LOGINLea membuka mata karna sinar matahari yang memasuki sela sela kamar lewat jendela, membuat silau mata Lea.
"Emmmpphhh..." Lenguh Lea sambil menggeliat. "Sudah bangun!" Suara besar nan serak membuat Lea terjingkat sejenak sampai mengusap dadanya. "Bisa pelan aja panggilnya" Protes Lea. Ardian tak menggubris, dia berlalu ke lemari, mengambil satu setel pakaian untuknya bekerja. Dengan wajah bantal Lea merapikan rambutnya asal dengan penjepit, memperhatikan Ardian yang bersiap bekerja. "Mau kemana?" Kepo Lea. "Kerja" Singkat Ardian menjawab sambil merapikan dasinya. "Eeemm..." Lea mengangguk, benar saja hari ini adalah cuti menikah terakhirnya. "Aku boleh keluar?" Pamit Lea. "Terserah" "Oke.. Aku anggap jawabannya boleh" Lea bangkit dengan semangat empat lima yang tidak gentar oleh penjajah. Ardian tak mempermasalahkan sama sekali jika Lea hendak pergi bermain ataupun kemana. Asalkan masih dalam hal yang wajar. Mereka sama sama sudah bersiap dengan aktivitas masing masing. "Mainkan peranmu" Ujar Ardian memberi aba aba pada Lea saat hendak turun tangga. "Siap. Aman" Lea menggunakan jarinya membentuk oke. Ia bahkan langsung merengkuh lengan Ardian, membawanya dalam pelukan dan langsung menyunggingkan senyuman yang lebar. Tak tak tak.. suara langkah kaki mereka turun, siapa yang mengira jika mereka hanya menikah di atas kontrak namun terlihat begitu mesra. "Kalian mau kemana?" Tegur pak Gama ramah. "Kerja, Lea mau main sama temennya" Jawab Ardian. "Kalian baru menikah kemarin, kenapa nggak libur dulu? Honeymoon misalnya? Papa bisa pesankan tiket kalian" "Tak perlu pah, bagi kami asalkan bisa berdua udah kayak honeymoon. Bener kan sayang?" Sungguh centil dan pintar sekali Lea memainkan perannya. Bahkan Ardian saja tidak menyangka Lea begitu luwes memanggilnya sayang. "Heemm" Ardian mengangguk. "Kamu itu Ardian. Berikan waktumu untuk istrimu, jangan sampai dia kesepian" Tutur pak Gama. Tahu sekali jika anaknya gila kerja. "Gakpapa pah. Kalo Ardian sibuk, biar aku yang jemput ke kantornya" Imbuh Lea. "Baiklah," Senyum pak Gama melihat menantunya begitu ceria. Sedangkan di meja makan ada Tamara yang sudah mencengkram kuat rok yang sedang ia pakai. Menyimpan amarah dan cemburu bersamaan sungguh tidak nyaman. Mereka pergi meninggalkan kediaman besar Gama. "Sayang, lihat anak dan menantu kita. Mereka serasi kan?" Lembut pak Gama pada Tamara. Meski pak Gama sudah memasuki usia enam puluhan, namun beliau masih cukup bugar. Tidak bau minyak gosok atau minyak angin layaknya engkong author. Pak Gama masih bau uang wangi juga parfum mahal dan barang mahal. "Aku.. Aku agak pusing sayang. Aku ke kamar dulu ya" Pamit Tamara. "Perlu aku panggil dokter?" "Nggak usah, kayaknya istirahat saja sudah cukup" Tamara berlalu masuk ke kamar. 'Ciihh dasar tua bangka! Kapan sih gue bisa lepas dari lo. Dan kamu Ardian, tunggu saja, aku pasti membuat kamu bertekuk lutut kembali padaku' gumam Tamara. Di dalam mobil Lea dan Ardian. "Permainan yang bagus, selanjutnya jangan sampai mengalah" Ujar Ardian. "Mengalah? Laah emang aku bersaing sama siapa?" Bingung Lea. "Ingat! Kamu istri sahku di mata hukum. Jadi jangan mempermalukan aku" Ujar Ardian. "iya iya.. aku inget" Lea memutar bola matanya malas. ~~**~~ Lea yang kini sedang bersama Gisel menghabiskan waktu cutinya yang hanya tinggal sehari saja. Bahkan Gisel sampai rela mengambil jatah libur yang ia percepat demi bisa menemani sahabatnya ini. "Huufftt.. Buset panas banget" Gisel mengibas ngibas rambutnya karna cuaca yang memang bisa tiba tiba panas, namun bisa juga tiba tiba hujan. "Niih biar gak gerah" Lea menyalakan kipas mini portable dan di arahkan ke Gisel. "Gini dong lega" Senang Gisel. "Gue fikir lo bakal galau, apalagi lihat si Arman nikah sama Sari kedelai itu" Kesal Gisel mengingat dua insan yang menyakiti sahabatnya bersama. "Ngapain gue galau? Mereka nikah karna udah gol duluan" "Serius lo Le? Wooaaa.. Amazing, ganas juga tuh pisang Arman" "Pisang segede jempol gue niih niih segini" Adu Lea menunjukkan jempolnya yang mini. "Haa haa... Apa nggak cuma buat geli gelian doang itu" Gisel tertawa dengan begitu lantang. "Lo nggak tahu aja si Sari gimana brutalnya" "Harusnya lo video, mayan buat bahan ghibah setahun ke depan" Gisel menaikkan alisnya. Namun tatapan Gisel teralih pada cincin yang melingkar di jari manis Lea. "Lo katanya gagal kawin, ngapain lo pake cincin nikah?" Imbuh Gisel. Lea meringis, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh bingung hendak bagaimana menjelaskan pada Gisel. "Ini emang cincin kawin" "Pfffttt.... " Gisel bahkan sampai hampir tersedak. "Lo kawin sama siapa? Juragan empang yang mana kawan" Gisel seperti tidak percaya. "Lo inget gue punya hutang satu juta dollar gara gara beli burung yang aaahhh sssttt" Lea tak mampu melanjutkan ucapannya. "Jangan bilang.. Lo jual diri ke rentenir buat bayar hutang!" Tebak Gisel. "Amit amit.. " Lea mengetuk dahinya sendiri. "Dia mau bawa gue ke meja hijau kalo gue nggak bayar, dan solusi kedua... Gue harus nikah kontrak sama dia sampai hutang gue lunas" "WHAT!" syok Gisel. Sungguh di luar nalarnya. "Dia cukup bertanggung jawab ya meski agak ketus" Bisik Lea. "Lea.. Jangan karna lo di sakitin sampe gini? Lo nggak takut tiba tiba dia jual ginjal lo? Jual jantung lo?" "Gue malah di kasih nafkah, di ajak pulang ke rumahnya" "Kasih gue waktu buat mencerna" Gisel memegang kepalanya yang berdenyut. "Dia emang suka omong ketus, tapi selebihnya dia baik sama gue. Kita cuma nikah kontrak, harus pura pura di depan orang tuanya" Jelas Lea.Bahkan saat di rumah pun Lea masih setia mendiamkan Ardian. Kemana Ardian pergi dia akan selalu menghindar menjauh."Lea!" Ardian mencekal tangan Lea kala Lea hendak pergi kembali. "Aku mau pup, apa kamu mau menahannya lalu membuangnya jika sampai jatuh disini?" Ketus Lea. Seketika Ardian melepas tangan Lea. "Cepatlah"Lea berjalan dengan kesal, dia sebenarnya tidak hendak pup, namun bibirnya sudah keluar kata demikian dengan mudahnya. Sehingga dia tetap harus berpura-pura untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tak berselang lama Lea keluar, namun baru saja dia membuka pintu sudah di kejutkan dengan Ardian yang berdiri melipat tangannya di dada tepat di depan pintu kamar mandi. "Sebelas menit empat puluh detik. Apa yang kamu keluarkan sampai selama ini?" Tegur Ardian sambil melihat jam tangannya. "Kurang kerjaan sampai hitungin orang pup?" Sindir Lea masih dengan ketus. Tanpa aba-aba, Ardian langsung mengangkat tubuh Lea dalam gendongannya layaknya anak kecil. Membawanya ke atas mej
Di perusahan Gama Buana. Kini Lea sedang harap-harap cemas, berkali-kali dia mengangkat tubuhnya, menunggu panggilan dari HRD. "Lo kenapa si Le? Pantat lo bisulan?" Heran Gisel karna melihat tingkah sahabatnya. "Gue lagi siap-siap angkat kaki Sel" "Iya iya.. Nyonya bos mau ongkang-ongkang kaki di rumah, duit ngalir" "Enak aja, gue kemarin udah bikin Ardian marah" Bisik Lea. "Lo cari masalah si Le, nggak tahu apa dia itu donatur utama lo, sumber duit Le" "Iya gue tahu, tapi gimana lagi." "Emang lo apain?" "Gue mau jitak dia" Lea berbisik kembali, satu kata saja sudah membuat Gisel menganga. "Trus gue suruh dia bikin nasi goreng cumi malam-malam, dia aja belum ganti baju. Tapi.. Gue malah tidur" Imbuh Lea. "Parah lo Le.. Parah" Gisel menggelengkan kepalanya. "Mana dia bilang kalo di kantor gue itu tetep karyawannya" "Udah, end lo. Buruan beresin barang-barang lo" Gisel justru membantu Lea mengemasi. "Gisel.. Kenapa lo malah bikin gue takut" Belum selesai apa yang me
"Sial..!" Kesal Tamara kala mendapat penolakan terang-terangan dari Ardian. Apalagi kala dia melewati kamar mereka terdengar suara lenguhan Lea yang membuat dirinya semakin terbakar. "Aku saja belum pernah merasakan tubuh Ardian, tapi kenapa justru gadis desa dan udik itu yang rasain" "Aku harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Ia mulai merencanakan kembali untuk membuat Lea berpisah dengan Ardian. "Jika Ardian peduli sama kamu karna anak itu, maka aku akan buat anak itu lenyap. Kita lihat, apa Ardian masih mau dengan wanita yang membunuh anaknya sendiri?" Tamara kembali melengkungkan senyum kejahatan. Tamara mulai mengupas sebuah nanas muda, tanpa mencucinya bahkan langsung membuatnya menjadi jus. "Kita lihat Lea. Apa kamu bisa bertahan! Hanya aku yang boleh jadi ibu anak-anak Ardian. Kamu sama sekali tidak pantas!" Tamara mengangkat gelas itu tinggi tinggi. Dengan keterampilannya memasak, Tamara berhasil membuat jus nanas muda itu menjadi minuman yang sam
Uhuuk uhuukk... Suara Ardian yang terbatuk. "Kamu sakit?" Cemas Lea memandang pria tampan di depannya kini. Wajahnya benar-benar lelah dengan bibir pucat. "Pasti karna semalam kamu hujan-hujanan" Imbuh Lea memeriksa suhu tubuh Ardian dengan menempelkan telapak tangan di dahi Ardian. "Boleh aku tidur sebentar?" "Tidurlah" Lea mengangguk. "Tidak jadi" Ardian menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Bukannya kamu nggak enak badan?" "Pasti kamu nanti kabur lagi" Sindir Ardian. Lea membelalakkan matanya, tak menyangka dengan sisi unik Ardian. "Tergantung" "Ya udah, nggak usah tidur. Uhuuk uhuuuk" Kembali Ardian terbatuk. "Istirahat lah. Aku akan menjagamu disini" "Kamu... Anggap aku kayak tahanan!" Kesal Lea. Ardian hanya menghela nafas berat, dia sama sekali tak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Lea. "Ngapain pake huufftt gitu? Kesel sama aku?" Cecar Lea. "Aku cuma nafas" "Nggak, jelas-jelas kamu tadi kesel sama aku" Ardian menggendong kembali Lea tanpa aba-aba, mele
Setelah di rasa lebih tenang, kini Lea kembali bisa duduk membuka ponselnya yang sejak semalam dia matikan. Banyak sekali panggilan dan chat dari Ardian. "Dia hanya khawatir sama anaknya, bukan sama gue" Gumam Lea kesal. "Sama aja Lea, dia juga khawatir sama elo sama bayi elo" Ujar Gisel menjadi penengah. "Dia itu mau ambil anak gue Sel" "Nggak akan bisa Lea, gue disini sama elo. Gue bisa call om gue yang pengacara, biar bantu hak asuh anak lo nanti kalo lahir" "Gisel.. Lo baik banget sama gue" Lea kembali memeluk sahabatnya itu. "Mendingan kalian selesain dulu deh, kasihan dia di depan semalaman" Lea mengangguk, perlahan dia berjalan keluar, memastikan Ardian masih ada di depan kontrakan Gisel. Benar saja Ardian berdiri dengan bersandar di mobil, menentang sinar matahari yang sudah mulai terik. Pandangannya masih fokus ke arah kontrakan Gisel. "Mas! Sejak semalam saya perhatiin disini? Mau ngintipin anak kost saya? Mau buat jahat?" Tuding ibu kost memarahi Ardian. "
"Kenapa dia keras kepala sekali?" Ardian benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Semua fikirannya terarah pada Lea dan calon anaknya. "Pak.. " Kevin datang dengan nafas tersengal-sengal. "Apa kau tidak bisa ketuk pintu!" "Maaf pak, tapi ini urgent" "Katakan! Jangan membuatku mengirimmu ke Afrika" "Bu Lea tidak ada di rumah sakit" "APA!" Ardian langsung saja berdiri. "Sial" Umpatnya menyambar ponsel juga jasnya dengan singkat. Ia berjalan cepat segera mencari keberadaan Lea dimana. Suasana malam yang gelap di temani dengan hujan yang mengguyur kota membuat Ardian semakin kelabakan. Fikirannya benar-benar kacau seakan di obrak-abrik oleh Lea. "Lea.. Kamu dimana?" Pandangan Ardian mengedar ke semua arah, samar-samar dalam guyuran hujan ia berharap melihat Lea. "Lea... " Gumamnya kembali memukul setir kemudi dengan kesal. Di saat inilah dia baru sadar jika dia tidak mengenal dekat Lea. Bahkan tempat-tempat yang biasa di datangi Lea saja dia tidak tahu, yang dia tahu hany







