LOGINSuara agung yang menggema dari dalam istana masih memenuhi seluruh kota bawah laut. Getarannya terasa begitu kuat hingga air di sekeliling Arka beriak tanpa disentuh angin, sementara lantai kristal di bawah kakinya memancarkan cahaya biru yang berdenyut perlahan. Ia berdiri mematung, mencoba memahami mengapa suara itu memanggilnya seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.
Pada saat yang sama, darah di dalam tubuhnya kembali bergejolak. Rasa hangat mengalir dari dadanya menuju kedua lengan, lalu menyebar hingga ke ujung jarinya. Sisik-sisik halus berwarna biru tua muncul di kulit lengan kanannya sebelum perlahan menghilang lagi, meninggalkan sensasi yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang.
Arka mengepalkan tangannya sambil menatap perubahan itu. Dalam kehidupan sebelumnya ia pernah menggunakan energi dimensi hingga batas kemampuan manusia, tetapi tubuhnya tidak pernah menunjukkan reaksi seperti ini. Kini ia mulai menyadari bahwa regresi bukan hanya mengembalikan waktunya, melainkan juga membangunkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam darahnya.
"Apa sebenarnya yang terjadi padaku?" gumam Arka.
Para prajurit yang masih berlutut tetap menundukkan kepala. Tidak seorang pun berani menatap wajahnya secara langsung. Beberapa saat kemudian, seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut perak melangkah maju. Zirah biru yang dikenakannya dihiasi lambang naga yang melingkari sebuah mutiara, sementara sorot matanya memancarkan rasa hormat yang tulus.
"Selamat datang kembali, Paduka," ucap pria itu.
Arka segera menggeleng. "Kalian salah orang. Aku bukan raja. Aku bahkan baru pertama kali datang ke tempat ini."
Pria itu tersenyum tipis tanpa sedikit pun terlihat ragu. "Ingatan Paduka mungkin belum kembali, tapi darah kerajaan tidak pernah berbohong. Selama ribuan tahun kami menunggu seseorang dengan aura milik Paduka."
Belum sempat Arka membalas, layar biru transparan muncul di hadapannya.
[Misi Tersembunyi Selesai]
Gerbang Laut Selatan berhasil dibuka.[Hadiah:]
• Warisan Raja Samudra Tahap I • Teknik Tempur: Gelombang Naga • Otoritas Istana Laut Selatan: 5%Begitu tulisan itu menghilang, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Arka spontan berlutut sambil memegangi pelipisnya. Potongan-potongan gambar asing memenuhi pikirannya secara bersamaan, membuat batas antara ingatan dan ilusi menjadi kabur.
Ia melihat sebuah kerajaan yang berdiri megah di tengah samudra tanpa akhir. Seekor naga biru raksasa melayang di atas langit, sementara seorang pria bermahkota emas duduk di singgasana kristal dengan wibawa yang sulit dijelaskan. Di pelukannya terdapat seorang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Arka ketika masih kecil.
"Ini... bukan ingatanku..." ucap Arka dengan napas tersengal.
Suara agung yang tadi menggema kembali terdengar, kali ini lebih lembut dibanding sebelumnya.
"Ini adalah kenangan yang diwariskan oleh darahmu."
Arka perlahan mengangkat kepalanya. Pintu utama istana terbuka dengan sendirinya, lalu seorang wanita berjalan keluar dengan langkah anggun. Rambutnya yang panjang berwarna biru keperakan menjuntai hingga hampir menyentuh lantai kristal, sedangkan matanya yang berwarna safir memancarkan ketenangan yang membuat seluruh suasana terasa damai.
Seluruh prajurit segera menundukkan kepala lebih dalam.
"Salam hormat kepada Yang Mulia Asteria."
Wanita itu berhenti beberapa langkah di depan Arka. Ia menatap pemuda itu cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah sedang memastikan sesuatu yang telah lama dinantikannya. Senyum tipis kemudian muncul di wajahnya, tetapi di balik senyum itu tersimpan kesedihan yang begitu dalam.
"Akhirnya," katanya lirih. "Aku bisa bertemu denganmu."
Arka masih belum mengurangi kewaspadaannya.
"Siapa kau?"
Wanita itu mengangkat tangan kanannya ke dada sebagai bentuk penghormatan.
"Namaku Asteria. Aku adalah Penjaga Terakhir Kerajaan Naga Laut." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Mulai hari ini, kau boleh menganggapku sebagai gurumu."
Arka terdiam. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuatnya memahami bahwa perjalanan yang baru dimulai ini jauh lebih besar daripada sekadar mengubah masa depan. Regresi telah membawanya menuju dunia yang sama sekali tidak pernah ia ketahui pada kehidupan sebelumnya.
Asteria kemudian berbalik menghadap pintu istana.
"Ikut aku," ujarnya tenang. "Masih banyak hal yang harus kau ketahui sebelum takdir kembali bergerak."
Arka menatap sekilas ke arah kota bawah laut yang megah sebelum mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengikuti langkah Asteria memasuki istana, sementara para prajurit tetap berlutut hingga sosok pewaris kerajaan itu menghilang di balik gerbang kristal.
Asteria mengangkat tangan kanannya. Aliran air yang mengambang di udara perlahan berkumpul membentuk layar bening menyerupai cermin. Permukaan air itu beriak pelan, lalu menampilkan bayangan seorang bayi yang dibungkus kain putih. Bayi itu tertidur di dalam kapsul kristal yang hanyut di tengah laut malam, sementara hujan deras mengguyur permukaannya. Arka langsung merasakan dadanya berdebar karena wajah bayi itu sangat dikenalnya.
"Itu aku?" bisiknya pelan.
Asteria mengangguk. "Benar. Ini bukan ilusi, tapi rekaman yang disimpan oleh memori lautan. Air mengingat semua peristiwa penting yang pernah terjadi di dunia ini."
Gambar pada layar kembali berubah. Dua sosok berpakaian laboratorium tampak berlari sambil membawa kapsul tersebut. Di belakang mereka, pulau kecil yang dipenuhi bangunan batu kuno perlahan tenggelam ke dalam pusaran laut. Langit dipenuhi retakan biru, sementara monster-monster laut mulai bermunculan dari kedalaman samudra. Kedua ilmuwan itu terluka, tetapi tetap berusaha melindungi bayi di dalam kapsul.
"Mereka adalah penjaga terakhir garis keturunan kerajaan," jelas Asteria. "Saat mengetahui pulau itu tidak dapat diselamatkan, mereka memilih menyelamatkan pewaris terakhir dibanding mempertahankan diri."
Arka memperhatikan setiap adegan tanpa berkedip. Salah satu ilmuwan kemudian menyerahkan kapsul itu kepada sepasang suami istri yang baru saja ditemukan di pantai. Wajah pasangan tersebut sangat dikenalnya. Mereka adalah ayah dan ibu yang membesarkannya selama ini.
"Mereka," suara Arka bergetar. "Ayah dan Ibu..."
"Mereka bukan orang kaya ataupun prajurit kuat," ujar Asteria dengan nada lembut. "Tapi mereka menerima seorang bayi asing tanpa bertanya asal-usulnya. Mereka membesarkanmu dengan kasih sayang, bahkan rela merahasiakan semua yang mereka lihat malam itu."
Arka menundukkan kepala. Selama bertahun-tahun ia menganggap dirinya anak kandung keluarga Wijaya. Fakta bahwa dirinya diadopsi memang mengejutkan, tetapi tidak sedikit pun mengurangi rasa hormatnya kepada kedua orang tua yang telah membesarkannya.
"Bagiku mereka tetap keluarga," katanya mantap. "Siapa pun darah yang mengalir di tubuhku, orang yang kupanggil Ayah dan Ibu tidak akan pernah berubah."
Asteria tersenyum tipis. "Itulah alasan kerajaan ini memilihmu. Seorang raja tidak diukur dari darahnya semata, tapi juga dari hati yang dimilikinya."
Layar air menghilang perlahan. Sebagai gantinya, altar batu di tengah ruangan memancarkan cahaya biru keemasan. Keris Garuda yang melayang di atas altar bergetar pelan seolah merespons tekad Arka. Bersamaan dengan itu, sistem kembali muncul di hadapannya.
[Warisan Raja Samudra Tahap I telah tersinkronisasi.]
[Sinkronisasi Garis Darah: 12%.]
[Kemampuan Gelombang Naga dapat digunakan.]
[Otoritas Istana Laut Selatan meningkat menjadi 5%.]
Arka membaca setiap tulisan dengan saksama. Persentase garis darahnya memang masih rendah, tetapi setidaknya kini ia memahami arah yang harus ditempuh. Selama terus berkembang, segel-segel lain akan terbuka dengan sendirinya.
Asteria kemudian melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke lautan. "Perjalananmu baru dimulai, Arka. Delapan bagian Keris Garuda lainnya tersebar di seluruh Nusantara. Masing-masing dijaga oleh ujian yang berbeda. Para pewaris kerajaan kuno lain juga akan mencarinya."
Arka mengikuti pandangannya ke luar istana. Lautan yang luas tampak tenang, tetapi ia tahu ketenangan itu tidak akan berlangsung lama. Ia telah mengubah sejarah dengan membuka Gerbang Laut Selatan lebih cepat daripada kehidupan sebelumnya.
"Apapun rintangannya," ucap Arka mantap. "Aku akan mengumpulkan seluruh bagian Keris Garuda, melindungi keluargaku, dan menghentikan bencana sebelum Tabrakan Dua Dunia terjadi."
Mendengar tekad itu, Asteria mengangguk puas. Namun pada saat yang sama, jauh di balik cakrawala lautan, sebuah denyut energi asing mulai menyebar. Tanpa diketahui Arka, para pewaris kerajaan kuno lainnya satu per satu mulai merasakan kebangkitan Raja Samudra, menandai dimulainya permainan yang akan menentukan nasib seluruh dunia.
Cahaya biru keemasan masih memenuhi aula utama Kerajaan Laut Selatan setelah sistem memberikan warisan pertama kepada Arka. Layar transparan melayang di hadapannya, menampilkan kemampuan baru yang baru saja terbuka. Dibandingkan dengan kemampuan manusia modern yang menggunakan energi dimensi, kekuatan ini terasa jauh lebih kuno dan memiliki hubungan langsung dengan lautan.[Kemampuan Baru Terbuka][Domain Samudra Lv.1]Pengguna dapat menciptakan wilayah kendali dengan radius lima meter.Seluruh elemen air dalam wilayah tersebut akan mengikuti kehendak pengguna.Regenerasi meningkat 300%.Kekuatan teknik berbasis air meningkat 200%.[Catatan: Domain akan berkembang seiring peningkatan garis darah Raja Samudra.]Arka membaca informasi itu dengan saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, manusia terkuat hanya mampu menggunakan Zona Resonansi untuk memperkuat energi tempur dalam area tertentu. Namun, Domain Samudra bukan sekadar penguatan energi, melainkan kemampuan untuk mengendalikan lingkun
Suara agung yang menggema dari dalam istana masih memenuhi seluruh kota bawah laut. Getarannya terasa begitu kuat hingga air di sekeliling Arka beriak tanpa disentuh angin, sementara lantai kristal di bawah kakinya memancarkan cahaya biru yang berdenyut perlahan. Ia berdiri mematung, mencoba memahami mengapa suara itu memanggilnya seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.Pada saat yang sama, darah di dalam tubuhnya kembali bergejolak. Rasa hangat mengalir dari dadanya menuju kedua lengan, lalu menyebar hingga ke ujung jarinya. Sisik-sisik halus berwarna biru tua muncul di kulit lengan kanannya sebelum perlahan menghilang lagi, meninggalkan sensasi yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang.Arka mengepalkan tangannya sambil menatap perubahan itu. Dalam kehidupan sebelumnya ia pernah menggunakan energi dimensi hingga batas kemampuan manusia, tetapi tubuhnya tidak pernah menunjukkan reaksi seperti ini. Kini ia mulai menyadari bahwa regresi bukan hanya mengembalikan waktunya, me
Perjalanan menuju Pantai Parangtritis memakan waktu hampir seharian. Setelah meninggalkan Bandung, Arka memanfaatkan seluruh uang tabungannya untuk membeli tiket kereta menuju Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum hingga tiba di pesisir selatan. Selama perjalanan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan tentang masa depan yang kini telah berubah.Di kehidupan sebelumnya, ia baru menginjakkan kaki di Parangtritis setelah dunia dilanda perang. Saat itu pantai ini hanya dianggap sebagai salah satu titik anomali energi dimensi yang tidak terlalu berbahaya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa tempat itu sebenarnya menyimpan gerbang menuju sebuah kerajaan kuno yang telah terlupakan.Menjelang sore, Arka akhirnya berdiri di atas hamparan pasir hitam Pantai Parangtritis. Angin laut bertiup cukup kencang, membawa aroma garam yang khas dan membuat ombak terus menghantam bibir pantai. Langit mulai berubah jingga, sementara matahari perlahan turun menuju cak
Kegelapan menyelimuti kesadaran Arka. Rasa sakit akibat luka di dadanya menghilang seolah tidak pernah ada. Tubuhnya terasa ringan, seperti selembar daun yang hanyut di dasar lautan, tanpa arus dan tujuan.Namun, kehampaan itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan terdengar sebuah suara yang begitu dalam dan agung hingga sulit dibedakan apakah berasal dari langit, lautan, atau dari dalam jiwanya sendiri. Setiap kata yang diucapkan menggema berkali-kali, membawa tekanan yang membuat kesadarannya bergetar.[Pewaris Darah Naga Laut telah dikonfirmasi][Resonansi Jiwa: Seratus persen][Kandidat memenuhi syarat sebagai Raja Samudra]Arka berusaha membuka mata, tetapi seluruh tubuhnya seperti terkunci. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun tidak merasakan apa pun selain ruang kosong yang tak berujung. Meski begitu, pikirannya tetap sadar, dan ia tahu suara itu bukanlah ilusi."Siapa... kau?" tanyanya lirih.Tidak ada jawaban secara langsung. Suara agung itu kembali berbicara dengan na
Suara alarm darurat menggema tanpa henti di sepanjang lorong markas bawah laut. Lampu merah berkedip di setiap sudut ruangan, memantulkan cahaya samar pada dinding logam yang bergetar akibat tekanan energi dari balik Gerbang Samudra. Meski suasana dipenuhi kebisingan, Arka Wijaya masih dapat mendengar satu suara yang begitu dikenalnya."Arka."Suara lembut itu terdengar melalui komunikator taktis di telinga kirinya. Arka menghentikan langkah, lalu perlahan menoleh ke belakang. Di ujung koridor yang diterangi cahaya biru redup berdiri seorang perempuan berambut hitam panjang yang bergoyang mengikuti hembusan ventilasi. Matanya yang berwarna emas berkilau tenang, hasil modifikasi genetik dari Proyek Samudra dua puluh tahun silam. Bagi orang lain, tatapan itu tampak asing. Namun bagi Arka, mata itu selalu menjadi tempatnya pulang.Selama tujuh tahun terakhir, mereka bertarung bersama di medan perang yang dipenuhi monster. Ketika kota demi kota runtuh, hanya Nadira yang selalu berada di s







