LOGINAlexander diam-diam mengikuti kereta kuda itu, memanfaatkan ramainya jalanan untuk menutupi keberadaannya.Tudung jubah hitamnya hingga menutupi separuh wajahnya yang sudah dipasangi topeng, saat ia melihat Sienna dibantu turun dari kereta kuda dan menapaki jalanan, pria itu menjaga jarak aman sebelum akhirnya turun dari kudanya dan menyusul..Mata Alexander menyapu kerumunan dengan buas bagaikan predator kelaparan, mencari kilau gaun dan topeng angsa yang dikenakan oleh Sienna.Ketika ia akhirnya menangkap siluet wanita itu di dekat sebuah kios penjual manisan, jantung Alexander berdegup kencang. Jarak mereka hanya terpaut belasan langkah.Alexander menyelinap di antara sekelompok pemabuk dan penari jalanan,
Suasana di dalam Paviliun Zamrud malam itu dipenuhi oleh antisipasi yang menggembirakan. Malam ini adalah malam pertama Festival Musim Semi, malam yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh penduduk ibu kota dan para bangsawan dari berbagai penjuru benua.Di dalam kamar rias yang terang benderang, Elizabeth berdiri di depan cermin. Ia mengenakan gaun festival berwarna biru yang indah. Gadis berambut pirang itu memutar tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah Alice yang sedang berdandan dengan bantuan pelayan."Alice, kau sungguh tidak ingin ikut bersama kami?" bujuk Elizabeth untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya memancarkan permohonan yang tulus."Rowan sudah menunggu di gerbang paviliun. Kereta kuda kami cukup luas untuk kita bertiga. Kami akan merasa jauh lebih tenang j
Di dalam kamar yang disediakan untuknya, udara di sekitar Alexander terasa begitu pekat dan mencekik.Cahaya dari perapian yang menyala redup menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding batu, seakan mencerminkan kondisi pikiran pria yang tengah mondar-mandir di tengah ruangan.Raja Alexander menenggak habis sisa anggur merah di gelas pialanya, lalu membanting gelas kristal itu ke atas meja kayu hingga retak.Dadanya naik turun dengan napas memburu. Matanya yang gelap memancarkan kemarahan, obsesi, dan keputusasaan yang melebur menjadi satu kegilaan yang mematikan.Pikirannya terus berputar pada insiden di taman kekaisaran siang tadi. Ia mengingat bagaimana mata jernih itu menatapnya
Tanpa banyak bicara, Caesar mengambil alih posisi sebagai pengawal. Pria bertubuh besar itu berjalan di sisi rombongan dengan langkah tegap dan waspada, memastikan kepulangan sang Permaisuri ke Istana berjalan aman tanpa ada gangguan lebih lanjut.Sepanjang perjalanan menyusuri lorong istana, keheningan yang tegang menyelimuti mereka. Elizabeth terus menatap kakaknya dengan penuh tanya, sementara Alice fokus memapah Sienna yang langkahnya masih terasa berat akibat kaki yang membengkak.Setibanya di depan pintu kayu ganda yang merupakan akses masuk ke kamar utama Permaisuri, Sienna akhirnya menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap sang pewaris Duchy Mountford yang berdiri menjaga jarak dengan sikap sempurna."Lord Caesar." panggil Sienna pelan, suaranya sudah kembali mend
Mendengar jawaban Sienna, Alexander justru memasang senyum getir yang dipenuhi dengan ironi."Tentu saja kau 'tidak tahu'," balas Alexander perlahan, nada suaranya menebal oleh kepahitan dan penolakan untuk percaya."Membangun kehidupan baru di tempat asing pasti menuntut seseorang untuk mengubur banyak hal.“Memilih untuk menjadi orang baru... menutup mata dari rasa sakit yang ditinggalkan di belakang. Sungguh... dedikasi yang sangat luar biasa untuk sebuah sandiwara yang sempurna."Sienna merasa napasnya tertahan. Pria ini berbicara seolah ia menyimpan sebuah rahasia besar tentang dirinya.Tuduhan-tuduhan terselubung itu, tatapan o
Matahari pagi musim semi bersinar hangat di atas langit Kekaisaran. Di salah satu jalur berbatu putih yang membelah taman tersebut, Permaisuri Sienna berjalan perlahan menikmati udara pagi.Ia mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang berpotongan longgar, didesain khusus oleh penjahit istana untuk memberikan kenyamanan ekstra mengingat perutnya yang kini sudah mulai terlihat membuncit.Di sisi kiri dan kanannya, Alice dan Elizabeth berjalan mengiringi dengan langkah yang disesuaikan, menjaga sang Permaisuri dengan penuh perhatian.Meski cuaca musim semi sangat menyenangkan, Sienna tidak bisa menyembunyikan raut kelelahan yang sesekali melintas di wajah cantiknya.Kehamilannya belakangan ini membua
Sisa perjalanan menuju Ibu Kota berhasil dilewati dengan jauh lebih tenang. Berkat ramuan herbal rutin yang diberikan oleh Tabib yang ketakutan, rasa mual Sienna berangsur hilang. Rona merah perlahan kembali ke wajahnya.Ketika gerbang megah Ibu Kota mulai terlihat menjulang di kejauhan, Sienna tid
Arthur mendengarkan bisikan dari pelayan pribadinya dengan ekspresi tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Alexandria, membuat wanita itu semakin gelisah.Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu membungkuk dalam da
Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-
Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki







