MasukDi dalam kamar khusus dayang yang sunyi, udara terasa luar biasa mencekik.Lady Elizabeth berjalan mondar-mandir di atas karpet tebalnya dengan napas memburu dan jemari yang saling meremas kuat. Gaun sutranya bergemerisik setiap kali ia memutar langkah. Kepanikan yang sejak pagi ia tekan mati-matian kini meledak dan menguasai seluruh akal sehatnya.Ia benar-benar ketakutan.Situasinya telah berbalik menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan. Alice ditahan di ruang interogasi bawah tanah. dikurung atas kejahatan yang tidak ia lakukan. Lalu pagi ini, dengan mata kepalanya sendiri, Elizabeth melihat wajah pucat Lesley saat membaca surat, disusul dengan pelarian gadis licik itu kembali ke County dengan alasan yang Elizabeth yakini sepenuhnya sebagai kebohongan.Dan sekarang... hanya tersisa dirinya. Ia sendirian di sarang singa, terjebak bersama rahasia gelap tentang wadah perangsang yang pernah mampir di lacinya."Tenanglah, Elizabeth. Berjalan mondar-mandir seperti itu tidak akan men
Di sisi lain istana, pelataran yang luas tampak sibuk oleh persiapan keberangkatan.Angin berhembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang menyengat kulit, namun keringat dingin tetap membasahi punggung Lady Lesley.Dengan barang bawaan yang dikemas seadanya dan terburu-buru, Lesley berdiri di dekat kereta kuda berlambang keluarganya. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak wajar. Meski ia telah mengantongi izin dari Permaisuri Sienna rasa paranoid tetap merayap di benaknya.Sebagai putri bangsawan yang telah mempelajari intrik sejak kecil, Lesley tahu bahwa keluar dari gerbang istana hidup-hidup setelah melakukan percobaan makar adalah sebuah keajaiban yang hampir mustahil.Ia bahkan sempat mengira akan ditahan sejenak karena Lesley sama sekali belum mendengar akhir dari nasib Lady Alice.Sambil meremas ujung mantelnya, sepasang mata Lesley bergerak liar, memindai satu per satu orang yang ada di sekitarnya. Ia menatap tajam ke arah kusir yang sedang menenangkan kuda, pel
Kata-kata kejam yang meluncur dari bibir Ibu Suri ibarat belati tak kasat mata yang menghujam telak ulu hati Sienna. Napas sang Permaisuri tertahan sejenak. Di balik gaun birunya, kedua tangan Sienna mencengkeram erat lipatan kain sutra tersebut, berusaha menyalurkan rasa sakit dan penghinaan yang baru saja ia terima.Ia adalah Permaisuri kekaisaran ini. Ia tidak boleh terlihat hancur, apalagi di hadapan wanita yang dengan terang-terangan ingin menyingkirkannya.Sienna menelan kepahitan itu, memaksa bahunya untuk tetap tegak dan mengangkat dagunya. Ia menatap lurus ke dalam mata ibu mertuanya dengan ketenangan yang luar biasa."Aku mengerti kekhawatiran Anda terhadap masa depan kekaisaran, Yang Mulia," balas Sienna, suaranya diusahakan tetap stabil dan tidak bergetar."Tapi... pada akhirnya aku telah berubah pikiran mengenai kehadiran seorang selir di istana ini. Tetapi, satu hal yang pasti, jika pada akhirnya tetap akan ada selir, keputusan itu harus murni berasal dari Yang Mulia Ka
Lady Lesley menghembuskan napas lega yang luar biasa panjang begitu kalimat persetujuan itu keluar dari bibir Permaisuri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggumamkan rentetan ucapan terima kasih dengan suara bergetar yang sengaja dibuat memelas, sebelum akhirnya buru-buru memutar tubuhnya.Gadis itu nyaris setengah berlari saat mendekati pintu ganda berukir emas tersebut. Tangannya dengan tergesa menarik pintu, berniat untuk segera menghilang dari istana dan menemui orang itu.Namun, begitu pintu kayu itu terbuka lebar, langkah Lesley seketika terhenti mendadak. Di sana telah berdiri Beatrice yang ditemani oleh beberapa pelayannya.Kepanikan kembali menyapu wajah Lesley. Ia segera menyingkir ke tepi lorong dan memberikan salam."S-salam, Yang Mulia Ibu Suri. Semoga keagungan selalu menyertai Anda." sapa Lesley.Ibu Suri Beatrice hanya menatap gadis kikuk itu dengan ujung matanya. Pandangannya sarat akan penghinaan dan ketidaksukaan melihat tingkah laku yang dianggapnya tidak
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela di sayap khusus dayang, namun cahaya itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang mencekam di dalam ruang minum teh.Lady Elizabeth duduk diam di salah satu kursi, matanya tertuju pada cangkir tehnya yang mengepul pelan. Di seberang meja, Lady Lesley tampak tidak tenang. Gadis itu sedari tadi terus mengubah posisi duduknya, matanya sering kali melirik ke arah pintu dengan gelisah. Ketidakhadiran Alice membuat suasana di antara mereka berdua terasa luar biasa canggung dan sarat akan kecurigaan yang tak terucapkan.Keheningan itu akhirnya pecah ketika seorang pelayan istana melangkah masuk, menunduk hormat, dan menyodorkan sebuah nampan perak berisi sepucuk surat bersegel lilin merah."Surat dari kediaman Count, Lady Lesley." lapor pelayan itu sebelum kembali undur diri.Lesley segera meraih surat itu. Tangannya terlihat sedikit terburu-buru saat ia mematahkan segel lilin dan membuka lipatan kertas perkamen tersebut.Elizabeth, y
Interogasi itu berjalan tanpa ampun hingga keesokan paginya.Waktu seolah berhenti di ruang bawah tanah tersebut. Lady Alice tidak diberi makan, bahkan tidak setetes air pun menyentuh tenggorokannya yang mengering. Tubuh mungilnya yang terbiasa dengan kemewahan dan kenyamanan kini nyaris mencapai batasnya. Matanya membengkak parah karena semalaman menangis, dan bibirnya pecah-pecah serta pucat pasi.Gadis itu nyaris tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya. Kepalanya terkulai lemah, napasnya terdengar pendek dan terengah. Namun, setiap kali Damien kembali menekannya dengan ancaman, Alice hanya bisa menggumamkan kalimat yang sama dengan putus-putus."Aku... tidak bersalah... aku tidak... melakukan apa-apa..." racaunya dengan suara yang semakin terdengar seperti bisikan, diiringi sisa-sisa air mata yang sudah mengering di pipinya.Damien berdiri bersedekap, menatap gadis itu dengan pandangan menganalisis. Ajudan sang Kaisar itu mulai menyadari bahwa menyiksa gadis ini lebih jauh mu
Sisa perjalanan menuju Ibu Kota berhasil dilewati dengan jauh lebih tenang. Berkat ramuan herbal rutin yang diberikan oleh Tabib yang ketakutan, rasa mual Sienna berangsur hilang. Rona merah perlahan kembali ke wajahnya.Ketika gerbang megah Ibu Kota mulai terlihat menjulang di kejauhan, Sienna tid
Undangan pertama untuk Lucian datang pagi-pagi sekali, itu adalah surat bersampul emas dari Count Levis, ayah Lady Clarissa, wanita yang mereka temui di butik kemarin.Isinya sangat sopan namun transparan, undangan eksk
"Apa kau sudah memutuskan ingin yang mana?"Suara bariton Lucian menyentak Sienna dari lamunannya. Gadis itu berdiri dengan kening berkerut di hadapan deretan gaun yang tergantung rapi di rak berlapis emas, gaun-gaun ya
Malam itu, di dalam kamar utama yang hangat oleh perapian, Sienna makan dengan lahap.Ia menusuk potongan daging domba panggang dengan garpu, lalu menyuapnya lagi tanpa jeda. Rasanya begitu lezat. Ia bahkan tidak menyadari bahwa piringnya sudah hampir kosong dalam waktu singkat. Sepertinya, ramuan







