MasukBegitu pesanan datang, Satria langsung makan dengan sangat lahap. Dia berusaha menahan diri untuk tidak makan berantakan karena sadar sedang memakai jas mahal, tapi kelaparannya jelas tidak bisa disembunyikan.Vera menyesap kopinya pelan sambil terus memperhatikan asistennya itu. Otak bisnis sang CEO mulai menyusun sebuah rencana baru di kepalanya. Dia butuh Satria untuk lebih dari sekadar berdiri di belakangnya. Dia butuh pengawal yang mobilitasnya tinggi."Satria," panggil Vera dengan nada serius setelah asistennya itu menghabiskan suapan terakhir nasi uduknya."Iya, Non?" Satria menenggak air putihnya sampai tandas lalu menatap bosnya. "Ada tugas berantem di acara amal nanti? Nona tenang aja, tenaga saya udah full seratus persen sekarang.""Bukan berantem," potong Vera cepat. Wanita itu meletakkan cangkir kopinya dan melipat kedua tangan di atas meja. Sorot matanya mengunci pandangan Satria. "Mulai besok pagi, saya minta kamu mulai belajar nyetir mobil."Uhuk! Satria yang baru saja
Sepuluh menit yang diberikan Nona Vera benar benar dimanfaatkan Satria dengan kecepatan kilat. Pemuda itu keluar dari paviliun belakang dengan napas sedikit memburu. Jaket kulit kusamnya sudah berganti dengan setelan jas berwarna biru malam yang jahitannya sangat pas memeluk tubuh besarnya. Kemeja putih di dalamnya tampak rapi tanpa dasi, dengan dua kancing atas sengaja dibiarkan terbuka supaya dia masih bisa bernapas.Bagi Satria, memakai jas mahal ini rasanya seperti dibungkus pakai karung goni basah yang super ketat. Gerakannya jadi kaku. Dia berjalan menuju mobil Alphard dengan langkah hati hati, takut kalau kalau celana kain mahalnya robek di bagian jahitan tengah.Pak Maman dengan sigap membukakan pintu penumpang. Satria masuk dan duduk di sebelah Vera yang sedang sibuk mengecek tablet kerjanya. Wangi parfum mewah langsung menyambut hidung Satria, menenggelamkan wangi nasi goreng udang yang masih terbayang bayang di kepalanya.Vera melirik sekilas dari balik layar tabletnya. Mat
Baru saja Satria mau menyuap sendok kelimanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama cepat terdengar mendekat dari arah tangga utama. Suara itu terdengar sangat tidak sabar, memecah suasana tenang dan manis yang sedang dibangun susah payah oleh Kiki di ruang makan.Nona Vera muncul dengan penampilan yang luar biasa memukau. Dia memakai gaun malam formal berwarna biru dongker yang elegan dengan potongan kerah tinggi. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan anting berlian yang berkilauan di telinganya. Wajahnya cantik, tapi ada guratan kesal yang sangat jelas terlihat di dahinya.Vera berhenti tepat di samping meja makan. Matanya melirik sinis ke arah nasi goreng udang di piring Satria, lalu beralih menatap tajam ke arah Kiki yang masih memakai celemek bunga-bunganya."Bagus ya. Pagi-pagi bukannya langsung siap-siap, malah main masak-masakan di sini," sindir Vera dengan nada dingin yang menusuk.Kiki yang tadi sedang tersenyum manis langsung cemberut. Bahunya merosot sek
Matahari pagi menyinari garasi dan paviliun belakang rumah mewah di Menteng itu. Satria terbangun dengan perasaan yang luar biasa segar. Tidurnya semalam benar benar pulas tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamarnya kini juga sudah dipasangi gembok besar dari dalam, membuatnya merasa seaman pejabat negara di dalam bungker.Setelah mandi dan memakai seragam asistennya yang rapi, kemeja rapi dan celana bahan, Satria melangkah keluar paviliun menuju rumah utama. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Biasanya jam segini Laras atau Bi Inah sudah menyiapkan sarapan di meja makan.Begitu pintu dapur kotor didorong, hidung Satria langsung disambut aroma harum bawang putih dan mentega yang ditumis. Wanginya sangat menggugah selera. Satria berjalan santai melewati dapur bersih menuju ruang makan.Langkah Satria mendadak berhenti kaku tepat di ambang pintu ruang makan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi atau masih tertidur.Di depan meja
Kamar paviliun belakang itu terasa sangat sejuk dan damai. Satria melempar ransel bututnya ke atas meja kecil di sudut ruangan, lalu merebahkan tubuh besarnya ke atas kasur dengan gerakan serampangan.Pemuda itu merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar lebar. Helaan napas panjang yang sarat akan kelegaan lolos dari bibirnya. Matanya menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong tapi penuh kemenangan.Rasanya seperti baru saja lolos dari lubang jarum. Kemarin dia diusir, luntang lantung kepanasan di jalanan, terjebak di kamar kos yang penuh godaan aroma vanilla, lalu diculik paksa di minimarket. Dan sekarang, dia sudah kembali lagi berbaring di atas kasur empuk ini dengan status aman terkendali berkat selembar kertas bermaterai sepuluh ribu."Ternyata hidup gue lebih dramatis daripada sinetron azab," gumam Satria sendirian sambil terkekeh pelan. Dia memejamkan matanya, berniat membalas dendam untuk tidur siang yang tertunda.Baru saja kesadarannya mulai melayang ke alam mimpi, s
Satria menatap kertas folio di tangannya bagaikan memegang jimat sakti penolak bala. Helaan napas panjang dan lega akhirnya keluar dari mulut pemuda itu. Pundaknya yang sejak tadi menegang kaku sekarang mulai rileks.Vera yang masih duduk di hadapannya tersenyum tipis. "Sekarang kamu udah aman, Satria. Bawa barang barang kamu ke paviliun belakang. Istirahatlah yang tenang. Besok pagi baru kamu mulai kerja lagi seperti biasa. Soal pintu besi dan gembok pesanan kamu, besok pagi tukang las langganan kantor bakal langsung datang buat masang.""Siap, Non. Makasih banyak," jawab Satria sambil mengangguk hormat.Tanpa membuang waktu lagi, Satria menyandang ransel bututnya. Langkah kakinya menyusuri lorong menuju halaman belakang terasa seringan kapas. Bagaikan narapidana yang baru saja mendapat surat bebas bersyarat dari pengadilan tingkat tinggi, Satria akhirnya bisa kembali menghirup udara kebebasan di kamarnya sendiri.Sepeninggal Satria, suasana ruang tengah kembali sepi. Vera memijat pe
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan







