Share

BAB 58

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-03-07 21:22:50

Tangan kiri Kiki melingkar di leher Satria, sementara tangan kanannya menekan dada bidang pemuda itu, memaksa Satria untuk bersandar lebih dalam ke sandaran kursi.

Otak logis Satria berteriak menyuruhnya berhenti. Ini salah. Ini sangat salah dan berbahaya. Tapi darah mudanya tidak bisa diajak kompromi. Sentuhan bibir Kiki yang lembut, posisi mereka yang sangat intim, dan rasa takut ketahuan yang memompa adrenalin besar-besaran, semuanya menyatu menghancurkan pertahanan mental sang penakluk prem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 128

    Kabin mobil mewah itu masih hening menunggu jawaban Satria. Vera menatap asistennya dengan mata yang masih merah dan penuh harap. Wanita itu sudah siap mengeluarkan cek kosong berapa pun nominalnya asalkan Satria mau kembali dan mengurus kekacauan di rumahnya.Satria membuang napas panjang. Otaknya berputar cepat menimbang nimbang tawaran ini. Gaji dua kali lipat jelas sangat menggoda buat orang yang baru beberapa jam jadi pengangguran. Tapi memori soal Kiki yang menguncinya di kamar dan menggodanya habis habisan masih menempel kuat di kepalanya. Belum lagi urusan Dinda di kosan yang juga mulai berani macam macam pagi ini. Kalau dia terus di luar, bisa bisa dia malah jadi korban perempuan lain."Oke, Non," jawab Satria pelan. Suaranya akhirnya memecah keheningan. "Saya mau balik kerja di rumah Nona."Wajah Vera langsung cerah seketika. Senyum lega mengembang lebar di bibirnya. Dia buru buru menghapus sisa air matanya pakai tisu."Syukurlah, Satria. Makasih banyak. Kamu mau minta fasil

  • Satria Idaman Wanita   BAB 127

    Kabin Alphard itu mendadak sunyi senyap. Deru mesin mobil dan suara klakson jalanan Sudirman sama sekali tidak bisa menembus kaca tebal tersebut. Satria masih menyandarkan punggungnya dengan lemas, menunggu hukuman atau makian apa lagi yang bakal keluar dari mulut bos besarnya ini.Namun, sesuatu yang sama sekali tidak pernah Satria bayangkan malah terjadi.Vera perlahan menundukkan kepalanya. Bahu wanita karier yang biasanya selalu tegak penuh wibawa itu kini terlihat merosot. Vera memijat pangkal hidungnya pelan, lalu membuang napas yang terdengar sangat panjang dan berat. Segala aura intimidasi dan kemarahannya menguap begitu saja, digantikan oleh raut wajah yang sangat lelah dan penuh rasa bersalah.Saat Vera kembali mengangkat wajahnya dan menatap Satria, mata tajam itu kini terlihat sedikit berkaca kaca."Maafin saya, Satria," ucap Vera dengan suara yang sangat pelan dan nyaris bergetar.Satria langsung melongo. Matanya mengerjap beberapa kali. Dia menatap Vera dari atas sampai

  • Satria Idaman Wanita   BAB 126

    "Alasan!" potong Vera cepat, matanya sedikit berkaca kaca karena campuran marah dan frustrasi. "Laki laki berbadan besar kayak kamu, jago berantem ngelawan belasan preman, masa bisa jadi korban anak umur sembilan belas tahun? Logika kamu di mana, Satria?! Kalau kamu emang gak ada niat buruk, kamu bisa aja dorong dia. Kamu bisa aja lari atau teriak minta tolong sama orang rumah. Tapi nyatanya kamu malah nikmatin kan?! Kamu biarin aja dia ngelakuin itu ke kamu sampai ninggalin bekas menjijikkan di leher kamu itu!"Kata kata Vera itu menohok tepat di titik kelemahan Satria. Memang benar, Satria punya tenaga untuk mendorong Kiki. Tapi waktu itu Kiki mengancam akan berteriak dilecehkan kalau Satria kabur. Dan sialnya, insting kelaki lakian Satria pada akhirnya memang kalah oleh godaan agresif si bungsu malam itu.Satria menunduk sejenak. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Dia sadar dia juga salah karena pada akhirnya merespons godaan itu, tapi dia tetap tidak t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 125

    "Saya bilang ikut, Satria! Jangan berani beraninya kamu ngebantah saya di tempat umum begini," potong Vera makin tajam, matanya melotot memberikan ancaman tanpa ampun. "Kamu pikir urusan kita udah selesai setelah kamu kabur bawa ransel butut kamu itu kemarin? Urusan kita belum selesai. Masuk ke mobil saya sekarang juga!"Tanpa memberikan kesempatan bagi Satria untuk membayar minuman dinginnya atau mencari alasan lain, Vera menarik tangan Satria dengan paksa. Wanita itu menyeret asisten berbadan besar itu layaknya induk kucing yang sedang menyeret anak nakalnya, menuju pintu keluar minimarket di mana sebuah Alphard hitam mengkilap sudah menunggu dengan mesin menyala di pinggir jalan.Pintu geser Alphard hitam itu terbuka otomatis. Satria nyaris terjerembap masuk ke dalam kabin karena tarikan Vera yang tidak main main kerasnya. Belum sempat Satria memperbaiki posisi duduknya di jok kulit yang empuk, Vera sudah masuk menyusul dan duduk tepat di sebelahnya. Pintu mobil langsung tertutup r

  • Satria Idaman Wanita   BAB 124

    Matahari Jakarta siang itu benar benar terasa memanggang ubun ubun. Setelah Dinda rapi dengan seragam kerjanya dan wangi vanilla bercampur aroma kopi yang khas, perempuan itu pamit berangkat ke cafe. Satria pun tidak mau berlama lama menumpang diam di kosan. Dia punya harga diri yang harus diberi makan, bukan sekadar menumpang hidup pada kebaikan teman.Memakai kaus hitam kesayangannya dan jaket kulit yang warnanya sudah memudar ditelan waktu, Satria memacu motor bebek bututnya membelah jalanan ibu kota. Niatnya hari ini cuma satu, mencari lowongan pekerjaan apa saja yang penting halal. Dari ruko ke ruko, pabrik kecil, sampai bengkel las pinggir jalan dia datangi. Tapi namanya mencari kerja dadakan di Jakarta, susahnya minta ampun. Kebanyakan menolak karena tidak ada lowongan, atau gajinya terlalu mencekik leher untuk menyambung hidup sebulan ke depan.Sekitar jam dua siang, tenggorokan Satria rasanya sudah seperti padang pasir yang kering kerontang. Panasnya aspal jalanan dan asap kn

  • Satria Idaman Wanita   BAB 123

    Setelah insiden serangan jantung dadakan di karpet tadi, Satria menghabiskan sisa nasi uduknya dengan kecepatan kilat. Dia mengunyah tanpa berani mengangkat wajahnya sedikit pun. Pandangannya terpaku pada remah remah bawang goreng di atas daun pisang, seolah olah itu adalah objek paling menarik di dunia.Di sisi lain, Dinda malah makan dengan sangat santai. Senyum kemenangan tidak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan cantik itu sangat menikmati raut wajah Satria yang memerah layaknya kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.Begitu suapan terakhir selesai, Dinda membereskan sisa bungkus daun pisang itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil di sudut kamar. Dia kemudian meregangkan tubuhnya sejenak. Gerakan itu tentu saja membuat daster katunnya sedikit terangkat, tapi untungnya mata Satria sedang sibuk mengamati pola keramik di lantai."Kenyang juga ya," gumam Dinda sambil mengusap perut ratanya dari balik daster. Dia menoleh ke arah jam dinding kecil di atas meja belajarnya. "Ud

  • Satria Idaman Wanita   BAB 53

    Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Satria Idaman Wanita   BAB 33

    Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Satria Idaman Wanita   BAB 37

    Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Satria Idaman Wanita   BAB 34

    Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status