Share

Bab 162

Author: QueenShe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-31 21:45:33

Fadil menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum sangat manis ke arah Tiara. Dia berpamitan pada adik iparnya dan melangkah lebar melewati pintu utama. Tak lama terdengar suara mobil menjauh meninggalkan pekarangan rumah.

“Beneran Ayah yang nyuruh kamu ke sini, Ra?” tanya Shanum menatap lurus ke arah adiknya. Pipi kirinya sudah mulai membengkak dan memerah sempurna, tetapi tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh di wajahnya yang datar.

Tiara langsung menghindari tatapan mata Shanum dan mengalihkan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 359

    “Ma, kita pulang, Ma. Gak ada untungnya berdebat sama mereka di sini.”Prana menghalangi tubuh Ralin yang berniat maju menghadapi Ani lebih dekat, menahan pundak ibunya dengan kedua tangan.Ralin mendengus keras, dadanya masih naik turun menahan emosi. “Dia itu udah kelewatan ngatain anaknya sendiri sembarangan, Prana! Kasar banget mulutnya!”“Iya, tapi tempat ini bukan arena buat adu mulut,” balas Prana tegas, meredam situasi agar tak makin runyam di hadapan umum.Bersamaan dengan itu, Bobby melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ani, menatap istrinya dengan kejengkelan.“Bu, sudah cukup, kamu keterlaluan!” tegas Bobby.Ani menoleh cepat, matanya membelalak. “Kamu malah marahin aku, Yah? Kamu gak lihat Shanum ngelawan Ibu?”“Ibu yang bikin malu keluarga dari tadi!” potong Bobby tanpa ampun. “Udah tua masih suka bikin keributan!”Mendengar per

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 358

    “Ayahmu masih belum sembuh sepenuhnya, kamu malah bersenang-senang sama orang lain!” cecar Ani penuh amarah.“Bu—”“Kalau ngomong jangan sembarangan, ya!” potong Ralin, memotong ucapan Shanum.Wanita paruh baya itu tak tinggal diam. Dilewatinya Prana yang berdiri tepat di samping Shanum. Ralin memajukan tubuh menghadapi Ani langsung.Prana bergerak cepat, mencengkeram lengan ibunya, menariknya mundur perlahan.“Ma, sudah. Gak usah dilayanin,” bisik Prana mendesak.Ia tahu persis watak keras ibunya kalau sudah tersulut emosi. Tapi Ralin tak terima, mendelik tajam ke Ani, menepis tatapan Prana.“Mbak Ralin, gak usah ikut campur urusan saya dengan anak saya!” maki Ani, menunjuk wajah Shanum. “Dia anak kandung saya, Mbak orang luar gak usah ikut-ikutan!”Dada Ralin naik turun. Ucapan itu menembus batas kesabarannya yang tipis.“Siapa bilang saya orang luar?” bentak Ralin balik, menepis tangan Prana dari lengannya kasar.“Anak yang kamu maki-maki di depan orang banyak ini sekarang menantu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 357

    “Semua sudah siap.”Suara Ralin terdengar dari ambang pintu kamar. Shanum yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas langsung menoleh.“Udah, Tante.”Ralin mengangguk singkat. “Ayo. Prana sudah pesan agar kita datang sebelum jam praktiknya selesai.”Pagi tadi, Prana sempat mengajak Shanum berangkat bersama ke rumah sakit. Namun, Ralin justru menawarkan diri untuk menemani menantunya itu. Awalnya Shanum merasa canggung.Akan tetapi, sejak malam kemarin, ia mulai menyadari bahwa sikap dingin Ralin bukanlah bentuk keterpaksaan lagi. Wanita paruh baya itu memang masih ketus dan menjaga jarak, tetapi perhatian-perhatian kecilnya semakin sulit disembunyikan.Sementara Prana sudah berada di rumah sakit sejak pagi karena jadwal praktiknya yang padat, Shanum dan Ralin baru berangkat menjelang siang. Prana sengaja meminta mereka datang di akhir jam kerjanya.“Biar sekalian aku yang periksa,” pesan Prana lewat ponselnya pagi tadi. “Setelah itu kita pulang bareng.”Shanum sempat tersenyum send

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 356

    “Mas! Lepasin aku dulu, aku udah gak kuat!” rintih Shanum, mencengkeram lengan Prana yang melingkar erat di pinggangnya.Bukannya melepas, pelukan Prana malah makin erat—seperti takut kalau ia meregangkan dekapan sedetik saja, keajaiban yang baru ia saksikan di kamar mandi akan menguap jadi mimpi.“Mas, lepas!” bentak Shanum dengan sisa tenaganya.Melihat suaminya masih bergeming, Shanum mendorong dada Prana sekuat tenaga hingga membuatnya terhuyung mundur setengah langkah, tak menyangka istrinya akan melepaskan diri sekeras itu di tengah momen haru.“Kenap—”Belum sempat Prana merampungkan pertanyaan, Shanum sudah berbalik, berlari kencang kembali ke kamar mandi.Hoeeekkk!Suara muntah menggema dari balik wastafel. Wajah Prana yang sedetik lalu berseri seketika pucat. Ia berlari menyusul, berlutut di samping Shanum yang membungkuk lemas, bahunya naik turun.“Shanum

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 355

    “Udah keluar hasilnya belum, Sayang?” teriak Prana dari balik pintu kamar mandi untuk entah yang keberapa kalinya sejak sepuluh menit yang lalu.Shanum yang sedang berdiri di dekat wastafel memejamkan mata rapat-rapat sambil mengembuskan napas panjang, berusaha meredam gejolak di dadanya.“Mas...” gerutunya kesal lewat celah pintu. “Aku baru banget selesai, ini juga baru mau lihat.”“Terus sekarang gimana? Ada perubahan belum?” sahut Prana tak sabaran, suaranya terdengar sangat dekat dengan daun pintu.“Ya mana aku tahu! Belum aku lihat!” balas Shanum setengah berteriak.“Cepetan dilihat, jangan bikin jantung aku mau copot!” perintah Prana lagi dari luar.Shanum memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing. “Mas, bisa diem gak sih? Dari tadi Mas bikin aku makin panik!”Di luar pintu kamar mandi, Prana benar-benar mondar-mandir seperti orang kehila

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 354

    “Ngapain ke IGD segala, ribet banget!” cegah Ralin tegas.Wanita paruh baya itu menatap putranya lurus-lurus tanpa gentar. “Kamu ini dokter, masa urusan begini saja kamu gak bisa tangani sendiri di rumah?”Ucapan itu justru menyulut sumbu kepanikan Prana hingga meledak seketika.“Ma, cukup!”Suara Prana menggema keras memenuhi ruangan kecil kamar mandi. Untuk pertama kalinya pria itu meninggikan suaranya di hadapan sang ibu. Dada bidangnya naik turun menahan gelombang emosi yang sudah mendesak ubun-ubun.Rasa kecewa yang membuncah membuat akal sehatnya nyaris buyar. Di saat Shanum sudah terkulai lemas di dalam gendongannya, Ralin masih saja menunjukkan sikap dingin dan tak peka.“Sekarang Mama benar-benar keterlaluan!” sambung Prana penuh penekanan.Shanum yang masih bersandar lemah di bahu suaminya langsung membelalakkan mata. Ia mendongak dengan sisa-sisa tenaga yang ada.&ldquo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 160

    Lutut Fadil menghantam lantai dengan keras. Pria itu menundukkan kepala sangat dalam, badannya bergetar, dan sedetik kemudian terdengar suara isakan. Fadil tampak menangis, menyesali perbuatannya dengan begitu meyakinkan di depan mertuanya.“Ayah, Ibu... saya mohon ampun,” ucap Fadil sesenggukan, a

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 101

    Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 33

    “Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status