Share

Part 94: Penghinaan

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-09-09 18:10:36

Bagaimana dia tahu aku di sini? Atau dia mengikuti aku diam-diam?

Selama di sambungan telepon, aku sama sekali tidak memberitahukan lokasi, apa mungkin dia tahu kalau Salsa masih tinggal bersama Mama?

Dengan sangat tidak anggun, aku mendengkus kasar. Sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan mulut Nata yang tidak ada filter.

Mama mengerling, tidak luput dari pendengarannya bahwa Nata baru saja menyebutku sebagai ‘istri’.

Aku memijat pelipis, resah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
L_54n954
padahal udah ngumpulin Bab smpek 6,, tapi berasa kurang... Titi,,, tulisanmu selalu nikmat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 124: Jatuh Tersipu

    Kenapa? Berbagai pertanyaan menumpuk di benakku. Kenapa Nata melakukan ini, kenapa dia harus menghukum dirinya sendiri? Bukankah Nata yang semasa pengantin baru dulu paling semangat ingin memiliki banyak anak? Kenapa? Tapi semua pertanyaan itu bermuara pada satu jawaban. ‘Dia nggak mau punya anak selain sama kamu Lula. Bagi Nata kamu istri satu-satunya. Dan Salsa adalah anak satu-satunya.’ Aku memejamkan mata, tidak tahan melihat wajahnya. Aku sudah banyak menuduh Nata dengan tuduhan jahat, berpikir bahwa selama ini dia tidak mencintaiku sebesar itu. Padahal Nata pasti juga menderita, tapi aku hanya mementingkan perasaanku. Lebih mementingkan egoku yang tersentil saat divonis mandul. “Kamu diem banget La.” Dia menegur, pelukannya di pinggangku mengetat, kemudian keningku terasa disentuh. “Kenapa? Pusing? Mual? Capek?” Mataku langsung terbuka dan menatap gorden yang sedikit terbuk

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 123: Pertemuan Keluarga

    “La? Ini beneran Mama nggak salah dengar kan? Kalian mau rujuk? Ya Allah bener ini? Bener kamu udah setuju?”Aku tertawa melihat Mama yang melompat di kursi meja makan. Padahal beliau sangat anggun menggunakan kebaya kutubaru, rambut disanggul rapi. Menggunakan perhiasan mencolok. Kalung berlian yang kuyakin harganya lebih fantastis dari rumah ini. Namun gayanya yang tiba-tiba memekik heboh membuat Papa melirik sinis.“Maaf, maaf,” sebut Mama tersipu-sipu. “Maaf Mama terlalu semangat,” tambahnya sambil meringis.Papa berdecak. “Duduk yang tenang, dengar dulu ucapan anak sampai selesai baru berkomentar,” perintahnya.“Yeaa! Mama mau menikah!” Salsa justru ikut berteriak heboh. Kami serempak tertawa. “Papa juga kan?”“Iya sayang.” Mama mengecup pipinya gemas. “Mama sama Papa Salsa.” Pertama kali membiarkan Mama dan Papa berkunjung ke apartemen untuk melihat keadaan Salsa. Beliau menangis, Papa pun sampai berkaca-kaca.

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 122: Melepaskan

    (Nata’s Pov)“Aku nggak nyangka kalau kamu sepengecut ini Nata. Kamu sengaja bikin ancaman setelah aku nolak untuk membatalkan pernikahan kita. Bukan cuma kamu yang nama baiknya hancur, Lula juga akan kena imbasnya!”“Kamu nggak mau jawab telepon aku? Oke, terserah. Kalau gitu mohon maaf jabatan Direktur operasional jadi milik Damian. Selamat tinggal, Nata.”“Gimana? Aku nggak bercanda, apa susahnya minta maaf, aku nggak akan ganggu kamu sama Lula lagi, tapi temui orang tua aku dan minta maaf sama mereka! Jangan bikin aku marah, Nata!”“Oke, aku minta maaf...”“Brengsek!”Gue cepat-cepat mematikan rekaman voice note terakhir karena isinya hanya desahan dan erangan Calista.Wajah Sumitro tampak merah padam, sepasang rahangnya mengatup ketat.Wanita itu mabuk, dan gue yakin setelah dia sadar nanti, Calista pasti akan menyesali apa yang baru saja dia lakukan bersama partner sexnya.“Apa ini sudah cukup jad

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 121: Lamaran

    “Tapi soal aborsi itu adalah kesepakatan kami berdua,” lanjutnya. Entah bagaimana dadaku terasa sesak. “Calista belum ingin memiliki anak, karirnya masih panjang, begitu juga dengan pekerjaan saya di sini yang menuntut banyak perhatian. Memang ini terdengar mengerikan, tapi percayalah ini jauh lebih baik daripada janin itu harus hidup dan memiliki orang tua yang belum siap menjadi orang tua.”Menyedihkan.“Damian, kamu nggak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun ke aku. Aku memang kaget dengar masalah itu. Tapi aku nggak akan ikut campur.”Damian mengerling. “Saya tau.”“Ya?”“Saya hanya nggak mau kamu berpikiran buruk tenang kami. Itu terjadi sebelum Andrew dan Calista akan menikah.”Aku tidak mau menimbang-nimbang kapan tepatnya mereka berhubungan, jadi aku hanya mengangguk polos.“Lula, saya bisa percaya kamu?” Dia memandangku serius. “Saya bisa minta tolong supaya kamu rahasiakan ini?”Mataku mengerjap.

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 120: Menjaga Aib

    Aku terburu-buru turun ke lantai 21, mengabaikan panggilan mereka. “Maaf.” Itulah yang kukatakan dan berlalu turun menggunakan tangga darurat bukannya menggunakan lift. Damian memanggil, sementara Calista menyugar rambut gelisah. Mungkin inilah yang dinamakan, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Aku tidak pernah memikirkan kelemahan Calista setelah tahu bahwa dia sengaja menyebarkan fotoku bersama Nata dengan narasi buruk, lalu membuat kantor terasa seperti neraka untukku. Namun, di sini, terjawab sudah kenapa Nata memilih untuk mundur. Kenapa Nata bersikukuh meninggalkannya. “Lula sebentar...” Suara Damian mengudara, sepatu kulitnya bergema saat membuntutiku di tangga. Aku berjalan sangat cepat, tanpa jeda sampai ke koridor RO Corp yang ramai. Ketika beberapa staf melintas, Damian sontak melambatkan langkah, dan mengangguk saat disapa mereka. Dari pantulan kaca

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 119: Rahasia Terbongkar

    “Kamu udah gila?” pekikku tertahan, berjalan di koridor kantor tepat setelah rapat selesai menuju ke balkon. “Kenapa kamu mengajukan pengunduran diri?“Nata terdengar menggumam tidak jelas, kelihatan sekali dia ingin menghindar.“Kamu mau naik jabatan Nat!” semburku, mengingatkan. “Yang harusnya resign itu aku bukan kamu!”“Kenapa? Kamu takut aku nggak bisa menafkahi kamu dan Salsa karena jadi pegangguran?” tanyanya santai.Aku memijat pelipis, mendorong salah satu ruangan yang tampak kosong, lalu masuk ke sana. “Pantes aja hari ini kamu nggak nongol di kantor, sejak kapan kamu ngajuin resign, Nat?”“Baru kemarin.”“Ya kenapa?” tanyaku gemas. “Ini pekerjaan yang kamu cintai, kamu udah mengabdi lama di sini, aku nggak pa-pa ngalah karena aku nggak punya ikatan emosional apapun, jabatan aku juga masih rendah. Kenapa harus kamu?”“Kamu nggak kepedean dulu Lula, aku mau mengundurkan diri karena aku memang ingin bukan karena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status