Share

Bab 5

Penulis: Els Arrow
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 12:27:13

"Mundur, Pak! Mundur! Ini gang sempit, jam segini waktunya anak-anak masuk sekolah, malah nekat bawa mobil segede gaban ke sini!" teriak seorang bapak-bapak berkaus kutang dari atas motor bebeknya, tangannya mengacung-acung kesal ke arah kaca mobil tersebut.

"Iya, nih, bikin macet aja. Mana anak saya udah mau bel masuk lagi," sahut ibu-ibu di belakangnya yang sedang memegangi payung.

Avena langsung turun, jantungnya berdisko menahan malu tingkat dewa. Ia memarkirkan motornya asal di pinggir jalan, lalu berlari kecil membelah kerumunan orang-orang yang mulai bersungut-sungut.

Kepala Avena rasanya mau pecah. Bagaimana bisa pria jenius yang otaknya biasa merancang tata kota dan gedung bertingkat, mendadak kehilangan fungsi navigasi dasar sampai tersesat di gang senggol selebar dua meter ini?

Avena mengetuk kaca mobil Rafsen dengan brutal. "Rafsen, buka! Kamu ngapain di sini, sih?"

Rafsen menoleh perlahan, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa. Pria itu menurunkan kaca mobilnya secara penuh.

"Mau lihat tempat kerjamu," sahut Rafsen.

Singkat, padat, dan sukses membuat tekanan darah Avena naik seketika ke ubun-ubun.

"Mau lihat tempat kerjaku?!" Avena memekik, suaranya naik satu oktav sembari menunjuk-nunjuk gerobak bubur di samping spion mobil Rafsen. "Kemarin, kan, aku udah bilang jalan ke sini sempit, cuma muat motor. Di mana otakmu itu disimpan, hah? Harusnya tadi kalau mau ikut, tuh, naik motor, bukan bawa mobil begini."

Sebelum Rafsen sempat merespons, beberapa ibu-ibu yang menggendong anak TK menyadari kehadiran Avena. Salah satu dari mereka langsung berseru, "Eh, Miss Avena? Miss kenal sama orang yang bikin macet ini? Tolong suruh mundur aja, Miss, kasihan ini anak-anak telat masuk."

"Iya, Miss Avena. Suruh keluarin mobilnya, pusing saya dengar suara klakson," timpal yang lain.

Avena membalikkan badan dengan senyum kaku, tangannya menyatu di depan dada sembari membungkuk berkali-kali. "Aduh, Ibu-ibu, Bapak-bapak, maaf, ya. Maaf banget atas ketidaknyamanannya. Ini, tuh, dia sebenarnya—"

"Saya suaminya Miss Avena," potong Rafsen dari dalam mobil. Suaranya meninggi agar terdengar di antara riuh klakson. "Mohon maaf, saya baru pertama kali ke sini."

Hening.

Detik itu juga, suara klakson yang tadinya bersahut-sahutan mendadak senyap. Kerumunan orang tua murid langsung bungkam. Puluhan pasang mata beralih menatap Rafsen yang berwajah tampan bak model, lalu beralih menatap Avena yang hari ini memakai blouse batik dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan.

Avena membeku di tempat. Otaknya langsung blank. "D-dia ... dia bilang apa? Suami? Di depan seluruh wali murid tempatku mengajar?" batinnya syok.

"Lho, Miss Avena udah nikah?" tanya seorang ibu-ibu dengan mata berbinar-binar penuh jiwa gosip. "Wah, diam-diam dapet spek pangeran ya, pantesan kemarin libur tiga hari."

"Oh, pantesan mukanya mirip, memang jodoh. Ya sudah kalau suaminya Miss Avena, kami maafkan. Tapi tolong diurus, ya, Miss. Kami duluan ke sekolah."

Satu per satu orang tua murid mulai membubarkan diri, memarkirkan motor mereka agak jauh dan memilih berjalan kaki. Mereka menyerahkan seluruh urusan kemacetan itu ke pundak Avena.

Begitu kerumunan agak renggang, Avena langsung berbalik dan memasukkan setengah badannya ke dalam kaca mobil Rafsen, menatap suaminya dengan mata membelalak.

"Kamu gila, ya? Kenapa pakai acara ngaku-ngaku suami segala di depan mereka? Aku ini belum siap status baruku ketahuan, Rafsen. Nanti kalau kepala sekolah tahu, terus aku diwawancara macam-macam gimana? Kalau mereka mikir yang enggak-enggak gimana?"

Rafsen menatap Avena dengan mata elangnya yang jernih, kepalanya miring sedikit. "Memang salah?" tanya Rafsen datar. "Faktanya begitu."

"Ya salah, lah. Di dunia ini ada yang namanya privasi. Lagian, tujuan kamu ke sini, tuh, mau ngapain, sih, sebenarnya? Mau pamer mobil atau mau bikin aku jantungan pagi-pagi?" Avena mengomel tanpa jeda, tangannya bergerak heboh mengekspresikan kekesalannya sampai-sampai jarinya hampir mencolok hidung Rafsen.

"Mau memastikan kamu aman," jawab Rafsen pendek. Matanya melirik ke arah luar. "Tapi sepertinya saya yang tidak aman."

Avena menghela napas berat, menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. Berdebat dengan Rafsen di pagi hari ternyata jauh lebih menguras energi daripada menjinakkan dua puluh anak TK yang sedang memperebutkan mainan.

Akhirnya, dengan sisa-sisa kesabaran yang makin menipis, Avena terpaksa bertindak sebagai juru parkir darurat. Dia berdiri di depan mobil, memberikan aba-aba heboh dengan tangan yang mengayun-ayun ke kanan dan ke kiri agar mobil Rafsen bisa mundur perlahan menjauhi gang.

Butuh waktu hampir sepuluh menit yang penuh dengan keringat dan rasa malu, sampai akhirnya mobil sedan hitam itu berhasil keluar ke jalan raya yang lebih luas. Avena berjalan menghampiri mobil Rafsen lagi sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan blouse.

"Udah, sekarang kamu langsung pergi ke mana, kek, terserah. Jangan balik lagi ke gang ini pakai mobil, paham?" ujar Avena ketus.

Rafsen hanya menatap diam, lalu mengangguk sekali. Tanpa sepatah kata pun, ia menaikkan kaca mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan Avena yang mendengus kesal sembari berjalan kembali untuk mengambil motor matic-nya yang terparkir di pojokan.

Kehebohan di gang TK pagi itu ternyata berbuntut panjang. Sepanjang hari, Avena tidak bisa mengajar dengan tenang. Setiap kali ia berpapasan dengan guru lain atau orang tua murid saat jam pulang sekolah, mereka pasti melemparkan senyuman dan bisikan-bisikan yang membuat telinga Avena panas. Statusnya sebagai istri dari pria kaya mendadak menjadi topik hangat di grup W******p paguyuban kelas.

Sesuai rencananya, setelah jam sekolah usai, Avena langsung mengendarai motornya menuju rumah sakit untuk menjenguk sang nenek. Sepanjang jalan, ia berharap kehadiran neneknya bisa menjadi tempat pelampiasan kekesalannya pada Rafsen.

Namun, begitu Avena melangkah masuk ke dalam kamar rawat VIP tempat neneknya dirawat, langkah kakinya sontak terhenti di ambang pintu.

Di dalam ruangan, neneknya tidak lagi terbaring lemah. Sang nenek justru sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah yang tampak jauh lebih segar dan ceria dari biasanya. Dan yang membuat jantung Avena mencelos adalah sosok pria yang duduk di kursi sebelah ranjang.

Rafsen ada di sana. Pria itu masih mengenakan kemeja tadi, sedang mengupas buah pir dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati.

"Eh, cucu Nenek yang cantik sudah datang," sapa sang nenek dengan suara yang terdengar jauh lebih bertenaga. "Sini, Ven. Ini suamimu dari pagi sudah di sini menemani Nenek. Dia bahkan bawa dokter spesialis terbaik untuk memeriksa Nenek lagi."

Avena berkedip beberapa kali, menatap Rafsen yang kini meletakkan pisau kupasnya lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan datar seperti biasa, sulit ditebak.

"Kamu sejak kapan di sini?" tanya Avena terbata-bata, rasa kesal yang ia bawa dari sekolah mendadak menguap begitu melihat senyuman bahagia di wajah neneknya.

"Sejak tadi," jawab Rafsen singkat.

Ia berdiri, merapikan kemejanya, lalu berjalan mendekati Avena. Sebelum Avena sempat menghindar, Rafsen mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut Avena yang berantakan di dekat telinga akibat memakai helm.

"Nenek bilang dia merindukanmu," ucap Rafsen, terdengar begitu hangat di telinga Avena. "Jadi, saya temani dulu."

Avena terpaku, mendengar samar detak jantungnya yang tidak karuan. Di balik sikap kaku dan irit bicaranya, pria ini diam-diam melakukan hal sebesar ini untuk keluarganya.

"Ven, Nenek senang sekali melihat kalian berdua akur begini," seloroh sang nenek dari atas ranjang, memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Nenek jadi punya satu permintaan lagi."

Avena menoleh cepat ke arah neneknya, mendadak firasatnya merasa tidak enak. "Permintaan apa, Nek?"

Neneknya tersenyum misterius, lalu melirik ke arah perut Avena yang masih rata. "Nenek ingin cepat-cepat menimang cicit dari kalian berdua. Biar masa tua nenek makin ramai."

Uhuk!

Avena hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan sang nenek. Ia menoleh ke arah Rafsen dengan wajah yang sudah semerah tomat matang, berharap pria itu akan memberikan jawaban mengalihkan pembicaraan seperti biasanya.

Namun, Rafsen justru tetap berdiri tegak di sampingnya. Pria itu menatap teduh sang nenek, lalu menjawab dengan tenang, tetapi sukses membuat dunia Avena runtuh seketika. "Baik, Nek. Kami akan mengusahakannya secepatnya."

Avena membelalakkan mata selebar-lebarnya, menatap Rafsen dengan pandangan horor sekaligus syok yang luar biasa. "Mengusahakannya? Di mana letak mengusahakan kalau tidur aja pakai pembatas? Didownload gitu anaknya?" racaunya dalam hati, frustasi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 8. Modus

    "Jangan teriak-teriak. Telinga saya sakit," ujar Rafsen tetap setenang dan sedingin es batu di dalam kulkas, meski jemarinya di pinggang Avena terasa sehangat bara api.Avena yang tadinya sudah siap melayangkan amukan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia membelalak, melotot ke arah suaminya dengan napas terengah-engah.Rafsen bergerak perlahan, membalikkan tubuh Avena yang tadinya tengkurap menjadi berbaring terlentang dengan sangat hati-hati. Tatapannya meneliti raut wajah Avena yang memerah padam."Kamu bisa ganti baju sendiri?" tanya Rafsen. "Kalau tidak bisa, saya bantu.""Bisa! Bisa sendiri! Nggak usah sok perhatian," semprot Avena kesal. Kali ini ia menahan diri untuk tidak memekik keras-keras, takut mulutnya disumpal atau malah dimarahi lagi oleh beruang kutub di hadapannya ini.Avena mencoba mendudukkan tubuhnya. Ia menyangga bobot badannya dengan kedua siku, bermaksud untuk berdiri menuju lemari. Namun, baru saja pinggulnya terangkat beberapa sentimeter dari permu

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 7

    "Ini gimana bangunnya? Pinggangku mau copot ini," rintih jerit Avena, matanya sudah berkaca-kaca menatap langit-langit kamar sambil memegangi pinggulnya yang berdenyut nyeri.Rafsen menghela napas panjang. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, melangkah mendekat, lalu tanpa basa-basi menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Avena. Sekali angkat, tubuh mungil guru TK itu langsung terangkat ke udara."Aduh, aduh ... pelan-pelan! Ini bukan karung beras," pekik Avena refleks mengalungkan tangannya ke leher Rafsen karena takut jatuh.Rafsen membaringkan Avena kembali ke atas kasur dengan sangat hati-hati. "Makanya kalau bergerak itu pakai perhitungan, jangan sembarangan. Nanti kalau otakmu makin konslet, saya yang repot.""Apa kamu bilang? Otak konslet?" Avena langsung meradang, dadanya kembang-kempis menahan emosi. Ia sudah siap melayangkan pukulan maut ke arah Rafsen, tapi begitu badannya bergerak sedikit saja, rasa nyeri menusuk dari pinggul bawahnya. "Aww! Aduh, aduh ... saki

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 6

    "Bisa di-download di PlayStore nggak?!" Jeritan batin Avena itu tidak sempat keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa melotot kesal, menahan napas sampai wajahnya makin merah padam. Sementara itu, sang nenek di atas ranjang justru terkekeh gembira, mengangguk-angguk puas mendengar jawaban sepihak dari cucu menantunya yang kelewat tanggap itu."Bagus, Rafsen. Nenek pegang janji kamu, ya," ujar Nenek dengan binar mata bahagia. "Avena ini emang suka canggung, tapi aslinya manut, kok, kalau diajari.""Ya Tuhan, Nenek ... ini cucumu lagi dijual secara tidak langsung oleh beruang kutub, lho," batin Avena lagi tak sadar rahangnya menggeram.Rafsen sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan membunuh yang dilayangkan Avena. Pria itu mengangguk sopan pada Nenek, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Nenek istirahat dulu. Avena saya bawa pulang, kasihan dia capek habis ngajar di sekolah.""Iya, iya, pulang sana. Cepat bikin cicit nenek sampai rumah nanti, jangan tunda lagi," goda Nenek r

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 5

    "Mundur, Pak! Mundur! Ini gang sempit, jam segini waktunya anak-anak masuk sekolah, malah nekat bawa mobil segede gaban ke sini!" teriak seorang bapak-bapak berkaus kutang dari atas motor bebeknya, tangannya mengacung-acung kesal ke arah kaca mobil tersebut."Iya, nih, bikin macet aja. Mana anak saya udah mau bel masuk lagi," sahut ibu-ibu di belakangnya yang sedang memegangi payung.Avena langsung turun, jantungnya berdisko menahan malu tingkat dewa. Ia memarkirkan motornya asal di pinggir jalan, lalu berlari kecil membelah kerumunan orang-orang yang mulai bersungut-sungut. Kepala Avena rasanya mau pecah. Bagaimana bisa pria jenius yang otaknya biasa merancang tata kota dan gedung bertingkat, mendadak kehilangan fungsi navigasi dasar sampai tersesat di gang senggol selebar dua meter ini?Avena mengetuk kaca mobil Rafsen dengan brutal. "Rafsen, buka! Kamu ngapain di sini, sih?"Rafsen menoleh perlahan, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa. Pria itu menurunkan kaca mobilnya secara pen

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 4

    "Kamu gila , Rafsen? Aku lebih cantik darinya, latar belakangku jelas dan aku lebih lama kenal kamu. Aku bisa bantu kamu di kantor, dia bisa apa? Pasti bisanya cuma nyusahin!" jerit Clarissa, napasnya memburu tersulut amarah. Rafsen tidak memandang Clarissa sama sekali, sepasang mata legamnya sejak tadi tertuju pada Avena, sembari kian mengencangkan tangannya di pinggang wanita itu. "Jaga ucapanmu. Satu kata lagi kamu merendahkan istri saya, saya tidak akan segan-segan memutuskan semua kontrak kerja kita." Clarissa terkesiap, melangkah mundur dengan pandangan tidak percaya. Selama bekerja di biro arsitektur milik Rafsen, ia belum pernah melihat pria sekaku beton itu mengeluarkan ancaman personal demi seorang wanita. Avena yang awalnya tegang, mendadak merasa di atas angin. Otaknya yang terbiasa menghadapi drama anak-anak TK langsung menyimpulkan satu hal, "Wah, suamiku lagi butuh partner sandiwara buat mengusir lalat, nih." Demi mensukseskan akting Rafsen, Avena sengaja menyand

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 3

    Pagi ini setelah bangun, Avena sudah berkutat di dapur. Mengingat ia tumbuh besar tanpa orang tua dan hanya dirawat oleh sang nenek, urusan dapur sudah menjadi keahliannya sejak kecil. Tangannya bergerak cekatan, sembari mengaduk masakan, matanya sesekali melirik layar ponsel. Neneknya masih berada di rumah sakit. Untungnya, Rafsen sudah menyewa perawat khusus untuk berjaga di sana selama dua puluh empat jam. Avena menghela napas panjang, mendadak rasa rindu mendera dadanya. Setelah sarapan ini selesai, ingin sekali rasanya pergi menjenguk ke rumah sakit. Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki membuat Avena sontak menegakkan tubuh. Rafsen turun dari tangga dengan rambut acak-acakan. Avena berdeham. "Pagi, ini aku masak nasi goreng sama telur ceplok. Dimakan aja kalau mau," ujar Avena sambil menyendokkan nasi ke atas piring dan menyuguhkannya di meja makan. Rafsen tidak bersuara. Pria itu menarik kursi, duduk, dan langsung menyendok nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Aven

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status