INICIAR SESIÓN"Sienna, apa kau memiliki saudara?" tanya Lucian dengan suara yang teramat hati-hati, memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja. Matanya tidak lepas dari raut wajah sang istri yang masih terpaku, memandangi replika wajahnya sendiri pada lukisan Ratu Charlotte.Tidak. Itu adalah jawaban otomatis yang ingin sienna lontarkan detik itu juga. Seumur hidupnya, ia tahu bahwa ia adalah putri tunggal keluarga Borgia. Namun, dengan semua rentetan informasi kelam dan lukisan yang dibawa oleh mata-mata Lucian di hadapannya sekarang, keyakinan itu runtuh. Fakta tentang jaringan perdagangan manusia asal Rivendia belasan tahun lalu dan kemiripan yang mustahil ini membuat dadanya sesak oleh badai pertanyaan baru.Sienna perlahan meragu pada asal-usul wanita dalam lukisan yang bahkan tidak pernah ia temui itu."Aku... tidak tahu..." bisik Sienna parau. Kepalanya mendadak pening, dipenuhi teka-teki tentang siapa dirinya yang sebenarnya.Lucian mengangguk paham. Ia tidak mendesak istrinya
Philippe terhempas dan terduduk lemas bersandar pada dinding batu yang dingin. Belum sempat pria bertubuh besar itu mengatur napasnya yang putus-putus, sebuah tekanan brutal kembali menghantamnya.Raja Alexander mengangkat sebelah kakinya, menekan sol sepatu bot kulitnya yang keras dan berat tepat di atas bahu Philippe, mengunci tubuh ajudannya itu ke dinding agar tidak bisa beringsut seinci pun."Ugh... Yang Mulia..." rintih Philippe tertahan. Ia memejamkan mata, merasakan tulang selangkanya seolah akan remuk di bawah injakan sang raja.Alexander mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap ajudannya dari atas dengan sorot mata sedingin dasar lautan es. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak atau teriakan histeris seperti malam sebelumnya. Tapi kemarahannya jelas telah membekukan hati dan pikirannya."Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menebus kebodohan fatalmu, Philippe," desis Alexander, suaranya mengalun sangat pelan. Sepatu botnya menekan bahu Philippe semakin kuat hingga ajud
Untuk sesaat, hanya hening yang mengisi ruang baca paviliun tersebut. Tidak ada kata yang terucap, hanya suara detak jarum jam yang seolah menghitung detik-detik kebimbangan di dalam dada Alice.Gadis itu tidak bisa segera menjawab. Lidahnya terasa kelu oleh beban realitas yang menghimpitnya. Di sisi lain meja, Caesar menolak untuk mendesak, memberikan Alice seluruh waktu dan ruang yang ia butuhkan untuk mencerna segalanya.Hingga akhirnya, sebuah helaan napas panjang meluncur dari celah bibir Alice.Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Akal sehatnya mulai mengambil alih, menamparnya dengan kenyataan yang lebih besar. Alice sadar, ia tidak bisa terus bersikap egois dengan hanya memikirkan kenyamanan, waktu kesiapan, dan traumanya sendiri.Kekaisaran saat ini sedang berada di ambang krisis yang tak kasat mata. Raja Alexander berkeliaran membawa ancaman, keselamatan Permaisuri Sienna sedang menjadi
Begitu punggung Raja Alexander dan ajudannya benar-benar menghilang di balik belokan lorong batu, ketegangan tak kasat mata yang mengunci area taman itu perlahan mengendur. Para Ksatria Bayangan yang bersembunyi di atas pohon dan di balik tembok perlahan menurunkan senjata mereka, meski tetap bersiaga.Dari balik pilar, Rowan segera keluar dari persembunyiannya. Sang Marquess baru itu melangkah setengah tertatih, menumpukan sebagian berat badannya pada tongkat penyangga, dan berjalan tergesa-gesa untuk memangkas jarak yang memisahkannya dari Elizabeth."Elizabeth!" panggil Rowan dengan suara parau yang sarat akan kekhawatiran. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, matanya yang tajam menelusuri wajah dan tubuh Elizabeth, memastikan tidak ada satu pun goresan padanya. "Apa kau tidak apa-apa?"Elizabeth menarik napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, melepaskan topi lebar yang menutupi wajahnya."Aku baik-baik saja, Rowan," jaw
Rencana nekat itu akhirnya benar-benar dijalankan. Setelah Elizabeth terus mendesak dan memohon dengan penuh tekad, Permaisuri Sienna akhirnya menyerah, meski dengan hati yang diselimuti teror.Siang itu, matahari bersinar cukup terang di ibu kota utara, memberikan sedikit kehangatan di atas taman istana yang mulai bersemi. Elizabeth berjalan pelan menyusuri jalan setapak berbatu. Gadis itu mengenakan gaun sutra elegan yang biasa dipakai oleh sang Permaisuri, lengkap dengan sebuah topi bertepi lebar berhiaskan jaring tipis yang menutupi separuh wajah atasnya. Dari kejauhan, siluet dan perawakannya adalah replika sempurna dari Sienna.Untuk menghindari kecurigaan Alexander dan meminimalisir risiko yang tidak masuk akal, Elizabeth telah memikirkan semuanya dengan matang. Ia sengaja tidak berjalan di taman yang terisolasi. Ia memilih jalur taman utama yang dikategorikan 'aman'. jalur yang hanya berjarak beberapa menit dari rute utama di mana para delegasi asing dijadwalkan akan lewat
Cahaya matahari siang yang menerobos masuk melalui jendela paviliun dayang sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang bersarang di dalam kamar Alice.Gadis berambut cokelat itu duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk kedua lututnya dalam diam. Pandangannya kosong menatap selimut di pangkuannya. Di sisi ranjang, Permaisuri Sienna duduk menemaninya, sementara Elizabeth berdiri menyandar pada pilar ranjang dengan wajah penuh duka dan amarah yang tertahan.Melihat kondisi dayangnya yang kehilangan seluruh percikan kehidupannya, Sienna akhirnya menghela napas panjang dan berat. Ia memutuskan sudah saatnya membagikan apa yang ia dan Kaisar Lucian temukan semalam."Alice... Elizabeth..." panggil Sienna pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu.Kedua dayang itu menoleh sedikit ke arah sang Permaisuri, meski tatapan Alice masih terlihat redup."Semalam, Kaisar Lucian dan aku membicarakan tentang insiden di alun-alun," Sienna mulai bercerita, suaranya terdengar lelah. "Setiap
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan







