مشاركة

Bab 91

مؤلف: QueenShe
last update تاريخ النشر: 2026-05-10 09:26:14

“Jadwal praktekku udah selesai. Sekarang aku di klinik, mau pulang. Jarak dari klinik kesana cuma lima menit. Aku jemput kesana ya,” seru Prana dari seberang telepon.

Mata Shanum membelalak. “Jangan, Mas! Gila ya? Di sini ada Ibu, ada Tiara, dan Ayah baru saja memperingatku soal kamu. Kalau mereka lihat kamu datang ke sini malam-malam—”

“Aku gak peduli, Sayang,” potong Prana cepat. “Malah aku khawatir kalau kamu pulang ke rumah Fadil sendiri malam ini.”

“Tapi jemput aku kesini, bukan solusi. It
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 98

    Fadil mulai memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari gerbang rumah Dokter Bobby. Matanya sesekali melirik spion, memastikan sosok mertuanya sudah hilang dari pandangan sebelum ia melepaskan topeng keramahannya.“Jadi apa yang ibumu bahas tadi?” tanya Fadil curiga.Shanum tetap bungkam. Ia merapatkan hoodie kremnya, menarik talinya lebih kencang hingga dagunya tersembunyi sempurna.Ia menggigit bibirnya menahan rasa sesak mengingat ucapan ibunya yang masih terngiang jelas di telinga. “Mungkin ada yang kurang dari caramu melayani dia.”“Makin kemari kamu banyak tingkah ya? Bukannya jawab, malah pura-pura gak dengar,” desak Fadil lagi, suaranya mulai meninggi, kehilangan kesabaran yang tadi ia pamerkan di depan Ani.“Ibu cuma minta aku lebih baik ngurus kamu,” jawab Shanum datar. Matanya menatap kosong ke arah jalanan di depannya.Fadil mendengus, tawa remeh keluar dari sela bibirnya. “Oh itu… Ibumu memang benar. Akhir-akhir ini kamu emang banyak tingkah,” gerutu Fadil sambil memutar k

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 97

    “Bagus ya! Menginap di sini tanpa izin suami, terus handphonenya sengaja dimatikan!” gertak Fadil di teras rumah orang tua Shanum tanpa memperdulikan keberadaan mertuanya.Shanum menunduk. “Ponselku mati habis baterai, Mas. Aku ketiduran di kamar tamu, gak sempet cek handphone.”“Ketiduran? Sampai lupa suami baru pulang dari Jepang, bela-belain jemput ayahmu, terus istrinya ketiduran?!” bentak Fadil lagi.“Iya, maaf,” jawab Shanum benar-benar sudah malas menanggapi Fadil.“Ayo pulang! Jangan buang-buang waktu lagi di sini!” Fadil berseru dengan nada yang tak terbantahkan.Tanpa menunggu jawaban, pria itu berputar arah dan berjalan lebar-lebar menuju mobil yang terparkir di depan pagar, meninggalkan Shanum yang berdiri terpaku di teras.Shanum menghela napas panjang, merapatkan tudung hoodie krem yang masih melekat di kepalanya. Ia memastikan tali tudung itu terikat cukup kuat untuk menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya. Dengan langkah berat, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 96

    “Bangun, Sayang.”Prana tak menggunakan guncangan kasar atau teriakan untuk membangunkan wanita di sampingnya. Ia hanya mengusap pipi Shanum dengan punggung jarinya—sebuah sentuhan yang ternyata jauh lebih efektif daripada bunyi alarm mana pun.Sinar lampu tidur yang masih menyala membuat pandangannya sedikit kabur. Perlahan-lahan wajah Prana yang berada tepat di hadapannya menjadi fokus pertama yang ia tangkap. Pria itu sudah rapi .“Mas, jam berapa sekarang?” tanya Shanum lirih serak khas orang bangun tidur. Sejenak ia melupakan kemelut yang terjadi kemarin.Prana tak langsung menjawab. Ia justru menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi kening Shanum ke belakang telinga. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat wajah bangun tidur Shanum yang terlihat polos.“Hampir jam empat pagi. Sudah waktunya kita pulang,” bisik Prana.Shanum langsung terduduk tegak di atas ranjang. Kantuk yang tadinya menyerang hebat luntur seketika. Jantungnya berdegup kencang, teringat rencana mere

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 95

    “Kenapa belum tidur?” tanya Prana melihat Shanum yang masih membuka mata sayunya dalam pelukannya, lalu menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu Shanum yang terbuka.Shanum menggeser posisinya, mendongak menatap wajah Prana. Ia menemukan pria itu juga masih terjaga. Sambil menghela napas panjang, jemarinya bergerak menelusuri garis rahang Prana yang tegas.“Sebenarnya aku cuma takut kalau aku tidur, pas bangun nanti semua ini ternyata mimpiku saja. Aku takut bangun di kamar itu, disamping Fadil.”Prana menangkap tangan Shanum, mengecup telapak tangannya dengan lembut. “Ini nyata, Sayang. Kamu di sini, bersamaku. Aku gak akan pernah membiarkan mimpi buruk itu menarikmu kembali.”Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar detak jam dinding yang teratur. Prana kemudian memiringkan tubuhnya, menatap Shanum dengan rasa ingin tahu yang mulai muncul.“Ngomong-ngomong, bagaimana tadi kamu bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan Ibumu atau Dokter Bobby? Aku tadi sudah menyiap

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 94

    “Ada apa lagi? Mandi udah, ngobrol udah. Kenapa berhenti lagi?” tanya Shanum tak sabaran. Ia telah mencapai titik ingin meledak, tapi Prana terus menerus menjedanyaPrana menggeleng pelan, senyum tersungging di bibirnya yang basah.“Aku berubah pikiran.” Prana menjeda ucapannya sejenak, membuat Shanum sedikit merasa berprasangka buruk. “Aku gak mau memulai momen kita di atas meja dapur. Kamu harus merasa apartemen ini adalah tempat ternyaman buat kamu.”Tanpa memberikan kesempatan bagi Shanum untuk memprotes, Prana menggendong Shanum. Ia mengangkat tubuh wanita itu dengan satu gerakan mantap. Shanum refleks mengalungkan lengannya di leher Prana, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di ceruk leher pria.“Aku pikir, Mas berubah pikiran mau nganterin aku pulang,” bisiknya.Prana melangkah tegas melewati ruang tengah. Ia sengaja mengabaikan tas Shanum yang tergeletak di sofa, mengabaikan getaran ponsel yang mungkin masih menuntut di dalamnya. Dunia di luar pintu apartemen itu sudah m

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 93

    “Tiara belum bicara sama Fadil apa belum ya?” bisik Shanum cemas, duduk di ruang tengah sendiri.Ponsel di dalam tas Shanum menjerit tanpa henti. Getarannya terasa hingga ke permukaan sofa, menciptakan bunyi dengung yang sangat mengganggu keheningan apartemen. Nama Fadil berkedip di sana, bagai teror yang menolak mati.Prana tengah mandi, jadi Shanum tak memiliki panik seorang diri. Keringat dingin mengucur deras di punggung Shanum. Ia meremas jemarinya sendiri, membayangkan kemarahan Fadil jika pria itu tahu dirinya berbohong.Segera ia meraih ponsel, jemarinya lincah mengetik pesan singkat untuk adiknya. “Ra, Mas Fadil telepon terus. Kamu udah bilang ke dia kan kalau Mbak menginap?”Tak ada balasan. Centang satu. Shanum melirik jam di sudut layar, setengah satu malam. Tiara mungkin sudah terlelap.“Gimana kalau Mas Fadil ke rumah?” Shanum memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening.Ketakutan mulai merayap, membayangkan Fadil nekat mendatangi rumah orang tuanya dan membuat keribu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 11

    Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 10

    “Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 13

    Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 12

    Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status