LOGIN18+ Dalam rumah tangga mereka, cinta saja rasanya tidak cukup. Keikhlasan harus mereka tumpahkan dalam cinta yang bertaut tak hanya pada satu hati. Bagaimana jika harus bersuami sama dengan kadar cinta yang tidak diketahui? Adakah rasa cemburu, sedang kehidupan cinta itu tampak baik-baik saja? Kisah cinta tak biasa. Antara Rendra, Kresna, Tessa, Kanti, dan Wanda. Satu laki-laki dengan empat istri. Adakah rahasia di balik harmonis kisah mereka? Follow me on: • Facebook: Kim Sumi Ryn • IG: @sumi_ryani9 Happy reading ️
View More~RAELIYA~
I clenched my jaw as a slap landed on my cheek for the fourth time. “You're so useless. You can't seem to do anything right. I asked for Amber ale, not moonpetal tea. Get it right!” Jasmine screamed in my face before pouring the cup of hot coffee on my head. I grimaced slightly as I bit down on my lower lip to stop myself from screaming out in pain. “Relax, how can you expect a wolfless being like her to be anything but useless?” Another voice sounded in front of me. It was Valerie. They all laughed while I stood there, unable to say anything because if I did, I'd only get punished for it. I couldn't remember a day where I wasn't humiliated or insulted since I was brought into this pack. I couldn't remember anything about my past or my parents. This Pack was my home… At least it was supposed, but it rarely felt like it. The only person who made it feel like home was Chase, the Alpha's son, but that was only when it was convenient for him. I lifted my eyes slightly, and it connected with his for a brief second before he looked away, laughing away to an insult Valerie had hauled at me. That's what I meant by when it was convenient to Him. He laughed along with my bullies and never once stood up for me. In public, I was nothing but a runt to everyone, including him, but in private… “Mess it up again and I'll make sure you don't get to eat for a whole fucking week” Jasmine warned before she forced the cup into my hand and walked over to Chase who received her with open arms and a kiss. My heart ached, and my lips quivered as I listened to them make out, but I didn't dare make a sound. “What are you waiting for? Get out!” Valerie uttered, and I didn't bother glancing back at Chase before making my way out of the room. I tried my best not to think too much of it, but the sound of them kissing echoed in my ear. I shook the thought away and made the coffee, and luckily, Jasmine didn't cause a scene when I gave it to her. She was probably bored of making my life miserable and just decided to let me go. As soon as I was dismissed again, I was thrown into more work. It was almost like all the pack work was left for me, and since I couldn't fight back, I just sighed and did it all. By the time I was done, my whole body ached while my stomach grumbled from hunger. I walked over to the kitchen, hoping to find some kind of food of at least a few leftovers, but there was nothing. So once again, I was going to bed hungry. I gripped onto the kitchen counter as tears rolled down my cheeks. “I'm so hungry” I murmured to myself, but truthfully, I was just tired of living this life, but it was all I knew. I didn't know how long I just stood there till I felt a familiar hand on my waist. “Are you okay?” I frowned at the sound of his voice. Instead of replying, I grabbed onto his hand and tried pulling it away, but he was stronger than me, not to talk of the fact that I haven't eaten anything. “What do you want from me, Chase?” I asked softly without turning to him. “Are you mad at me?” He asked softly, and I sighed. “It doesn't matter, does it?” I questioned with tiredness laced in my voice. He gently spun me around, and as soon as I saw his face, I could immediately feel all the anger slipping away from me. He also had this effect on me just by staring at me with those ocean blue eyes. “Don't be mad at me. You know I care about you” He murmured as he caressed my face. “Your actions say otherwise” I replied, and he sighed. “I brought you food. I know you haven't eaten all day” He uttered, and only then did I notice the tray of food on the kitchen counter. “See? I care about you. Eat up, i know you're starving” He uttered, and I sighed, giving in instantly. The thing was I knew the relationship Chase and I had was toxic, but he was all I had. He was the only one who cared about me. If I lashed out and questioned him blatantly on his behaviour, I was afraid I would push him away, and what then? I'll be all alone. I couldn't even blame him for being ashamed of associating with me in public. If I wasn't such a useless being, he wouldn't be so ashamed of me. Maybe if I wasn't a runt, he wouldn't be ashamed of our mate bond and wouldn't ignore it like he did. Chase and I weren't always friends. He hated me just like the rest at first but then one day, he just spoke to me and I don't know why but I treasured that moment A lot because that was when I made my first friend. A few weeks ago, after I turned 18, we discovered we were mates, and I had thought things would change between us, and although he became a little more touchy, nothing really changed. “Do you want me to feed you?” He asked, and I smiled slightly, then nodded, and he grinned before slowly feeding me. As he fed me, we laughed and talked like this morning didn't happen. This was my routine with Chase. He ignored me by day and became a totally different person at night. I just needed to keep pushing. Maybe one day, he wouldn't be able to ignore the mate bond and finally love me. “Guess what? Sophia is coming back tomorrow, and I'm not losing her again. You have to help me win her back. I have to make her my wife”..."Mas, aku capek kayak gini terus!" Tessa mengeluhkan perasaannya yang sudah lama dipendam. Sejak kejadian Rendra yang mencurigakan, semakin banyak kejadian-kejadian aneh yang menurut Tessa tidak wajar. Lelaki itu sering pulang telat, kalau pulang kadang marah-marah. Sering pergi dengan alasan keluar kota. Dua tahun berlalu sejak Rendra mengumumkan istrinya sekarang hanya satu, yaitu Tessa. Namun, bagi Tessa lelaki itu tetap seperti memiliki lebih dari satu istri. Dia tidak punya banyak waktu untuk Tessa. "Mas!" Tessa menghentakkan kaki, menghampiri suaminya yang sedang memakai dasi. "Mas dengerin aku enggak sih?!" "Hm." Rendra tetap fokus memakai dasi. "Mas kenapa sih enggak mau dengerin aku?! Aku bilang ini itu, Mas cuma jawab iya-iya aja, tapi kok Mas enggak melakukan yang aku bilang." "Mas harus apa?" Rendra tampak sedikit geram. Entahlah, suaminya itu kini lebih sering tampak masam, tidak seperti dulu. "Mas ke mana aja? Kenapa sekarang baru pulang? Satu bulan lebih lho, Ma
"Selamat pagi, Mbak." Senyum manis terbit dari laki-laki berparas tampan. Bukan membalas senyuman Oni, Tessa malah memutar bola mata, menunjukkan sikap yang benar-benar berbeda dari biasanya. "Bapak menyuruh saya untuk mengantar Mbak, katanya Mbak mau ke pasar pagi ini," tutur Oni lembut tanpa sedikitpun curiga dengan sikap Tessa. Belum Tessa menjawab, Rendra yang tiba-tiba keluar dari rumah langsung menimpali. "Iya, Sayang. Mas khawatir kalau kamu belanja sendirian. Biar Oni yang mengantar kamu." Rendra menyentuh bahu Tessa. Perempuan itu menoleh dengan alis bertaut. "Kenapa harus Oni? Kan ada sopir lain?" "Kang Dodi lagi cuti, biar Mas nyetir sendiri, yang penting kamu ada yang nemenin." Tessa diam, dan raut wajahnya yang diamati Rendra, membuat laki-laki itu kebingungan. "Kamu kenapa, Sayang? Lagi berantem sama Oni?" tanya Rendra lembut. "Enggak." Tessa menghela napas. Rasanya gagal untuk dia bisa menjauhi asisten pribadi suaminya itu. "Ya udah." Rendra mengalihkan tatap
Tessa terus tertawa merasakan geli di pinggang karena sang suami yang terus menyentuh area tersebut dengan gelitikan. Sementara Rendra terus melakukan itu tanpa mempedulikan Tessa yang meminta berhenti. Untuk malam pertama mereka, keduanya menginap di hotel tempat mereka mengadakan resepsi. "Mas, udah stop!" pinta Tessa yang tidak diindahkan oleh Rendra. "Enggak," sahut Rendra manja lalu memeluk Tessa, kembali mencubit pinggang sang istri. "Ih, Mas geli." Tessa mau beranjak dari ranjang kalau saja Rendra tidak kembali memeluknya. "Mas ih," seru Tessa kemudian kembali merasakan kegelian karena tingkah Rendra. Dia kembali tertawa kecil. "Kayak belut deh kamu, enggak mau diem," kata Rendra menjawil pipi Tessa. "Abis Masnya enggak mau diem, kan geli." Tessa jadi waspada dengan tangan Rendra yang sudah bersiap mencubitnya lalu. "Hayo-hayo, mau ke mana?" "Mas!" Tessa berusaha mengeluarkan tubuhnya dari kukungan Rendra. "Apa, Sayang?" Rendra melukis senyum lalu mengecup lembut dahi T
Oni masih terdiam di balik kemudi. Dia mendapatkan kepercayaan Rendra untuk menjaga sesuatu yang hatinya tidak ingin melakukan itu. Ini tentang perempuan yang dia cintai, namun tidak bisa dia jaga. Laki-laki bermata kecil itu menghembuskan napas lelah. Kenapa bisa seperti ini? Tessa yang seharusnya terluka bukan Oni. "Ayo kita berangkat!" Rendra masuk mobil. "Baik, Pak." Oni manut dan sampai beberapa menit mobil melaju, hatinya masih tidak nyaman mengingat rahasia yang sedang dia simpan bersama dengan sang majikan. "Iya-iya, Sayang. Ini Mas lagi di perjalanan kok." "Iya, Mas langsung ke butiknya." Suara majikannya membuat Oni kembali menghembuskan napas lelah. Bagaimana ini? Rasanya Oni tidak mungkin mengatakan semua rahasia ini pada Tessa. Bisa hilang perkerjaannya. Laki-laki itu ingin mengutuk diri sendiri. Ini masalah majikannya, kenapa harus Oni yang merasakan pusing? Tessa? Siapa Tessa? Perempuan itu adalah istri majikannya. Oni tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga
"Ngapain Tessa ke sini?" Rendra melangkah masuk rumah. Beberapa saat sebelumnya, ia telah mendapat salim dari Tessa. Hanya senyum kecil, lalu setelahnya istri ke empatnya itu segera pamit pulang.Kresna menutup pintu perlahan, lalu mengikuti langkah Rendra masuk rumah. "Dia m
Hentakan kaki terdengar setelah suara pintu dibuka. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, rumah Kresna memang sudah sepi.Dua pembantunya sudah tidur. Ya, secara otomatis mampu membuat suara hentakan kaki Tessa cetar membahana di ruang makan. Cewek berambut hita
"Popok?" Rendra sontak duduk tegak dengan membuat mata kecilnya melotot. "Popok kamu abis?" "Mas!" Rendra mengaduh mendapatkan pukulan dari Tessa. Meski pake bantal, tapi dia kaget beuh dapat pukulan tiba-tiba. "B
"Mas mau minum apa?" Tessa berjalan ke arah dapur.Kini, setelah menyebrangi jalan dari rumah Kresna, Rendra dan Tessa sudah berada di rumah. Ya, ini rumah Tessa yang berseberangan dengan rumah Kresna.Rendra memang memberikan masing-masing satu rumah unt












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews