Tangan kasar seperti orang yang lebih sering memukul daripada berjabat tangan.Salah satu dari mereka memutar bahunya sampai berbunyi.Krek.Ia menatap Rayhan dengan mata menyipit.“Rayhan?”Rayhan mengangkat satu tangan kecil, seperti murid yang hendak bertanya di kelas.“Kalau aku bilang bukan…” katanya santai. “kalian percaya dan pulang?”Beberapa detik hening.Kemudian—Preman itu tertawa.Tawa ka

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Bahaya di Tengah Jalan

    Mesin coupe merah itu masih menyimpan sisa panas ketika Rayhan akhirnya memutar kunci lagi.Suara mesin menyala halus dan rendah. Lampu dashboard memercikkan cahaya biru lembut ke wajah Rayhan, menerangi garis rahangnya dan bayangan samar di matanya.Ia menatap ke depan beberapa detik.Sunyi.Kemudian matanya melirik ke arah kaca spion.Gerbang villa Alicia perlahan menutup dengan suara mekanis yang halus.Pintu besi tinggi itu akhirnya bertemu di tengah, memutus pandangan Rayhan dari halaman rumah besar yang tadi baru saja ditinggalkan Alicia.Wanita itu sudah masuk.Lampu taman villa menyala hangat di balik pagar.Rayhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala sebentar ke kursi.“Alicia tidak akan keberatan mobilnya aku pinjam sebentar,” gumamnya pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada siapa pun.Tangannya mengetuk ringan setir mobil.Keputusan diambil.Ia akan meminjam mobil ini sebentar dan kembali ke rumah barunya untuk beristirahat.Setelah malam panjang sepert

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Rayuan Alicia

    Angin laut malam bertiup lembut ketika Rayhan dan Alicia keluar dari restoran.Lampu-lampu Bellavista City memantul di permukaan jalan yang basah oleh embun malam. Suasana kota masih hidup—mobil-mobil mewah melintas, musik samar terdengar dari rooftop bar, dan lampu gedung tinggi menyala seperti bintang buatan manusia.Alicia berhenti sebentar di trotoar.Ia menatap Rayhan.Lalu tertawa kecil.“Sejujurnya…” katanya sambil mengusap pelipisnya. “Aku sedikit pusing.”Rayhan mengangkat alis.“Sedikit?”Alicia mengangkat tiga jari.“Mungkin… tiga gelas terlalu banyak.”Rayhan meliriknya dari atas ke bawah.Langkah Alicia sedikit goyah.“Empat,” kata Rayhan.Alicia memicingkan mata.“Kamu menghitung?”“Insting bertahan hidup.”Alicia tertawa.Suara tawanya ringan, berbeda dari sikap elegannya tadi di restoran. Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan, memberi kesan santai yang justru membuatnya terlihat lebih menarik.Rayhan melihat ke sekeliling.“Mobilmu parkir di mana?”Alicia me

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Menyewa Pembunuh Bayaran

    Mesin mobil Daniel masih menyala.Lampu dashboard memantulkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kaku. Tangannya masih menggenggam ponsel erat.Di seberang telepon, suara itu terdengar berat. Serak dan tenang.“Siapa?”Daniel menelan ludah. Rahangnya mengeras.“Aku,” katanya. “Daniel Wongso.”Hening sebentar.Lalu suara itu tertawa kecil.“Ah… anak konglomerat yang pernah kehilangan tiga proyek properti dalam dua tahun?”Daniel mengepalkan tangan lebih keras.“Kau masih berani mengejekku?”“Tidak,” jawab suara itu santai. “Aku hanya memastikan identitas. Jadi… siapa yang ingin kamu hilangkan?”Daniel menatap ke arah restoran di seberang jalan.Melalui kaca besar, ia masih bisa melihat Rayhan duduk santai bersama Alicia. Mereka tertawa. Minum wine. Seolah dunia memang dibuat untuk mereka.Rasa panas naik lagi ke dadanya.“Namanya Rayhan.”“Rayhan siapa?”Daniel terdiam.Ia baru sadar sesuatu yang membuat darahnya makin mendidih.Ia… bahkan lupa nama lengkap pria yang pura-pura dijadika

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status