Beranda / Romansa / Satu Kali Lagi, Boss! / 03: Pemilik Mobil Mewah

Share

03: Pemilik Mobil Mewah

Penulis: BlackDiamond
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 09:07:08

Ganti rugi? Jantungku rasanya melompat keluar. Aku berjalan tertatih mendekati area bumper yang penyok sedikit.

“Ganti rugi? Berapa?” tanyaku panik. Pria itu menatapku dengan lekat—sebuah tatapan tak terbaca yang membuatku makin gelisah. Dari penampilan lusuhku saja, harusnya dia tahu aku tak punya uang.

“Mbak… ini mobil mewah,” ucap pria yang dipanggil Yud itu sopan, lalu melirik atasannya ragu. “Biasanya… Bapak akan langsung membeli unit baru kalau mobilnya sudah ada cacat atau ringsek.”

“Apa?!” Emosiku mendadak meledak. Pikiranku sedang sangat kacau pagi ini karena biaya operasi Ibu, dan ucapan itu menjadi pematiknya. “Ini cuma rusak sedikit! Masa saya harus ganti mobil baru? Ini namanya pemerasan!”

“Mbak, dengar dulu—”

“Saya sedang terburu-buru! Kalau Bapak mau bikin perhitungan dengan saya, hubungi saya di sini!”

Pria brewok itu tidak lantas mengambil kartu nama yang kusodorkan. Beliau justru bergeming, tetap menatapku dengan dalam dan penuh teka-teki yang sama sekali tak sanggup kupahami maknanya saat itu. Tatapannya memiliki aura dominasi terselubung yang membuat dadaku makin bergemuruh.

Diselimuti rasa panik karena takut terlambat masuk kerja, tanpa berpikir panjang, aku meraih pergelangan tangannya yang terbalut jas rapi, menarik jemarinya melonggar, lalu menepukkan kartu namaku tepat di atas telapak tangannya.

"Permisi, Pak!" tegasku cepat.

Tanpa menunggu respons atau persetujuannya, aku berbalik melangkah, menyeret motorku yang ringsek, lalu memacu kendaraan tua itu pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri membisu.

Sampai di kantor, aku berhasil lolos dari keterlambatan, tetapi penampilanku benar-benar memprihatinkan.

“Kamu berantakan sekali, Siena,” tegur Pak Jaya, atasanku, begitu melihatku melangkah masuk.

Aku menyinggingkan senyum konyol. “Siena Rosi, Pak!” candaku yang jelas tidak lucu.

Pak Jaya menggelengkan kepala pelan, menatapku prihatin. “Rapikan dulu dandanan kamu. Itu kaki lecet-lecet… kamu habis jatuh? Aduh Siena, kamu itu bawa citra divisi PR, masa penampilannya hancur begini!” 

Aku menunduk, memperhatikan kemeja kusut dan rok bahan yang kotor oleh debu jalanan. Pak Jaya benar. Aku terlihat sangat menyedihkan.

“Saya tidak mau tahu, kamu segera rapi-rapi. Hari ini Presdir kita, Pak Jeremy, datang ke kantor. Beliau mau melakukan audit umum all department sebelum rapat direksi bulan depan,” jelas Pak Jaya panjang lebar. “Setelah rapikan diri, langsung ke ruang meeting divisi PR. Kita kumpul di sana.”

Aku mengangguk patuh. Jeremy Wiratama Halim adalah Presiden Direktur sekaligus pemegang saham tertinggi di perusahaan ini. Sosok pria matang berusia empat puluhan yang sangat jarang menampakkan diri di kantor cabang, kecuali untuk urusan yang teramat krusial.

Setelah mengobati luka lecet di kaki dan meminjam kemeja cadangan milik Sella—yang jujur saja terlalu ketat hingga rasanya bagian dadaku hampir meledak—aku bergegas menuju ruang rapat.

Sayup-sayup suara Pak Jaya membaca laporan terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Aku mengendap masuk dengan sangat pelan. Namun, langkahku terhenti tatkala mendengar suara bariton asing yang bergema penuh kharisma. Pria itu berdiri tegak di depan layar proyektor tepat di sebelah Pak Jaya, menyihir perhatian seluruh isi ruangan.

Dada ini seketika bergemuruh hebat. Pria itu… adalah pria brewok yang mobilnya kubentur pagi tadi! Pak Jaya baru saja menyebut nama resminya: Pak Jeremy.

Belum sempat aku melangkah mundur untuk bersembunyi, manik mata tajam itu bergulir lurus menembus manik mataku.

“Dia—kenapa terlambat?!” serunya dengan suara dingin, menunjuk tepat ke arah wajahku.

Seluruh isi ruangan mendadak hening. Pak Jaya mengusap keringat dingin di dahi, berkali-kali membungkuk meminta maaf atas ketidakdisiplinan anggotanya. Aku membeku di ambang pintu, menunduk dalam-dalam saat tatapan tajam itu seakan menguliti tubuhku.

Pak Jeremy tidak memperpanjang teguran. Beliau mengalihkan pandangan, lalu menyelesaikan sambutannya dengan singkat dan berwibawa. Aura kekuasaannya mendominasi ruangan hingga tak ada yang berani bersuara.

Begitu usai, Pak Jeremy melangkah pergi membelah barisan karyawan. Seluruh staf membungkuk hormat. Pria itu berjalan lurus tanpa melirik siapa pun—dingin dan tak tersentuh.

Namun, saat langkahnya sejajar dengan tempatku berdiri, kecepatannya mendadak melambat.

Pak Jeremy berhenti tepat di sampingku. Aroma woody dan ambergris bernilai fantastis menguar, menginvasi indra penciumanku. Tanpa menoleh, beliau memiringkan kepala dan berbisik pelan di dekat telingaku dengan suara bariton yang dalam.

"Kamu... ke ruangan saya!" Langkah kakinya kembali berderap meninggalkan ruang rapat, disusul Pak Jaya dan sekretaris pribadinya yang mengekor tergesa.

“Ke-ke ruangan Bapak?”

Jeremy tidak membalas lagi dan hanya memberi kode dengan telunjuk, bahwa itu adalah perintah mutlak yang tidak boleh disanggah. Maka, aku coba melihat Pak Jaya dan Pak Jaya hanya memberi anggukan, yang berarti, Pak Jaya tidak bisa melakukan apapun ketika Jeremy sudah bertitah.

Pasokan udara di paru-paruku serasa disedot habis. Sensasi dingin merambat dari telinga hingga ke ujung kakiku.

Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, keheningan pecah. Bisik-bisik kasak-kusuk langsung bergema di seluruh ruangan seperti lebah yang terusik.

Lalu, seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Kali Lagi, Boss!   10: Sentuhan yang Membakar

    "Kemarilah. Aku tidak mungkin harus mengajarimu step-by-step bahkan hanya untuk keluar dari kamar dan makan, kan?" tegurnya.Mungkin dia melihat kekakuanku yang terus berdiri ragu di dekat pintu. Saat ini aku hanya mengenakan jubah sutra warna cream tanpa sehelai benang pun di baliknya. Hanya pakaian itu yang disediakan di dalam lemari kamar mandi. Sementara di seberang sana, Pak Jeremy sudah duduk santai menggunakan jubah sutra serupa, namun berwarna hitam pekat.Aku melangkah mendekat perlahan. "Maaf, Pak. Saya hanya canggung... dan saya merasa...""Hm... tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada pura-pura sok tahu. Makan yang banyak, karena kamu akan butuh banyak tenaga malam ini," potongnya tenang.Mendengar kalimat ‘butuh banyak tenaga,’ jantungku mendadak berdegup kencang. Maksudnya apa? Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, mencoba menetralkan desiran aneh di dadaku sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.Pak Jeremy menyodorkan sebuah piring padaku—daging steak di atasnya sudah

  • Satu Kali Lagi, Boss!   09: Ukuran XL

    "Bilang ke sopir untuk mampir sebentar ke supermarket untuk membeli kondom yang kotak emas atau hitam, ambil yang ukuran XL."Pesan singkat dari Pak Jeremy itu masuk persis setelah aku selesai mampir ke rumah, menyerahkan sejumlah uang untuk kebutuhan adik-adikku, serta mencarikan tetangga terpercaya untuk menutupi keberadaanku. Pak Jeremy melarangku membawa baju maupun pakaian dalam dari rumah. Katanya, semua sudah disiapkan di apartemen. Aku hanya bisa menurut.Tapi pesan susulan ini... benar-benar membuat seluruh mukaku panas karena malu. Langkah kakiku terasa sangat berat saat memasuki pintu kaca minimarket yang berdenting halus. Beruntung, lorong minimarket saat itu sedang sepi. Namun, begitu mataku tertuju pada barisan kotak kecil di rak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya salah seorang pramuniaga yang melihatku celingukan seperti orang bingung, aku menggeleng pelan. Kemudian tersenyum.Jari-jariku yang gemetar meraih satu kotak be

  • Satu Kali Lagi, Boss!   08: Apakah ini Keajaiban

    Perasaan bersalah dan asing akibat kejadian bersama Pak Jeremy masih terus membuntutiku sampai aku tiba di rumah sakit. Namun, fokusku langsung teralih begitu melihat Dokter William berjalan tergesa menemuiku di depan koridor UGD dengan wajah cerah. "Mbak Siena... apa yang saya bilang? Yakini apa yang kamu imani. Ada orang baik yang mendonasikan dana untuk operasi Ibumu, dan itu membuat pihak rumah sakit bergerak cepat mendapatkan donor ginjal yang cocok," ucap Dokter William dengan senyum lega.Aku berdiri terpaku di tempatku. Rasa tercengang yang luar biasa menahan napas di tenggorokanku sebelum akhirnya air mataku meleleh deras. Dokter William berpikir ini adalah buah dari iman dan keajaiban doa. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan getir... apakah Pak Jeremy adalah jawaban dari sebagian doa-doaku itu? Atau justru jalan dosa yang sengaja kuambil demi bertahan hidup?"Kamu anak baik dan pekerja keras, Siena. Tuhan selalu memberikan jalan untuk anak sebaik kamu," lanjutny

  • Satu Kali Lagi, Boss!   07: Pelepasan Pertama

    Kumingkan sedikit kepalaku, lalu menjulurkan lidahku dan memasukkannyake dalam mulut pria itu, mencoba meniru setiap gerakan dominan yangditunjukkannya tadi.Dengan keberanian terakhir yang kupunya, aku merengkuh tengkuk PakJeremy dengan kedua tangan yang gemetar. Kumingkan sedikit kepalaku, lalumenjulurkan lidahku dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu. Aku mencobameniru setiap gerakan dominan yang baru saja ditunjukkannya.Balasan spontanku rupanya seperti menyulut api di dalam dada pria itu.Pak Jeremy mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Gerakannya mendadakberubah brutal. Dia menyambar lidahku, melumatnya lebih dalam dan makinmenuntut. Pagutan panas itu terasa begitu agresif hingga membuat kepalakupening dan seluruh pasokan oksigen di paru-paruku terkuras habis.Bukannya melepaskanku seperti yang dia janjikan, sentuhan Pak Jeremy dibalik dalamanku justru makin berani dan memabukkan. Usapan jarinya di titiksensitifku kini bergerak makin cepat, ritmis, dan menekan

  • Satu Kali Lagi, Boss!   06: Sentuhan Pertama

    "Aku ingin kamu memberikan pelayanan pertamamu hari ini. Anggap saja... perkenalan singkat sebelum kamu terbiasa," jawabnya santai.Namun aku tetap bergeming di tempatku, duduk kaku di kursi seberang mejanya."Ke sinilah, mendekat," perintahnya lagi.Aku berdiri dengan ragu-ragu, melangkah pelan memutari meja. Dinginnya pendingin udara di ruangan ini rasanya makin menusuk hingga ke tulang, membuat persendianku melemas. Padahal aku hanya berjalan mendekat, belum melakukan apa pun."Kamu gugup?" tanya Pak Jeremy melihat langkahku yang tertahan.Aku mengangguk jujur."Duduk di sini," ucapnya tegas, lalu menepuk salah satu paha kekalnya.Dadaku berdesir hebat. ‘Tuhan... apakah ini benar? Masuk akalkah aku harus duduk di pangkuan bosku sendiri?’"Gemetar?" tanya Pak Jeremy.Suara beratnya terdengar begitu dekat di telingaku saat tangan besarnya mulai bermain di atas pahaku. Ketika telapak tangannya merayap makin naik melintasi kain rok kerja yang kukenakan, aku mendadak merasa seperti lup

  • Satu Kali Lagi, Boss!   05: Deposit Tiga Tahun

    "Kamu butuh waktu untuk berpikir?" tanyanya lagi ketikamelihatku bungkam. Aku mengangguk cepat. Pak Jeremy tersenyum tipis melihatresponsku. Pria matang dengan jejak janggut tipis di sepanjang rahang tegasnyaini memang terlihat sangat tampan secara visual. Garis wajahnya keras, maskulin, dan punya kharisma yang sulit diabaikan.Secara fisik, tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku menyukai pria yang tampandan matang, tapi... bukankah dia terlalu matang untukku? Sial, kepalaku rasanyamau pecah.“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” tanya Pak Jeremy tenang. Beliaumenyesap kopinya santai, kontras dengan dadaku yang rasanya mau meledak.“Sa-satu minggu, Pak...” bisikku pasrah.Pak Jeremy tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat bulukudukku berdiri. “Satu minggu? Kamu tahu betul kamu tidak akan punya uangsebanyak itu bahkan dalam satu tahun, Siena.”Pasi. Seluruh darah di tubuhku serasa menyusut. Kata-katanya menembustepat di titik terlemahku.“Saya tidak suka mengu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status