MasukUndangan pertama untuk Lucian datang pagi-pagi sekali, itu adalah surat bersampul emas dari Count Levis, ayah Lady Clarissa, wanita yang mereka temui di butik kemarin.
Isinya sangat sopan namun transparan, undangan eksklusif bagi Duke Lorraine untuk menghadiri pesta dansa di mansion mereka bulan depan.
Belum sempat Lucian membalas, surat kedua datang. Kali ini dari Marqu
Perjalanan kereta kuda dari istana menuju Mansion Mountford di ibu kota terasa begitu cepat bagi Alice. Sepanjang perjalanan, ia hanya duduk diam memandangi ujung gaunnya, sementara Caesar yang duduk di seberangnya tidak banyak bicara, membiarkan dayang sang Permaisuri itu menenangkan gemuruh gugup di dadanya.Begitu kereta berhenti dan pintu dibuka, Alice refleks menahan napas.Mansion keluarga Mountford yang berdiri menjulang di hadapannya jauh lebih megah dan besar dari yang ia bayangkan. Sebagai seorang putri kandung dari Viscount Berkeley, Alice tentu saja tumbuh dan terbiasa dengan kehidupan serta tata krama kelas bangsawan. Namun, kemegahan kediaman keluarganya di wilayah Berkeley benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan milik keluarga Duchy Mountford. Pilar-pilar marmer putih menyangga bangunan utama, dikelilingi oleh taman luas yang dirawat dengan begitu telaten.Di sepanjang undakan tangga utama, puluhan pekerja dan pelayan berseragam rapi telah berb
"Pindah... hari ini?" ulang Alice, matanya membulat kaget.Gadis itu menundukkan pandangannya, jari-jarinya bertaut erat di depan gaunnya dan mulai dimainkan dengan canggung serta gelisah. Perintah mendadak itu benar-benar menghancurkan sisa pertahanan mentalnya.Jujur saja, Alice masih belum siap menghadapi pernikahan ini. Walaupun ia tahu betul bahwa secara logika ikatan ini sangat menguntungkannya, teror menjadi seorang Nyonya Mountford masih sangat menghantuinya. Ia mengira ia masih memiliki sisa waktu satu minggu penuh untuk bernapas lega dan mempersiapkan mentalnya di dalam lingkungan istana yang familiar.Alice menggigit bibir bawahnya, mencoba mencari jalan keluar untuk menunda kepindahannya."L-Lord Caesar, tapi..." Alice memberanikan diri menatap mata pria itu, suaranya terdengar ragu. "Setelah insiden ledakan mengerikan yang baru saja terjadi, Yang Mulia Permaisuri masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Beliau baru saja melewati masa kritis. Sebagai pelayan prib
Di kamar utama, Sienna sedang duduk bersama Alice dan Elizabeth ketika pintu diketuk.. Seorang pelayan istana melangkah masuk, melipat tangannya di depan perut, dan menunduk hormat dengan sangat sopan."Ampuni kelancangan saya mengganggu waktu istirahat Anda, Yang Mulia Permaisuri," ucap pelayan itu. "Namun, ada seorang tamu yang datang berkunjung."Sienna menoleh dengan kening berkerut. "Tamu?"Pelayan itu perlahan beralih menatap Alice. "Tamu tersebut secara spesifik mencari Anda, Lady Alice. Lord Caesar dari Duchy Mountford saat ini sedang menunggu Anda di ruang tamu utama paviliun."Mendengar nama itu disebut, jantung Alice seketika berdegup satu ketukan lebih cepat.Sejak pengumuman pernikahan mereka, hubungan antara Alice dan Caesar dipenuhi oleh kecanggungan yang luar biasa tebal. Terlebih lagi, pria itu langsung pergi meninggalkan ibu kota di hari yang sama saat pertunangan mereka diresmikan, membuat mereka tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan layak.Sienna, yang menya
Keheningan yang mencekam menguasai lorong-lorong gelap Mansion Duchy Mountford malam itu. Para pelayan dan penjaga menahan napas, menundukkan kepala mereka dalam-dalam ke arah lantai saat sebuah eksistensi yang mengerikan melangkah melewati mereka.Suara derap langkah kaki berbalut zirah baja terdengar menggema, memecah kesunyian yang membeku.Caesar berjalan menembus bayangan. Zirah peraknya yang biasanya mengkilap kini tertutup oleh noda darah pekat yang telah mengering dan debu peperangan. Sang Tuan muda Duchy Mounford itu telah menghilang dari peredaran selama dua minggu penuh. Tepat sejak hari di mana pernikahannya dengan Alice diumumkan kepada publik, ayahnya dengan sengaja mengirimnya ke sebuah wilayah perbatasan yang paling mematikan, sebuah misi pemberantasan yang tak lebih dari sebuah hukuman mati terselubung.Langkah berat itu berhenti tepat di depan ruang kerja utama sang Duke. Tanpa repot-repot mengetuk, Caesar menendang pintu ganda dari kayu ek itu dengan kasar hingga
Alexander perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur dan kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang luar biasa tajam dan membakar langsung menyengat rongga mulutnya, memaksanya untuk meringis tertahan. Tabib istana telah menjahit lidahnya yang nyaris putus dan menghentikan pendarahannya, namun rasa sakitnya sama sekali tidak berkurang.Mantan penguasa Eldoria itu mencoba mengangkat kepalanya. Ia tidak lagi dirantai dalam posisi berlutut, melainkan dibiarkan terbaring di atas tumpukan jerami yang dingin di sudut sel.Saat pandangannya mulai menjernih, Alexander menyadari bahwa ia tidak sendirian.Di balik jeruji besi selnya yang tebal, diterangi oleh cahaya obor yang meremang, berdiri dua sosok yang menatapnya dalam diam. Lucian berdiri dengan postur tegap dan mengancam, sebelah lengannya melingkar posesif di bahu Sienna, menjaganya agar tetap berada pada jarak yang aman dari jeruji.Sienna menatap pria yang terpuruk di dalam sel itu. Tidak ada lagi ketakutan di mata sang Permaisur
Mendengar kebenaran yang baru saja diucapkan sang Viscount, Alexander seketika merasa seluruh tenaganya terkuras habis.Tubuhnya merosot lemas hingga lututnya menghantam lantai batu dengan keras. Rantai besi yang menahan kedua tangannya berdenting pelan. Sorot matanya yang tadi menyala penuh amarah, kini meredup, tergantikan oleh kebingungan dan keputusasaan yang luar biasa."Kau berbohong," bisik Alexander. Suaranya terdengar hampa dan gemetar.Mantan Viscount itu menatapnya dengan raut wajah muak. Ia menarik napas pelan, menenangkan emosinya."Untuk apa saya berbohong?" balas Viscount itu dengan nada dingin. "Ketika saya begitu membenci Anda untuk semua yang telah Anda lakukan padanya?"Alexander menggelengkan kepalanya. Napasnya mulai tersengal. Ilusi yang ia pelihara bertahun-tahun seolah menolak untuk dihancurkan begitu saja. Ia tidak siap menerima kenyataan bahwa dirinya adalah satu-satunya monster dalam cerita ini."Tidak... dia... dia berniat lari dariku karena dia mencintaimu
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan







