MasukRayhan melangkah keluar dari Hotel Angin Samudera dengan perasaan hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut dan tertinggal di balik pintu kaca berkilau itu. Udara siang terasa menyengat kulit. Aspal di bawah kakinya memantulkan panas dan cahaya menyilaukan, namun ia nyaris tak merasakannya. Langkahnya gontai, berat, seperti menyeret tubuh yang sudah kehilangan tujuan.
Di belakangnya, bangunan hotel itu tetap berdiri megah... dingin, angkuh, berkilau oleh kemewahan. Tak ada satu pun tanda bahwa di dalamnya, sebuah kehidupan baru saja dihancurkan tanpa ampun.
Tak ada amplop gaji.
Hanya ada bayangan rumah kontrakan sempit yang menunggunya: tagihan listrik yang hampir diputus, cicilan motor kredit yang menunggak, dan deretan pesan singkat bernada ancaman dari para penagih utang yang seolah tak pernah tidur.
Bahkan ia tidak berani membawa motor kreditannya ke tempat kerjanya karena khawatir ditarik oleh debt collector yang mencegatnya di jalan masuk hotel.
Rahang Rayhan mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih dan gemetar.
“Keyra…” gumamnya parau. Napasnya terengah, dadanya naik turun menahan amarah. “Perempuan brengsek…”
Kepalanya terasa panas. Jantungnya berdentum keras.
“Sebuta apa aku dulu, sampai percaya semua kebohonganmu…” desisnya lirih, namun penuh racun.
Amarah dan penyesalan bertabrakan di dalam pikirannya, menciptakan dengung memekakkan telinga. Dunia di sekelilingnya seolah memudar... suara kendaraan, teriakan orang, semua lenyap—yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri, menghantam dada tanpa ampun.
Ia melangkah maju sambil melamun menyeberang jalanan yang ramai dengan kendaraan.
Tanpa menoleh.
TIN!
Suara panjang dan melengking meraung tepat di telinganya.
BUK!
Benturan keras memecah udara.
Tubuh Rayhan terangkat dari tanah, melayang sesaat di udara sebelum terhempas keras ke aspal beberapa meter dari titik tabrakan. Suara tulang beradu dengan jalanan terdengar mengerikan.
Teriakan histeris dan kehebohan mulai terjadi di sekitar area tabrakan.
“Astaga!”
Orang-orang berhamburan mendekat. Di tengah jalan, Rayhan terkapar tak bergerak. Darah mengalir deras dari kepalanya, membasahi aspal hitam yang panas. Retakan di tengkoraknya tampak jelas. Tubuhnya tertekuk dalam sudut yang mustahil... sebuah posisi yang membuat siapa pun tahu, peluang selamat nyaris tak ada.
Kedua tangannya masih mencengkeram kepala. Jari-jarinya kaku, membeku dalam refleks terakhir untuk melindungi diri dari maut.
“Telepon rumah sakit!” teriak seorang pemuda dengan wajah pucat pasi.
“Percuma,” sahut seorang wanita berias menor sambil menutup mulutnya. “Lihat kondisinya… kayaknya sudah mati.”
“Jangan sentuh mayatnya!” bentak seorang pria berumur dengan suara tegas. Rambutnya memutih, sorot matanya tajam dan dingin... tatapan seseorang yang sudah terlalu sering berhadapan dengan kematian. “Minggir semua!”
Di tengah kekacauan itu, darah hangat yang terus menetes dari kepala Rayhan mengalir pelan menyusuri jemarinya… lalu jatuh tepat ke sebuah cincin safir di jari manisnya.
Cincin tua.
Cincin warisan kakeknya... satu-satunya keluarga yang merawatnya sejak kecil, satu-satunya peninggalan yang selalu ia jaga, bahkan saat hidupnya runtuh.
Saat tetesan darah itu menyentuh permukaan safir...
WOOOM!
Cahaya biru dingin meledak dari dalam cincin.
Bukan cahaya yang menyilaukan mata, melainkan kilau pekat dan dalam, seperti nyala es abadi dari dasar samudera. Hawa dingin menyapu sekeliling dalam sekejap, menusuk kulit.
Kerumunan langsung mundur panik.
“Apa itu?!”
Uap tipis membubung dari aspal di sekitar tubuh Rayhan. Suhu udara turun drastis. Bulu kuduk berdiri. Napas orang-orang berubah menjadi embun tipis. Pria berumur itu refleks mengangkat lengannya, melindungi wajahnya dari hembusan dingin yang menusuk tulang.
“Minggir!” teriaknya keras. “Semua menjauh!”
Tubuh Rayhan menegang, kaku seperti patung es. Cincin safir di jarinya berdenyut pelan, memancarkan aliran cahaya biru yang meresap ke kulit, menyusuri pembuluh darah, menembus tulang, dan merambat ke seluruh jaringan energi meridian di dalam tubuhnya.
Sesuatu yang telah lama tertidur… akhirnya terbangun.
Energi dingin, murni, dan asing mengisi tubuhnya, mengalir menuju pusat terdalam eksistensinya... akar spiritual yang selama ini tersembunyi.
Akar Spiritual Es.
Mata Rayhan yang sejak benturan terbuka karena refleks syok perlahan berubah warna. Hitamnya memudar, digantikan cahaya biru bercahaya... dingin, dalam, dan sunyi... sebelum akhirnya meredup kembali.
Pria berumur itu berlutut di sampingnya, tangannya sedikit gemetar saat memeriksa napas dan denyut nadi Rayhan.
“Aneh…” gumamnya pelan. “Tadi jelas…”
Tiba-tiba...
Rayhan menarik napas panjang.
Dadanya mengembang.
Tubuhnya bergerak.
Ia terbangun mendadak dan terduduk di tengah jalan.
Kerumunan langsung menjerit ketakutan dan mundur serentak.
“Astaga!”
Rayhan terengah. Pandangannya berputar, dunia terasa asing dan tajam. Namun yang paling mengejutkan... tubuhnya terasa ringan.
Tak ada rasa sakit.
Sebaliknya... ia merasa kuat.
Lebih kuat dari sebelumnya.
“Apa… yang terjadi?” batinnya kacau, menatap kedua telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan aliran dingin-hangat berdenyut pelan di dalam tubuhnya, seperti sungai energi yang baru saja terbuka. “Kenapa tubuhku terasa… segar? Bugar?”
“Nak!” suara berat memanggil, membuyarkan lamunannya.
Rayhan menoleh. Pria berumur itu menatapnya tajam... campuran waspada, kaget, dan ketidakpercayaan. “Apa kau baik-baik saja?”
Rayhan hendak menjawab, namun kata-kata tertahan di tenggorokan. Matanya terasa perih. Kelopak matanya berat, seolah ia baru terbangun dari tidur yang sangat panjang.
Ia mengedip, berusaha fokus.
Dunia di sekelilingnya masih sama—jalan raya, orang-orang, suara kendaraan... namun entah kenapa terasa berbeda.
Lebih dingin.
Saat ujung pisau hampir menyentuh kemejanya, aliran dingin menyembur dari tangannya. Serangan itu menyimpang beberapa sentimeter, meleset dari dada dan menggores lengan kirinya.Rayhan terhuyung. Rasa perih menjalar dari luka tipis di lengannya. Darah merah membasahi kain kemeja, tetapi ia masih berdiri.Penyerangnya membelalak. “Apa-apaan tadi?”Rayhan sendiri tidak tahu. Ia hanya menatap cincin safir yang kini berkilau samar. Ujung jari-jarinya terasa mati rasa, sementara hawa dingin berputar di telapak tangan.Pria bertopeng itu menggeram dan kembali menyerang.Kali ini Rayhan berusaha menghindar. Kakinya terpeleset di atas aspal lembap, membuat tubuhnya jatuh ke satu lutut. Pisau melintas tepat di atas kepalanya.Pria bertubuh kekar segera menerjang dari samping. Pukulan keras menghantam bahu Rayhan.Rasa sakit meledak hingga ke leher. Ia terlempar beberapa langkah dan membentur sisi SUV.“Berhenti melawan!” bentak pria itu.Rayhan terbatuk, berusaha menarik napas. “Kalian berdua…
SUV hitam itu berhenti mendadak.Tubuh Rayhan Halim terhentak ke depan. Sabuk pengaman menekan dadanya, sementara ban mobil mengeluarkan decitan panjang di atas aspal basah.“Apa-apaan ini?” seru Rayhan.Darto mencengkeram kemudi dengan kedua tangan. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya meskipun udara pegunungan terasa dingin.“Mobil di depan menghalangi jalan, Tuan Muda.”Rayhan menatap mobil pikap tua yang melintang beberapa meter di hadapan mereka. Kap mesinnya terbuka, tetapi tidak ada asap ataupun tanda kerusakan. Kaca jendelanya gelap. Tidak seorang pun terlihat di dalam.“Kalau rusak, kenapa parkirnya melintang seperti itu?” Rayhan bertanya.Darto tidak menjawab.Di sampingnya, Rendra justru tampak tenang. Pria itu merapikan manset kemejanya, lalu mengembuskan napas seolah mereka hanya mengalami gangguan kecil dalam perjalanan.“Turun dan periksa mobil itu,” perintahnya.Darto menelan ludah. “Tuan, mungkin lebih baik kita...”“Apa kau tuli?”“Baik, Tuan.”Darto membuka
Papan bertuliskan FORBIDDEN VILLAGE — 5 KM perlahan menghilang di belakang SUV hitam yang melaju menembus kabut pegunungan.Rayhan Halim menyandarkan punggungnya pada jok kulit. Dari balik kaca jendela, pepohonan tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi jalan sempit itu. Kabut menggantung rendah, membatasi jarak pandang hingga beberapa meter. Sesekali, ranting kering menggores bodi mobil, menimbulkan suara mencicit yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Di jari manisnya, cincin safir berdenyut dingin. Rayhan mengusap permukaannya dengan ibu jari. Apa sebenarnya yang ingin kau peringatkan kepadaku?Sejak melewati pos pemeriksaan terbengkalai tadi, suhu cincin itu terus menurun. Dingin yang awalnya hanya terasa seperti menyentuh es kini merambat hingga ke pergelangan tangannya.Di kursi depan, Rendra melirik melalui kaca spion. “Kenapa diam saja? Biasanya kau punya banyak pertanyaan.”Rayhan mengangkat kepala. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Rendra tertawa pendek. “P
Cincin safir di jari Rayhan terasa semakin dingin ketika SUV hitam itu memasuki jalan pegunungan yang sempit.Di luar jendela, pepohonan menjulang rapat. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, sementara permukaan jalan yang basah membuat ban mobil sesekali berdecit.Rayhan melirik kaca spion.Rendra duduk di sebelahnya dengan senyum puas. Darto mengemudi tanpa sepatah kata pun.Keduanya terlihat tenang, terlalu tenang untuk perjalanan menuju desa terpencil yang terkenal berbahaya.“Rendra,” ujar Rayhan sambil menyandarkan kepala, “aku baru ingat sesuatu.”“Apa lagi?”“Kalau kita tersesat di sini, siapa yang akan menemukan kita?”Rendra mendengus. “Berhentilah berpikir macam-macam. Kau hanya perlu mengikuti perintahku.”“Baiklah. Aku cuma berharap kita tidak menjadi berita utama. Judulnya mungkin, Tiga Pria Hilang di Pegunungan karena Salah Memilih Sopir.”Darto melirik kaca spion sekilas.Rendra tidak tertawa. “Kalau kau terus mengoceh, aku bisa menyuruhmu turun sekara
SUV hitam itu melaju semakin jauh dari pusat Bellavista City. Gedung-gedung tinggi telah berganti dengan perkebunan, jalan berkelok, dan deretan pepohonan yang menutupi cahaya matahari.Rayhan Halim duduk di kursi belakang sambil berpura-pura menikmati pemandangan. Di sebelahnya, Rendra sibuk memainkan ponsel, sesekali tersenyum puas setelah membaca pesan yang masuk.Sementara itu, Darto terus mengemudi tanpa banyak bicara.“Rendra,” ujar Rayhan tiba-tiba, “kita masih jauh dari Forbidden Village?”“Kenapa? Kau ingin pulang?”“Bukan. Aku hanya ingin tahu apakah kita sempat makan siang. Perutku mulai berisik.”Rendra mendengus. “Pikiranmu hanya makanan! Tidak heran kau tidak pernah berhasil melakukan sesuatu yang berarti.”Rayhan mengusap perutnya sambil tersenyum santai.“Setidaknya perutku jujur. Kalau lapar, dia langsung memberi tahu. Tidak seperti manusia yang tersenyum di depan, tetapi menyimpan pisau di belakang.”Senyum Rendra langsung menghilang. “Apa maksudmu?”“Tidak ada. Aku s
Pagi itu, harumnya kopi memenuhi ruang makan kediaman keluarga Halim. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyinari meja panjang yang dipenuhi hidangan mahal. Namun, suasana hangat itu tidak berlaku bagi Rayhan Halim.Pemuda itu duduk di ujung meja dengan sepotong roti panggang di tangan. Kemeja sederhananya tampak kontras dengan pakaian bermerek yang dikenakan Jessica dan Rendra.“Rayhan!” Lilian meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi nyaring. “Setelah sarapan, siapkan barang-barang untuk perjalanan kita ke Forbidden Village.”Rayhan mengangkat wajah. “Kita berangkat hari ini, Ma?”“Tentu saja. Apa kau ingin menunggu sampai tahun depan?” sahut Jessica sambil terkekeh.Rendra menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Rayhan dengan senyum mengejek.“Jangan lupa membawa pakaian yang pantas. Meskipun kau tidak punya selera, setidaknya jangan membuat keluarga ini terlihat seperti sedang membawa gelandangan.”Jessica tertawa sampai hampir tersedak jus jeruknya.Rayhan menatap pakaia







