LOGINMelihat tiga rekan mereka tumbang dalam sekejap, sisa belasan pria berseragam safari itu tidak lagi memandang remeh Satria. Amarah mereka sudah tersulut sampai ke puncaknya. Mereka langsung berpencar, membentuk lingkaran rapat untuk mengunci seluruh jalur pelarian Satria."Kepung dia! Jangan kasih ruang untuk bergerak!" teriak si pemimpin berbekas luka dengan lantang.Seketika itu juga, kepungan ketat langsung mengarah pada Satria. Dari arah kanan, dua orang pria berbadan kekar maju bersamaan sambil mengayunkan rantai besi tebal mereka secara horizontal. Rantai itu berputar cepat di udara, memotong angin dengan suara mendesing yang sangat tajam, mengincar leher dan kaki Satria secara bersamaan.Satria tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Janji bonus dari Vera benar-benar membuat fokusnya berada di tingkat tertinggi.Saat rantai besi itu hampir menyentuh kulitnya, Satria melompat kecil ke atas. Gerakannya begitu pas, membuat rantai yang mengincar kaki lewat di bawah sepatunya, seme
Aba-aba dari si pemimpin safari berbekas luka itu membuat barisan pria bertubuh tegap di sekelilingnya bersiap untuk menerjang. Rantai besi kembali bergemerincing nyaring saat diseret, dan balok-balok kayu diangkat tinggi-tinggi, siap diayunkan untuk meremukkan tulang Satria.Namun, tepat sebelum kaki pertama mereka melangkah untuk menyerbu, Satria tiba-tiba mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat berhenti dengan gerakan santai.Gerakan itu entah mengapa membuat para pria berseragam safari tersebut reflek menahan langkah mereka selama satu detik. Mereka mengira Satria akhirnya merasa ketakutan setelah melihat puluhan senjata di depan matanya dan berniat untuk menyerah.Baskoro yang melihat hal itu langsung menyeringai puas dari kejauhan. "Kenapa? Baru tahu rasa takut sekarang, hah? Sudah terlambat untuk minta ampun!" teriak Baskoro dengan sisa-sisa suaranya yang parau.Satria sama sekali tidak melihat ke arah Baskoro. Dia justru menatap lurus ke arah dua puluh pria berseragam sa
Suasana di sekitar area proyek pengolahan limbah kini benar-benar berubah mencekam. Setelah pintu-pintu kendaraan SUV besar dan mobil bak terbuka itu terbuka lebar, rombongan pria berseragam safari yang berjumlah sekitar dua puluh orang mulai melangkah maju secara serentak.Cara berjalan mereka sangat teratur namun terlihat begitu angkuh, persis seperti lagak sekelompok gangster kelas kakap yang biasa menguasai wilayah hitam. Mereka tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya tatapan mata dingin yang tertuju lurus ke arah Satria.Yang membuat atmosfer di tempat itu semakin menegangkan adalah senjata yang mereka bawa di tangan masing-masing. Beberapa orang di barisan depan tampak menggenggam erat balok kayu tebal yang biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Sementara itu, beberapa orang di barisan belakang dengan santai menyeret rantai besi tebal di atas tanah berbatu.Sreeet ... sreeet ... sreeet ...Suara gesekan antara mata rantai besi yang berat dengan kerikil tajam di tanah terdenga
Suasana di pinggir sungai itu sempat hening selama beberapa saat. Warga desa masih berdiri bergerombol dengan sisa-sisa air mineral di tangan mereka, sementara Satria tetap berdiri dengan posisi siaga di depan Vera. Baskoro sendiri masih duduk bersimpuh di tanah, terus memandangi jam tangannya dengan raut wajah yang gelisah.Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.Dari kejauhan, tepatnya dari arah jalan berbatu yang menjadi akses utama menuju area proyek, terdengar deru suara mesin mobil yang sangat bising. Suaranya tidak hanya berasal dari satu atau dua kendaraan, melainkan kombinasi dari banyak mesin bertenaga besar yang meraung-raung secara bersamaan.Tanah di sekitar posko bahkan terasa sedikit bergetar. Tak lama kemudian, kepulan debu tebal tampak membubung tinggi ke udara dari balik pepohonan, menandakan ada konvoi kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah mereka.Mendengar suara itu, sepasang mata Baskoro yang tadinya redup dan penuh ketakutan langs
Baskoro segera mendekatkan ponsel ke telinganya. Sambil sedikit memunggungi Satria dan Vera, dia mulai berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti berbisik agar tidak terdengar oleh orang-orang di sekitarnya."Halo, Pak .... Iya, ini saya, Baskoro. Proyek di bantaran sungai diganggu warga .... Bukan cuma warga, ada orang dari kantor pusat juga yang datang mengacau .... Tolong kirim bantuan sekarang, Pak," bisik Baskoro dengan sangat cepat.Meskipun pria tambun itu berusaha menyembunyikan wajahnya, Satria memiliki penglihatan yang sangat tajam. Dia bisa melihat sudut bibir Baskoro sedikit terangkat. Ada senyuman licik yang tersirat di sana, seolah pria itu baru saja mendapatkan angin segar dan keyakinan baru setelah mengadu kepada pelindungnya.Melihat gelagat yang mencurigakan itu, Satria langsung menaruh curiga."Nggak beres ini," gumam Satria pelan.Begitu suara klik terdengar menandakan panggilan di seberang telepon sudah dimatikan, Baskoro baru saja hendak menarik nap
Satria melangkah melewati pemimpin preman yang sudah terkencing-kencing ketakutan tanpa perlu melayangkan pukulan lagi. Orang itu sudah kehilangan seluruh nyalinya setelah melihat semua anak buahnya tumbang dengan tragis. Fokus Satria kini kembali pada target utama, yaitu Baskoro.Pria tambun itu masih terduduk di atas tanah yang berdebu, memegangi rahang kirinya yang bengkak dan berdarah akibat pukulan salah sasaran dari anak buahnya sendiri tadi.Melihat Satria berjalan mendekat dengan langkah yang santai namun penuh intimidasi, Baskoro langsung berusaha mundur dengan cara menyeret pantatnya di tanah. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Di sekelilingnya, belasan preman sewaan yang dia bawa dengan penuh keangkuhan kini hanya bisa mengerang kesakitan. Perlindungan yang dia banggakan sudah hancur total dalam waktu beberapa menit saja.Satria berhenti tepat di depan Baskoro, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar. Tatapan mata Satria yang sangat dingin membuat Baskoro merasa seperti s







