Share

BAB 56

last update publish date: 2026-03-05 20:37:45

Suasana di dalam kamar tidur utama itu sebenarnya sangat tenang. Lampu tidur yang temaram dan suara hembusan AC yang halus membuat mata Satria perlahan mulai terasa berat. Pemuda itu duduk pasrah di kursi rias, membiarkan tangan kirinya digenggam erat oleh Vera yang masih tertidur pulas.

Satria baru saja mau menguap lebar sambil menyandarkan kepalanya ke tepi kasur, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah lorong luar.

Belum sempat Satria memproses siapa yang da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 179

    Satria menoleh ke arah Elang Hitam, masih dengan Kobra yang meronta ronta kehabisan napas di cengkeraman tangan kanannya."Gimana, Bos? Mau lanjut main tembak tembakan, atau mau kita selesaikan pakai cara sehat dan berolahraga tangan kosong?" tawar Satria sambil menyeringai tipis.Melihat temannya tumbang dengan begitu memalukan, wajah Elang Hitam berubah menjadi merah padam. Harga dirinya sebagai pembunuh bayaran nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta terasa diinjak injak oleh pemuda yang kini tersenyum mengejek di depannya.Satria melepaskan cengkeramannya. Tubuh Kobra langsung jatuh membentur aspal. Pria bertato itu batuk batuk keras meraup oksigen sebanyak mungkin sambil memegangi lehernya yang memar parah."Sialan kamu, anak muda!" geram Elang Hitam dengan suara yang bergetar menahan amarah.Bukannya mundur atau melarikan diri, Elang Hitam malah melemparkan senapan laras pendeknya ke tanah. Bunyi logam beradu dengan aspal terdengar nyaring. Dia sadar kalau senjata api tidak akan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 178

    DOR! DOR! DOR!Suara letusan pistol otomatis Kobra memecah keheningan malam. Tiga butir peluru tajam melesat dari moncong senjata dengan kecepatan mematikan, mengincar tepat ke arah dada dan kepala Satria dari jarak yang sangat dekat.Bagi manusia biasa, jarak sedekat itu adalah vonis mati yang tidak bisa dihindari. Namun bagi seorang pendekar tingkat tinggi yang terbiasa menangkap nyamuk terbang dengan sumpit di tengah kegelapan hutan, kecepatan peluru pistol hanyalah sebuah lelucon.Di mata Satria, lintasan ketiga peluru itu terlihat melambat drastis.Dengan wajah datar, Satria memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Peluru pertama mendesing lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya, membelah angin malam. Tanpa membuang waktu, pemuda itu memutar bahu kirinya ke belakang. Peluru kedua dan ketiga melesat melewati ruang kosong di depan dadanya, sama sekali tidak menyentuh kain jas hitamnya.Kobra melebarkan matanya. Mulut pembunuh bertato kalajengking itu terbuka lebar. Dia tidak

  • Satria Idaman Wanita   BAB 177

    Suasana di dalam Alphard semakin tegang. Satria terus menatap tajam ke arah SUV hitam yang makin agresif mengejar mereka di belakang. Jarak kedua mobil itu perlahan mulai menipis.Satria menyadari satu hal. Kalau mereka sampai masuk ke jalan tol, kecepatan mobil memang bisa bertambah. Tapi di jalan tol yang panjang dan terbuka, ban mobil Alphard ini akan jadi sasaran tembak yang sangat empuk bagi penembak jitu. Kalau ban meledak dalam kecepatan tinggi, mereka semua bisa mati karena kecelakaan, bukan karena peluru."Pak Maman, cari tempat yang agak gelap di depan. Pinggirkan mobilnya sebentar," perintah Satria tiba-tiba.Perintah itu langsung membuat seisi mobil kaget."Kamu gila, Satria?!" protes Vera dengan suara keras. "Kita lagi dikejar pembunuh bawa pistol. Kamu malah minta berhenti?""Saya mau turun di sini, Non," jawab Satria datar, sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Pak Maman nanti pelan saja sebentar. Habis saya lompat keluar, Bapak langsung tancap gas lagi bawa Nona Vera d

  • Satria Idaman Wanita   BAB 176

    Mobil Alphard hitam itu berhenti tepat di depan lobi restoran. Pak Maman memindahkan tuas persneling ke posisi parkir. Vera sudah bersiap mengambil tas tangannya, sedangkan Kiki sudah tidak sabar ingin segera turun. Laras juga bersiap merapikan posisi duduknya.Tiba-tiba, bulu kuduk Satria berdiri tegak. Otot lehernya menegang.Insting bertarungnya bereaksi sangat keras. Dia merasakan hawa niat membunuh yang sangat pekat mengunci area kepalanya. Arahnya bukan dari sekitar lobi restoran, melainkan dari tempat yang jauh lebih tinggi di seberang jalan.Tepat saat tangan Vera menyentuh gagang pintu mobil, Satria bergerak cepat menahan lengan bosnya itu."Tunggu. Jangan buka pintunya, Non," ucap Satria dengan nada suara rendah dan sangat serius.Vera menoleh bingung. "Kenapa, Satria? Kita sudah sampai."Satria langsung menekan tombol kunci sentral otomatis. Bunyi klik terdengar mengunci seluruh pintu mobil. Matanya menatap tajam menembus kaca mobil yang gelap, mengarah lurus ke atap gedung

  • Satria Idaman Wanita   Bab 175

    Malam pun tiba. Suasana rumah mewah di kawasan Menteng itu terasa jauh lebih ceria dari biasanya. Kemenangan mutlak atas keluarga Darmawan tadi siang membuat beban berat di pundak Vera akhirnya terangkat.Vera turun dari tangga dengan memakai gaun malam yang santai namun tetap terlihat elegan. Kiki mengekor di belakangnya. Wajah si bungsu sudah kembali segar dan didandani rapi, meski tadi pagi dia sempat disidang habis-habisan oleh kakaknya karena kejadian mabuk semalam.Di ruang tamu, Larasati sudah bersiap di atas kursi rodanya dengan memakai baju rajut yang manis. Satria juga baru saja keluar dari paviliun belakang, memakai kemeja kasual berwarna biru muda yang pas dengan tubuh besarnya."Laras, Satria, ayo bersiap," panggil Vera dengan senyum tipis di wajahnya. "Malam ini kita makan malam di luar. Saya sudah memesan meja VIP di restoran pusat kota. Kita adakan syukuran kecil-kecilan merayakan kembalinya proyek besar perusahaan."Mata Satria langsung berbinar terang mendengarnya. U

  • Satria Idaman Wanita   BAB 174

    Ponsel hitam di atas meja kayu bergetar singkat. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi transfer masuk senilai sepuluh miliar rupiah. Pria berwajah tirus dengan bekas luka melintang di pipi kirinya itu tersenyum miring. Dia adalah Elang Hitam, eksekutor nomor satu di dunia bawah tanah Jakarta."Bayaran di muka sudah masuk. Sepuluh miliar penuh," ucap Elang Hitam sambil meletakkan kembali ponselnya.Di dalam ruangan bekas gudang yang minim cahaya itu, tiga pria lain sedang duduk mengelilingi meja. Mereka bukan preman jalanan biasa, melainkan pembunuh bayaran profesional yang sering bekerja sama dengan Elang Hitam untuk misi tingkat tinggi."Targetnya siapa kali ini, Elang? Bos besar mana yang harus kita singkirkan sampai bayarannya sebesar itu?" tanya pria berbadan tegap dengan tato kalajengking di lehernya. Pria ini biasa dipanggil Kobra.Elang Hitam melemparkan sebuah tablet ke atas meja. Layar tablet itu menampilkan foto Satria yang diambil diam-diam dari jarak jauh. Di foto itu,

  • Satria Idaman Wanita   BAB 21

    Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Satria Idaman Wanita   BAB 17

    Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Satria Idaman Wanita   BAB 13

    Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Satria Idaman Wanita   BAB 12

    Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status