Home / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 179: Aslinya Penurut

Share

Part 179: Aslinya Penurut

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-10-27 18:10:37

“Jadi ini namanya Queen Almira? Oh halo, Queen, apa kabar?”

“Ayo dijawab.” Aku mendorong Queen untuk membuka suara, tetapi gadis kecil itu bersemu, wajahnya mesam-mesem di depan Miss Gina. “Malu dia, Miss.”

“Baik...” Queen menggumam pelan.

Kami sontak terkekeh.

“Queen umurnya lima ya? Wah, banyak dong, sebentar lagi mau masuk SD. Atau mau langsung SMP, Queen?”

“SD!” Dia memekik.

Kami kembali tertawa.

“Bagus, nggak mungkin langsung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ki-van
Ahh gemesin nih Nata...jutek tp baik... makasih tambahan update today... sehat2 slu Thor TC🫰...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 181: Ogah Menikah

    “Selemah itu iman lo, dikasih senyum sama kedipan dikit langsung meleyot.” Steven mencibir saat tahu apa yang terjadi dengan kami. Semua ini karena mulutnya Salsa yang bawel dan mengumumkan bahwa Queen akan menginap di rumah kami. Itulah sebabnya anak dan istri gue sekarang sudah gue antar pulang ke rumah. Sementara gue masih di resto.“Rasain dulu punya istri baru komentar,“ balas gue tajam. “Justru karena gue lihat pernikahan- pernikahan kalian ini makanya gue ogah menikah,” jawab Steven mencemooh.“Lah, emang kenapa sama pernikahan kita? Pernikahan gue happy-happy aja.” Dimas menyeletuk santai.“Gue juga bahagia lahir batin,” Nugo menimpali. “Justru lo dan kebobrokan lo yang gonta-ganti pasangan itu kayaknya yang nggak bahagia,” candanya.Dimas tertawa.“Yang waras dikit, umur udah mau kepala empat, apalagi yang mau dikejar? Mending cari pasangan, hubungan stabil nggak ada drama-drama sama cewek random. Ah, nikmatnya hidup.”

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 180: Izin Suami

    (Nata’s Pov)Obsesi Lula tentang anak-anak itu semakin lama semakin membuat gila.Gue nggak masalah kalau dia mau menambah anggota keluarga. Gue bahkan sudah memikirkan ini sebelum kami rujuk. Karena gue tahu Lula nggak akan merasa cukup dengan Salsa.Tapi bukan anak Ibnu juga, brengsek.Selain anak yang bernama Queen itu punya wajah yang sangat mirip Ibnu. Gue terganggu dengan umurnya yang sama dengan umur Salsa, dan itu membuat gue kembali ke momen saat menyaksikan anak gue hampir wafat.Dan kenapa dengan semua kejadian traumatis itu, Lula masih bisa menatap Queen dengan perasaan iba?Oke, katakanlah gue keras kepala, hati batu atau semacamnya. Tapi anak itu akan baik-baik aja. Percaya sama gue. Neneknya nggak mungkin membiarkan cucunya sendiri menderita. Dan bukannya Ibnu masih punya saudara? Mereka bisa menampung Queen. Jadi, untuk apa Lula harus turun tangan?Setiap kali melihat interaksi mereka, rasanya gue pengin

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 179: Aslinya Penurut

    “Jadi ini namanya Queen Almira? Oh halo, Queen, apa kabar?”“Ayo dijawab.” Aku mendorong Queen untuk membuka suara, tetapi gadis kecil itu bersemu, wajahnya mesam-mesem di depan Miss Gina. “Malu dia, Miss.”“Baik...” Queen menggumam pelan.Kami sontak terkekeh.“Queen umurnya lima ya? Wah, banyak dong, sebentar lagi mau masuk SD. Atau mau langsung SMP, Queen?”“SD!” Dia memekik.Kami kembali tertawa.“Bagus, nggak mungkin langsung masuk SMP kalau belum SD ya? Jadi, Queen di sini sekolah untuk masuk SD benar?”Anak itu manggut-manggut.Miss Gina tersenyum lebar. “Pintar. Kelas musik, kelas tari, kelas melukis. Kelas apa yang paling Queen suka?”“Olahraga.”Menggemaskan, kami tertawa.“Oh, iya, boleh juga, kelas olahraga Queen suka kegiatan outdoor ya? Kalau gitu diisi dulu lembar pendaftarannya, boleh? Di bantu sama Mama—”“Maaf,” potongku segera. “Saya Tantenya, dan i

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 178: Anak Laki-Laki

    “Kamu nggak perlu ngelakuin itu, Nat.”Apa yang bisa membuat suamiku mendadak berubah pikiran? Atau dia hanya ingin memastikan sesuatu?“Apa maksud kamu nggak perlu? Kamu istri aku Lula, dan kegiatan yang kamu ucapkan barusan pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku perlu memastikan kamu aman.”Tuh, kan. Nata selalu punya rencana!Tapi Queen pasti akan bingung jika aku bersama Nata, atau lebih buruk lagi, anak itu akan merasa ketakutan.“Nata...” Aku buru-buru berdiri, mengekorinya yang keluar dari ruangan. “Jangan hari ini, lain kali aja,” usulku terengah. “Kalau memang kamu mau lihat Queen, nanti kita atur makan malam dan undang dia ke sini. Gimana? Salsa juga pengen ketemu dia, anak-anak bisa main bersama.”“Kamu nggak dengar ucapan aku Lula?”Sulit sekali bicara dengannya sambil membuntutinya seperti ini. Nata menuruni anak tangga dengan cepat, sementara aku harus mengejarnya. “Aku perlu memastikan kamu, buk

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 177: Mulai Luluh

    “Kamu nggak kelihatan happy hari ini.”Benarkah?Padahal aku sudah melakukan ten steps morning routine, makeup flawless. Mengenakan midi dress kesukaan suamiku meski di baliknya aku melapisinya dengan turtle neck tipis. Menurut Tria penampilanku bahkan kelihatan seperti remaja Amerika di zaman film Clueless. Dan aku menganggap itu sebagai pujian.Wah, walaupun aku tahu tidak ada remaja yang memiliki stretchmark sepertiku, dan lengannya bergelambir. Namun aku cukup percaya diri hari ini.Sayangnya menurut Troy semua yang kupakai tidak mampu menutupi kegelisahan di wajahku, atau mungkin dia pandai membaca ekspresi?Aku berdeham. “Memang agak kurang tidur hari ini, tapi semua aman kok.”Dia tersenyum simpul, meletakkan fluffy cake dengan topping guyuran cokelat leleh dan boba di atasnya. “Silakan.”“Terima kasih, menu baru ya?”“Nope, kamu harus coba, semoga bisa membantu kamu supaya lebih rileks.”Aku mer

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 176: Pelampiasan

    Mataku terbuka saat mendengar suara ponsel yang berdering di nakas. Aku perlahan menggeliat bangkit, mendongak dari dada bidang suamiku, lalu perlahan menoleh sambil memanjangkan lengan, meraba-raba nakas. Mataku sontak menyipit melihat mama Frederika terpampang sebagai caller id. Aku menggeser tombol hijau selagi beringsut duduk, memungut bathrobe yang teronggok di lantai. “Halo?” “Hai Lula, ini Frederika.” “Ya?” “Aku mau kasih informasi kalau Queen udah aku daftarin di TK ya.” “Oh?” Aku bergegas menggunakan bathrobe itu dan mengikatnya erat di pinggang, kemudian keluar kamar. “Minggu depan paling lambat dia udah mulai sekolah lagi, tempatnya dekat dari rumah, jadi gampang antar jemput.” “Makasih banyak Frederika.” “Yah, bukan masalah, aku udah anggap Queen sebagai anakku juga. Udah itu aja sih, soal pembayaran nanti aku kirim rinciannya by WA ya? A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status