LOGIN“Kenapa kamu mau menemui aku?” tembak Shanum langsung pada intinya, tidak memberi kesempatan bagi Hania untuk berbasa-basi.Hania tidak langsung menjawab. Wanita itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, mengangkat dagu tinggi-tinggi dengan gestur angkuh, lalu melipat tangan di dada.“Hebat juga keberanian kamu datang sendirian,” sindir Hania tajam.“Aku tanya sekali lagi, ada apa kamu minta ketemuan?” ulang Shanum dengan nada dingin yang sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. “Langsung saja, aku gak punya banyak waktu. Setelah ini aku ada janji mengantarkan makan malam untuk suamiku.”Shanum sengaja menekankan kata 'suami' di hadapan Hania, berniat mengingatkan batas posisi mereka yang sebenarnya.Mendengar penekanan kata itu, rahang Hania langsung mengeras. Sifat angkuhnya sempat goyah sedetik sebelum ia kembali memasang tampang meremehkan.“Aku tahu semuanya soal Mas Prana,” desis Hania sengit. “Dan asal kamu tahu, pernikahan kalian itu terjadi karena dia cuma mau penasaran
“Sini, Sayang.”Prana menepuk matras di sebelah kirinya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, sementara Shanum berdiri sejenak di dekat meja rias untuk melepas ikatan rambutnya.Shanum berjalan mendekat, lalu merebahkan diri di samping suaminya. Prana langsung menyambut tubuh istrinya, membawa Shanum ke dalam dekapan hangat dengan satu tangan menjadi bantal.“Tadi sore kaget banget pas Ayah datang tiba-tiba,” ucap Shanum membuka obrolan, kepalanya bersandar pas di dada bidang Prana.Prana mengecup puncak kepala istrinya sekilas. “Aku juga kaget. Tapi syukurlah semuanya berjalan baik. Mama benar-benar di luar dugaan kita.”“Iya, Mama hebat banget bisa berdarmai sama masa lalu,” balas Shanum tersenyum tipis. “Aku jadi ngerasa beban di pundak aku hilang separuh.”“Sekarang tugas kamu cuma satu,” bisik Prana sambil turunkan tangan kanannya mengusap perut Shanum yang terbalut piama tidur. “Fokus sama kesehatan kamu dan bayi kita.”Baru saja Prana menyelesaikan kalimatnya, tela
“Ada keperluan apa datang ke sini?” tanya Prana dingin, terdengar kaku dan penuh penolakan.Bobby menarik napas dalam-dalam, menghadapi sorot mata tajam anak kandungnya tanpa gentar.“Papa datang buat jenguk kalian berdua,” jawab Bobby tenang. “Papa tahu alamat rumah ini dari Mama kamu.”Mendengar pengakuan itu, kedua bola mata Prana membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku di tempat.“Dari Mama?” ulang Prana dengan nada tak percaya. “Gak mungkin Mama kasih alamat ini.”“Kami gak sengaja ketemu. Mamamu mengajak Ayah bicara sebentar.”Shanum yang berdiri tepat di balik punggung suaminya ikut terkejut bukan main. Ia mencengkeram ujung kemeja Prana erat-erat. Jujur ia takut suaminya akan emosi.Ralin yang selama ini dikenal paling membenci masa lalu dan keluarga Bobby, justru berinisiatif membuka komunikasi dengan mantan suaminya sendiri.Melihat kebingungan dan ketegangan di wajah ayah dan anak di depannya, Shanum memberanikan diri melangkah keluar dari balik perlindungan tubuh suaminya
“Mama yakin mau pulang ke Bali hari ini?”Prana menarik reseleting koper setelah Ralin merapikan pakaian terakhir ke dalam koper berukuran sedang di kamar tamu.Ralin mendongak menatap anak laki-lakinya. “Iya, Mama harus pulang. Usaha di Bali sudah lama gak Mama pantau langsung. Lagian Shanum sekarang udah gak mual-mual parah lagi, jadi Mama udah tenang ninggalin kalian.”Shanum yang duduk di tepi tempat tidur langsung cemberut. Tangannya meraih lengan Ralin, merapat manja seperti anak kecil yang tak mau depet itinggal ibunya.“Memangnya gak bisa nyuruh orang lain saja buat ngurus usahanya, Ma? Kenapa harus Mama yang turun tangan?”Ralin tersenyum geli melihat perubahan sikap menantunya yang semakin hari semakin manja sejak kehamilannya memasuki bulan-bulan stabil.“Bisa saja, Sayang. Tapi tetap saja Mama harus cek langsung ke sana. Nanti kan Mama bisa ke Jakarta lagi. Jakarta-Bali kan cuma sejam naik pesawat, gak nyebrang benua.”Tangan Ralin yang bebas terulur, mengusap lembut perut
“Ngapain ke sini?” tanya Prana datar melewati pria yang menghadangnya, dan menghentikan langkahnya keluar dari pintu kaca kafe.Pria berjas hitam itu langsung mempercepat langkahnya, mensejajarkan diri dengan Prana di trotoar.“Tadi aku ke rumah sakit nyari kamu, kata perawat kamu sudah pulang. Pas mau putar balik mobil, aku lihat kamu dari seberang lagi duduk berdua sama Hania di kafe.”Prana melirik sekilas ke arah Hendra, sahabat sekaligus pengacara pribadinya yang juga menangani masalah hukum keluarga mereka dan Shanum.“Mau apa kesini?”“Ngapain kamu ketemuan sama mantan tunangan pas bini lagi bunting?” balas Hendra dengan nada menyelidik, menatap tajam ke arah Prana.“Cuma ngobrol biasa aja.”“Serius, Pran? Gak ada apa-apa kan? Istri kamu di rumah lagi hamil, jangan bikin masalah yang aneh-aneh,” tegur Hendra mengingatkan.“Gak ada apa-apa, apaan sih,” sungut Prana malas menanggapi kecurigaan sahabatnya.“Shanum tahu kamu ketemu Hania?”“Enggak tahu, buat apa dibahas. Gak usah k
Bab 368“Bisa kita bicara, Mas?”Prana yang hendak melangkah keluar lobi rumah sakit langsung menghentikan gerakannya. Jam praktiknya baru saja berakhir, dan berniat segera pulang.Ia menoleh dan mendapati Hania berdiri di dekatnya. Wajah mantan tunangannya itu terlihat sembab, matanya bengkak dengan sisa maskara yang luntur di sudut mata.Melihat kondisi Hania yang berantakan, rasa iba langsung muncul di dada Prana. Sebagai pria yang pernah mengenal wanita itu bertahun-tahun, Prana tetap menyayangi Hania. Tapi rasa sayang itu kini murni seperti rasa sayang seorang teman, bukan perasaan cinta romantis.“Di sini ramai, Han. Kalau mau bicara, di seberang saja,” jawab Prana lembut, menunjuk sebuah kafe kecil di seberang jalan rumah sakit yang menawarkan privasi lebih baik karena sepi pengunjung di jam-jam sibuk sore hari.Hania mengangguk cepat. Keduanya berjalan berdampingan dalam keheningan menuju kafe tersebut. Mereka memilih sudut paling pojok, dan memilih menu.Begitu pelayan yang m
Lutut Fadil menghantam lantai dengan keras. Pria itu menundukkan kepala sangat dalam, badannya bergetar, dan sedetik kemudian terdengar suara isakan. Fadil tampak menangis, menyesali perbuatannya dengan begitu meyakinkan di depan mertuanya.“Ayah, Ibu... saya mohon ampun,” ucap Fadil sesenggukan, a
Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin ca
“Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel







