Masuk"Siena?"Aku terperanjat, reflek menghentikan langkah dan memutar badan ke belakang.Sosok pria berpostur tinggi dengan kemeja linen putih digulung sampai siku berdiri di hadapannya, tersenyum ramah dengan kedua tangan terselip di saku celana bahan warna gelap. Garis wajahnya yang tegas, rahang yang bersih, serta sorot mata tajam namun hangat itu langsung membuatku terpaku di tempat.Jantungku mendadak berhenti berdetak sedetik."Kamu... beneran Siena, kan? Nggak salah lihat aku?" tanyanya dengan nada suara rendah yang sangat familier, tersenyum lebar seolah tidak percaya bisa menemukanku di tempat ini.Ya, setiap kali kami bertemu aku selalu dalam pakaian formal, kali ini sangat santai jadi wajar dia ragu mengenaliku, beda denganku begitu melihat wajahnya aku bisa tahun itu Pak Ramon. “Tinggal di sini?” Tanyanya terlihat bersemangat, aku mengangguk pelan. Kemudian kami berbincang sepanjang kembali ke lantai unit kami. Perbincangan kami tak jauh dari membicarakan masalah bisnis dan j
"Sebentar, Pak... jangan sekarang," gerutuku tertahan saat jemarinya kembali menekan tepat di area sensitifku, membuat debar di dadaku kembali naik.Jeremy tertawa rendah di ceruk leherku, napasnya yang hangat berhembus menggelitik kulit. Alih-alih berhenti, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan dadaku menempel erat pada kemejanya yang berantakan. Kami menghabiskan sisa malam itu dalam diam yang hangat. Setelah ketegangan panjang di kantor polisi dan rumah sakit, tidak ada lagi hal yang ingin kami kejar selain meringkuk di atas sofa ruang tengah, berbagi kehangatan di bawah selembar selimut tebal sambil membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa-gesa.Cuddle sederhana itu menjadi cara kami mereset kepala. Sesekali Jeremy mengecup puncak kepalaku atau mengusap lenganku pelan, sementara aku membiarkan tanganku melingkar di pinggangnya, menikmati detak jantungnya yang kini berdetak tenang.Keesokan harinya, matahari merayap naik menembus jendela kaca apartemen, membawa serta s
Begitu bunyi klik pintu apartemen terdengar, kedua tanganku langsung menggelayut manja di leher Pak Jeremy. Hari ini aku membiarkan diriku bersikap clingy kepadanya, karena sejak urusan kantor polisi tadi, ada rasa takut kalau-kalau lelaki ini benar-benar diambil dariku. Aku bersyukur dia bisa pulang tanpa harus mendekam di sel tahanan."Aku belum mandi, kamu sudah nempel terus begini?" tanya Pak Jeremy dengan nada menggoda.Aku mengangguk manja di ceruk lehernya. "Kangen..." ucapku pelan, sengaja mempererat pelukanku.Pak Jeremy memicingkan sebelah matanya. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuhku hingga kakiku melingkar di pinggangnya, menggendongku ala koala begitu pintu apartemen tertutup rapat. Lelaki itu membawa langkahnya masuk ke ruang tengah sambil mencium bibirku beberapa kali secara bergantian."Kamu beneran suka sama kakek-kakek ini?" tanyanya menggoda di sela-sela ciuman ringan kami."Siapa bilang kakek-kakek? Perkasa begini..." sahutku santai, membuat sudut bibirnya tert
Kami bertiga serentak menoleh ke sumber suara, Bu Amanda terlihat gugup. Mau bagaimanapun juga dia nggak mungkin langsung bicara ceplas-ceplos seperti cara dia bicara sama aku, karena dia harus menjaga wibawanya di depan mantan besannya. “Ooh.. Itu, Mama nggak mau menerima dia di keluarga Wiratama Halim” Jawab Bu Amanda sambil menunjuk ke arahku. Aku tersenyum tipis. “Jadi Jeremy sudah ada pengganti?” Tanya Ayah Bu Monika yang memakai pakaian rapi. Pak Jeremy terlihat jengah, “jangan berpikir saya ceraikan Monika karena dia. Hubungan pernikahan kami memang tidak sehat jauh sebelum saya kenal dengan Siena.”Nampan Mamanya Bu Monika mencibir, “Cari pengganti itu yang selevel bukan nurunin level”“Dia yang menyelamatkan Chloe” Sahut Pak Jeremy terdengar kesal. “Karena dia merasa bersalah” Sahut Bu Monika, dan ya… nggak salah juga sih. Aku memang merasa bersalah. “Tapi dia nggak perlu merasa bersalah, karena kecelakaan ini terjadi bukan karena dia tapi kamu sendiri!”.“Simpan saja p
“Gara-gara kamu, Jeremy! Dari dulu kamu memang nggak pernah becus jadi suami, sekarang jadi bapak pun sama saja!” sembur Bu Amanda dengan napas memburu, menatap putranya tajam. “Monika sampai senekat itu melaporkan kamu ke polisi karena kamu yang keterlaluan. Semua ini gara-gara kamu nggak bisa menjaga perasaannya!”“Dan kalau dia berbohong pun, Mama yakin dia punya alasan! Kali ini Mama nggak akan belain kamu!” tambahnya.Pak Jeremy bergeming di tempatnya, raut wajahnya masih tenang tidak menunjukkan emosi apapun. Ia hanya menatap Bu Amanda dengan sorot matinee yang dingin seperti biasa, seolah omelan itu sudah terlalu biasa mampir di telinganya.“Memangnya Mama tahu apa yang mau aku katakan?” tanya Pak Jeremy pelan, suaranya terdengar sangat datar.Bu Amanda mendengus sinis, bersedekap di depan dada. “Emang apa? Kamu mau membela diri apa lagi? Mau menyalahkan Monika lagi?”Pak Jeremy menghela napas pendek. Ia merengkuh bahuku pelan, membawaku berdiri sedikit lebih rapat di sampingn
Aku mengusap air mataku, sebelum akhirnya menjelaskan pelan-pelan ke Yudha tentang apa yang terjadi dan Yudha langsung mengerti bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.“Okay, aku mengerti. Kita bertemu di kantor polisi atau kamu mau aku jemput?” tanyanya. Dia tahu kalau aku sekarang masih belum sepenuhnya sehat, tapi aku nggak mau membuang waktu.“Nggak perlu,” jawabku singkat.“Yakin?” ulang Yudha karena ia tahu bagaimana keadaanku.“Hm... ya, aku yakin kok! Langsung ketemu di kantor polisi, aku sama Pak Supri,” jelasku menyebut nama supir pribadi Pak Jeremy.Dalam satu minggu ini banyak sekali kejadian, dan semuanya berjalan begitu cepat sampai aku nggak dapat mencerna, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupku.Rama beberapa kali menelpon, dia bilang ada beberapa masalah dengan proyek yang kami jalankan. Beberapa vendor telat mengirim barang jadi pekerjaan bakal lebih lama. Aku harus memikirkan jalan keluar untuk mereka.Aku memijat pelipis pelan, rasa pening masih terasa saat







