LOGINCahaya biru keemasan masih memenuhi aula utama Kerajaan Laut Selatan setelah sistem memberikan warisan pertama kepada Arka. Layar transparan melayang di hadapannya, menampilkan kemampuan baru yang baru saja terbuka. Dibandingkan dengan kemampuan manusia modern yang menggunakan energi dimensi, kekuatan ini terasa jauh lebih kuno dan memiliki hubungan langsung dengan lautan.
[Kemampuan Baru Terbuka]
[Domain Samudra Lv.1]
Arka membaca informasi itu dengan saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, manusia terkuat hanya mampu menggunakan Zona Resonansi untuk memperkuat energi tempur dalam area tertentu. Namun, Domain Samudra bukan sekadar penguatan energi, melainkan kemampuan untuk mengendalikan lingkungan di sekitarnya.
"Jadi ini kekuatan yang dimiliki oleh para pewaris kerajaan kuno?" gumam Arka sambil mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, aku harus memahami batas kemampuanku sebelum menghadapi musuh yang lebih kuat."
Asteria yang berdiri tidak jauh darinya mengangguk pelan. Ia tampak puas melihat sikap Arka yang tidak langsung terlena dengan kekuatan baru yang diperoleh. Baginya, seorang raja yang hanya mengejar kekuatan tanpa memahami tanggung jawabnya tidak akan pernah mampu membawa kembali kejayaan Kerajaan Naga Laut.
"Kekuatan tanpa kendali hanya akan jadi bencana. Sebelum menghadapi dunia luar, kau harus memahami bagaimana cara menggunakan warisanmu," ujar Asteria.
Mereka berjalan menuju bagian terdalam istana. Setelah melewati beberapa lorong kristal, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang tersembunyi di bawah pusat kerajaan. Pintu batu raksasa terbuka perlahan, memperlihatkan arena berbentuk lingkaran dengan diameter hampir satu kilometer.
Lantai arena terbuat dari batu hitam dengan ukiran naga yang mengalirkan energi biru. Di sekeliling arena terdapat aliran air laut yang bergerak tanpa henti, sementara puluhan prajurit kerajaan berdiri di atas tribun. Mereka telah menunggu ribuan tahun untuk melihat pewaris kerajaan kembali menggunakan kekuatan leluhur mereka.
Asteria berdiri di tengah arena dan mengangkat tangannya. Seketika, air laut yang mengelilingi arena bergerak naik dan membentuk kubah besar. Namun anehnya, Arka masih dapat bernapas dengan normal meskipun seluruh ruang telah dipenuhi air.
"Tempat ini adalah Arena Ujian Raja," jelas Asteria. "Gunakan Domain Samudra dan tunjukkan apakah tubuhmu mampu menerima kekuatan itu."
Sebelum Arka sempat menjawab, permukaan arena mulai bergetar. Dari lingkaran sihir yang muncul di tengah ruangan, seekor makhluk besar perlahan keluar. Tubuhnya menyerupai serigala dengan sisik biru gelap, empat kaki yang dipenuhi cakar tajam, dan taring yang cukup besar untuk menghancurkan baja.
[Hydra Wolf]
Arka menatap monster itu dengan tenang, meskipun dalam pikirannya ia masih membandingkan kondisi tubuhnya sekarang dengan dirinya di masa depan. Saat ini ia hanyalah manusia berusia tujuh belas tahun tanpa pelatihan militer, tetapi naluri bertarung dari kehidupan sebelumnya masih tersimpan dalam dirinya.
"Aku memang memiliki pengalaman bertahun-tahun," kata Arka pelan. "Tapi tubuh ini belum mencapai kemampuan yang sama seperti dulu."
Asteria menjawab dengan tenang, "Karena itu jangan bergantung pada tubuh lamamu. Gunakan sesuatu yang baru kau miliki."
Hydra Wolf mengeluarkan raungan keras lalu bergerak menyerang. Kecepatannya jauh melebihi manusia biasa, tetapi Arka mampu membaca arah serangannya. Ia menghindar beberapa langkah sebelum cakar monster itu mengenai tubuhnya.
Arka terkejut melihat gerakannya sendiri. Tubuh mudanya memang lebih lemah, tetapi kemampuan fisik dasar yang diperkuat oleh garis darah Raja Samudra membuat refleksnya jauh lebih cepat daripada manusia normal.
Monster itu kembali menyerang tanpa memberikan waktu untuk berpikir. Kali ini Arka tidak mundur. Ia mengangkat tangannya dan memusatkan pikirannya pada energi yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Domain Samudra."
Dalam sekejap, air di sekitar arena bergerak mengikuti kehendaknya. Dalam radius lima meter dari tubuh Arka, aliran air berubah arah dan membentuk wilayah yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Hydra Wolf yang memasuki wilayah tersebut tiba-tiba melambat. Gerakannya menjadi berat seolah tubuhnya sedang berada di kedalaman laut ribuan meter.
Arka mulai memahami mekanisme kemampuan itu. Domain Samudra tidak membuatnya menjadi lebih cepat secara langsung, tetapi membuat lingkungan di sekitarnya menjadi keuntungan baginya.
"Jadi begitu." Arka tersenyum tipis. "Selama berada di dalam domain ini, aku yang menentukan aturan."
Ia menggerakkan tangannya perlahan. Air laut di sekelilingnya berkumpul membentuk puluhan tombak tajam yang melayang di udara.
"Laut, pinjamkan kekuatanmu."
Dengan satu gerakan tangan, seluruh tombak air melesat menuju Hydra Wolf. Monster itu mencoba menghindar, tetapi pergerakannya telah dibatasi oleh Domain Samudra. Serangan tersebut menghantam tubuh Hydra Wolf dari berbagai arah. Setelah beberapa saat, tubuh monster itu kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi partikel cahaya sebelum menghilang.
Arena menjadi sunyi. Para prajurit kerajaan saling memandang dengan ekspresi terkejut. Mereka telah menunggu ribuan tahun, tetapi tidak menyangka pewaris yang baru kembali mampu mengendalikan Domain Samudra pada percobaan pertama.
Sistem kembali muncul di hadapan Arka.
[Musuh berhasil dikalahkan.]
[Level meningkat.]
[Level 1 → Level 5.]
Energi hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Namun perubahan terbesar terjadi pada garis darahnya.
[Syarat Evolusi Garis Darah terpenuhi.]
[Membuka Segel Pertama.]
Sisik biru muncul kembali di tangan kanan Arka dan perlahan menyebar hingga ke lehernya. Matanya berubah menjadi emas, sementara aura yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh prajurit kerajaan langsung berlutut.
"Tekanan ini..." bisik salah satu prajurit. "Darah Raja Samudra benar-benar telah bangkit."
Namun sebelum Arka sempat memahami perubahan itu, seluruh istana tiba-tiba bergetar. Alarm kuno menggema dari berbagai penjuru kerajaan. Asteria langsung menatap ke arah langit kubah laut dengan wajah serius. Sebuah retakan berwarna emas muncul di atas kerajaan, membelah ruang seperti sebuah pintu yang dipaksa terbuka.
Dari retakan tersebut muncul seekor burung raksasa dengan sayap bercahaya seperti matahari. Ukurannya mencapai puluhan meter, dan setiap kepakan sayapnya membuat arus laut di sekitarnya bergolak. Di atas kepala makhluk itu berdiri seorang pemuda dengan rambut putih keemasan dan mata merah menyala. Ia mengenakan zirah emas dengan lambang Garuda di bagian dada.
Pemuda itu menatap Arka dengan senyum percaya diri.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Sistem Arka langsung memberikan peringatan.
[Pewaris Kerajaan Garuda Langit terdeteksi.]
Rangga melompat turun dari atas burung raksasa tersebut dan mendarat di arena.
"Jadi kau Pewaris Raja Samudra," katanya sambil tersenyum. "Kalau aku mengalahkanmu sekarang, seluruh warisan laut akan menjadi milikku."
Arka menggenggam Keris Garuda yang berada di pinggangnya. Aura biru dan emas perlahan memenuhi tubuhnya.
"Aku tidak tahu siapa kau," jawab Arka tenang. "Tapi jika kau datang untuk merebut sesuatu yang bukan milikmu, kau memilih tempat yang salah."
Air laut kembali bergolak. Dua pewaris kerajaan kuno akhirnya berdiri di tempat yang sama. Dan tanpa mereka sadari, jauh di dasar samudra terdalam, sebuah mata merah perlahan terbuka dari kegelapan. Sosok yang tersegel selama ribuan tahun tersenyum melihat kebangkitan para pewaris.
"Bagus," suara itu bergema pelan. "Semakin banyak pewaris yang bangkit, semakin cepat segel para Dewa akan hancur."
Perang para pewaris akhirnya dimulai.
Hari Jumat tiba lebih cepat daripada yang dibayangkan Arka. Sejak pagi, suasana sekolah dipenuhi siswa yang sibuk membawa tas ransel dan koper kecil. Beberapa orang mengobrol dengan penuh semangat membahas perjalanan ke Yogyakarta, sementara guru-guru memastikan seluruh peserta telah menyerahkan surat izin dan perlengkapan yang diperlukan.Arka berdiri di dekat bus sambil memeriksa isi tasnya untuk terakhir kali. Selain pakaian dan perlengkapan sekolah, ia menyimpan senter kecil, botol minum, serta beberapa makanan ringan. Tidak ada benda yang mencurigakan. Mutiara Pasang tetap tergantung di balik seragamnya, tersembunyi dari pandangan siapa pun.Dimas datang menghampiri sambil tersenyum lebar. "Rak, katanya kita bakal mampir ke Pantai Parangtritis juga sebelum pulang."Arka mengangkat alis. "Serius?""Iya. Guru sejarah bilang sekalian mengenalkan budaya pesisir selatan. Lumayan, kan? Bisa foto-foto."Arka mengangguk pelan. Takdir seolah sedang membantunya. Rencana perjalanan sekolah
Matahari baru saja terbit ketika Arka sudah bersiap berangkat ke sekolah. Ia mengenakan seragam seperti biasa, menyampirkan tas di bahu, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dari luar, tidak ada yang berbeda dengan kehidupan seorang siswa SMA pada umumnya. Namun di balik senyumnya, pikirannya terus memutar rencana untuk menjalankan misi berikutnya tanpa menimbulkan kecurigaan.Ayahnya yang sedang membaca koran melirik sekilas. "Kamu kelihatan lebih semangat beberapa hari ini."Arka tersenyum tipis sambil mengambil segelas susu. "Mungkin karena sudah mulai terbiasa masuk sekolah lagi.""Bagus," sahut ayahnya. "Tapi jangan cuma semangat belajar. Tetap jaga kesehatan.""Aku akan ingat itu, Yah."Percakapan sederhana itu membuat hati Arka terasa hangat. Di kehidupan sebelumnya, kesempatan seperti ini telah lama hilang. Kini ia bertekad mempertahankan keseharian keluarganya selama mungkin, sembari diam-diam mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang hanya ia seorang yang mengetahu
Fajar mulai menyingsing ketika Arka berdiri di balkon tertinggi Istana Laut Selatan. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilau kebiruan yang memenuhi seluruh kerajaan bawah laut. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat para prajurit kembali menjalankan tugas masing-masing, sementara beberapa penjaga sibuk memulihkan bangunan yang rusak akibat benturan aura dengan Rangga sehari sebelumnya.Arka menarik napas panjang. Latihan di Ruang Refleksi Samudra memberinya lebih dari sekadar peningkatan kekuatan. Ia mulai memahami bahwa perubahan masa depan tidak cukup dilakukan dengan mengetahui kejadian yang akan datang. Cara berpikirnya pun harus berubah agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti pada kehidupan sebelumnya."Masih memikirkan pertarungan kemarin?" suara Asteria terdengar dari belakang.Arka menoleh dan mengangguk pelan. "Aku sadar sekarang. Rangga bahkan belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, sementara aku sudah menggunakan hampir semua yang kum
Suasana Kerajaan Laut Selatan kembali tenang setelah Rangga Adityawarman meninggalkan wilayah istana. Meski retakan emas di langit telah menghilang, bekas benturan dua aura kerajaan kuno masih terasa memenuhi udara. Para prajurit perlahan kembali ke posisi masing-masing, tetapi tidak seorang pun benar-benar merasa lega. Mereka menyadari bahwa kedatangan Pewaris Garuda Langit hanyalah awal dari konflik yang jauh lebih besar.Arka berdiri di tengah arena sambil memandangi Keris Garuda di tangannya. Pertemuan singkat dengan Rangga membuatnya memahami kenyataan yang selama ini belum ingin ia akui. Pengalaman bertarung dari kehidupan sebelumnya memang masih ada, tetapi tubuhnya saat ini belum mampu mengimbangi kemampuan seorang pewaris yang telah lebih dahulu membangkitkan garis darahnya."Aku bahkan tidak bisa memaksanya bertarung dengan serius," ucap Arka sambil menghela napas.Asteria berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Kesadaran itu justru menjadi kekuatanmu. Banyak pewaris yang
Gelombang laut yang semula tenang berubah menjadi liar sesaat setelah Rangga Adityawarman menginjakkan kaki di arena latihan Kerajaan Laut Selatan. Air yang mengelilingi arena membentuk pusaran besar, seolah merespons benturan dua aura kuno yang saling berhadapan. Para prajurit kerajaan segera mundur beberapa langkah, bukan karena takut kepada musuh, melainkan agar tidak mengganggu benturan energi yang mulai memenuhi seluruh ruangan.Arka berdiri dengan tenang sambil menggenggam Keris Garuda di pinggangnya. Meski baru saja membangkitkan sebagian kecil garis darah Raja Samudra, ia dapat merasakan tekanan yang dipancarkan pemuda berzirah emas di hadapannya. Aura itu berbeda dari monster mana pun yang pernah ia lawan. Bukan aura buas, melainkan aura seorang penguasa yang terbiasa memerintah dari atas langit.Rangga menatap sekeliling istana sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya ketika melihat para prajurit kerajaan yang masih berlutut di belakan
Cahaya biru keemasan masih memenuhi aula utama Kerajaan Laut Selatan setelah sistem memberikan warisan pertama kepada Arka. Layar transparan melayang di hadapannya, menampilkan kemampuan baru yang baru saja terbuka. Dibandingkan dengan kemampuan manusia modern yang menggunakan energi dimensi, kekuatan ini terasa jauh lebih kuno dan memiliki hubungan langsung dengan lautan.[Kemampuan Baru Terbuka][Domain Samudra Lv.1]Pengguna dapat menciptakan wilayah kendali dengan radius lima meter.Seluruh elemen air dalam wilayah tersebut akan mengikuti kehendak pengguna.Regenerasi meningkat 300%.Kekuatan teknik berbasis air meningkat 200%.[Catatan: Domain akan berkembang seiring peningkatan garis darah Raja Samudra.]Arka membaca informasi itu dengan saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, manusia terkuat hanya mampu menggunakan Zona Resonansi untuk memperkuat energi tempur dalam area tertentu. Namun, Domain Samudra bukan sekadar penguatan energi, melainkan kemampuan untuk mengendalikan lingkun







