LOGINKetika pintu lift tertutup perlahan, suasana mendadak hening dan sempit sekarang. Kai berdiri santai di sampingnya sambil memasukkan satu tangan ke saku celana.“Ada apa lagi, Pak?” tanya Yuna pelan sambil menatap pria itu waspada.Kai meliriknya santai.“Saya juga lapar.”“Hah?”“Kita makan di luar.”Yuna langsung membeku.Pria itu mengucapkannya dengan nada santai seolah mengajak makan siang bersama adalah hal biasa. Padahal kalau sampai ada staf firma yang melihat mereka pergi berdua sekarang, Yuna sudah bisa membayangkan bagaimana isi gosip kantor besok pagi.“Ng-nggak usah!” bantah Yuna cepat panik. “Nanti malah jadi bahan gosip lagi kalau … kalau—”Tiba-tiba Kai mendengus pelan seolah malas mendengar kekhawatirannya.“Kamu tunggu di trotoar depan gedung seperti biasa.”Yuna langsung mendelik kecil.“Pak Kai—”“Jujur, saya penasaran,” potong Kai rendah.
Jam istirahat siang akhirnya tiba tepat ketika suasana di firma mulai sedikit lebih longgar dibanding pagi tadi. Beberapa staf mulai bangkit dari kursi masing-masing sambil membicarakan menu makan siang, sementara beberapa lainnya sudah lebih dulu berjalan keluar ruangan bersama teman-temannya. Namun di tengah suasana itu, Yuna justru duduk diam cukup lama di mejanya sambil menatap layar laptop tanpa benar-benar fokus membaca apa pun. Pikirannya masih kacau sejak percakapan dengan Alya tadi pagi. Dan semakin Yuna mengingatnya … semakin canggung perasaannya sekarang. Biasanya setiap jam makan siang, Alya akan langsung mengajaknya makan bersama seperti biasa. Bahkan tanpa perlu bertanya lagi. Tapi hari ini … Yuna justru tidak tahu harus bersikap seperti apa pada gadis itu. Ucapan-ucapan Alya tadi terus terngiang di kepalanya dengan cara yang perlahan menusuk pikirannya tanpa bisa ia abaikan. Dan semakin dipikirkan, semakin Yuna merasa seolah setiap gerak-geriknya sedang diperhatik
Yuna langsung membeku total, karena kalimat itu terdengar seperti kepedulian.Tapi di saat bersamaan … juga terasa seperti tekanan halus yang perlahan mendorongnya ke sudut yang sempit.Namun masalahnya bukan karena Yuna tidak percaya pada Alya. Justru … ada terlalu banyak hal yang mustahil bisa ia ceritakan pada gadis itu—tentang kontraknya dengan Kai, tentang Darren, dan tentang semua kekacauan yang perlahan keluar dari jalur cerita novel aslinya.Yuna akhirnya memaksakan senyum kecil.“Bukan nggak percaya,” jawabnya pelan sambil mencoba terdengar tenang. “Cuma … belakangan banyak banget yang lagi terjadi.”Alya memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil lagi.“Aku tahu,” ucap Alya dengan lembut. “Makanya aku khawatir.”Yuna menggenggam pulpennya sedikit lebih erat. Suasana mendadak terasa aneh sekarang. Karena Alya tetap terdengar baik seperti biasa. Namun entah kenapa … setiap kalimat
Suasana firma hukum Verazo & Associates pagi itu kembali sibuk seperti biasa. Suara langkah kaki, bunyi mesin printer, dan percakapan para staf memenuhi area kantor sejak pagi. Beberapa staf terlihat berlalu-lalang membawa dokumen, sementara layar monitor di berbagai meja kerja sudah dipenuhi tumpukan berkas kasus. Namun di saat sama pula, Yuna masih bisa merasakan beberapa tatapan sinis diam-diam mengarah padanya saat ia berjalan melewati area kantor. Bisik-bisik pelan yang sengaja dipelankan ketika dirinya lewat membuat suasana terasa tetap tidak nyaman seperti biasanya. Tapi Yuna memilih tidak menggubris tatapan-tatapan itu pagi ini. Langkahnya tetap berjalan menuju mejanya, meski suasana di dalam hati terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Mungkin karena tubuhnya memang belum benar-benar pulih. Atau mungkin … karena sejak turun dari mobil Kai tadi, ucapan pria itu masih terus terngiang di kepalanya. “Jangan terlalu percaya semua orang.” Yuna mendesah kecil sambil berjalan
Yuna langsung mengernyit kecil mendengar ucapan Kai barusan.Entah kenapa, nada suara Kai terdengar terlalu yakin. Seolah pria itu benar-benar sudah melihat sesuatu yang belum Yuna sadari. Yuna merasa sedikit tidak nyaman setelah mendengar ucapannya.“Kai,” Yuna akhirnya membuka suara pelan sambil menoleh, “Anda ngomong seolah Alya itu orang jahat.”Kai mendengus pelan.“Saya tidak bilang dia jahat.”“Tapi, cara Anda ngomong tadi kayak sedang nuduh dia.”Kai tetap fokus menyetir dengan satu tangan di kemudi. Ekspresinya tenang seperti biasa, malah terlalu tenang sampai membuat Yuna semakin kesal sendiri.“Alya itu rekan saya paling dekat,” lanjut Yuna cepat. “Dia selalu baik sama saya. Dan memang … kadang dia suka kepo dan terlalu khawatir sama orang lain, tapi bukan berarti dia punya maksud buruk, Kai.”Kai diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata rendah.“Kamu terlalu gampang percaya sam
Senin pagi di penthouse Kai terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Cahaya matahari pagi menembus jendela besar ruang makan sementara aroma roti panggang dan kopi hangat memenuhi udara. Namun meski suasana terlihat normal, tubuh Yuna sebenarnya belum benar-benar pulih sepenuhnya. Demamnya memang sudah turun, dan kepalanya juga tidak terlalu berat lagi. Tapi masih ada sisa lemas yang membuat tubuhnya terasa sedikit ringan saat bergerak terlalu cepat. Meski begitu, pagi ini Yuna tetap bersikeras untuk masuk kerja. Karena semakin lama ia tinggal diam di penthouse sambil terus diperhatikan Kai seperti pasien, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri. Pria itu sudah terlalu banyak membantunya selama dua hari terakhir. Dan itu membuat Yuna mulai takut dirinya benar-benar terbiasa menerima perhatian Kai begitu saja. Yuna duduk di meja makan sambil memakan sarapan perlahan. Sesekali ia meniup teh hangat di tangannya sambil berusaha terlihat biasa saja. Di seberan
“Jam 07:40?!” suara Yuna naik setengah oktaf, hampir berteriak. Tubuhnya langsung duduk tegak hingga selimut melorot dari bahu. Kepala masih sedikit pusing, tapi yang lebih parah adalah rasa panik yang langsung menyergap. Jam masuk kantor pukul 8 pagi. Yuna menoleh ke samping ranjang. Kai suda
Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah o
Dunia Yuna langsung berhenti berputar. Tubuh Yuna menegang keras. Kata 'cantik' itu keluar begitu saja dengan nada lembut dan tulus sebelum Firas tersentak sendiri. Wajahnya memerah tipis. “M–maksud saya … kamu kelihatan berbeda hari ini. Lebih sehat,” ralatnya cepat, suaranya masih hangat meski a
Di restoran mewah, Yuna duduk dengan postur sangat canggung, sendok dan garpu di depannya terasa asing hingga ia hanya berani mengambil sedikit salad dan daging panggang. Pikirannya berisik dan tatapannya kosong menatap piring. Dibenaknya, ia masih takut jika ia lupa siapa dirinya yang dulu, yang k







