LOGIN“Intinya dia mau nemenin calon istrinya di rumah sakit, makanya dia nggak mau diantar pakai mobil kantor. Karena Nata di sana pasti bakalan lama.”
Aku mengomel sendiri selagi memotong-motong bawang bombai. Lalu menggesernya ke dalam mangkuk.“Bahkan sampai aku pulang, dia belum balik lagi ke kantor. Hampir seharian nemenin Calista, padahal jam besuk biasanya cuma sampai sore aja.”Kulirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam.Aku meringis.“Ini....beneran?”Aku mengerjap-ngerjap, bingung, heran, shock menjadi satu. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku, aku akan diberikan mobil oleh seseorang.Aku menoleh ke arah Nata, dan Nata ternyata sedang memperhatikanku. Kedua alisnya menyatu serius, dan dia menatapku seakan aku terdakwa kasus korupsi atau semacamnya. Tajam, menilai, meneliti, dan menguliti!Sial.“Aku nggak tahu,” imbuhku buru-buru.Seorang pria dengan seragam merah khas showroom mendekat. “Dengan Ibu Kalula Samahita?” tanyanya. Aku mengangguk hati-hati sambil tidak lepas menatap suamiku. “Tolong tanda tangan di sini Bu, dan mohon diterima ya Bu.”Eh, tunggu dulu...Aku perlu tahu ini dari siapa?Seakan sadar betul apa yang tengah kupikirkan, Nata mengambil alih pertanyaan. “Pengirimnya siapa?”“Dari Pak Nata, Pak.”“Pak Nata?” Nata mengulangi, aku sampai bergerak-gerak gelisah, Gio dan Steven kompak melongo. “Kamu yakin?
“Ini Joyday ramai banget Mba.”Tria celingak-celinguk ketika aku mengundangnya untuk datang di soft launching dari restoran suamiku.Hasil ini sepertinya di luar prediksi, tim marketing Nata berhasil menarik peminat, mungkin karena banyak pilihan diskon plus kami pakai jasa influencer.Tidak sampai yang padat banget, tapi cukup membuat takjub. Terlebih sebagai awal, ini sudah modal yang memuaskan.Nata sibuk sejak pagi, selama sebulan terakhir pasca honeymoon yang cuma di apartemen saja, Nata sibuk mengurus bisnisnya ini. Aku pun mendukung, apapun yang suamiku lakukan. Aku berharap usahanya selalu berhasil.Tria kemudian menyuap Chocolate Souffle miliknya, lalu mengerling saat melihat Steven. “Siapa itu Mba?”“Temannya Pak suami.”“Udah menikah?”Aku tertawa, lebih karena tahu Steven adalah pria metroseksual yang tidak akan mungkin menjalin komitmen. Jadi, aku hanya mengangkat bahu. “Kece banget, kayak
“Istri lagi susah kenapa kamu nggak ada usaha untuk bantu masalah Lula?”Kalimat pertama Papa seketika membuat suamiku membelalak.Ia menatapku sambil mengerutkan alis. “Kamu susah kenapa La?”Sepertinya Nata terkejut, dipikirnya aku terlibat masalah, atau mendadak mendapatkan musibah, sedangkan dia tidak tahu sehingga reaksinya benar- benar out of control. Nata duduk di sampingku dan langsung menggenggam tanganku lembut, menatapku dengan sorot khawatir.“Memangnya ada masalah apa?”“Itu sepupu Lula berani-beraninya ngejual mobil Lula tanpa izin. Terus kamu nggak ngapa-ngapain buat bantuin dia, suami macam apa kamu ini?” seru Papa, nadanya naik satu oktaf.Aku melirik Mama, takut banget Papa akan darah tinggi karena mendadak emosi, tapi Mama pun memekik.“Namanya Ibnu Pa!”Astaga.Mama malah mengompori!“Lah, iya!” sahut Papa. “Ada saudara begitu? Yang kita lagi kena musibah malah mengambil kes
Lepas main-main dan rebutan Nata, Salsa akhirnya lelah dan tertidur juga. Tapi anakku tidak mau di tengah karena sebal melihat wajahku yang mengejek. Maka, posisi kami seperti tiga sendok. Salsa di pinggir kanan, lalu Nata di tengah, kemudian aku di samping suamiku, lucunya lagi aku disuruh menghadap ke kiri, sehingga aku praktis punggung-punggungan dengan Nata. Baiklah, aku nurut saja. Begitu pagi tiba dan matahari mulai meninggi dari balik gorden jendela. Aku bangkit lebih dulu, menyingkap selimut kemudian tersenyum lebar melihat Nata yang mendekap erat tubuh Salsa. Sedangkan putriku itu terlelap, mulutnya sedikit terbuka, tangan mungilnya meremas kaos Nata di dada. Oh, hatiku seperti meleleh. Aku meraih ponsel di atas nakas dan mengabadikan gambar mereka. Lantas, kutarik selimut menutupi tubuh keduanya, dan berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, mandi, sikat gigi dan menga
Kamar Nata sangat berwangi Nata.Harum pengharum ruangan bercampur dengan parfumnya yang segar. Ditambah EO lavender di sudut.Nata orang yang lumayan rapi, tidak macam OCD yang semuanya harus teratur sesuai warna dan barang. Tapi paling tidak, semuanya tertata. Dan karena sejak kuliah Nata sudah tidak tinggal di kamar ini, maka barang- barangnya sebagian besar tampak jadul. Perasaanku ketika masuk masih sama, rasanya seperti terlempar ke tahun 2008-an awal, yang mana saat itu masih zamannya tuker-tukeran pin BB.Itu bisa dilihat di laci meja belajarnya, ada banyak HP BB. Lalu seperti PS yang aku tidak tahu seri berapa karena sudah tidak digunakan, gitar yang penuh stiker di sudut, sampai topi-topi koleksi dari tim basket berbagai sekolah yang berjejer rapi di dalam lemari kaca.Lucu, terakhir kali tidur di sini, topi itu masih tergantung di dinding. Sepertinya Mama yang membereskannya.Selain itu, yang paling mencolok adalah, b
Nata memberengut masam. “Lain kali tanya dulu sama Lula duduk perkaranya gimana, jangan langsung ngasih nasihat. Kalau orang lain nggak minta nasihat, Mama nggak perlu tiba-tiba ngasih nasihat, itu nggak sopan Ma.” Astaga.Suamiku mulutnya pedas sekali.Sepertinya Mama sudah terbiasa dengan tingkah putranya, beliau hanya mencibir. “Mereka itu memang rumahnya di mana? Masih tinggal sama Bibimu kan, La? Berarti mereka masih kesulitan ekonomi. Memudahkan hidup orang lain nggak ada ruginya kok. Nanti Insya Allah kamu juga akan dimudahkan urusannya lewat perantara orang lain.”Nata lagi-lagi akan membuka mulut untuk membantah tapi aku menyentuh lengannya, meminta suamiku itu diam.Hidung Nata kembang kempis.“Iya Ma,” jawabku sopan.“Lula, maaf kalau Mama menyinggung kamu ya, mungkin Mama emang ikut campur,” balasnya, menggenggam tanganku. “Tadi sepupu kamu ke sini salah satu alasannya karena minta perpanjangan waktu bayar h







