MasukBau khas cairan antiseptik langsung menyambut begitu kami mendorong pintu kamar rawat. Suasana di dalam ruangan jauh lebih tegang dibanding kemarin.Chloe duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangan kanannya. Wajah anak itu tampak pucat, matanya sembab, dan bibirnya terkatup rapat. Di sisinya, Monika berdiri dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan, sementara Bu Amanda tampak gelisah di dekat jendela.Begitu melihat kami masuk—terutama saat mendapati tanganku dan Pak Jeremy bergandengan—Monika langsung maju dengan napas memburu.“Jeremy? Kenapa kamu ajak perempuan itu kesini?” sambutnya, kemudian menoleh kearahku “ dan, Kamu!” tunjuk Bu Monika mentah-mentah ke arahku. “Belum puas merusak keluarga kami, sekarang sengaja pamer di depan anak yang baru siuman? Kamu ini benar-benar perempuan tidak tahu malu!”Sebelum aku menjawab, Pak Jeremy menyahut duluan.“Monika, cukup,” potong Pak Jeremy dengan suara rendah namun mutlak, langsung
“Kamu terlihat kecewa.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy begitu pintu mobil tertutup. Mesin belum dinyalakan. Lampu basement parkir redup, hanya menyisakan bayangan wajahnya di sisi pengemudi.Aku menelan ludah. “Tidak.” Jawabku berbohong.Ia memiringkan kepala sedikit, menatapku dari dekat. “Bohong. Dari tadi kamu gelisah. Bukan karena aku nggak melakukan apa-apa di restaurant, bukan?.”Pipiku terasa panas. Aku memalingkan wajah, pura-pura mengikat sabuk pengaman.“Siena…kalau kamu mau, ingin…kamu boleh memulai dan mengatakannya…gak papa” imbuhnya dan pipiku semakin panas mendengar hal itu.Pak Jeremy tidak langsung menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam, menatapku dengan intensitas yang familiar—yang biasa muncul saat ia sudah memutuskan sesuatu.“Siena.” panggilnya dengan suara pelan, ia menegakkan punggungnya.“Ya, Pak?” jawabku menoleh kearahnya.“Lepas seat belt kamu.”Aku menoleh. “Di sini?”“Lepas.”Suara itu tidak meninggi, tapi tidak memberi ruang. Aku menurut.
“Jangan pakai bra.”Kalimat itu keluar datar dari mulut Pak Jeremy saat aku baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk. Aku menoleh, mengira salah dengar.Ia sedang berdiri di depan lemari, memilih kemeja. Tidak menatapku.“Maksud Bapak?”“Nanti malam. Jangan pakai bra.” Ia menutup lemari, lalu menoleh. Matanya tenang, tapi ada sesuatu yang gelap di baliknya. “Pilih dress yang longgar. Yang mudah kutarik ke atas.”Aku terdiam. Pipi terasa panas. Bukan karena terkejut—lebih karena cara ia mengatakannya, seolah itu perintah paling biasa di dunia. Dan aku nggak pernah melakukan hal yang seliar dan seaneh ini, tapi dari awal Pak Jeremy sudah mendeskripsikan dirinya seseorang yang memiliki gairah berlebih.“Baik,” jawabku pelan. Ya, aku akhirnya setuju walaupun aku takut tapi aku juga penasaran.Satu jam kemudian kami sudah duduk di meja sudut sebuah restoran Jepang yang sangat privat. Lampu redup, sekat kayu tinggi, dan jarak antar meja yang cukup jauh mem
"Siena?"Aku terperanjat, reflek menghentikan langkah dan memutar badan ke belakang.Sosok pria berpostur tinggi dengan kemeja linen putih digulung sampai siku berdiri di hadapannya, tersenyum ramah dengan kedua tangan terselip di saku celana bahan warna gelap. Garis wajahnya yang tegas, rahang yang bersih, serta sorot mata tajam namun hangat itu langsung membuatku terpaku di tempat.Jantungku mendadak berhenti berdetak sedetik."Kamu... beneran Siena, kan? Nggak salah lihat aku?" tanyanya dengan nada suara rendah yang sangat familier, tersenyum lebar seolah tidak percaya bisa menemukanku di tempat ini.Ya, setiap kali kami bertemu aku selalu dalam pakaian formal, kali ini sangat santai jadi wajar dia ragu mengenaliku, beda denganku begitu melihat wajahnya aku bisa tahun itu Pak Ramon. “Tinggal di sini?” Tanyanya terlihat bersemangat, aku mengangguk pelan. Kemudian kami berbincang sepanjang kembali ke lantai unit kami. Perbincangan kami tak jauh dari membicarakan masalah bisnis dan j
"Sebentar, Pak... jangan sekarang," gerutuku tertahan saat jemarinya kembali menekan tepat di area sensitifku, membuat debar di dadaku kembali naik.Jeremy tertawa rendah di ceruk leherku, napasnya yang hangat berhembus menggelitik kulit. Alih-alih berhenti, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan dadaku menempel erat pada kemejanya yang berantakan. Kami menghabiskan sisa malam itu dalam diam yang hangat. Setelah ketegangan panjang di kantor polisi dan rumah sakit, tidak ada lagi hal yang ingin kami kejar selain meringkuk di atas sofa ruang tengah, berbagi kehangatan di bawah selembar selimut tebal sambil membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa-gesa.Cuddle sederhana itu menjadi cara kami mereset kepala. Sesekali Jeremy mengecup puncak kepalaku atau mengusap lenganku pelan, sementara aku membiarkan tanganku melingkar di pinggangnya, menikmati detak jantungnya yang kini berdetak tenang.Keesokan harinya, matahari merayap naik menembus jendela kaca apartemen, membawa serta s
Begitu bunyi klik pintu apartemen terdengar, kedua tanganku langsung menggelayut manja di leher Pak Jeremy. Hari ini aku membiarkan diriku bersikap clingy kepadanya, karena sejak urusan kantor polisi tadi, ada rasa takut kalau-kalau lelaki ini benar-benar diambil dariku. Aku bersyukur dia bisa pulang tanpa harus mendekam di sel tahanan."Aku belum mandi, kamu sudah nempel terus begini?" tanya Pak Jeremy dengan nada menggoda.Aku mengangguk manja di ceruk lehernya. "Kangen..." ucapku pelan, sengaja mempererat pelukanku.Pak Jeremy memicingkan sebelah matanya. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuhku hingga kakiku melingkar di pinggangnya, menggendongku ala koala begitu pintu apartemen tertutup rapat. Lelaki itu membawa langkahnya masuk ke ruang tengah sambil mencium bibirku beberapa kali secara bergantian."Kamu beneran suka sama kakek-kakek ini?" tanyanya menggoda di sela-sela ciuman ringan kami."Siapa bilang kakek-kakek? Perkasa begini..." sahutku santai, membuat sudut bibirnya tert







