Teilen

BAB 57

last update Veröffentlichungsdatum: 06.03.2026 23:55:29

Satria menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengalir dari pelipis melewati rahangnya. Ruangan ber-AC itu mendadak terasa sepanas oven panggangan.

Di sebelah kirinya, Vera masih terlelap dengan napas teratur, tapi jari-jarinya mengunci tangan kiri Satria seperti borgol besi. Dan sekarang, di depannya persis, Kiki duduk dengan tatapan menuntut yang tidak bisa dibantah.

"Denda apa lagi sih, Ki?" bisik Satria frustrasi, wajahnya memelas ha
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satria Idaman Wanita   BAB 265

    Satria masih terus tertawa lepas sambil mengangkat kedua tangannya, dengan mudah menangkis setiap hantaman bantal sofa yang dilayangkan oleh Vera. Baginya, pukulan kesal dari wanita itu sama sekali tidak terasa sakit, justru terlihat seperti gerakan anak kecil yang sedang merajuk."Aduh, Non, ampun ! Jangan kencang-kencang memukulnya, nanti bantal apartemen mewah ini bisa jebol," goda Satria di sela-sela tawanya, sengaja menambahkan minyak ke dalam api amarah Vera."Biar saja jebol ! Kalau perlu kepalamu yang jebol sekalian !" balas Vera yang napasnya mulai terengah-engah karena lelah memukuli Satria tanpa hasil.Vera akhirnya melempar bantal sofa itu ke lantai dengan sentakan kasar. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar dengan bibir yang mengerucut tajam. Kedua pipinya masih terasa panas dan berwarna kemerahan. Sisa-sisa debaran jantung akibat jarak yang terlalu dekat tadi masih terasa sangat jelas di dadanya.Satria perlahan mengh

  • Satria Idaman Wanita   BAB 264

    Mendengar suara langkah kaki Satria yang sengaja dibuat agak keras, Vera perlahan membuka matanya. Dia langsung menyadari posisi tidurnya yang kurang rapi, lalu dengan cepat mengubah posisinya menjadi duduk tegak di atas sofa panjang tersebut. Tangan kirinya bergerak merapikan ujung kemeja putih serta rok kerjanya yang sempat tersingkap.Rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti Vera sedikit berkurang, digantikan oleh ingatan tentang kesepakatan yang mereka buat saat di rumah makan lesehan tadi.Vera mendongak, menatap lurus ke arah Satria yang kini berdiri beberapa langkah di depan meja kopi."Kamu minta bonus apa?" tanya Vera langsung, membuka percakapan tanpa basa-basi lagi.Satria yang baru saja berhasil menenangkan debaran jantungnya langsung menoleh. Mendengar pertanyaan itu, sebuah senyuman usil yang sangat khas seketika mengembang di sudut bibir pemuda itu. Dia menatap bos cantiknya dengan pandangan mata yang berbinar penuh arti."Apapun kan?" tanya Satria, sengaja menggoda Vera

  • Satria Idaman Wanita   BAB 263

    Mobil SUV mewah yang dikemudikan Satria akhirnya memasuki kawasan elite di pusat kota. Bukannya mengarah ke rumah utama keluarga Vera, mobil itu justru langsung berbelok memasuki area kompleks apartemen super mewah yang menjulang tinggi ke langit. Penjagaan di gerbang depannya sangat ketat, dengan beberapa petugas keamanan berseragam rapi yang langsung membungkuk hormat begitu mengenali mobil milik Vera.Satria yang melihat kemewahan gedung di depannya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mengira Vera akan mengajaknya pulang ke rumah utama dulu untuk beristirahat, namun siapa sangka bos cantiknya ini benar-benar langsung membawanya ke sini tanpa menunda waktu sedikit pun.Setelah memarkirkan mobil di tempat khusus, Vera langsung turun dengan langkah kaki yang ceria. Dia menoleh ke arah Satria yang masih berdiri canggung di samping pintu kemudi."Ayo, Satria, tunggu apa lagi? Bawa barang-barangmu sekalian dari bagasi, kita langsung naik ke atas sekarang," kata Vera samb

  • Satria Idaman Wanita   BAB 262

    Matahari sudah mulai bergerak condong ke arah barat, memancarkan sinar kemerahan yang menerobos masuk lewat celah gorden ruang kerja Sang Bos Besar. Di dalam ruangan yang luas itu, suasana masih terasa sangat tegang. Sang Bos Besar duduk diam di kursi kulitnya, sementara asbak di atas mejanya sudah dipenuhi oleh beberapa puntung cerutu yang sengaja dimatikan dengan kasar.Pintu ganda ruangan itu tiba-tiba diketuk dua kali dengan ketukan yang ritmis. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rendra melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria jangkung itu tampak sangat serius, dan di tangan kanannya terdapat sebuah gawai tablet yang layarnya masih menyala menampilkan beberapa baris data grafik."Tuan Besar, tim mata-mata kita di lapangan baru saja menghubungi saya. Mereka berhasil melacak posisi dan pergerakan bocah bernama Satria itu," lapor Rendra sambil membungkuk hormat.Sang Bos Besar yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci waj

  • Satria Idaman Wanita   BAB 261

    Setelah menyelesaikan makan siang mereka yang nikmat dan mengenyangkan di tengah sawah, Satria dan Vera memutuskan untuk segera kembali ke kota. Perjalanan pulang terasa jauh lebih santai daripada saat mereka berangkat tadi pagi. Hawa sejuk persawahan perlahan berganti dengan pemandangan jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan.Satria fokus mengemudikan mobil SUV mewah itu dengan kecepatan stabil. Di sampingnya, Vera tampak sibuk melihat-lihat kembali hasil foto yang diambil oleh Satria di ponselnya. Sesekali, sudut bibir wanita cantik itu terangkat, tersenyum puas melihat hasil jepretan pengawal pribadinya yang ternyata cukup estetik.Suasana di dalam kabin mobil sebenarnya sangat nyaman dan tenang, sampai akhirnya Satria berdeham kecil untuk membuka obrolan baru."Non Vera, mumpung kita lagi jalan santai, ada satu hal yang mau saya bicarakan ...," ucap Satria dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin.Vera tidak langsung menoleh, matanya masih menatap layar ponsel. "

  • Satria Idaman Wanita   BAB 260

    Pesanan mereka akhirnya datang juga. Pelayan rumah makan menyusun piring-piring anyaman bambu di atas meja kayu saung. Aroma harum dari nasi liwet yang masih mengepul, ayam bakar bumbu rujak yang kecokelatan meresap, tahu goreng, tempe goreng, hingga semangkuk penuh lalapan segar langsung menusuk hidung. Tidak ketinggalan, cobek batu berisi sambal terasi ulek dadakan yang masih berminyak ikut disajikan.Aroma makanan itu benar-benar mengundang selera, membuat perut Vera berbunyi lebih nyaring.Satria langsung menuangkan air dari kendi ke mangkuk cuci tangan. Setelah tangannya bersih, tanpa ragu sedikit pun dia langsung mengambil sepiring nasi hangat, menyobek sedikit daging ayam bakar, lalu mencocolnya ke sambal terasi. Dengan gerakan lincah dan terbiasa, Satria menyuap makanan itu ke dalam mulutnya."Hmm, mantap sekali, Non. Ayamnya empuk, sambalnya juga pas pedasnya," ucap Satria sambil mengunyah dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati makanan tersebut.Vera memperhatikan Satria

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status