Share

BAB 81

Penulis: Rainina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-07 19:54:21

Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.

Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucian, mempertahankan kewarasannya.

"Diam..." geram Lucian rendah.

"Berhentilah melawannya Lucian." Alexandria mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Lucian.

"KUBILANG DIAM!"

Dengan sisa tenaga terakh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 82

    "....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma alami Sienna yang kini menjadi satu-satunya pegangan kewarasannya di tengah badai hasrat yang menyerangnya saat ini."Menurutmu..." bisik Lucian dengan suara serak. "kenapa aku membawamu kemari, Sienna? Kenapa aku membawamu ke kastilku?"Sienna terdiam dalam dekapan itu. Mencoba mencerna pertanyaan itu dengan logika yang ia yakini selama ini."Maksud... maksud saya..." Sienna tergagap. "Anda membeli saya dari ayah saya dengan sekantong penuh emas. Dan sebagai Duke, Anda diperbolehkan memiliki seorang 'selir' atau budak untuk menghangatkan tempat tidur. Saya pikir..."Lucian menundukkan kepalanya, menatap Sienna dengan tatapan terluka yang bercampur dengan kabut nafsu."Apa... hhh..." Lucian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 81

    Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucian, mempertahankan kewarasannya."Diam..." geram Lucian rendah."Berhentilah melawannya Lucian." Alexandria mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Lucian."KUBILANG DIAM!"Dengan sisa tenaga terakhir yang dikumpulkan dari amarahnya, Lucian mencengkram bahu Alexandria.BYUR!Lucian mendorong tubuh Alexandria sekuat tenaga. Wanita itu terlempar ke belakang, menghantam air dengan keras hingga kepalanya membentur sisi bak mandi marmer."Argh!" pekik Alexandria kesakitan.Lucian menyeret tubuhnya sendiri keluar dari bak mandi. Tangannya menarik jubah mandi dan menghampirkannya secara asal, pria itu berusaha mencari pegangan agar tetap berdiri..Ia harus mengejar Sienna. Sekarang.="Nona Sienn

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 80

    Sementara itu, di balik pintu penghubung antara kamar tidur Lucian dan kamar Lucian, Sienna berdiri dengan gelisah. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. Itu adalah ramuan penawar standar yang baru saja ia racik ulang dengan panik.Ia begitu yakin pasti ada yang salah dengan ramuan yang diminum Lucian sebelumnya. Tidak mungkin Duke yang dingin dan berwibawa itu tiba-tiba berbicara manis dan melantur tentang kepercayaan akan nyawanya jika bukan karena efek samping ramuan yang berlebihan. Ia harus memberikan penawarnya sebelum Lucian mulai berhalusinasi lebih parah dan mengatakan hal aneh di hadapan para ksatria Duchy."Masuklah jika Anda ingin masuk, Nona." suara Marta mengejutkan Sienna.Sienna menoleh cepat dengan mata membulat. "Bagaimana kalau Tuan Duke marah padaku? Aku sudah memberinya ramuan aneh tadi...""Tidak akan." potong Marta dengan senyum yang hangat. "Tuan Duke sangat peduli pada Anda. Beliau tidak akan marah hanya karena hal ke

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 79

    "Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya berkilat di kegelapan. Gaun sutra tipisnya yang dibalut jubah tebal terasa tidak pada tempatnya di lorong berdebu dan berbau apek ini."Diam dan jalan terus.” desis Alexandria. "Kau kira kau punya hak untuk memberi pendapat?"Ucapan Alexandria Itu cukup untuk membuat sang pelayan bungkam. Mereka terus menyusuri lorong rahasia itu, jalur yang sang pelayan pelajari saat Lucian masih di medan perang atas izin Duchess sendiri.Jalur ini menghubungkan area pelayan langsung ke kamar pribadi Duke, jalur yang tidak dijaga oleh Ksatria Duchy.Alexandria meraba saku jubahnya. Botol parfum itu sudah ia buka sedikit, membiarkan aromanya menempel di kulit leher dan pergelangan tangannya. Wanginya manis, b

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 78

    Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak. Ia mengamati reaksi Sienna yang terlihat begitu kesal dengan perkataannya. Ia lalu melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka."Kau harusnya senang mendengarnya, Sienna." ucap Lucian lembut, namun ada nada iseng dalam suaranya. "Itu artinya aku mempercayaimu melebihi nyawaku sendiri. Tidak ada orang lain di dunia ini yang memiliki hak istimewa itu selain kau."Wajah Sienna semakin jelas memperlihatkan bagaimana ia memandang pria itu dengan tatapan aneh."....bagaimana saya bisa senang kalau Anda mati..." bisik Sienna."Kalau Anda tiba-tiba jatuh dan mulut Anda berbusa, Marta dan ksatria anda pasti akan menguliti saya hidup-hidup." gerutu Sienna. "Mereka akan bilang, 'Nona Sienna, tu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 77

    "Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan alis terangkat penasaran."Tuan Duke..." Sienna buru-buru meletakkan peralatan racikannya. "Saya tidak mendengar Anda membuka pintu."Lucian melangkah masuk dan berhenti tepat di samping meja tempat Sienna bekerja, menatap puluhan botol kecil, akar-akaran kering, dan mangkuk penumbuk yang berserakan."Aku menyuruhmu istirahat total, Sienna." tegur Lucian pelan, namun nadanya tidak benar-benar marah. Hanya kekhawatiran yang terlihat di sana. "Dan kau malah merubah kamarmu menjadi laboratorium.""Saya sudah istirahat dengan cukup." bantah Sienna cepat. Wajahnya yang masih sedikit pucat tampak lebih hidup karena antusiasme. Mata birunya berbinar cerah, sesuatu yang jarang Lucian lihat beberapa h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status