LOGINAuthor POV“Kenapa kita ke sini?” Iris berjalan keluar dari mobil sambil menatap mall megah di depan mereka.“Bukannya kau bilang kamu tidak membawa baju pesta? Itu sebabnya kita di sini,” jawab Easton sambil mulai melangkah. “Cepatlah, jangan buang-buang waktu…”Apa? Entah sudah untuk ke berapa kalinya ia dikejutkan oleh tingkah Easton hari ini. Pria itu selalu memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuannya!Kalau sudah begini, Iris tidak lagi bisa menolak. Dengan langkah terpaksa ia berjalan mengikuti Easton masuk ke dalam mall itu.Menatap punggung pria berbadan tinggi tegap itu, Iris mengakui jika Easton memang memiliki postur tubuh yang sangat bagus. Rambut hitam yang tebal serta wajah yang sangat tampan. Pantas saja selama mereka berjalan, banyak pasang mata yang melirik ke arahnya. Perempuan ataupun laki-laki semua tertarik untuk menoleh, memperhatikan penampilannya.“Ah maaf, aku tidak sengaja…” tiba-tiba terdengar pekikan seorang perempuan.Iris yang sedang melamunkan Eas
“Iris Villar, apa kamu tidak mendengar apa yang kukatakan? Berikan buku itu!” seru Easton saat Iris tidak merespon ucapannya dan hanya menatapnya saja.Iris tersadar. Ia refleks menggenggam tali tasnya semakin erat. “Easton… maksudku, Mr. Sinclair… itu hanya—buku sketsa biasa. Tidak ada—yang menarik di dalamnya…” Ia segera beralasan, berharap Easton mengurungkan niat.Easton memicingkan matanya, menatap Iris penuh selidik. “Benarkah?”“Yes! Aku tidak terlalu pandai menggambar—maksudku melukis,” ujar Iris terdengar—hampir terlalu memaksa. Easton masih tidak bergeming, sehingga membuat Iris merasa putus asa. “Easton, buku itu benar-benar tidak istimewa. It’s just a crappy stuffs. Don’t waste your time to—look at it…”“Well, mengenai hal itu, biar aku yang memutuskan. Now. Give. Me. The. Book.” Easton kembali menengadahkan tangan meminta buku itu untuk terakhir kalinya.Iris menelan ludah. Kali ini ia kembali terpojok. Easton tidak mempercayai satu pun ucapannya.Apa lagi yang harus ia
Author POVPerlahan Iris meraih kertas sketsa itu. Wajahnya bersemu merah dan pandangan mata menunduk, tidak sanggup menatap kedua mata Eleanor.Ia khawatir jika Eleanor akan berpikir negatif tentang dirinya setelah melihat gambar yang sangat pribadi itu.Eleanor mungkin akan berpikir jika ia tipe perempuan yang menghalalkan segala cara, bahkan sampai menggunakan tubuhnya dan tidur dengan bosnya untuk mendapatkan jabatan di kantor.“Miss Villar, sketsa buatanmu sangat indah. Kamu pasti membuatnya dengan penuh perasaan,” ucap Eleanor.Iris mengangkat wajahnya dan mendapati istri Duta Besar itu tersenyum.Senyumannya tulus, tidak ada sedikitpun cemoohan. Dan tatapan matanya pun tidak menghakimi. Dia murni membicarakan mengenai sketsa itu, terlepas dari sosok pria yang ada dalam sketsa yang terkesan intim itu.“Iris, are you okay?” Easton tiba-tiba bertanya dari tempatnya duduk.Ia merasa tidak tenang melihat Iris menjatuhkan buku sketsanya.Kenapa dia terlihat gugup? Apa sebenarnya yang
Author POV"Saya harap kalian tidak keberatan jika istri saya bergabung di sini," ujar Charles setelah dia menghampiri istrinya itu. Mereka berdua tampak sangat harmonis diusia senja mereka."Sama sekali tidak, Mr. Trenton," ujar Easton ambil ia berdiri dan melirik Iris. Iris pun di saat yang sama tengah berdiri dan melirik padanya. Mereka berdua mengenali istri Duta Besar sebagai wanita yang berbicara dengan Iris di lobi."Honey, ini Easton Sinclair dan sekertarisnya, Iris Villar." Duta Besar memperkenalkan tamunya kepada sang istri. Dan begitu pula sebaliknya. "Mr. Sinclair, Miss Villar, ini istri saya Eleanor Trenton." "Nice to meet you, Mrs. Trenton." Iris dan Easton bergantian menyalami istri Duta Besar itu."Young lady, we meet again..." Eleanor langsung mengenali Iris. Senyumnya langsung terkembang ketika bersalaman dengannya."Yes, Mrs. Trenton. Maaf tadi saya tidak tahu kalau Anda—""Tidak apa, santai saja. Saya memang tidak memperkenalkan diri sebelumnya. It’s really
Author POV"Young lady, you are so beautiful..." Seorang wanita paruh baya datang memuji Iris saat ia tengah menunggu di lobby besar gedung kedutaan.Ia dan Easton masih menunggu giliran mereka untuk bertemu dengan Duta Besar. Saat itu, Iris sedang mengagumi rangkaian bunga segar yang ditata sangat cantik di vas besar yang ada di tengah ruangan itu, sementara Easton sedang menerima panggilan telepon di salah satu sudut ruangan.Iris mengangkat pandangannya dari kuntum bunga berwarna merah dan menatap wanita paruh baya yang memiliki senyum keibuan dan ramah. Ia membalas senyuman itu dengan sedikit semu merah di pipinya, menyadari pujian itu ditujukan untuknya. "Thank you."Wanita berusia di awal 50-an tahun itu berjalan mendekat, dan berkata dengan aksen yang kental. "Apa kamu keberatan kalau aku mengambil fotomu?" Iris baru menyadari jika wanita itu memegang sebuah kamera di tangannya. "Sama sekali tidak," jawab Iris tanpa perlu menimbang. Wanita itu terlihat sopan dan baik. Pena
Easton POV Kedua bola mata berwarna light hazel itu menatapku dengan berseri. Dia begitu senang, begitu bersemangat seakan aku mengajaknya pergi ke suatu tempat yang dia idam-idamkan. Ada sesuatu di dalam diriku yang terasa hangat yang membuat bibirku ingin tersenyum lebar, menyentuh kedua sisi wajahnya yang berseri-seri dan berkata, "You look fantastic as ever!" Tetapi tidak, alih-alih mengatakan kalimat yang akan membuatnya tersenyum semakin lebar, aku justru mengatakan, "Why would you ask that?" Tanpa bisa kutahan ketika aku mengingat kejadian tadi pagi. Iris terdiam dan sinar di matanya meredup. Ia menundukkan wajah dan bahunya terlihat turun. "Maaf, aku hanya tidak ingin mempermalukanmu," ucapnya pelan menanggapi responku yang menolak menjawabnya. Dan seketika itu juga penyesalan memberatkanku. Damn it Easton! You're such an a**hole! Umpatku pada diri sendiri. Aku membenci diriku sendiri setiap kali aku membuatnya sedih atau melihat kekecewaan di matanya. Akan tetapi
Hari berikutnya Iris terpaksa datang ke gedung SDP Corp. Keluar dari taksi, Iris mendongak, menatap lantai paling atas di mana kantor Easton berada.Tujuannya datang hari itu adalah untuk menemui Easton, menanyakan mengapa dia menolak pengunduran dirinya dan kalau memungkinkan memaksanya menerima
Iris yakin belum pernah bertemu dengan Timothy. Kalau pun pernah, ia tentu tidak akan lupa pernah bertemu dengan seorang anggota keluarga Galland.Dan sebagai bawahan Easton, ia dituntut untuk bersikap profesional di manapun ia berada.Ia pun berdiri, membalas senyum Timothy dan menyodorkan tangan
Iris Villar POV Mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang halaman sebuah pabrik yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dari wilayah pemukiman, sekitar hampir satu jam perjalanan dari kantor. Terlihat papan nama di gerbang yang kami lewati. EcoCharge Ltd. Nama tempat itu mengingatkanku pada
“Saya tidak mengerti,” ujar Julian sambil geleng kepala. “Apa lagi yang kamu lakukan kali ini, Miss Villar?” Julian menatap Iris meminta penjelasan singkat. Karyawan magang yang satu ini kerap bersinggungan dengan stafnya yang lain. Tetapi kali ini CEO yang memanggilnya. Masalah apa yang dia buat?







