分享

BAB 324

last update publish date: 2026-07-26 22:06:13

Malam makin larut. Angin laut berembus kencang membawa bau amis garam di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Satria memarkir motornya agak jauh dari sebuah gudang bongkar muat yang sudah lama terbengkalai. Lampu jalan banyak yang mati, membuat area itu gelap gulita.

Satria melangkah masuk dengan tenang. Sepatu botnya berderap di atas lantai beton yang berdebu. Di tengah ruangan gudang yang luas itu, hanya ada satu lampu gantung redup yang menyala.

Di bawah lampu itu, Ki Seta berdiri membelakangi p
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Satria Idaman Wanita   BAB 329

    Satria memarkir motornya agak jauh dari gerbang utama gedung Hadiwinata Group. Siang itu suasana di depan kantor sangat riuh. Puluhan orang berseragam hijau bertuliskan LSM Peduli Hijau Nusantara berteriak-teriak menggunakan toa. Beberapa wartawan juga sibuk mengambil foto dan video dari luar pagar.Di balik pagar kaca yang dijaga ketat barisan satpam, Vera dan Laras berdiri dengan wajah tegang.Pemimpin demo, seorang pria tambun berkumis tebal bernama Tono, terus berteriak nyaring. "Tutup mal ilegal Hadiwinata! Kembalikan tanah rakyat! Jangan biarkan kapitalis merusak lingkungan kita!"Satria berjalan santai menembus kerumunan. Beberapa pendemo mencoba menghalanginya, tapi dengan sedikit dorongan bahu, Satria membuat mereka tergeser tanpa terlihat memakai tenaga sama sekali. Dia melangkah masuk melewati celah gerbang yang langsung dibuka oleh satpam jaga yang sudah mengenalnya."Satria, kamu sudah kembali?" sapa Vera. Wajahnya terlihat lega melihat pengawalnya datang.Satria mengangg

  • Satria Idaman Wanita   BAB 328

    Satria memarkir motornya di sebuah gang sempit di kawasan Glodok. Dia masuk ke ruko tiga lantai yang terlihat agak kumuh dari luar. Lantai dasar bangunan itu penuh dengan tumpukan kardus bekas komponen komputer. Bau debu dan kopi murahan langsung tercium begitu dia membuka pintu.Dia naik tangga besi sempit menuju lantai dua. Suasana di sana cukup berisik karena belasan anak muda sedang sibuk berteriak main game online di warung internet. Satria mengabaikan mereka dan berjalan lurus menuju pintu besi di ujung ruangan. Pintu itu terkunci menggunakan pemindai sidik jari.Satria menempelkan jempol kirinya. Mesin berbunyi bip pendek dan pintu terbuka otomatis.Ruangan di balik pintu itu sangat dingin karena AC menyala maksimal. Ada lima layar monitor besar yang menyala menampilkan deretan kode dan grafik keuangan. Di depan monitor itu, seorang pria kurus berkacamata tebal sedang sibuk mengunyah mi instan cup. Namanya Bima. Dulu dia adalah spesialis intelijen digital di tim lama Satria."T

  • Satria Idaman Wanita   BAB 327

    Matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca ruang kerja Vera. Proyek pembangunan mal berjalan lancar tanpa ada laporan sabotase material lagi. Vera menyesap kopi hangatnya sambil tersenyum menatap laporan progres bangunan dari Pak Seno.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Laras masuk dengan wajah pucat dan napas terengah-engah. Dia bahkan lupa mengetuk pintu saking paniknya. Tangannya menggenggam sebuah tablet kerja dengan erat."Nona Vera, gawat Non!" seru Laras dengan suara bergetar.Vera meletakkan cangkir kopinya. Keningnya berkerut bingung. "Ada apa Laras? Tarik napas dulu. Pelan-pelan bicaranya."Laras menyodorkan tablet itu ke atas meja Vera. Layarnya menampilkan sebuah portal berita online nasional yang sangat populer. Judul berita utamanya ditulis dengan huruf tebal dan warna merah menyala."Skandal Proyek Raksasa: Mal Hadiwinata Group Diduga Serobot Lahan Hijau Warga dan Palsukan Dokumen AMDAL!"Mata Vera membelalak membac

  • Satria Idaman Wanita   BAB 326

    Tenda nasi goreng Pak Kumis malam itu lumayan ramai. Asap beraroma sedap mengepul dari wajan besar. Di salah satu meja sudut, Vera dan Laras duduk santai menikmati porsi masing-masing. Mereka berdua sudah berganti pakaian santai. Penampilan mereka sangat kontras dengan orang-orang kantoran yang baru pulang lembur di sekitar meja.Suara deru motor Satria terdengar mendekat. Pemuda itu memarkir motornya rapi lalu berjalan menghampiri meja mereka."Wah, maaf ya Non jadi nunggu lama. Jalanan dari Tanjung Priok agak macet tadi," kata Satria santai sambil menarik kursi plastik di depan Vera.Vera menatap Satria sebentar. Dia melihat sedikit noda debu di jaket pengawalnya itu, tapi tidak bertanya lebih jauh."Tidak apa-apa Sat. Itu pesananmu sudah datang. Nasi goreng gila pedas manis kan?" tunjuk Vera ke piring penuh yang masih mengepul di depan Satria."Siap, makasih banyak Non. Laras yang pesankan ya?" Satria mengambil sendok dan langsung menyantap makanannya dengan lahap tanpa canggung.L

  • Satria Idaman Wanita   BAB 325

    Ki Seta memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya terbelalak melihat Satria berjalan santai keluar dari reruntuhan peti kayu. Tidak ada luka gores sedikit pun di wajah pemuda itu, apalagi tulang yang patah."Mustahil! Pukulanku tadi mengandung tenaga dalam penuh. Manusia biasa pasti sudah remuk tulang rusuknya!" geram Ki Seta. Rasa percaya dirinya mulai goyah melihat sorot mata Satria yang kini sedingin es.Satria tersenyum tipis sambil mengusap debu di kerah kemejanya. "Bapak terlalu lama bertapa di gunung sepertinya. Di dunia luar, kekuatan otot dan tenaga dalam kaku seperti itu sudah lama ketinggalan zaman."Tanpa memberi aba-aba, Satria melesat maju. Kali ini kecepatannya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Lantai beton di bawah kakinya tidak retak, tapi langkahnya nyaris tidak bersuara layaknya hantu.Ki Seta tersentak kaget. Dia buru-buru memasang kuda-kuda kokoh dan mengalirkan seluruh tenaga dalamnya untuk menebalkan otot-otot di tubuhnya. Kulit pria tua itu sampai memerah

  • Satria Idaman Wanita   BAB 324

    Malam makin larut. Angin laut berembus kencang membawa bau amis garam di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Satria memarkir motornya agak jauh dari sebuah gudang bongkar muat yang sudah lama terbengkalai. Lampu jalan banyak yang mati, membuat area itu gelap gulita.Satria melangkah masuk dengan tenang. Sepatu botnya berderap di atas lantai beton yang berdebu. Di tengah ruangan gudang yang luas itu, hanya ada satu lampu gantung redup yang menyala.Di bawah lampu itu, Ki Seta berdiri membelakangi pintu masuk. Tangannya terlipat di belakang punggung. Udara di sekitar pria tua itu terasa berat, seolah ada tekanan kasatmata yang memancar dari tubuhnya."Kau datang lebih cepat dari dugaanku anak muda," suara serak Ki Seta memecah keheningan. Dia berbalik perlahan, menatap tajam ke arah Satria.Satria berhenti sekitar lima meter dari Ki Seta. Matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada penyergapan lain. "Saya orangnya tidak suka menunda pekerjaan Pak Tua. Apalagi kalau pekerjaannya menyan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status