Share

BAB 77

last update publish date: 2026-03-15 22:28:15

"Ya sudah, kamu istirahat sana. Besok pagi kita siapkan pengamanan yang lebih ketat," ucap Vera sambil merapikan berkas-berkas di atas meja kacanya.

"Siap, Non. Saya permisi dulu, selamat malam," jawab Satria lega.

Satria membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruang keluarga. Begitu punggungnya tidak lagi terlihat oleh bos besarnya, langkah kaki Satria langsung melambat. Dia berhenti tepat di persimpangan lorong. Kalau dia belok kiri, dia bisa langsung menuju paviliun belakang, mandi ai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satria Idaman Wanita   BAB 240

    Satria merasa urusannya di gang buntu itu sudah benar-benar selesai. Hari juga sudah semakin sore, langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dia harus segera kembali ke rumah utama sebelum Nona Vera atau Laras menyadari bahwa dia pergi terlalu lama."Ya sudah, Rani. Berhubung semua sudah aman, aku pamit duluan ya. Kamu sebaiknya langsung pulang dan lewat jalan raya yang ramai saja," kata Satria sambil bersiap memakai kembali helmnya.Namun, Rani tidak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja. Gadis itu langsung melangkah maju, menghalangi pergerakan Satria yang hendak naik ke atas jok motor trailnya."Tunggu dulu, Mas Satria! Jangan buru-buru pergi dong," seru Rani cepat. Dia buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar, lalu menyodorkannya ke arah Satria. "Boleh minta nomor teleponmu tidak? Ya buat jaga-jaga saja, siapa tahu gerombolan si gondrong tadi masih penasaran dan mencariku lagi."Satria menatap layar ponsel di hadapannya, lalu berali

  • Satria Idaman Wanita   BAB 239

    Si gondrong yang menjadi pemimpin gerombolan itu berusaha keras untuk bangkit. Sambil memegangi ulu hatinya yang masih terasa sangat nyeri dan sesak, dia menatap Satria dengan tatapan penuh ketakutan. Nyalinya sudah benar-benar ciut setelah melihat semua anak buahnya tumbang tanpa bisa menyentuh ujung baju pemuda di depannya.Satria hanya berdiri tegak sambil memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit. Pandangan matanya yang dingin seolah memberi isyarat bahwa kesabarannya sudah habis."Tunggu apa lagi? Mau merasakan pukulan yang lebih keras?" tanya Satria dengan nada suara yang sangat tenang, namun terdengar begitu mengancam.Mendengar ucapan itu, si gondrong langsung panik setengah mati. "Cepat bangun! Kabur! Kabur sekarang!" teriaknya dengan suara serak kepada anak buahnya yang lain.Mendengar perintah sang ketua, empat preman lainnya langsung bergerak serabutan. Mereka bangun dengan tubuh yang gemetaran dan menahan rasa sakit di sekujur badan. Ada yang memegangi

  • Satria Idaman Wanita   BAB 238

    Satria malah tertawa lepas mendengar perintah dari pria berambut gondrong itu. Suara tawanya terdengar sangat santai dan menggema di dalam gang buntu, membuat sisa preman yang ada di sana merasa makin dihina.Satria menyunggingkan senyum sinis lalu menjibir ke arah mereka."Maju bertiga saja?" cibir Satria sambil menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat agar mereka mendekat. "Tanggung amat. Mending kamu yang gondrong juga ikutan maju sekalian berempat. Biar cepat selesai dan aku bisa langsung pulang buat mandi sore."Tantangan terbuka dari Satria benar-benar meruntuhkan sisa-sisa logika gerombolan motor tersebut. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang senekat ini, yang justru minta dikeroyok saat posisinya sedang terpojok di dalam gang."Bocah sombong! Jangan menyesal kalau pulang tinggal nama ya!" teriak si gondrong yang akhirnya ikut meledak emosinya. Dia langsung mencabut sebilah balok kayu dari motornya sendiri dan ikut bersiap maju."Habisi dia sekarang!"E

  • Satria Idaman Wanita   BAB 237

    Pria berambut gondrong itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar dua temannya menahan diri sebentar. Dia tersenyum sinis, merasa tidak ada salahnya membeberkan "dosa" targetnya sebelum mereka benar-benar menghajar Satria."Kamu mau penjelasan? Oke, biar kamu paham seberapa busuknya dua orang di ujung gang itu," kata pria gondrong itu sambil menunjuk kasar ke arah si wanita. "Perempuan sialan ini baru saja menang balapan di sirkuit pinggiran dengan cara curang! Dia bermain kotor, lalu langsung membawa pergi uang taruhannya begitu saja tanpa mau menyelesaikan urusan dengan bos kami!"Mendengar tuduhan sepihak itu, wajah wanita di ujung gang langsung memerah karena campur aduk antara marah dan takut. Dia tidak terima namanya difitnah di depan orang yang berniat menolongnya."Mereka bohong, Mas! Jangan percaya!" teriak wanita itu dengan lantang, suaranya bergetar hebat menahan emosi. "Mereka semua bohong! Mereka sengaja mau menjebakku karena tidak terima kelompok mereka kalah

  • Satria Idaman Wanita   BAB 236

    Satria menghentikan motor trailnya tepat di tengah-tengah mulut gang, mengunci posisi agar tidak ada satu pun dari kelima motor sport itu yang bisa mundur. Dia membiarkan mesin motornya tetap menyala lambat, menciptakan suara ketukan konstan yang memecah ketegangan di tempat sepi tersebut.Wanita yang berdiri di samping motor Ninja hijau itu melihat kedatangan Satria. Meskipun dia tidak mengenal siapa pemuda berjaket kulit di atas motor trail itu, dan wajah Satria pun sebagian masih tertutup oleh helm, keputusasaan membuat wanita itu tidak peduli lagi. Bagi dirinya yang sudah terpojok, kedatangan siapa pun saat ini adalah sebuah mukjizat."Tolong! Mas, tolong kami! Tolong panggilin warga!" teriak wanita itu dengan suara serak karena menangis. Tubuhnya gemetar hebat saat dia menunjuk ke arah lima pria yang mengepung mereka. "Mereka mau menculik saya, Mas! Tolong!"Pengendara motor Ninja hijau, yang merupakan seorang pemuda sebaya dengan wanita itu, langsung menggeser tubuhnya untuk mel

  • Satria Idaman Wanita   BAB 235

    Satria memutar gas motor trailnya sedalam mungkin. Mesin motornya langsung meraung keras, membalas dengan akselerasi cepat yang membuat roda depannya sempat sedikit terangkat dari aspal. Meskipun secara kapasitas mesin motornya kalah besar dibandingkan deretan motor sport di depannya, kelincahan motor semi-trail milik Satria menjadi keuntungan besar di tengah padatnya lalu lintas sore hari.Di depan sana, aksi kejar-kejaran berjalan semakin membahayakan. Pengendara motor Ninja hijau yang membonceng wanita tadi terpaksa meliuk-liuk ekstrem di antara barisan mobil dan truk untuk meloloskan diri. Beberapa kali terdengar suara klakson mobil yang berbunyi nyaring karena kaget jalurnya dipotong secara mendadak.Sementara itu, lima motor sport pengejar terus menempel ketat seperti bayangan. Mereka mencoba membentuk formasi untuk mengurung dan memblokir jalan motor Ninja hijau tersebut dari berbagai arah.Satria mengambil keputusan cepat. Melihat sebuah persimpangan yang mulai macet di depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status