Partager

Bab 4

Auteur: Els Arrow
last update Date de publication: 2026-07-07 11:40:10

"Kamu gila , Rafsen? Aku lebih cantik darinya, latar belakangku jelas dan aku lebih lama kenal kamu. Aku bisa bantu kamu di kantor, dia bisa apa? Pasti bisanya cuma nyusahin!" jerit Clarissa, napasnya memburu tersulut amarah.

Rafsen tidak memandang Clarissa sama sekali, sepasang mata legamnya sejak tadi tertuju pada Avena, sembari kian mengencangkan tangannya di pinggang wanita itu.

"Jaga ucapanmu. Satu kata lagi kamu merendahkan istri saya, saya tidak akan segan-segan memutuskan semua kontrak kerja kita."

Clarissa terkesiap, melangkah mundur dengan pandangan tidak percaya. Selama bekerja di biro arsitektur milik Rafsen, ia belum pernah melihat pria sekaku beton itu mengeluarkan ancaman personal demi seorang wanita.

Avena yang awalnya tegang, mendadak merasa di atas angin. Otaknya yang terbiasa menghadapi drama anak-anak TK langsung menyimpulkan satu hal, "Wah, suamiku lagi butuh partner sandiwara buat mengusir lalat, nih."

Demi mensukseskan akting Rafsen, Avena sengaja menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Rafsen, lalu melemparkan senyuman paling manis ke arah Clarissa.

"Iya, Mbak Clarissa. Jangan galak-galak, ah, nanti jantungan. Mbak harus sehat terus biar bisa melihat kemesraan kita," celetuk Avena dengan nada lembut.

"Kamu—!"

"Pak Joko, bawa dia keluar," titah Rafsen tanpa membiarkan Clarissa menyelesaikan makiannya.

Entah sejak kapan, seorang pria paruh baya berseragam hitam sudah berdiri di dekat koridor. Pak Joko dengan sigap langsung menghadang Clarissa dan menuntunnya pergi secara tegas.

Avena sebenarnya sempat memajukan badannya sedikit, berniat menahan Pak Joko. "Yailah, padahal seru, lumayan dapet tontonan pagi-pagi gratis," batinnya kecewa saat punggung Clarissa benar-benar menghilang di balik pintu utama.

Begitu keadaan kembali sunyi, Rafsen langsung melepaskan rangkulannya di pinggang Avena. Kehilangan kehangatan itu membuat Avena berdeham canggung, ia melangkah menuju meja makan dan duduk di sana untuk menjauhkan diri dari suaminya.

Matanya tertuju pada keranjang berisi buah apel di tengah meja. Avena mengambil sebilah pisau kecil dan mulai mengupas kulit buah tersebut, mencoba mengembalikan detak jantungnya ke ritme normal.

"Jangan dipikirkan," ucap Rafsen, pria itu bersandar pada konter dapur, memperhatikan Avena yang tiba-tiba diam. "Clarissa hanya rekan kerja di kantor. Tidak lebih."

Avena memotong apel itu menjadi dua bagian, lalu mendongak sambil terkekeh pelan. "Santai aja kali, aku tahu, kok. Lagian ngapain juga aku buang-buang waktu buat ribut atau cemburu? Kita, kan, nikah cuma main-main buat nyenengin kakek-nenek. Nggak ada cinta-cintaan di antara kita, jadi kamu mau punya seratus rekan kerja kayak gitu juga bukan urusanku."

Avena mengatakan itu sambil diselingi tawa canda, murni karena menganggap pernikahan mereka memang sebatas formalitas saja. Namun, entah karena pencahayaan dapur yang mendadak berubah atau matanya yang salah lihat, rahang Rafsen tampak mengeras.

Tatapan mata elang pria itu mendadak meredup, menciptakan jeda sunyi yang terasa sedikit menyesakkan selama beberapa detik.

Rafsen tidak membantah ucapan Avena. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela taman, lalu berdeham pendek.

"Pekerja di rumah ini tinggal di paviliun belakang," ujar Rafsen, mengalihkan topik pembicaraan. "Mereka mulai bekerja dari pagi sampai jam makan malam. Setelah itu, rumah ini akan sepi."

Avena mengangguk-angguk paham sembari mengunyah potongan apelnya. "Oh, pantesan semalem sepi banget kayak kuburan."

"Kamu nggak perlu mengerjakan tugas rumah, di sini statusmu adalah nyonya. Biar pekerja yang mengurus semuanya."

"Wah ... asyik, dong? Kalau begitu aku bisa fokus rebahan sambil nonton kartun," sahut Avena riang.

Fasilitas menjadi istri ternyata lumayan menguntungkan juga untuk dompet dan tenaganya.

"Besok kamu mulai mengajar?" tanya Rafsen lagi.

"Iya, liburku cuma tiga hari. Besok aku sudah harus mengajar, ketemu bocil-bocil lucu. Duh, kangen banget."

"Gunakan mobil di garasi. Kuncinya ada di laci depan."

Avena langsung menggelengkan kepalanya hingga beberapa helai rambutnya bergoyang. "Nggak, nggak mau. Aku nggak bisa nyetir mobil. Lagian jalanan ke TK tempatku mengajar itu sempit banget, banyak gang tikus. Aku naik motor matic-ku aja, kemarin juga disuruh bawa ke sini sama Nenek. Lebih lincah."

Rafsen menatap Avena datar, lalu mengangguk pelan sekali. "Terserah kamu." Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, bersiap untuk kembali ke lantai atas. "Lusa jadwal saya kembali ke kantor. Kita mungkin akan mulai sibuk dengan urusan masing-masing setelah ini."

Pria itu menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga pertama, lalu menoleh sedikit ke belakang. "Tapi jangan sampai lupa dengan pernikahan ini. Meskipun kamu menganggapnya kepaksa."

Setelah melemparkan kalimat yang terdengar agak ambigu itu, Rafsen melangkah naik, meninggalkan Avena sendirian di dapur yang luas.

Avena menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, menatap potongan apel di tangannya dengan dahi berkerut. "Maksud si kulkas itu apa, sih? Ya kali aku lupa kalau udah nikah, tiap bangun pagi, kan, muka lempeng dia yang pertama kali kelihatan."

Keesokan harinya, rutinitas pagi Avena kembali normal. Setelah menyelesaikan sarapan kilat yang lagi-lagi dilewati tanpa obrolan dengan Rafsen, Avena bergegas memakai helmnya dan siap berangkat. Ia merindukan anak-anak TK kelas dolfin, sekaligus berniat mampir ke rumah sakit saat jam pulang nanti untuk menjenguk neneknya.

Avena menuntun motor matic-nya yang berwarna merah itu keluar dari pagar besi yang tinggi. Di ambang pagar, ia sempat menoleh ke lantai dua, melihat jendela ruang kerja Rafsen yang tertutup rapat.

"Dadaah, Kulkas Dua Pintu ... aku berangkat cari duit dulu buat beli kewarasan, ya," seru Avena berpamitan pada angin.

Perjalanan menuju sekolah berlangsung lancar hingga Avena tiba di area gang sempit, sekitar lima ratus meter sebelum gerbang TK tempatnya bekerja. Jalanan ini terkenal padat karena menjadi akses utama para orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka.

Avena mengurangi kecepatan motornya saat melihat kerumunan ibu bapak di depan sebuah toko kelontong. Namun, perhatiannya mendadak teralih sepenuhnya oleh sebuah mobil sedan hitam mewah yang tampak sangat familier, sedang berusaha mundur di tengah gang yang super sempit itu.

Mobil itu terjebak di antara gerobak bubur ayam dan jemuran warga. Kaca mobil bagian pengemudi terbuka setengah, menampilkan rahang tegas seorang pria yang tampak sangat stres menghadapi klakson bersahut-sahutan dari para pengendara motor di belakangnya.

Avena membelalakkan mata, refleks mengerem motornya hingga berdecit.

"Lho? Itu, kan, mobil si beruang kutub?" gumam Avena melongo. "Ngapain dia nyasar ke gang senggol begini pagi-pagi?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 47. Baikan Lagi

    "Mobil Pak Rafsen parkir di pinggir jalan raya depan gang, Bu Avena. Beliau jalan kaki ke sini sambil bawa buket bunga Mawar Putih, mana pakaiannya rapi banget kayak CEO-CEO," ucap Pak Slamet, penjaga sekolah, bergema di koridor ruang guru yang mulai sepi. Jam pulang sekolah baru saja berlalu lima belas menit yang lalu.Avena yang sedang merapikan tasnya langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa bersalah yang membakar dadanya sejak pembicaraannya dengan Miss Siska siang tadi."Pak Rafsen jalan kaki ke sini?" ulang Avena tak percaya."Iya, Bu. Anak-anak sama ibu-ibu wali murid yang belum pulang pada ngumpul di depan gerbang, heboh banget ngeliatin suami Ibu," jawab Pak Slamet menyengir lebar.Avena tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menyambar tasnya dan berlari kecil menyusuri koridor, melangkah keluar menuju halaman depan sekolah.Langkah Avena terhenti seketika. Di sana, di antara kerumunan beberapa wali murid yang berbisik-bisik kagum dan sekumpulan anak TK

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 46. Meruntuhkan Ego

    "Miss Avena, kopi kamu sampai dingin begitu belum tersentuh dari tadi," tegur Miss Siska lembut, meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang guru TK Tulip.Avena tersentak kaget dari lamunannya. Ia memandangi cangkir kopi di depannya yang memang sudah tak lagi menguarkan uap. Jam istirahat anak-anak baru saja dimulai, tetapi sejak melangkah keluar dari mobil Rafsen di depan gang tadi pagi, pikiran dan jiwanya seolah tertinggal di tempat lain. Mengajar mewarnai dan bernyanyi bersama para murid pun dilakukannya setengah hati."Eh, iya, Miss, maaf, saya agak kurang fokus," ujar Avena, menyunggingkan senyum tipis.Miss Siska duduk di kursi samping Avena, menatap rekan kerjanya itu helaan napas lirih. "Sejak perjalanan pulang dari Puncak kemarin sore, raut wajahmu beda sekali, Miss. Anak-anak mungkin tidak sadar, tapi saya lihat kamu lebih banyak melamun. Kalau ada beban yang mengganjal, tidak apa-apa kalau mau cerita. Tapi kalau tidak mau, setidaknya jangan biarkan pikiran buruk i

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 45. Jadi Korban

    "Turunkan aku di depan gang. Mobil kamu kebesaran, nggak bakal muat masuk sampai depan TK," kata Avena dingin, matanya menatap lurus ke kaca depan tanpa sedikit pun melirik pria di samping kemudi.Rafsen tidak membalas. Tangan kekarnya mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ketika mobil berhenti tepat di mulut gang sempit menuju TK tempat Avena mengajar, Avena langsung melepas sabuk pengamannya. Ia meraih tasnya, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan kata terima kasih yang biasanya selalu meluncur manis dari bibirnya.BRAKK!Pintu mobil ditutup kencang, sukses membuat otot rahang Rafsen makin mengeras.Melalui kaca mobil, Rafsen terus menatap punggung Avena. Langkah kaki istrinya begitu cepat, rok kain lebar yang dikenakannya melambai searah dengan emosinya. Pria itu terus mengawasi Avena yang lambat laun menyatu dan menghilang di antara kerumunan orang.Bahkan ketika bayangan Avena benar-benar sudah tidak terl

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 44. Kelakuan Bagas

    "Siapa yang mengizinkanmu memindahkan barang-barangmu ke kamar lain?" Pria itu berdiri kaku di ambang pintu kamar tamu, menatap Avena yang sedang menata bantal dan selimut yang dibawanya dari kamar utama. Avena menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Sikap kaku dan tatapan tajam Rafsen selama perjalanan pulang dari Puncak tadi sore masih membakar dadanya. Di dalam bus tadi, mereka berdua saling diam bagaikan dua patung es yang dipajang berdampingan, membuat seluruh guru TK dan anak-anak merinding ketakutan. "Ruang kerja kamu, kan, dekat dari kamar utama, aku nggak mau mengganggu telepon pekerjaan rahasia kamu malam-malam. Di kamar tamu lebih tenang." Rafsen melangkah lebar, memotong jalan Avena dan mengunci pergerakan wanita itu tepat di depan pintu kamar. Iris matanya menatap Avena lekat-lekat, menyembunyikan rasa gelisah yang mulai mencengkeram dadanya. "Saya suami kamu, Avena. Tempat kamu di kamar utama, bersama saya," tegas Rafsen. Avena mendongak, menyunggin

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Hasutan

    Keesokan Harinya Avena sedang sibuk merapikan tumpukan kertas warna-warni di meja saung terbuka, saat yang sama, ponselnya di dalam tas kecil berdering nyaring. Ia merogohnya, mengira itu telepon dari Rafsen yang sedang mengecek area restoran bersama Bagas.Namun, nomor di layar tidak dikenal."Halo, selamat pagi?" sapa Avena ramah."Selamat pagi, Avena. Maaf mengganggu waktumu." Suara wanita di ujung telepon terdengar begitu halus.Avena menegang. Ia mengenali suara itu. "N-Natasha?"Natasha tertawa kecil. "Senang kamu masih ingat suaraku. Aku cuma mau mengucapkan selamat atas acara study tour-mu yang mewah. Luar biasa, ya, Rafsen sampai menguras fasilitas Vantara Resort cuma demi menuruti kemanjaan kamu."Avena mengepalkan tangannya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Kalau kamu cuma mau bicara hal gak penting, maaf, aku lagi kerja.""Tentu aku tahu kamu sibuk, Avena. Tapi apa kamu tidak penasaran kenapa Rafsen tiba-tiba memanjakanmu setinggi langit?" Jeda sejenak membuat dad

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 42

    Beberapa Jam Kemudian | Vantara Resort Puncak"Om Bagas, tolong pegangin ember ini. Aku mau nangkep ikan lele giant." Suara cempreng milik Alvaro melengking tepat di telinga Bagas. Asisten pribadi berkemeja polo ketat bertuliskan PANITIA itu memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang kini berdiri melamun di tengah kolam lumpur dangkal Vantara Resort Puncak. Celana bahan mahal yang biasanya melintasi lantai marmer kantor kini digulung asal-asalan sebatas lutut, dipenuhi cipratan lumpur kecokelatan."Eh, bocil, ini Lele Siluman, kalau ditangkap malah kamu bisa dimakan sama dia. Tolong jangan aneh-aneh, ya, Om nggak mau disalahin. Tangkap yang kecil-kecil aja itu," ratap Bagas dengan senyum meringis yang teramat pasrah.Avena yang berdiri di pinggir kolam bersama anak-anak TK kelas Tulip lain langsung tertawa pingkal-pingkal. Mengenakan kaus seragam yayasan dan topi caping mungil, Avena tampak begitu menggemaskan."Semangat, Pak Bagas. Itu demi bonus lima puluh persen," goda Ave

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status