Masuk"Lu lihat tuh, Pir! Dia mau ngejar mesin V6 mobil ini pakai motor rongsokan yang giginya cuma empat! Emangnya ini film kartun?!" ejek Bastian dengan suara lantang dan penuh kemenangan, merasa di atas angin. "Injak gasnya dalam-dalam! Biar tuh gembel nelan debu pelabuhan sampai batuk darah! Kita langsung masuk tol ke bandara aja sekarang!""Siap, Bos!" jawab sang supir sambil kembali menginjak pedal gas, membuat mobil mewah itu melaju makin kencang meninggalkan area pelabuhan.Di belakang sana, Satria yang sedang fokus mengendarai motornya sama sekali tidak peduli kalau dia sedang ditertawakan habis-habisan. Wajahnya tetap tenang. Matanya menyipit tajam menatap lampu belakang mobil mewah yang mulai menjauh itu.Bastian boleh saja tertawa sombong di dalam kabin mewahnya. Tapi bos muda yang bisanya cuma duduk manis itu lupa pada satu hukum mutlak di jalanan. Jalan raya Jakarta di sore hari menjelang jam pulang kerja bukanlah sirkuit balap Formula 1 yang mulus dan sepi. Ini adalah lautan
Mendapat informasi yang sangat detail itu, Satria tersenyum puas. Dia menarik sangkurnya dan memasukkannya kembali ke sarungnya.Satria menepuk pelan pipi preman botak yang masih pucat ketakutan itu dua kali."Nah, gitu dong dari tadi. Kan enak ngobrolnya, masa depan lu juga aman," puji Satria dengan nada mengejek.Tanpa membuang waktu lagi, Satria langsung berdiri tegak. Matanya menatap tajam ke arah balkon lantai dua dan pintu darurat yang tertutup rapat. Bastian ternyata mau main aman dengan kabur ke luar negeri setelah membuat kekacauan besar di perusahaan Nona Vera. Tentu saja Satria tidak akan membiarkan parasit cengeng itu lolos begitu saja.Satria langsung mengambil langkah seribu. Dia berlari kencang menaiki tangga besi menuju lantai dua, melompati dua anak tangga sekaligus. Pintu darurat itu dia tendang dengan sangat keras sampai engselnya nyaris lepas.Satria mendobrak pintu darurat lantai dua dengan tendangan keras. Pintu besi itu terpental membentur dinding luar gudang. A
Gudang itu sekarang lebih mirip seperti rumah sakit darurat pasca tawuran massal. Belasan pria bertato tergeletak di lantai semen, mengerang kesakitan memegangi luka goresan sangkur dan memar di sekujur tubuh mereka. Bau darah dan mesiu masih pekat mengudara.Satria berjalan santai melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu. Dia menendang pelan sepucuk pistol rakitan agar menjauh dari jangkauan seorang preman yang masih setengah sadar. Matanya menyapu sekeliling, mencari satu target yang kelihatannya punya jabatan agak tinggi di kelompok ini.Pilihan Satria jatuh pada seorang pria berbadan gempal botak yang tadi terlihat paling banyak memberi komando sebelum formasi mereka hancur. Pria itu sedang duduk bersandar di tumpukan kardus, memegangi bahunya yang berdarah akibat tersayat sangkur.Satria berjongkok tepat di depan pria botak itu. Dia menatap wajah lawannya dengan senyum ramah yang justru terlihat sangat mengerikan di mata si preman."Bang, nanya bentar dong," sapa Satria sant
Kekacauan di lantai dasar gudang itu makin tidak terkendali. Bau anyir darah mulai bercampur dengan pekatnya asap mesiu. Jeritan kesakitan anak buah Bastian menggema memantul di dinding seng yang berkarat.Satria benar benar menari di atas penderitaan musuhnya. Pemuda berkaus oblong itu bergerak ke kiri dan ke kanan dengan sangat luwes. Sangkur bajanya berkelebat cepat, menyayat pergelangan tangan preman yang mencoba membidikkan pistol dari belakang tumpukan kardus. Preman itu menjerit melolong, senjatanya terlempar jauh ke lantai.Melihat pembantaian brutal tapi sangat taktis di bawah sana, lutut Bastian yang berdiri di balkon lantai dua langsung lemas. Tangan bos muda itu bergetar hebat memegangi pagar pembatas. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah sekarang berubah sepucat mayat.Otak licik Bastian akhirnya menyadari satu kenyataan pahit. Orang yang sedang membantai belasan preman bersenjata di bawah sana itu bukan sekadar asisten pribadi atau tukang pukul biasa. Satria adala
"Gue akuin, persiapan lu pada lumayan rapi hari ini," ucap Satria dengan suara baritonnya yang tenang dan berat, memecah kesunyian gudang yang mencekam.Satria memajukan badannya sedikit, menopang sikunya di atas paha. Tatapannya berubah jadi sangat dalam dan mengintimidasi, seolah dia yang sedang mengepung mereka semua, bukan sebaliknya."Mungkin kalian para mafia bayaran ini punya senjata api yang banyak dan mematikan. Nyali kalian juga boleh diadu kalau lagi main keroyokan begini," lanjut Satria dengan nada bicara yang sangat teratur, persis seperti orang yang sedang memberikan pengumuman penting."Tapi sayang banget, kalian semua lupa. Kalian tidak punya satu hal..."Satria sengaja memutus kalimatnya tepat di situ.Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum miring yang sangat meremehkan. Suasana di dalam gudang pelabuhan itu mendadak hening total. Hanya terdengar suara deru napas kasar dari beberapa preman yang tegang.Trik psikologis jalanan yang dimai
Satria masih duduk santai di atas kursi kayu usang itu. Tangannya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi, sama sekali tidak peduli dengan kilatan logam dari belasan moncong senjata api yang mengepungnya."Gue kadang heran sama jalan pikiran orang kaya macam lu, Bas," ucap Satria memecah keheningan gudang. Nada suaranya dibuat sangat meremehkan, persis seperti orang tua yang sedang menasihati anak kecil yang nakal."Muka lu lumayan. Duit lu banyak, ya walaupun itu juga hasil ngerampok harta bapak lu. Tapi kelakuan lu bener-bener kayak bocah ingusan yang lagi tantrum gara-gara permennya direbut teman sedusut. Cengeng banget," lanjut Satria sambil menggelengkan kepalanya pelan.Mendengar makian yang sangat santai tapi menohok itu, Bastian yang berada di balkon lantai dua malah terdiam sesaat. Matanya melebar, lalu sedetik kemudian tawa keras meledak dari mulut bos muda itu. Tawanya menggema ke seluruh penjuru gudang yang sepi."Hahaha! Gila bener lu, Satria!" seru Bastian sambil memegangi
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Menghadapi ancaman mutlak itu, tangan Satria yang bergetar akhirnya menyerah pada keadaan. Dengan gerakan yang sangat kaku dan ragu-ragu, jemari besar Satria mulai memberikan tekanan pelan. Dia meremas lembut bagian yang tertutup kain ketat itu. Kontras antara tangan kasarnya dan tubuh lembut gadis
"Satria, hari ini jadwal saya kosong," ucap Vera pagi tadi saat mereka selesai sarapan. "Kamu boleh libur satu hari ini. Pulanglah ke tempat kosmu, ambil pakaian dan barang-barang pentingmu. Mulai sekarang kamu akan tinggal di paviliun samping rumah ini. Saya tidak mau pengawal saya bau keringat ka







