Beranda / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 35: Terlalu Berdebar

Share

Part 35: Terlalu Berdebar

Penulis: Titi Chu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-13 18:10:17

“Intinya dia mau nemenin calon istrinya di rumah sakit, makanya dia nggak mau diantar pakai mobil kantor. Karena Nata di sana pasti bakalan lama.”

Aku mengomel sendiri selagi memotong-motong bawang bombai. Lalu menggesernya ke dalam mangkuk.

“Bahkan sampai aku pulang, dia belum balik lagi ke kantor. Hampir seharian nemenin Calista, padahal jam besuk biasanya cuma sampai sore aja.”

Kulirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam.

Aku meringis.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
L_54n954
Nata brengsek ahhhh bikin rahim gk nyaman ini
goodnovel comment avatar
V3_
Gemasnya aku sama si Nata de Coco ini. Lula yg sabar yah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 191: Kehidupan Pernikahan

    Queen tampak lebih happy ketika sudah bertemu dengan Mamanya.Sepertinya dia tidak begitu cemas tentang Ibnu, atau mungkin merasa bertemu Ibunya saja sudah cukup.Lagipula kalau dia mendadak meminta bertemu dengan Bapaknya, jelas kami tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Suamiku pasti akan mengamuk lagi, dan lebih parah memberiku hukuman!Gzz, hukuman yang sebelumnya saja belum berakhir. Lantas bagaimana kalau mendadak ditambah hukuman lain?Tapiii aku tidak henti-hentinya berterima kasih dengan suamiku, dia yang memiliki ide ini, dia pula yang merealisasikan, aku tahu ini tidak mudah untuk Nata, tapi dia rela melakukannya semata-mata supaya aku happy.“Sekarang kita bisa honeymoon.” Dia menggumam, tangan sibuk menggulir layar ipad sementara aku berada di atas tubuhnya dengan punggung yang menempel di dada bidangnya.“Queen dibawa?”“Enggak dibawa Lula, ditinggal di dalam koper terus kita masukkan ke bagasi.”“

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 190: Pelukan Hangat

    Lambat, sulit, lelah.Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kami bertemu Meira, birokrasi yang sulit dan bertele-tele cukup memakan waktu seharian. Ironisnya meski sudah menggunakan orang dalam, kami masih diputar-putar oleh oknum polisi dari satu lapas ke lapas lain sampai akhirnya bisa bertemu dengan sepupuku itu.“Brengsek,” maki Nata begitu kami menyebutkan nama Meira dan ternyata sepupuku ditempatkan di lapas pertama sementara kami sudah singgah di tiga lapas yang berbeda. “Harusnya kalian bilang dari awal, kalian pikir saya nggak punya pekerjaan? Kalian ini dibayar dengan uang pajak saya, jadi nggak usah kurang ajar sama majikan!”Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, tidak ikut campur selagi Nata memaki.Biarlah, biar oknum-oknum seperti mereka ini tidak tuman dan kebiasaan.Belum ditambah ada yang meminta uang kunjungan saat kami mengatakan akan bertemu dengan Meira.Astaga.Radit sampai gele

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 189: Hukuman Masih Berlaku

    “Nggak pa-pa Aunty di sini, sayang.” Aku menggumam, memeluk Queen yang mendadak menangis tengah malam.Awalnya suara itu tidak terdengar karena Queen menangis sangat lirih, saat aku menyadari bahwa itu dirinya, aku langsung bangkit menuju kamar tamu.Aku duduk di tepi ranjang, mendekap tubuhnya dalam posisi V, kemudian mengusap punggungnya. Sementara Queen mengigau sambil merengek.“Mama...”“Coba buka matanya, Queen.”“Mama...”“Queen, kamu mimpi ya? Buka matanya dulu, coba lihat Aunty.”“Mama...”Ia mengucek-ngucek mata, kemudian mendongak, mengerjap lambat.“Nah, lihat kan, siapa ini.”Queen segera menunduk dan kembali menyandarkan kepalanya di dadaku.“Nggak pa-pa, itu cuma mimpi...” Aku menghiburnya dengan mengusap rambutnya. Memastikan dia merasa aman. “Queen nggak perlu nangis.”Sudah berlalu seminggu lebih setelah Queen sakit, berat badannya turun drastis, baru beberap

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 188: Yang Paling Mengalah

    Selama empat hari aku pontang-panting mengurus Queen. Anak itu ternyata sangat rewel saat sakit, dia banyak menangis, merengek, dan mengigau memanggil-manggil Mamanya.Hatiku ikut sesak.Rasa rindu pastilah mempengaruhi kesehatannya, sementara saat ini, yang Queen mau hanyalah pelukan Ibunya. Selembut dan seperhatian apapun aku mengurus anak itu, bagi Queen, Mamanya tetaplah yang utama.Bahkan ada di satu momen, ia merengek tengah malam karena demam, lalu aku mendekapnya agar ia tenang. Queen langsung memelukku dan memanggilku Mama, dan saat dia sadar aku bukan Meira, wajahnya tampak menderita.Aku tidak kuat dengan keadaan yang harus anak malang ini hadapi.“Dia belum sembuh?” Nata bertanya saat pagi-pagi aku masih menggunakan daster, rambut dicepol berantakan, belum mandi, dan wangi obat.Sementara suamiku sudah rapi dengan t-shirt polo dan celana semi jeans.“Kamu mau padel?” tanyaku. Nata jarang di rumah ak

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 187: Sang Penggoda

    (Nata’s Pov) “Ada yang ngikutin Lula.” “Ya?” “Avanza hitam, platnya...” Gue pun menyebutkan plat nomor mencurigakan kendaraan tersebut. Gio menggumam tampak mencatat di tablet kemudian menghubungi orang-orangnya Radit. “Cari tau siapa dan kenapa dia sampai harus ngikutin istri gue ke mana-mana.” “Sejak kapan lo liat ini mobil, Pak?” Gue berpikir sejenak. “Kemarin, pas gue nganter Lula pulang sama Salsa dan Queen. Tapi bisa aja mobil itu udah ngikutin Lula dari sebelumnya.” “Ada yang lo curigain?” Gue mengetukkan jemari di meja, melirik Jenny yang meletakkan gelas untuk kami. Hanya perasaan gue aja seragam pelayan yang digunakan perempuan itu semakin lama semakin sempit? “Sexy as fvck.” Gue bahkan bisa mendengar Steven bergumam, dan walaupun matanya memandang ke arah lain, gue tau dia sedang membicarakan Jenny. Kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka, jujur gue ngg

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 186: Lebih Keras Dari Batu

    “Demamnya belum turun, kayaknya dia nggak bisa dibawa ke mana-mana. Aku khawatir dia makin sakit.” Frederika mempersilakan aku ke kamar Queen. Tempat itu sempit tapi bersih dan rapi.Queen tampak setengah tertidur di ranjang tertutup selimut, ia membuka mata saat melihatku datang.“Udah dibawa ke rumah sakit?” “Belum sempat.”Aku meraba-raba kening Queen, dan mendapati tubuhnya sangat panas. Segera menyingkap selimut, aku mencoba menggendong anak itu.Queen merengek. “Aunty...”“Kita ke rumah sakit sebentar biar dapat obat, jadi kamu cepat sembuh ya?”“Hati-hati.” Frederika mengusapi punggung anak itu, tampak cemas.“Kamu bisa bantu aku simpan bajunya ke tas? Aku perlu buat dibawa.”“Bisa, kamu mau bawa Queen?”Jelas, aku tidak akan membiarkan Queen melewati demamnya sendirian. Dan Frederika bisa tetap fokus pada kedua anak sekaligus suaminya.Kami bergegas menuju mobil, Frederika men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status