공유

BAB 195

last update 게시일: 2026-05-24 20:30:54

"Jangan remehkan dia, Bang. Pengawalku yang badannya besar besar saja tumbang semua. Anak ini lumayan licin," elak Gilang mencoba membela diri.

Baru saja Bang Scorpio mau mengangkat tangannya memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju, pintu kaca lobi tiba tiba terbuka dengan kasar.

Vera berlari keluar dengan napas memburu. Wajah cantiknya pucat pasi, tapi dia memaksa kakinya melangkah maju membelah pelataran parkir yang panas. Beberapa petugas keamanan mencoba memanggil dari belakang, tapi C
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Satria Idaman Wanita   BAB 367

    Sinar matahari pagi menyinari pekarangan rumah Vera dengan kehangatan yang menenangkan. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon mangga, menyambut hari baru yang bersih tanpa ada sisa awan mendung di langit ibu kota.Di ruang makan, aroma kopi hitam pekat bercampur dengan harumnya roti panggang mentega memenuhi udara. Vera melangkah turun dari tangga dengan mengenakan pakaian santai rumahan, rambut panjangnya diikat longgar ke belakang.Satria sudah berdiri di dekat meja dapur, menuangkan sisa air panas ke dalam cangkir keramik putih. Pria itu mengenakan kaus abu-abu polos yang membuatnya tampak santai dan jauh dari kesan kaku seorang pengawal profesional.Mendengar langkah kaki mendekat, Satria menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Vera. Kopinya baru saja siap, pas banget sama kamu yang turun jam segini."Vera menarik kursi lalu duduk, menyambut cangkir hangat yang disodorkan Satria dengan senyuman lebar. "Pagi, Sat. Wah, kamu kayaknya punya jam alarm internal ya, selalu pas banget

  • Satria Idaman Wanita   BAB 366

    Sinar matahari pagi Minggu itu memantul cerah di atas permukaan air kolam ikan kecil yang terletak di sudut halaman belakang rumah Vera. Airnya yang jernih memperlihatkan beberapa ekor ikan koi berenang tenang ke sana ke mari, menciptakan riak kecil yang memecah keheningan pagi.Vera duduk di kursi rotan teras belakang sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang baru saja diseduh. Ia mengenakan pakaian santai rumahan berwarna putih polos, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai natural diterpa angin sepoi-sepoi.Satria melangkah keluar dari arah dapur membawa nampan kecil berisi piring penganan tradisional—beberapa potong pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja bundar di hadapan Vera, lalu menarik kursi untuk duduk di seberangnya."Wah, kebetulan banget lagi pengen yang manis-manis," ucap Vera antusias sambil mengambil sepotong pisang goreng yang masih mengepulkan uap tipis.Satria tersenyum tipis, lalu menuangka

  • Satria Idaman Wanita   BAB 365

    Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari barisan pot tanaman hias dan rumput hijau yang tertata rapi. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan setelah seharian cuaca cukup terik.Vera duduk di kursi teras kayu sambil mengenakan kardigan rajut tipis berwarna krem. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil terbuka, tapi perhatiannya justru lebih banyak tertuju pada sosok Satria yang sedang menyiram deretan tanaman anggrek di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten mengarahkan selang air kecil, memastikan setiap akar tanaman mendapat pasokan air yang cukup. Gerakannya tenang dan penuh konsentrasi, seolah merawat tanaman adalah misi paling penting yang harus diselesaikannya hari ini.Vera tersenyum tipis melihat keseriusan pengawalnya itu. "Sat, kayaknya tanaman anggrek di situ udah kebanyakan air deh. Nanti malah busuk akarnya kalau disiram terus."Satria menghentikan aliran ai

  • Satria Idaman Wanita   BAB 364

    Lampu gantung dengan pendar kuning hangat menerangi seluruh sudut ruang tamu kediaman Vera. Di luar rumah, angin malam akhir pekan berhembus pelan, membawa kesejukan khas setelah seharian disiram terik matahari.Vera duduk berselonjor santai di atas sofa empuk berbalut kain abu-abu, mengenakan kaus rumahan longgar yang nyaman. Di atas meja kopi kayu di hadapannya, sepiring mangkuk besar berisikan camilan keripik singkong pedas manis dan dua kaleng soda dingin tersaji rapi.Satria duduk di ujung sofa sebelah kiri, sedang fokus merapikan beberapa kabel peralatan elektronik rumah tangga yang sempat longgar. Gerakannya telaten dan tenang, menunjukkan betapa pria itu sangat menikmati setiap detik waktu luang di rumah.Di layar televisi besar di hadapan mereka, sebuah film komedi romantis klasik sedang berputar, menampilkan adegan-adegan konyol yang sesekali mengundang tawa kecil dari Vera.Vera mengambil sepotong keripik, lalu menoleh ke arah Satria. "Sat, filmnya seru banget. Kamu serius

  • Satria Idaman Wanita   BAB 363

    Sinar matahari sore perlahan meredup, menyisakan bias cahaya kemerahan yang menembus kaca jendela besar ruang keluarga. Suasana di dalam rumah terasa begitu tenang dan nyaman, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kota Jakarta di luar sana.Vera duduk bersila di atas karpet beludru yang lembut, dikelilingi oleh beberapa dokumen perusahaan yang harus ditandatangani untuk awal pekan depan. Meski sudah berkomitmen untuk hidup lebih santai, tanggung jawab sebagai direktur utama Hadiwinata Group tetap menuntut sedikit perhatian di akhir pekan.Tidak jauh dari tempatnya, Satria duduk di sofa panjang dengan santai. Pria itu sedang merakit sebuah lampu meja antik berukuran kecil yang beberapa hari lalu sempat ngadat, memperlihatkan sisi telaten yang jarang terlihat saat ia masih memegang senjata di medan tempur.Vera menghela napas pelan, meregangkan kedua tangannya ke atas untuk meredakan pegal di pundaknya. Matanya melirik ke arah Satria yang tampak begitu fokus dengan obeng kecil di tangannya."

  • Satria Idaman Wanita   BAB 362

    Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari rumput hijau dan barisan pot tanaman hias, menciptakan pantulan keemasan yang menenangkan.Di bawah rindangnya pohon kamboja jepang yang sedang berbunga lebat, sebuah kursi taman kayu panjang menjadi tempat favorit baru bagi Vera dan Satria untuk menghabiskan waktu luang.Vera duduk bersandar santai sambil memangku sebuah buku sketsa kecil, sesekali mencoretkan pensil di atas kertas putih untuk menggambar bentuk daun atau bunga yang jatuh di dekat kakinya. Di sebelah kanannya, Satria duduk tenang dengan secangkir teh hijau hangat di tangan, mengawasi setiap goresan tangan Vera dengan senyuman kecil di bibirnya."Kamu ternyata jago juga menggambar, Vera," puji Satria pelan, memecah keheningan sore yang damai. "Kirain kerjaannya cuma ngurusin laporan perusahaan sama meeting seharian."Vera menoleh sekilas, tersenyum bangga. "Dulu waktu kuliah saya sempat ambil kelas desain sam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status