공유

Bab 77

작가: QueenShe
last update 게시일: 2026-05-05 18:41:41

“Kamu masih bisa mundur sekarang,” bisik Prana serak dan rendah, “kalau tidak, aku gak akan melepaskanmu.”

Wajah Prana semakin mengikis jarak hingga Shanum bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulitnya. Prana memiringkan kepalanya sedikit, sebuah gestur predator yang sedang mengunci mangsanya. Sorot matanya yang biasanya tenang kini berubah menggelap, pekat, dan membakar.

Seluruh sensor di tubuh Shanum beradu—antara naluri untuk lari dan keinginan untuk menarik pria it
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
baru aja Tiara di nasehati supaya jgn trlalu menekan Shanum trus n' hra lbh kasi dukungan . eeh, blm apa2 udh nekan Shanum lg nii Tiara .
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 222

    “Mama udah di jalan diantar Hania, sebentar lagi sampai.”Pesan kedua dari Ralin—Mama Prana—muncul di layar ponsel membuat tubuh Prana langsung menegang. Tatapannya beralih dari layar ke Shanum yang tertidur pulas di pangkuannya.“Sial,” gerutunya dalam hati.Prana menutup mata sesaat. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan hari ini, kedatangan mendadak Mamanya adalah yang paling tak ia inginkan. Perlahan ia menggeser tubuh Shanum agar bersandar pada bantal sofa. Untungnya efek obat masih membuat wanita itu tidur nyenyak.Begitu memastikan Shanum tak terbangun, Prana segera menjauh beberapa langkah dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang memburu waktu. Dengan gerakan cepat namun berhati-hati agar suaranya tak menggema, ia mencari kontak Mamanya dan langsung menekan tombol panggil.Telepon diangkat hanya dalam hitungan detik.“Halo, Pran? Mama baru aja mau telepon kamu. Hania lagi parkir bentar.” Suara Ralin langsung menyambar begitu telepon diangkat.Prana mengembusk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 221

    “Kawin lari?” seru Shanum, matanya membelalak sempurna. “Maksud kamu apa, Mas?”Raut wajah Shanum berubah total. Rasa sedih yang tadinya menggelayuti matanya mendadak lenyap, berganti ekspresi kaget sekaligus bingung yang luar biasa. Ia menatap Prana seolah-olah pria di hadapannya ini baru saja kehilangan akal sehatnya akibat terlalu banyak bekerja.“Aku serius,” sahut Prana, matanya memancarkan kesungguhan. “Kita bisa pergi sekarang juga ke daerah yang sangat terpencil. Tempat yang susah sinyal ponsel. Kalau bisa kita cuma tinggal berdua.”Shanum mengernyitkan keningnya, menatap Prana aneh. “Mas, kamu gak baik-baik aja kan? Apa efek kurang tidur beberapa hari ini jagain aku terus?”Prana tak membalas candaan itu. Ia justru memajukan tubuhnya, menatap Shanum dengan tatapan yang benar-benar serius.“Aku gak bercanda, Shanum. Nanti di sana gak akan yang bisa ganggu kita. Kita bikin kehidupan baru yang benar-benar cuma buat kita berdua aja.”“Apaan sih, Mas?” Shanum akhirnya tak bisa men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 220

    “Jangan kamu buka, Num!” Larangan itu terdengar kencang dari arah pintu masuk apartemen.Tangan Shanum yang mulai bergerak untuk menyobek selotip yang merekat erat di pinggiran dus pemberian Topan langsung terhenti.Ia menoleh ke arah sumber suara, matanya membelalak terkejut melihat Prana sudah berdiri di sana. Napas pria itu sedikit memburu, seolah-olah baru saja berlari sepanjang koridor apartemen.“Lho… Mas?” Shanum mengerutkan kening heran.Hendra dan Tiara baru sekitar lima belas menit yang lalu meninggalkan apartemen setelah membantu Shanum merapikan semua keperluan dan barang-barangnya. Jadi Shanum tak menyangka Prana akan muncul secepat ini.“Kok udah pulang? Kata Tiara jadwal Mas padat banget hari ini?” tanya Shanum saat melihat Prana berjalan lebar menghampirinya.“Udah selesai semua,” jawab Prana pendek.Tatapannya langsung tertuju pada dus cokelat di atas meja. Tanpa membuang waktu, Prana perlahan mendekat. Ia meraih dus tersebut, mengangkatnya, dan memindahkannya ke atas

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 201

    “Kamu ini dokter di rumah sakit ini! Kamu malah cium Shanum di ruang rawat,” bisik Hendra menggerutu kesal dengan suara serendah mungkin. “Disini siapa pun bisa masuk!”Sahabat Prana itu terlihat gusar. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. “Kondisi Shanum masih belum pulih. Mukanya aja ma

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 200

    “Kenapa aku harus hamil sekarang…?”Meskipun terdengar lirih, penyesalan yang mendalam begitu kentara dari nada bicara Shanum. Prana seketika membeku. Ia menatap wajah wanita itu yang kian basah. Dadanya terasa seperti diremas kuat.Bukan binar kebahagiaan yang didapatkan Shanum setelah mendengar k

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 198

    “Aku di sini, sayang, buat lindungi kamu dan anak kita. Kamu harus kuat.” Bisikan itu terdengar begitu nyaring di telinga Shanum. Kata-kata itu berputar berulang kali, membangkitkan keinginan Shanum untuk bangun dari kegelapan.Detik berikutnya, seluruh tubuh Shanum langsung didera rasa sakit yang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 197

    Begitu mendapat telepon dari Hendra bahwa Fadil sudah ditangkap, Prana langsung menyusul ke kantor polisi tepat setelah menyelesaikan praktik sorenya di klinik. Matanya mengedar liar, menatap setiap ruangan bersekat mencari sosok yang ingin sekali ia hajar habis-habisan.“Mana bajingan itu?!” tanya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status