Home / Romansa / Satu Malam Lagi, Mantan Suami! / Part 34: Cincin Pernikahan

Share

Part 34: Cincin Pernikahan

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-08-13 18:00:07

"Kenapa aku harus tinggal di tempat kamu?" tanyaku gelagapan.

Itu ide yang sangat buruk. Tentu saja aku tidak mau. Justru kami sepakat untuk bercerai karena aku sudah tidak ingin tinggal bersamanya. Dan Nata juga tidak sanggup lagi jika harus mendengar semua ocehanku yang berisik.

"Kamu mau bikin Salsa berharap? Dia akan berpikir kita satu rumah lagi."

Nata sama sekali tidak berkedip ataupun memalingkan muka. Dia mengangkat bahu tenang. "Demi Salsa, bukannya kamu a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 141: Makan Kamu

    Aku bakal marah banget sih, kalau Nata tiba-tiba menghilang untuk bekerja seperti yang sering ia lakukan setiap kali kami selesai melakukan itu.Bibirku sudah memberengut mendapati kasur yang kosong dan terasa dingin.Dengan gerakan panik, morat-marit menarik kardigan di lemari, aku bergegas keluar, dan mendapati suamiku sedang melakukan video call di ruang tamu. Kepalaku langsung berasap, siap mengomel saat menyadari kalau yang berada di layar adalah Salsa.Oh.Langkahku seketika melambat. Sementara Nata berkonsentrasi mendengarkan ocehan putri kami.“Aku cuma kagetin sekali loh, Papa. Bener, tapi tiba-tiba hamsternya mati, badannya udah kaku nggak bergerak.” Anakku kemudian menangis dengan nada yang ditahan-tahan. “Kasian, Salsa nggak kuat nguburinnya, Papa.”“Iya itu berarti Salsa belum bisa punya hewan peliharaan.” Suara Mama terdengar menyambung dari balik video call. Meskipun wajahnya tidak terlihat. “Nggak pa-pa

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 140: Still You

    (Warning 21+)Lelah. Tapi aku suka sekali dengan lengannya yang kokoh mengurungku posesif.Aku jadi teringat dengan malam pertama kami sebagai pengantin baru hampir lebih dari sepuluh tahun lalu.Waktu itu aku sangat gemetar, meskipun lebih banyak antuasias. Kurasa aku memang sudah mencintai Nata.Aku tidak tahu bagaimana dengan suamiku, dan kalau ditelisik dari omongan Mama mertua yang mengatakan Andrew pernah rebel. Mungkin saja aku bukan yang pertama untuknya, dengan circel pergaulannya yang hobi clubbing dan staycation sampai liburan ke luar negeri berhari-hari. Mungkin saja gaya pacarannya pun sangat bebas.Itu bisa dilihat dari malam pertama kami, di mana Nata seperti tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu bagaimana cara untuk membuatku nyaman, menaruh bantal di bawah pinggangku, berhati-hati, kemudian memberi stimulasi agar aku rileks.Aku tidak pernah bertanya padanya tentang masa lalunya itu. Selain

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 139: Newlyweds

    (Warning 21+)Jam digital menunjukkan pukul dua belas malam. Konser sudah selesai beberapa jam lalu, tapi kendaraan kami baru bisa keluar karena macet.Di luar hujan. Musim dingin sepertinya akan tiba, aku memandang keluar jendela. Setelah keramaian konser, sepinya mobil membuat suasana entah bagaimana terasa canggung.Nata sebenarnya memintaku untuk tidur, tetapi anehnya mataku justru terang, sama sekali tidak mengantuk. Nata berkonsentrasi menyetir, ketika aku meliriknya, Nata pun sedang melirikku, lalu aku buru-buru menunduk. Menatap layar ponsel, berpura-pura mengecek sesuatu untuk mengatasi gugup.Jantungku berdentum keras.Aku menarik botol minum di dasbor, di saat yang sama, Nata pun menariknya. Tangan kami bersentuhan, aku segera menarik jemariku, seakan sentuhan singkat itu membuat kulitku terbakar.Nata tetap mengambilnya, membuka tutupnya kemudian dioper padaku. Kenapa aku bertingkah layaknya anak r

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 138: Janji Suci

    Pernikahan kami baru saja dilaksanakan sesuai jadwal. Di awal bulan Oktober setelah semua dokumen lengkap.Aku menggunakan gaun sederhana dengan potongan mermaid yang terbuat dari kain silk, sementara Nata menggunakan jas cokelat rapi.Ijab kabul begitu khidmat dihadiri oleh keluarga besar kami. Ada Mama, Papa, Salsa, Sus Dara, serta Tria dari pihakku, aku pun mengundang Bibi Elsi meskipun dia tidak hadir. Lalu Nata juga mengundang dua orang koleganya sebagai saksi. Total hanya ada sekitar sepuluh orang yang menyaksikan akad. Sudah termasuk saksi dan wali nikah.Setelah prosesi singkat yang khidmat itu, kami melanjutkan acara makan- makan di sebuah restoran. Kali ini, kami mengundang tamu lebih banyak. Kurang lebih ada sekitar lima puluh orang. Semuanya hanya keluarga inti, teman, dan sahabat yang benar-benar dekat.“Jangan tanya yang nggak ada,” cetus Nata ketika aku memanjangkan leher dan kedapatan mencari seseorang. Aku mendengkus kecil. “Aku s

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 137: Calon Istri

    Lula terjatuh dan mendesah.Sementara gue menempelkan tubuh kami, memastikan dia tahu seberapa besar gue menginginkannya saat ini.“Nata,” sebutnya mengerang, menyentuh kedua rahang gue, menahan gue supaya tidak menunduk dan melahapnya.“Sebentar Nata, Salsa di luar.”Pelipis gue berkedut.“Sus Dara juga nunggu kita,” bisiknya parau dengan napas terengah.Gue memandang Lula yang kini di bawah kurungan tubuh gue. Melihat bagaimana pakaiannya yang sudah tersingkap, memamerkan kulitnya yang pucat, BH-nya terlepas dan payudaranya tampak terpapar dengan puncaknya yang kemerah-merahan dan mencuat.Sementara itu, bibir Lula tampak membengkak akibat ulah gue, dan lipstiknya sudah berantakan.Lula menggigit bibir. “Aku... mau...” Dia mengakui dengan malu-malu. Namun tangannya perlahan mengaitkan kembali BH-nya kemudian menarik blusnya turun, menutup dirinya sendiri. Lula beringsut duduk, memaksa gue akhirnya untuk bangki

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 136: Mau Kamu

    (Nata’s Pov)Istri gue cantik banget.Dia sedang dandan di meja rias ketika gue keluar dari kamar mandi. Aromanya harum sekali, menguar di udara, mengelilingi indera penciuman gue.Sambil berjalan mendekat, gue kemudian menunduk, mengendus-endus kepalanya, sebelum tenggelam di lehernya dan mengecupnya di sana.Brengsek, gue tegang.“Mau ke mana?” tanya gue serak.“Nganter Salsa sekolah,” jawabnya santai, menggeliat sedikit karena geli. Namun dia mengusap rahang gue sejenak sebelum menyimpan bedaknya ke dalam laci dan mengambil lipstik.Gue mendongak, wajah gue langsung defensif. “Kamu mau apa, La?” "Loh, kok mau apa sih, Nata?” sahutnya dramatis, memandang gue dari pantulan cermin. “Aku mau nganter Salsa masa nggak boleh? Kegiatan aku biasanya kalau di kosan juga gini.”Tapi gue tau ini bukan cuma sekadar dia ingin mengantar Salsa, melainkan tentang pembicaraan kami kemarin.Disadari atau engg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status