MasukLangkah kaki Caesar menggema pelan menyusuri lorong Istana Kekaisaran setelah ia keluar dari ruang kerja sang Kaisar.Pikirannya masih berputar, mencerna deklarasi dukungan dari Kaisar Lucian yang baru saja ia terima. Dukungan itu adalah senjata politik yang tak ternilai, namun bagi Caesar, intrik politik selalu terasa melelahkan.Ia membutuhkan udara segar. Alih-alih mengambil jalur utama menuju gerbang depan, Caesar memutuskan untuk mengambil jalan memutar melewati rumah kaca yang terhubung dengan taman dalam istana, sebuah area yang biasanya sunyi dan jarang dilalui oleh para menteri.Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam area rumah kaca yang dipenuhi oleh berbagai macam flora musim semi itu, Caesar menyadari bahwa tempat itu tidak sepenuhnya kosong.
Setelah kesibukannya dengan para tamu agung berakhir, Lucian akhirnya melakukan hal yang terus ia tunda. Menemui Caesar yang membawa Rowan di malam pesta dansa.Pria itu kini berdiri di tengah ruang kerja pribadi sang Kaisar. Suasana di dalam ruangan itu terasa berat oleh dominasi dua pria paling mengerikan di medan perang.Kaisar Lucian duduk bersandar di kursi kebesarannya. Matanya yang semerah darah menatap lurus ke arah Caesar yang berdiri tegak dengan postur ksatria yang sempurna. Jari-jari Lucian mengetuk pelan sandaran kursi, memecah keheningan yang menguasai ruangan."Aku sudah menanyakan penyebab luka-luka itu pada Rowan sebelumnya." ucap Lucian, suaranya tenang namun tajam. "Dan ia memberitahuku sebuah cerita yang sangat menarik. Ia bilang... ia terjatuh ke dalam j
Seringai arogan di bibir Alexander luntur seketika, menguap tanpa menyisakan jejak apa pun selain keterkejutan. Sepasang matanya membelalak begitu lebar. Napasnya tercekat keras di tenggorokan, seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak.Tubuh raja muda yang biasanya selalu berdiri tegap dan angkuh itu kini sedikit bergetar di balik jubahnya.Alexander menatap wajah cantik Sienna dengan ketidakpercayaan yang menyiksa. Otaknya menolak mencerna pemandangan di hadapannya.Ia mengabaikan Kaisar, mengabaikan seluruh bangsawan, dan mengabaikan rencana besarnya. Ia menatap sang Permaisuri seolah wanita itu adalah hantu dari masa lalunya yang paling berharga.Bibir Alexander yang seketika berubah pucat pasi itu bergetar pelan. Ia mencoba meraup udara dengan susah payah,
Dua hari menjelang malam pertama Festival Musim Semi, kemegahan sejati dari Kekaisaran Rivendia akhirnya dipertontonkan kepada dunia.Gerbang utama Istana Kekaisaran yang terbuat dari besi tempa raksasa telah dibuka selebar-lebarnya sejak matahari terbit.Iring-iringan kereta kuda berlapis emas, perak, dan kayu mahoni yang dihiasi berbagai lambang kebangsawanan dari penjuru benua mulai berdatangan tanpa henti.Di dalam Aula Penerimaan Agung, suasana terasa luar biasa megah sekaligus mengintimidasi. Ruangan berlantaikan marmer hitam pekat itu diterangi oleh ratusan lampu kristal gantung yang memantulkan cahaya keemasan.Pasukan ksatria elit kekaisaran berdiri berjajar di sisi kiri dan kanan ruangan bagaikan patung-patung malaikat maut berzirah perak, mem
Elizabeth meletakkan apel dan pisaunya ke atas piring perak dengan sedikit kasar, menunjukkan rasa tidak setujunya."Bukan perang, katamu?" omel Elizabeth, menyilangkan lengan di depan dada. Mata birunya menatap Rowan dengan tajam."Di malam puncak festival, jalanan ibu kota akan dipenuhi oleh lautan manusia yang berdesak-desakan, menari, dan meminum anggur. Bagaimana jika ada pemabuk yang tanpa sengaja menyenggol rusukmu? Bagaimana jika kakimu terinjak di tengah keramaian?!"Melihat kepanikan dan kemarahan yang didasari oleh rasa peduli itu, tatapan Rowan perlahan melembut. Ia mengulurkan tangannya yang besar, meraih tangan Elizabeth yang terlipat dan menariknya pelan hingga gadis itu sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya.
Lucian menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Dan apa hal yang lebih penting itu, Sienna?""Pesta Topeng!" seru Sienna dengan senyum merekah.Festival Musim Semi di kekaisaran bukanlah festival biasa. Selain perjamuan agung dan pesta dansa formal di dalam aula istana, daya tarik utama yang paling ditunggu-tunggu justru terjadi di luar tembok Istana itu sendiri.Di malam puncak festival, jalanan utama ibu kota akan diterangi oleh ribuan lampion.Para bangsawan akan menanggalkan atribut kebesaran mereka, mengenakan topeng, dan turun ke jalanan untuk berbaur, menari, dan menikmati pertunjukan bersama rakyat jelata tanpa ada batasan kasta sosial untuk satu malam."Kau harus menemaniku turun ke jalan raya kota malam itu, Luci
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan







