LOGINAku mengerjap-ngerjapkan mata mencium aroma gosong di kamar.Aku tahu ini ulah siapa, kenapa, dan bagaimana, tapi aku memilih untuk tetap memejamkan mata, menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.Yah, walaupun semalam gagal, aku masih berusaha, masih mencoba menggoda, lama-lama aku seperti jablay di depan suamiku sendiri. Sampai akhirnya menyerah dan tertidur.Sementara di luar, suara Salsa mengomel. “Papa harusnya masukin butternya dulu Papa! Kalau Papa langsung masukin rotinya ke sana jadinya kering dan lengket loh!”“Papa juga tahu Salsa, ini Papa lihat caranya di TubeYou. Kamu mending duduk aja dan tunggu hasilnya.”“Aku yang motong timunnya.”“Kamu nggak bisa.”“Bisa, Mama udah ajarin.““Dikupas dulu kulitnya kalau gitu.”“Nggak perlu dikupas, Salsa lebih suka yang ada kulitnya kayak gini. Kalau Queen suka yang kayak gimana?”Tidak terdengar sahutan apapun dari Queen. Pilihannya
(Warning 21+) please be wise! “Sakit?” “Enggak, tapi pelan aja.” Dan Nata melakukannya. Pahaku dibuka lebar-lebar supaya dia bisa menyelipkan diri. Gerakannya sangat lambat, sampai-sampai aku mulai gelisah dan berkeringat. “Oke,” bisiknya di telingaku, dan Nata menunduk, mencium bibirku lagi. Aku seperti kehilangan diriku jika sudah berada dalam genggamannya. Yang bisa kurasakan cuma dia dan kejantanannya yang perlahan mendorong masuk. Pekikan lemah lolos dari bibirku begitu saja, ciuman kami terlepas. “Awh...” Kenapa dia begitu besar, ketat dan kuat? Kendati sudah sering melakukannya. Aku tetap saja perlu beradaptasi. Nata mencengkeram kedua pinggulku menahan pahaku terbuka, agar dia bisa semakin melesakkan dirinya. Sebuah erangan kecil terdengar dari bibirnya saat tenggelam penuh. Matanya kelihatan membara.
“Selemah itu iman lo, dikasih senyum sama kedipan dikit langsung meleyot.” Steven mencibir saat tahu apa yang terjadi dengan kami. Semua ini karena mulutnya Salsa yang bawel dan mengumumkan bahwa Queen akan menginap di rumah kami. Itulah sebabnya anak dan istri gue sekarang sudah gue antar pulang ke rumah. Sementara gue masih di resto.“Rasain dulu punya istri baru komentar,“ balas gue tajam. “Justru karena gue lihat pernikahan- pernikahan kalian ini makanya gue ogah menikah,” jawab Steven mencemooh.“Lah, emang kenapa sama pernikahan kita? Pernikahan gue happy-happy aja.” Dimas menyeletuk santai.“Gue juga bahagia lahir batin,” Nugo menimpali. “Justru lo dan kebobrokan lo yang gonta-ganti pasangan itu kayaknya yang nggak bahagia,” candanya.Dimas tertawa.“Yang waras dikit, umur udah mau kepala empat, apalagi yang mau dikejar? Mending cari pasangan, hubungan stabil nggak ada drama-drama sama cewek random. Ah, nikmatnya hidup.”
(Nata’s Pov)Obsesi Lula tentang anak-anak itu semakin lama semakin membuat gila.Gue nggak masalah kalau dia mau menambah anggota keluarga. Gue bahkan sudah memikirkan ini sebelum kami rujuk. Karena gue tahu Lula nggak akan merasa cukup dengan Salsa.Tapi bukan anak Ibnu juga, brengsek.Selain anak yang bernama Queen itu punya wajah yang sangat mirip Ibnu. Gue terganggu dengan umurnya yang sama dengan umur Salsa, dan itu membuat gue kembali ke momen saat menyaksikan anak gue hampir wafat.Dan kenapa dengan semua kejadian traumatis itu, Lula masih bisa menatap Queen dengan perasaan iba?Oke, katakanlah gue keras kepala, hati batu atau semacamnya. Tapi anak itu akan baik-baik aja. Percaya sama gue. Neneknya nggak mungkin membiarkan cucunya sendiri menderita. Dan bukannya Ibnu masih punya saudara? Mereka bisa menampung Queen. Jadi, untuk apa Lula harus turun tangan?Setiap kali melihat interaksi mereka, rasanya gue pengin
“Jadi ini namanya Queen Almira? Oh halo, Queen, apa kabar?”“Ayo dijawab.” Aku mendorong Queen untuk membuka suara, tetapi gadis kecil itu bersemu, wajahnya mesam-mesem di depan Miss Gina. “Malu dia, Miss.”“Baik...” Queen menggumam pelan.Kami sontak terkekeh.“Queen umurnya lima ya? Wah, banyak dong, sebentar lagi mau masuk SD. Atau mau langsung SMP, Queen?”“SD!” Dia memekik.Kami kembali tertawa.“Bagus, nggak mungkin langsung masuk SMP kalau belum SD ya? Jadi, Queen di sini sekolah untuk masuk SD benar?”Anak itu manggut-manggut.Miss Gina tersenyum lebar. “Pintar. Kelas musik, kelas tari, kelas melukis. Kelas apa yang paling Queen suka?”“Olahraga.”Menggemaskan, kami tertawa.“Oh, iya, boleh juga, kelas olahraga Queen suka kegiatan outdoor ya? Kalau gitu diisi dulu lembar pendaftarannya, boleh? Di bantu sama Mama—”“Maaf,” potongku segera. “Saya Tantenya, dan i
“Kamu nggak perlu ngelakuin itu, Nat.”Apa yang bisa membuat suamiku mendadak berubah pikiran? Atau dia hanya ingin memastikan sesuatu?“Apa maksud kamu nggak perlu? Kamu istri aku Lula, dan kegiatan yang kamu ucapkan barusan pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku perlu memastikan kamu aman.”Tuh, kan. Nata selalu punya rencana!Tapi Queen pasti akan bingung jika aku bersama Nata, atau lebih buruk lagi, anak itu akan merasa ketakutan.“Nata...” Aku buru-buru berdiri, mengekorinya yang keluar dari ruangan. “Jangan hari ini, lain kali aja,” usulku terengah. “Kalau memang kamu mau lihat Queen, nanti kita atur makan malam dan undang dia ke sini. Gimana? Salsa juga pengen ketemu dia, anak-anak bisa main bersama.”“Kamu nggak dengar ucapan aku Lula?”Sulit sekali bicara dengannya sambil membuntutinya seperti ini. Nata menuruni anak tangga dengan cepat, sementara aku harus mengejarnya. “Aku perlu memastikan kamu, buk







