Share

Ditabrak Truk

Author: Bebby
last update publish date: 2026-02-03 03:49:27

Rayhan melangkah keluar dari Hotel Angin Samudera dengan perasaan hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut dan tertinggal di balik pintu kaca berkilau itu. Udara siang terasa menyengat kulit. Aspal di bawah kakinya memantulkan panas dan cahaya menyilaukan, namun ia nyaris tak merasakannya. Langkahnya gontai, berat, seperti menyeret tubuh yang sudah kehilangan tujuan.

Di belakangnya, bangunan hotel itu tetap berdiri megah... dingin, angkuh, berkilau oleh kemewahan. Tak ada satu pun tanda bahwa di dalamnya, sebuah kehidupan baru saja dihancurkan tanpa ampun.

Tak ada amplop gaji.

Tak ada pesangon.

Hanya ada bayangan rumah kontrakan sempit yang menunggunya: tagihan listrik yang hampir diputus, cicilan motor kredit yang menunggak, dan deretan pesan singkat bernada ancaman dari para penagih utang yang seolah tak pernah tidur.

Bahkan ia tidak berani membawa motor kreditannya ke tempat kerjanya karena khawatir ditarik oleh debt collector yang mencegatnya di jalan masuk hotel.

Rahang Rayhan mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih dan gemetar.

“Keyra…” gumamnya parau. Napasnya terengah, dadanya naik turun menahan amarah. “Perempuan brengsek…”

Kepalanya terasa panas. Jantungnya berdentum keras.

“Sebuta apa aku dulu, sampai percaya semua kebohonganmu…” desisnya lirih, namun penuh racun.

Amarah dan penyesalan bertabrakan di dalam pikirannya, menciptakan dengung memekakkan telinga. Dunia di sekelilingnya seolah memudar... suara kendaraan, teriakan orang, semua lenyap—yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri, menghantam dada tanpa ampun.

Ia melangkah maju sambil melamun menyeberang jalanan yang ramai dengan kendaraan.

Tanpa menoleh.

Tanpa melihat kiri dan kanan.

TIN!

Suara panjang dan melengking meraung tepat di telinganya.

BUK!

Benturan keras memecah udara.

Tubuh Rayhan terangkat dari tanah, melayang sesaat di udara sebelum terhempas keras ke aspal beberapa meter dari titik tabrakan. Suara tulang beradu dengan jalanan terdengar mengerikan.

Teriakan histeris dan kehebohan mulai terjadi di sekitar area tabrakan.

“Astaga!”

“Tabrakan!”

“Cepat! Ada yang tertabrak!”

Orang-orang berhamburan mendekat. Di tengah jalan, Rayhan terkapar tak bergerak. Darah mengalir deras dari kepalanya, membasahi aspal hitam yang panas. Retakan di tengkoraknya tampak jelas. Tubuhnya tertekuk dalam sudut yang mustahil... sebuah posisi yang membuat siapa pun tahu, peluang selamat nyaris tak ada.

Kedua tangannya masih mencengkeram kepala. Jari-jarinya kaku, membeku dalam refleks terakhir untuk melindungi diri dari maut.

“Telepon rumah sakit!” teriak seorang pemuda dengan wajah pucat pasi.

“Percuma,” sahut seorang wanita berias menor sambil menutup mulutnya. “Lihat kondisinya… kayaknya sudah mati.”

“Jangan sentuh mayatnya!” bentak seorang pria berumur dengan suara tegas. Rambutnya memutih, sorot matanya tajam dan dingin... tatapan seseorang yang sudah terlalu sering berhadapan dengan kematian. “Minggir semua!”

Di tengah kekacauan itu, darah hangat yang terus menetes dari kepala Rayhan mengalir pelan menyusuri jemarinya… lalu jatuh tepat ke sebuah cincin safir di jari manisnya.

Cincin tua.

Cincin warisan kakeknya... satu-satunya keluarga yang merawatnya sejak kecil, satu-satunya peninggalan yang selalu ia jaga, bahkan saat hidupnya runtuh.

Saat tetesan darah itu menyentuh permukaan safir...

WOOOM!

Cahaya biru dingin meledak dari dalam cincin.

Bukan cahaya yang menyilaukan mata, melainkan kilau pekat dan dalam, seperti nyala es abadi dari dasar samudera. Hawa dingin menyapu sekeliling dalam sekejap, menusuk kulit.

Kerumunan langsung mundur panik.

“Apa itu?!”

“Dingin…!”

“Cincinnya bercahaya!”

Uap tipis membubung dari aspal di sekitar tubuh Rayhan. Suhu udara turun drastis. Bulu kuduk berdiri. Napas orang-orang berubah menjadi embun tipis. Pria berumur itu refleks mengangkat lengannya, melindungi wajahnya dari hembusan dingin yang menusuk tulang.

“Minggir!” teriaknya keras. “Semua menjauh!”

Tubuh Rayhan menegang, kaku seperti patung es. Cincin safir di jarinya berdenyut pelan, memancarkan aliran cahaya biru yang meresap ke kulit, menyusuri pembuluh darah, menembus tulang, dan merambat ke seluruh jaringan energi meridian di dalam tubuhnya.

Sesuatu yang telah lama tertidur… akhirnya terbangun.

Energi dingin, murni, dan asing mengisi tubuhnya, mengalir menuju pusat terdalam eksistensinya... akar spiritual yang selama ini tersembunyi.

Akar Spiritual Es.

Mata Rayhan yang sejak benturan terbuka karena refleks syok perlahan berubah warna. Hitamnya memudar, digantikan cahaya biru bercahaya... dingin, dalam, dan sunyi... sebelum akhirnya meredup kembali.

Pria berumur itu berlutut di sampingnya, tangannya sedikit gemetar saat memeriksa napas dan denyut nadi Rayhan.

“Aneh…” gumamnya pelan. “Tadi jelas…”

Tiba-tiba...

Rayhan menarik napas panjang.

Dadanya mengembang.

Tubuhnya bergerak.

Ia terbangun mendadak dan terduduk di tengah jalan.

Kerumunan langsung menjerit ketakutan dan mundur serentak.

“Astaga!”

“Hidup?!”

“Barusan katanya mati!”

Rayhan terengah. Pandangannya berputar, dunia terasa asing dan tajam. Namun yang paling mengejutkan... tubuhnya terasa ringan.

Tak ada rasa sakit.

Tak ada tulang remuk.

Tak ada nyeri menusuk di kepala.

Sebaliknya... ia merasa kuat.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“Apa… yang terjadi?” batinnya kacau, menatap kedua telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan aliran dingin-hangat berdenyut pelan di dalam tubuhnya, seperti sungai energi yang baru saja terbuka. “Kenapa tubuhku terasa… segar? Bugar?”

“Nak!” suara berat memanggil, membuyarkan lamunannya.

Rayhan menoleh. Pria berumur itu menatapnya tajam... campuran waspada, kaget, dan ketidakpercayaan. “Apa kau baik-baik saja?”

Rayhan hendak menjawab, namun kata-kata tertahan di tenggorokan. Matanya terasa perih. Kelopak matanya berat, seolah ia baru terbangun dari tidur yang sangat panjang.

Ia mengedip, berusaha fokus.

Dunia di sekelilingnya masih sama—jalan raya, orang-orang, suara kendaraan... namun entah kenapa terasa berbeda.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

Dan… jauh lebih hidup dari sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Rencana Busuk

    Rayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Pulang Ke Rumah Lama

    Lampu-lampu kota mulai menipis ketika Rayhan akhirnya membelokkan coupe merah itu keluar dari jalan utama.Mesin mobil Alicia masih mendengkur halus—suara mahal yang terlalu elegan untuk lingkungan yang akan ia tuju.Beberapa menit kemudian, gedung-gedung tinggi Bellavista mulai tergantikan oleh rumah-rumah lama.Jalan menjadi lebih sempit.Lampu jalan lebih jarang.Cat pagar banyak yang sudah pudar.Rayhan memperlambat mobil.Ia melihat deretan rumah dua lantai yang sangat ia kenal.Kompleks lama tempat ia tumbuh.Ia menghela napas pendek.“Aku coba tinggal beberapa hari lagi sambil mencari cuan…”Mobil coupe merah itu jelas terlalu mencolok untuk lingkungan seperti ini.Anak-anak yang masih nongkrong di warung ujung jalan bahkan langsung berhenti mengobrol.Salah satu dari mereka bersiul.“Woi… Ferrari mini!”Rayhan tersenyum kecil.“Kalau mereka tahu ini bukan mobilku,” gumamnya.Ia tidak langsung berhenti di depan rumah.Sebaliknya, ia memarkir mobil itu sekitar lima puluh meter d

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Kekuatan Tubuh Rayhan

    Rayhan membuka pintu mobil.Klik.Pintu coupe merah itu terayun pelan, dan ia melangkah keluar dengan gerakan santai seolah baru saja berhenti untuk membeli kopi, bukan karena sebuah SUV hitam memblokir jalan di tengah malam.Angin laut langsung menerpa wajahnya.Udara asin yang dingin mengusap kulitnya, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Lampu jalan memercikkan cahaya kuning redup di aspal pesisir yang kosong.Kondisi jalanan sunyi.Hanya suara ombak jauh dan mesin mobil yang masih menyala pelan.Di depan sana, empat pria berdiri di sekitar SUV hitam.Tubuh mereka besar. Bahu lebar. Tangan kasar seperti orang yang lebih sering memukul daripada berjabat tangan.Salah satu dari mereka memutar bahunya sampai berbunyi.Krek.Ia menatap Rayhan dengan mata menyipit.“Rayhan?”Rayhan mengangkat satu tangan kecil, seperti murid yang hendak bertanya di kelas.“Kalau aku bilang bukan…” katanya santai. “kalian percaya dan pulang?”Beberapa detik hening.Kemudian—Preman itu tertawa.Tawa ka

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Bahaya di Tengah Jalan

    Mesin coupe merah itu masih menyimpan sisa panas ketika Rayhan akhirnya memutar kunci lagi.Suara mesin menyala halus dan rendah. Lampu dashboard memercikkan cahaya biru lembut ke wajah Rayhan, menerangi garis rahangnya dan bayangan samar di matanya.Ia menatap ke depan beberapa detik.Sunyi.Kemudian matanya melirik ke arah kaca spion.Gerbang villa Alicia perlahan menutup dengan suara mekanis yang halus.Pintu besi tinggi itu akhirnya bertemu di tengah, memutus pandangan Rayhan dari halaman rumah besar yang tadi baru saja ditinggalkan Alicia.Wanita itu sudah masuk.Lampu taman villa menyala hangat di balik pagar.Rayhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala sebentar ke kursi.“Alicia tidak akan keberatan mobilnya aku pinjam sebentar,” gumamnya pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada siapa pun.Tangannya mengetuk ringan setir mobil.Keputusan diambil.Ia akan meminjam mobil ini sebentar dan kembali ke rumah barunya untuk beristirahat.Setelah malam panjang sepert

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Rayuan Alicia

    Angin laut malam bertiup lembut ketika Rayhan dan Alicia keluar dari restoran.Lampu-lampu Bellavista City memantul di permukaan jalan yang basah oleh embun malam. Suasana kota masih hidup—mobil-mobil mewah melintas, musik samar terdengar dari rooftop bar, dan lampu gedung tinggi menyala seperti bintang buatan manusia.Alicia berhenti sebentar di trotoar.Ia menatap Rayhan.Lalu tertawa kecil.“Sejujurnya…” katanya sambil mengusap pelipisnya. “Aku sedikit pusing.”Rayhan mengangkat alis.“Sedikit?”Alicia mengangkat tiga jari.“Mungkin… tiga gelas terlalu banyak.”Rayhan meliriknya dari atas ke bawah.Langkah Alicia sedikit goyah.“Empat,” kata Rayhan.Alicia memicingkan mata.“Kamu menghitung?”“Insting bertahan hidup.”Alicia tertawa.Suara tawanya ringan, berbeda dari sikap elegannya tadi di restoran. Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan, memberi kesan santai yang justru membuatnya terlihat lebih menarik.Rayhan melihat ke sekeliling.“Mobilmu parkir di mana?”Alicia me

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Menyewa Pembunuh Bayaran

    Mesin mobil Daniel masih menyala.Lampu dashboard memantulkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kaku. Tangannya masih menggenggam ponsel erat.Di seberang telepon, suara itu terdengar berat. Serak dan tenang.“Siapa?”Daniel menelan ludah. Rahangnya mengeras.“Aku,” katanya. “Daniel Wongso.”Hening sebentar.Lalu suara itu tertawa kecil.“Ah… anak konglomerat yang pernah kehilangan tiga proyek properti dalam dua tahun?”Daniel mengepalkan tangan lebih keras.“Kau masih berani mengejekku?”“Tidak,” jawab suara itu santai. “Aku hanya memastikan identitas. Jadi… siapa yang ingin kamu hilangkan?”Daniel menatap ke arah restoran di seberang jalan.Melalui kaca besar, ia masih bisa melihat Rayhan duduk santai bersama Alicia. Mereka tertawa. Minum wine. Seolah dunia memang dibuat untuk mereka.Rasa panas naik lagi ke dadanya.“Namanya Rayhan.”“Rayhan siapa?”Daniel terdiam.Ia baru sadar sesuatu yang membuat darahnya makin mendidih.Ia… bahkan lupa nama lengkap pria yang pura-pura dijadika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status