Share

BAB 87

Penulis: Rainina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 23:11:49

Alis Beatrice berkerut. Ia tidak menyangka gadis itu berani menjawab. "Apa katamu?!"

"Saya tidak berada di sini karena saya memohon pada Tuan Duke." lanjut Sienna tenang. "Saya berada di sini karena Tuan Duke menginginkan saya di sini."

Wajah Alexandria memerah padam karena marah pada keberanian Sienna yang tiba-tiba.. "Berani-beraninya kau! Kau hanya pelacur kecil yang…"

"Tolong jaga bicara Anda, Lady Alexandria." potong Sienna, suaranya tetap ia atur agar terdengar sesopan mungkin.

"Saya yaki
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 146

    Taman Mawar di istana memang seindah yang ada di dalam ingatan Sienna. Kelopak-kelopak merah pekat bermekaran sempurna di bawah sinar matahari siang, memancarkan aroma manis yang memabukkan. Damien dan empat ksatria Duchy berdiri waspada dalam jarak lima langkah di belakangnya, memastikan tidak ada satu pun pelayan istana yang berani mendekat.Namun, kedamaian semu di taman itu seketika pecah oleh suara langkah kaki yang berat.Sienna menoleh dan mendapati Lucian berjalan menghampirinya. Pria itu menembus barisan ksatria dengan aura gelap yang nyaris bisa dirasakan secara fisik. Rahangnya mengeras kaku, dan sepasang mata merahnya menyorotkan badai amarah yang sedang ditahan mati-matian agar tidak meledak.Sienna bahkan bisa melihat urat-urat menonjol di punggung tangan suaminya yang terkepal kuat. Pertunjukan air mata palsu dari Kaisar barusan jelas telah mendorong kewarasan Lucian ke tepi jurang. Pria itu butuh membawa Sienna pergi dari istana ini sebelum tangannya benar-benar me

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 145

    Keheningan yang pekat dan menyesakkan seketika turun menyelimuti paviliun kaca tersebut. Pertanyaan Kaisar yang terang-terangan itu memecah sisa-sisa kepalsuan di antara mereka.Alih-alih mengalihkan pandangannya atau mengelak, Lucian justru menatap pamannya semakin lekat. Mata merah sang DUke menggelap, memancarkan aura dingin.Dengan gerakan yang teramat pelan dan tenang, Lucian mengangkat cangkir tehnya, memutar porselen itu sejenak sebelum meletakkannya kembali."Saya hanya sedang bernostalgia, Yang Mulia." jawab Lucian, suaranya terdengar datar, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang tajam. "Melihat Anda duduk di kursi itu, meminum teh dengan begitu damai... tiba-tiba membuat saya teringat pada mendiang ayah saya."Mendengar nama saudara kembarnya disebut secara tiba-tiba, raut wajah Kaisar sedikit menegang. "Ayahmu?" ulang Kaisar dengan nada berhati-hati, mencoba membaca arah pembicaraan keponakannya. "Tentu saja. Dia adalah pahlawan terhebat Kekaisaran. Pengorbanannya

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 144

    Kereta kuda putih berlambang matahari Kekaisaran itu akhirnya berhenti di pelataran paviliun pribadi istana yang jauh dari kastil kaisar. Lucian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sienna. Dengan genggaman protektif yang tak pernah ia lepaskan, sang Duke memandu istrinya melangkah masuk ke dalam paviliun yang terang benderang oleh cahaya matahari.Di tengah ruangan, duduklah sang penguasa tertinggi benua ini.Kaisar tidak mengenakan jubah kebesarannya yang berat atau mahkota emasnya. Pria paruh baya itu hanya mengenakan pakaian santai, duduk bersandar di kursi bantalannya sambil menyesap teh dengan raut wajah yang luar biasa tenang. Begitu Lucian dan Sienna melangkah mendekati meja, Kaisar meletakkan cangkirnya. Senyum hangat langsung mengembang di wajah pria tua itu."Ah, pengantin baru kita akhirnya tiba." sambut Kaisar dengan nada riang. Sienna, yang masih dilanda kegugupan luar biasa karena ini adalah baru kali kedua kalinya ia berhadapan langsung dengan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 143

    Ketenangan di Mansion Borgia keesokan harinya, pecah oleh derap kuda yang memasuki gerbang Mansion.Dari balik jendela lantai dua, Lucian menatap tajam ke bawah. Sebuah kereta kuda putih yang sangat mewah, dihiasi ukiran emas dengan lambang matahari Kekaisaran, berhenti tepat di depan pintu utama.Beberapa saat kemudian, seorang utusan resmi istana yang mengenakan seragam kebesarannya berdiri di ruang tamu, membungkuk hormat di hadapan sang Duke dan Duchess yang baru saja turun untuk menemuinya."Salam keagungan untuk penguasa utara, Yang Mulia Duke Lucian, dan Yang Mulia Duchess Sienna." ucap utusan itu dengan nada formal. Ia mengulurkan sebuah gulungan perkamen berstempel lilin merah. "Yang Mulia Kaisar menyampaikan ucapan selamat atas pernikahan Anda berdua. Beliau secara khusus mengundang Anda berdua untuk menghadiri jamuan teh siang ini di Istana Kekaisaran, sebagai bentuk penyambutan resmi bagi Duchess Lorraine yang baru."Mendengar nama Kaisar disebut, udara di sekitar Lucian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 142

    Malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri yang sah seharusnya dipenuhi oleh kehangatan dan kedamaian.Di dalam kamar Sienna di kediaman Borgia yang kini dijaga oleh formasi berlapis ksatria, perapian menyala terang, mengusir hawa dingin.Namun, kedamaian itu sama sekali tidak menyentuh Lucian.Pria itu berdiri kaku di depan jendela besar yang menghadap ke arah halaman depan mansion, masih mengenakan kemeja yang sedikit terbuka di bagian dada.Lucian mengira bahwa setelah ia mengucapkan janji suci dan mengikat Sienna di bawah perlindungan hukum, pikirannya bisa sedikit tenang. Ia mengira dinding kekuasaannya cukup untuk memberinya ruang bernapas.Kenyataannya, tidak.

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 141

    Satu minggu berlalu dengan begitu cepat. Di tengah badai persiapan yang serba terburu-buru, hari pernikahan antara penguasa utara dan putri Baroni itu akhirnya tiba.Kediaman keluarga Borgia yang biasanya redup dan sunyi kini disulap menjadi tempat perayaan yang luar biasa megah.Lautan bunga lili putih yang didatangkan khusus dari rumah kaca kekaisaran menghiasi setiap sudut ruangan, berpadu dengan rentangan kain sutra emas berlambang singa kebanggaan Duchy Lorraine.Namun, pemandangan di dalam aula mansion Baroni itu terasa begitu ganjil.Untuk ukuran sebuah pernikahan agung seorang Duke, sosok pria yang kekuasaannya nyaris menyaingi Kaisar itu sendiri, kursi-kursi tamu yang ditata rapi berderet ke belakang terlihat sangat lengang.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status