Se connecterYuna menatap pesan itu beberapa detik. Dadanya kembali sesak. Pesan itu singkat, tapi terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah.
Firas meliriknya sekilas seolah sudah menduga siapa yang mengirim. “Dari pria itu?” tanyanya pelan. Yuna tersenyum pahit dan mengangguk kecil. Tanpa menyebut nama pun, Yuna mengerti siapa yang dimaksud Firas. “Iya … dari dia.” Firas hanya mengangguk dengan rahang mengeras tipis. Ia tidak berkata apa-apa lagi, taYuna membeku di lantai kamar tamu, ponsel masih menempel di telinganya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Yuna merasa dunia seketika sempit. Dua suara pria yang berbeda, dua dunia yang selama ini ia pisahkan dengan susah payah, kini hampir bertabrakan di depan matanya. Napasnya gemetar. Tangannya dingin. Otaknya blank beberapa detik. “Te … televisi,” jawab Yuna tergagap ke Darren. “Saya lagi di rumah. Televisinya nyala keras.” Darren diam sejenak, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Televisi …?” tanyanya pelan. “Iya,” Yuna buru-buru menjawab. “Darren, saya capek. Besok saja kita bicara lagi, ya?” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menutup telepon. Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar— Klik. Kai berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar dan sorot mata yang tajam. Ternyata ia memang punya akses cadangan ke seluruh ruangan di penthouse ini. Yuna masih duduk di lantai dengan punggung bersandar ke pintu yang kini terbuka. Ia buru-bur
Yuna menghela napas panjang. Kepalanya masih bersandar ke belakang sambil menatap langit-langit yang gelap. “Darren … saya nggak tahu apa saya bisa—” “Yuna, tolong dengarkan saya untuk terakhir kalinya, setelah itu saya nggak akan paksa kamu lagi, dan anggap ini terakhir kali saya hubungi kamu.” Potong Darren kali ini cukup menekan. Yuna menelan ludah berat sambil berusaha tetap terdengar tenang, meski tekanan yang menghimpit dadanya belum juga mereda. “Baik.” Darren terdiam sebentar. “Saya … belakangan ini selalu minta tolong Alya untuk bujuk kamu agar kamu datang. Mungkin cara saya salah. Tapi jujur, sekarang saya sedikit takut kalau kamu terus ngulur waktu atau menghindar dari saya sejak pertemuan terakhir kita.” Yuna mengernyit dalam. Apa itu alasan Darren terus menghubungi Alya untuk membujuk dirinya datang, padahal situasi mereka saat itu sedang panas setelah Yuna sempat mengancam akan mengatakan yang sebenarnya pada Alya tentang sandiwara itu? Napas Darren te
Yuna terdiam beberapa detik. Kalimat Kai masih menggantung jelas di udara dan menusuk masuk ke kepalanya tanpa bisa ia abaikan. Untuk beberapa saat, Yuna bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Dulu ia hanya ingin menjauh dari plot cerita, hidup tenang sebagai tokoh antagonis yang seharusnya menghilang di latar belakang. Tapi sekarang … ia terjebak di tengah pusaran yang semakin dalam. Kai yang dulu dingin dan kejam, kini mulai menunjukkan sisi yang ambigu—memberi ruang, menyiapkan makan malam, bahkan mengatakan tidak mau melepaskannya. Apakah ini cuma manipulasi baru … atau obsesi yang perlahan tumbuh dan akan mengurungnya semakin dalam? Dan Firas … pria yang tulus, yang menawarkan pelarian tanpa syarat. Lalu, ibunya yang polos dan hanya ingin melihatnya bahagia. Dan terakhir … Alya, yang kini kecewa padanya. Semuanya terasa salah. Karena semakin ia berusaha memperbaiki, semakin ia merusak segalanya. Ia bahkan mulai tidak mengenali dirinya sendiri lagi—perempuan y
Yuna terdiam lama setelah pertanyaan Kai. Gelas champagne di tangannya berputar pelan dan jemarinya mengikuti lekukan kaca seolah mencari pegangan di tengah kegelisahan yang terus menggerogoti. Pandangannya jatuh ke cairan keemasan di dalamnya, yang sebenarnya ia butuh sesuatu untuk dihindari. Kai menunggu dengan sabar—sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan. Tatapannya tenang, tapi menusuk, seolah bisa membaca setiap pikiran yang berusaha Yuna sembunyikan. “Apa kamu butuh waktu selama itu hanya untuk menjawab?” suara Kai akhirnya terdengar rendah, memecah keheningan yang terlalu panjang. Yuna menarik napas pelan. “Di kantor …” suaranya akhirnya keluar begitu pelan dan serak. “Gosipnya makin parah.” Yuna mengangkat wajahnya perlahan dan menatap pria di depannya dengan sorot yang getir. “Semua orang ngomongin saya,” lanjutnya. “Tentang saya masuk ruangan Anda … tentang pintu yang dikunci dari dalam.” Kai mendengus hampir geli, seolah gosip itu hal yang sangat sepele bagi
Yuna berdiri membeku beberapa detik. Perasaan curiga dan was-was langsung menyelimuti dadanya.Kenapa Kai tiba-tiba seperti ini?Suasana hatinya sedang bagus? Atau … ini hanya manipulasi baru? Tapi di balik rasa herannya, sisa kekesalan itu belum benar-benar hilang. Ingatannya masih tertahan pada kejadian siang tadi—saat gosip menyebar cepat seperti api di kantor, dipicu oleh pintu ruangan Kai yang terkunci dari dalam ketika pertemuan itu.Yuna menghela napas pelan sambil berusaha menjaga suaranya tetap datar.“Maaf … saya sudah makan di luar,” katanya pelan sambil melangkah masuk menuju kamar tamu.Kai yang sedang berdiri di sisi meja langsung berubah raut wajahnya. Senyum tipisnya memudar, digantikan ekspresi tidak suka yang dingin.“Sudah makan?” ulangnya rendah. “Sendirian?”Yuna tidak berhenti berjalan. Ia melewati meja makan sambil menjawab dengan nada enggan.“Iya, sendirian.”Kai tidak langsung bereaksi. Tapi saat Yuna hendak meraih k
Yuna menatap pesan itu beberapa detik. Dadanya kembali sesak. Pesan itu singkat, tapi terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah. Firas meliriknya sekilas seolah sudah menduga siapa yang mengirim. “Dari pria itu?” tanyanya pelan. Yuna tersenyum pahit dan mengangguk kecil. Tanpa menyebut nama pun, Yuna mengerti siapa yang dimaksud Firas. “Iya … dari dia.” Firas hanya mengangguk dengan rahang mengeras tipis. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kekhawatiran yang semakin dalam. Yuna buru-buru menghabiskan sisa makanannya. Gerakannya cepat dan agak tergesa, seolah semakin lama ia di sini, semakin berat beban yang harus ia pikul. Setelah meletakkan sendok, ia menatap Firas dengan senyum yang dipaksakan. “Terima kasih banyak, Firas. Untuk hari ini … untuk semuanya,” ucapnya pelan. “Saya benar-benar nggak tahu harus bilang apa lagi selain makasih.” Firas memandangnya sejenak,
Dunia Yuna langsung jungkir balik.Apa?!Pikirannya benar-benar kosong. Ia menatap Darren dengan mata membelalak, seolah berharap pria itu tiba-tiba tertawa dan bilang ini hanya lelucon.Tapi ekspresi Darren sama sekali tidak berubah. Sementara di sekeliling mereka, bis
Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati
Pintu lift yang mengarah ke koridor Presidential Suite Hotel X terbuka pelan. Yuna melangkah keluar dengan dress hitam satin yang menempel dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan ia sudah memilihnya. Demi Yuvita. Demi operasi bypass. DP
Yuna kaku di tempatnya, tubuhnya seperti dipaku ke tanah. Mata Darren masih menatap Yuna yang berdiri sedikit di belakang Alya. Ia menyunggingkan senyum ramah di wajahnya dengan wajah masih tak menyangka.“Kebetulan sekali ketemu lagi. Dunia kecil ya, Yuna.”Yuna menelan lu







